Sebuah mobil BMW berwarna hitam terparkir di depan rumah keluarga Zeousin. Beberapa pengawal telah bersiap diri mengenakan jas, kaca mata hitam dan juga alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka.
Aphrodite melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah. Dress dengan panjang selutut berwarna biru laut dengan hiasan tipis di bagian pinggang menjadi pilihan yang tepat untuk digunakan saat musim panas. Aphrodite sedikit menurunkan kaca mata hitam dengan brand Louis Vuitton yang ia kenakan hingga ke ujung batang hidungnya, lalu melirik ke arah dua pria yang baru saja membukakan pintu mobil untuknya.
“Kalian tidak akan ikut ke sana kan?” tanya Aphrodite kepada ke dua pria itu saling bergantian.
Pria bertubuh kekar yang semula berdiri tegap pun tampak melunak mendengar pertanyaan Aphrodite yang dilontarkan kepada mereka.
“Maaf Nyonya, sudah menjadi protokol dan tugas kami untuk menemani anda, kemana pun anda pergi,” jawab salah seorang body guard yang berdiri di sisi kiri Aphrodite.
“Betul, Nyonya. Kami tidak ingin terjadi sesuatu pada anda dan Tuan Zeousin pun memerintahkan kami untuk menemani anda kemana pun anda pergi,” sambung body guard yang berdiri di sisi kanan Aphrodite.
“Tapi kan aku hanya pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa sepatu. Tempat itu bahkan sangat ramai, tidak mungkin ada kejahatan apapun bukan? Lagi pula, akan terasa aneh jika kalian mengikuti setiap langkah kaki ku,” jelas Aphrodite.
“Maafkan kami, Nyonya!” ujar kedua body guard itu secara bersamaan lalu sedikit menundukan kepalanya sebagai pertanda permintaan maaf atas penolakan permintaan yang diinginkan oleh Aphrodite.
Aphrodite menyilangkan kedua tangan nya di depan d**a, “Lagi pula, sebenarnya apa sih pekerjaan laki-laki itu? Sampai aku bisa hidup mewah dan selalu di beri penjaga yang selalu menemaniku kemana pun kaki ku melangkah,” gumam Aphrodite.
Ke dua pria bertubuh kekar di hadapannya seperti tampak kebingungan dengan maksud ucapan Aphrodite. Lebih tepatnya mereka menyadari jika Aphrodite tidak mengetahui jika suaminya adalah seorang ketua mafia yang namanya bahkan paling di hormati dan di takuti oleh keluarga mafia lain.
Aphrodite pun melenguh dan akhirnya mengalah dengan pekerjaan ke dua pria yang bertugas menjaga nya itu. Pintu mobilnya pun ditutup setelah Aphrodite masuk ke dalam, dan sebelum ke dua body guard itu pergi, Aphrodite membuka kaca jendela nya bermaksud untuk memberitahu sesuatu.
“Ah ya, berapa jarak paling jauh dan akurat kalian berdua untuk mnggunakan senjata api?” tanya Aphrodite.
Pria yang baru saja menutup pintu mobilnya tampak melihat rekan kerja yang berdiri di hadapannya seolah memberi isyarat pada pria itu untuk menjawab pertanyaan Aphrodite.
“Sekitar tujuh meter,” jawabnya.
“Baiklah, kalau begitu awasi aku dari jarak tujuh meter,” titah Aphrodite.
“Ta-tapi,” sahut sang body guard namun Aphrodite sepertinya sudah tak ingin mendengar sanggahan dari ke dua body guard nya, terlihat dari Aphrodite yang langsung menutup kaca mobilnya.
“Ikuti saja apa yang ia ucapkan, Noah,” ujar Peter lalu pergi diikuti dengan Noah di belakangnya.
Noah dan Peter memang ditugaskan oleh Damien untuk menjaga istrinya kemana pun Aphrodite pergi. Namun, karena Aphrodite terkadang merasa tidak nyaman dengan keberadaan Noah dan Peter sebagai body guard pribadinya. Alhasil Aphrodite seringkali meminta pada ke dua body guard nya itu agar tidak terlalu mencolok karena ia benci menjadi pusat perhatian.
* * * * *
Centro Commerciale Il Casale Mall
Mobil yang ditumpangi oleh Aphrodite mulai memasuki kawasan pusat perbelanjaan. Di belakang mobilnya, diikuti pula dengan sebuah mobil dengan tipe dan warna yang sama dan ditumpangi oleh Noah dan Peter selaku pengawal pribadi Aphrodite.
Mobil mewah berwarna hitam itu langsung menjadi sorotan banyak pengunjung lain, terutama jika mereka penggemar otomotif pasti langsung mengetahui jika mobil yang ditumpangi oleh Aphrodite beserta pengawal pribadinya adalah mobil yang di jual secara terbatas. Bahkan, hanya beberapa orang saja yang bisa memiliki mobil tersebut. Selain harga yang fantastis, mobil itu dilengkapi dengan kecanggihan teknologi yang sangat di idamkan oleh banyak orang. Mobil itu pun hanya dimiliki oleh lima orang di dunia, dan dua mobil di antaranya berada di dalam garasi pribadi milik Damien Zeousin yang saat ini digunakan oleh Aphrodite.
Seorang penjaga pintu masuk pusat segera bergegas menghampiri mobil yang baru saja berhenti di depan lobby utama pusat perbelanjaan tersebut. Setelah memastikan mobil itu berhenti, pria paruh baya itu pun membantu membukakan pintu pada area penumpang yang berada di bagian belakang.
Kaki jenjang serta high heels berwarna senada dengan dress yang dikenakan Aphrodite. Semilir angin membuat rambut ikal Aphrodite berterbangan, menambah kesan menawan dan berkelas dari dalam dirinya.
“Terima kasih,” ujar Aphrodite pada pria paruh baya yang telah membukakan pintu mobil miliknya.
Pria paruh baya itu tampak tak berniat membalas satu kata pun pada Aphrodite, ia hanya menunduk dan tersenyum karena merasa senang telah membantu Aphrodite membukakan pintu mobil nya.
Aphrodite melangkahkan kaki nya ke dalam pusat perbelanjaan, dan seperti yang telah disepakati Noah dan Peter akan menjaga jarak sejauh tujuh meter dan berusaha sebisa mungkin akan tidak terlalu mencolok.
Aphrodite masuk ke dalam sebuah toko brand high class ternama yang cukup besar namun sepi pengunjung. Jelas saja, harga yang ditawarkan pun sangat fantastis dan hanya beberapa orang dari kalangan atas lah yang mampu membeli barang di toko tersebut dengan logo khas nya yaitu huruf C yang salik bertolak belakang.
“Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” ujar salah seorang staff dengan pakaian seragam khas berwarna hitam dan logo Chanel yang terdapat di sisi d**a kiri nya.
Aphrodite melepas kaca mata hitam yang ia kenakan dan melipatnya lalu memasukannya ke dalam tas berwarna coklat yang dipenuhi dengan huruf LV di permukaannya.
“Ah ya, saya mau melihat koleksi tas terbaru untuk musim panas,” jawab Aphrodite sembari tersenyum.
Staff wanita dengan nama Livia pada tanda pengenalnya, tersenyum manis dan sedikit melihat penampilan Aphrodite yang tampak seperti toko brand fashion mahal berjalan. Livia pun segera mengarahkan Aphrodite ke sebuah etalase kaca dengan tas berwarna dominan hijau dan kuning di dalamnya.
“Ini adalah koleksi tas terbaru kami, Nona,” jelas Livia.
“Hanya ini saja?” tanya Aphrodite.
“Untuk musim ini kebetulan kami tidak mengeluarkan banyak model, dan hanya satu ini saja dengan penjualan di pasar sebanya dua puluh buah,” jelas Livia lagi sembari menunjukan kelebihan dari ta situ.
“Ah begitu. Jadi ini edisi terbatas?” tanya Aphrodite.
Livia pun menganggukan kepalanya, “Benar, Nona,” jawabnya.
“Kalau begitu akum au sat utas ini,” ujar Aphrodite seraya menunjuk tas yang berada di dalam etalase kaca di hadapan nya.
Aphrodite melangkahkan kakinya mengitari toko Chanel dan melihat sebuah dompet kartu berwarna hitam yang terlihat elegan dan mewah dengan desain nya yang simple dan tidak terlalu banyak hiasan.
Aphrodite pun menjulurkan tangannya bermaksud ingin menyentuh dompet kartu itu, namun tangan lain justru lebih dulu mengambil dompet tersebut. Sontak Aphrodite terkejut dan menatap sinis kepada orang yang berani mendahului nya.
“Hei!” pekik Aphrodite pada pria yang baru saja merebut benda yang ia lihat.
“Saya mau membeli ini,” ujar pria itu pada Livia yang ternyata sedari tadi berdiri di belakang Aphrodite.
“Ba-”
Baru saja Livia ingin menjulurkan tangan nya untuk menerima dompet tersebut, Aphrodite pun segera mengulurkan tangannya dan menghalangi tangan pria asing tersebut yang berusaha memberikan dompet yang baru saja direbut dari Aphrodite.
“Maaf, Pak. Sepertinya saya lebih dulu melihat dompet itu, namun apa maksud anda mengambilnya dan langsung berkata akan membelinya?” protes Aphrodite.
Melihat Aphrodite yang tampak berurusan dengan seorang pria asing, membuat Noah dan Peter yang berada di ambang pintu tampak ingin menghampiri Aphrodite. Namun sorot mata Aphrodite sepertinya berkata bahwa sebaiknya ke dua pria itu tak perlu menghampirinya dan ikut campur dalam urusannya.
“Maaf, Nona. Sepertinya saya yang menyentuh ini lebih dulu, jadi ini sudah pasti menjadi milik saya. Jika Nona ingin memiliki kembaran dompet dengan saya, mungkin bisa meminta stok lain yang masih tersedia di toko ini,” balas pria itu.
Aphrodite tertawa sinis mendengar penuturan dari pria itu, “Stok lain? Apa kau bercanda? Sekelass Chanel tidak akan pernah menaruh stok lebih dari satu di toko yang sama. Apa yang ada di etalase maka itulah yang akan kau bawa pulang,” jawab Aphrodite sinis dengan nada ketidak sukaannya terhadap pria berkulit putih itu.
“Maafkan aku, tetapi aku sangat membutuhkan benda ini untuk ulang tahun Ibuku. Apa tak apa jika aku mengambilnya hari ini? Jika berkenan, aku akan mencarikan dompet kartu ini di toko Chanel yang lain,” jawab pria itu.
Pria itu tampak merogoh saku jas nya dan mengeluarkan sebuah kartu nama lalu diberikan pada Aphrodite.
“Namaku Izekiel, ini kartu namaku. Kau bisa menghubungiku nanti. Mungkin sebaiknya secepatnya, karena jika sudah dapat mungkin aku akan segera memberikannya padamu,” ujar Izekiel seraya memberikan kartu nama miliknya.
Aphrodite pun meraih kartu nama itu dan melihat nama, nomor kontak sekaligus posisi pekerjaan pria bernama Izekiel itu.
“Wow, kau seorang direktur utama di Waterfall? Bukankah itu salah satu merk champagne yang terkenal itu?” tanya Aphrodite antusias ketika menyadari sebuah brand ternama yang ia kenali.
Izekiel tertawa kecil mendengar penuturan Aphrodite, “Ah ya, itu salah satu brand kami dan memang kami lebih terkenal dengan champagne nya. Padahal masih ada jenis vodka dan wine, namun entah mengapa konsumen sepertinya lebih menyukai champagne kami,” ujar Izekiel berusaha menjelaskannya pada Aphrodite.
“Ya, vodka beserta wine putih Waterfall juga sangat enak menurutku,” balas Aphrodite.
“Ah ya, jadi apa boleh aku mengambil ini lebih dulu? Nanti jika aku berhasil menemukan benda ini di toko Chanel lain, akan kupastikan memberikannya padamu.” Izekiel mengingatkan kembali pada pembicaraan topik utama mereka tadi.
“Silakan. Aku mungkin akan melihat dompet kartu lainnya di toko Hermes,” ujar Aphrodite.
Setelah mendapatkan izin dari Aphrodite, Izekiel pun menyerahkan dompet itu pada Livia.
“Tolong dibungkus dengan rapi,” ujar Izekiel pada Livia seraya tersenyum manis padanya.
Aphrodite bersama Izekiel pun berjalan menuju kasir, dan sejak tadi Aphrodite seolah tak ada henti-hentinya menatap wajah Izekiel.
“Maaf, apa ada yang sesuatu di wajahku?” tanya Izekiel.
“Ah maaf. Aku hanya tidak bisa berhenti menatapmu- Ah, maksudku tidak ada,” jawab Aphrodite terbata-bata.
Izekiel tertawa mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Aphrodite.
“Jika kau ada waktu, mungkin kita bisa minum bersama,” ajak Izekiel.
“Tentu saja,” jawab Aphrodite bersemangat.
Aphrodite membalikan badannya dan merutuki dirinya sendiri, “Astaga dia memang tampan tapi tidak bisakah kau kembali pada akal sehatmu dan menyadari jika kau sudah bersuami?” gumam Aphrodite.
Izekiel mengeluarkan dompet miliknya dan memberikan sebuah black card pada Livia.
“Tolong satukan tagihannya dengan tas yang dibeli oleh wanita ini,” ujar Izekiel.
Baik Livia maupun Aphrodite, mereka berdua sama – sama terkejut dengan ucapan Izekiel. Benda yang baru saja akan dibelikan oleh Izekiel bernilai cukup fantastis namun pria itu dengan mudahnya membiarkan tagihan tas milik Aphrodite dibayarkan olehnya.
“Aku bisa membayarnya sendiri,” sahut Aphrodite.
“Anggap saja sebagai ucapan permintaan maafku,” jawab Izekiel seraya sedikit memaksa Livia untuk menerima black card miliknya.
Livia mengambil black card milik Izekiel dan segera menggesekan kartu itu pada sisi layar monitornya.
“Totalnya jadi $ 6500,” ujar Livia lalu melihat ke arah wajah Izekiel yang dijawab dengan anggukan seolah mengatakan bayar saja.
Pembayaran berhasil ditandai dengan keluarnya struk pembelanjaan. Livia menyobek kertas itu dan memberikannya pada Izekiel. Ia lalu mengambil tas serta dompet yang telah dibungkus dengan rapi dan memberikannya pada Izekiel dan Aphrodite.
“Tas ini bahkan seharga delapan puluh persen dari biaya yang kau bayar,” ujar Aphrodite.
“Sama – sama,” jawab Izekiel.
Izekiel lalu pergi mendahului Aphrodite lalu baru sampai ke ambang pintu toko, Izekiel memutar tubuhnya dan menatap Aphrodite, ia memberikan gestur sebuah telepon pada tangan kanan nya lalu ditempel pada telinganya.
“Jangan lupa untuk menghubungiku,” ucap Izekiel.
Baik Aphrodite maupun Livia, masih sama – sama tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Izekiel. Aphrodite pun tersadar dengan lamunan dan fantasi nya. Ia akhirnya mengucapkan terima kasih pada Livia lalu meninggalkan toko Chanel itu.