Sicily, Italy
Zeousin House
Sinar terik matahari menyeruak masuk melalui celah gorden jendela kamar yang didominasi dengan warna putih. Aphrodite sedikit menggeliatkan tubuhnya seolah merasa tidak nyaman dengan kehadiran cahaya yang berusaha mengganggu tidur paginya.
“Unghhh,” lenguh Aphrodite panjang.
Tangannya menjulur sejauh mungkin, berusaha untuk menghilangkan rasa kaku tubuhnya karena masih merasakan kantuk yang mendera.
“Astaga sudah pagi lagi?” gumam Aphrodite.
Aphrodite bangkit dari posisi tidurnya dan melihat sekeliling kamarnya. Sprei yang ia gunakan sudah berantakan tak menentu dan bahkan sebagian sudah jatuh menyentuh lantai. Aphrodite melihat jam digital yang berada di nakas meja samping tempat tidurnya, waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi.
Suara ponsel pun berdering. Aphrodite mencari dimana sumber suara tersebut. Tangannya pun terulur ke bawah bantal yang ia gunakan tadi dan meraih sebuah ponsel layer sentuh dengan logo apel yang digigit.
Aphrodite memicingkan matanya menatap layer ponsel miliknya. Sebuah nama yang tak asing tertera di sana. Jari nya pun tergerak untuk menggeser tanda hijau ke arah berlawanan, lalu meletakkan ponsel itu di daun telinganya.
“Hm?” sapa Aphrodite yang sedikit malas karena separuh nyawa nya sepertinya masih tersangkut di dunia mimpinya.
“Halo?” sapa seseorang dari seberang sana.
“Ya, ada apa kau menghubungiku pagi-pagi?” jawab Aphrodite masih dengan rasa kantuk dan kesedaran yang sepertinya sebentar lagi akan segera kembali ke alam bawah sadarnya.
“Astaga, ini sudah bukan pagi lagi Aphrodite! Semenjak kau menikah rupanya kau gemar bermalas-malasan, huh? Ya aku tau, suami mu itu pria kaya raya dan karena terlalu banyak memberimu uang, kau sampai bingung harus bagaimana cara menghabiskannya bukan?” ujar sang lawan bicara.
Aphrodite pun membenarkan ucapan lawan bicaranya itu. Semenjak ia menikah dengan Damien Zeousin, ia pun segera berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang desainer di salah satu butik sesuai dengan permintaan suaminya itu. Namun, sudah 6 bulan berlalu, Damien bahkan tak pernah menghubunginya lagi. Anehnya lagi, uang ribuan dollar terus menerus masuk ke dalam rekening nya, dengan catatan itu adalah uang jajan bulanan milik Aphrodite.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu membuat Aphrodite tersadar dari lamunannya. Ia menengok ke arah ambang pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Satu tangannya ia gunakan untuk menutup microfon yang terletak di bagian bawah ponselnya.
“Masuk,” sahut Aphrodite.
“Ya sudah, aku hanya ingin memberitahumu jika besok mungkin aku sudah memulai kelas untuk strata ke dua ku,” ujar suara di seberang panggilan telepon.
“Jaga dirimu baik-baik di sana, oke? Amerika tidak terlalu aman seperti di sini,” jawab Aphrodite.
Suara tertawa pun terdengar masuk nyaring ke telinga Aphrodite, “Kau bercanda? Italia justru lebih berbahaya karena ribuan mafia yang mengancam nyawa mu setiap hari. Ya sudah, aku akhiri panggilan ini, oke? Bye!”
Tut.
Panggilan telepon itu pun akhirnya berakhir.
Aphrodite melihat ke arah pintu kamarnya yang terbuka dan Alana masuk dengan sebuah meja kecil lengkap dengan roda yang didorong olehnya. Alana berjalan mendekati tempat tidur Aphrodite lalu memasangkan sebuah meja lipat di hadapan Aphrodite.
“Tunggu,” ujar Aphrodite sembari mengangkat satu tangannya dan menghentikan apa yang baru saja dilakukan oleh Alana.
“Iya, Nyonya?” jawab Alana sembari melihat ke wajah Aphrodite.
“Aku akan sarapan di ruang makan,” sambung Aphrodite.
“Baik, Nyonya,” jawab Alana lagi lalu kembali melipat meja yang baru saja akan dipasangkan di atas tempat tidur Aphrodite, setelah itu Alana membawa meja kecil yang tadi ia dorong dan meninggalkan kamar Aphrodite.
Hidup sebagai istri dari seorang Damien Zeousin sepertinya memberikan kesan kemewahan pada Aphrodite. Setiap hari ia akan dilayani dengan baik dan bahkan apapun yang Aphrodite minta akan segera dilakukan oleh pelayan nya.
Namun kemewahan itu rasanya tidak memiliki arti bagi Aphrodite. Dia hanya dapat menikmati nya seorang diri, tanpa teman dekat dan bahkan keluarga. Ayahnya, Revano, sudah meninggal sejak dua tahun lalu karena penyakit kanker otak yang di deritanya.
Aphrodite turun dari tempat tidurnya dan meraih sebuah ikat rambut yang ada di atas nakasnya lalu mulai mengikat rambutnya ke atas. Kakinya melangkah ke arah kamar mandi dan kemudian ia mulai menggosok gigi serta mencuci mukanya agar terlihat lebih fresh.
Aphrodite melihat pantulan dirinya di cermin. Ia terdiam sejenak. Pikirannya kosong dan ia pun tak tahu apa yang harus ia pikirkan. Beban hidupnya hilang. Ah, mungkin ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan bagi Aphrodite namun pertanyaan itu tetap ia simpan seorang diri.
“Kemana pria itu pergi? Jika dia kabur, masa iya dia masih mengirimkan uang padaku setiap bulan?” gumam Aphrodite pada dirinya sendiri.
Walau dirinya dan Damien baru bertemu satu kali, sebenarnya Aphrodite pun mulai merasa khawatir pada Damien. Terlebih Damien tidak pernah menghubungi dirinya lagi. Sedangkan Aphrodite tidak bisa menghubungi Damien, karena ia tak memiliki nomor kontak pria itu. Ia sebenarnya terlalu gengsi jika harus bertanya pada asisten rumah nya. Mungkin dirinya akan dibicarakan atau bahkan diremehkan karena ia tak tahu keberadaan dan kontak suaminya sendiri.
* * * * *
Aphrodite keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari letak kamarnya. Beberapa pelayan menjajakan dirinya membuat suatu barisan guna menyambut kedatangan Aphrodite.
Alana menarik kursi untuk Aphrodite dan mempersilakan Aphrodite untuk duduk di kursi tersebut.
“Terima kasih,” ujar Aphrodite seraya mendudukan dirinya di atas kursi tersebut. Alana pun segera memberikan sebuah kain putih dan meletakannya di atas paha Aphrodite agar pakaiannya tidak kotor terkenan hidangannya.
Beberapa pelayan yang lain meletakkan makanan di hadapan Aphrodite. Tak hanya satu dan dua, melainkan tiga belas jenis makanan.
“Wait,” ujar Aphrodite menginterupsi, membuat beberapa pelayan termasuk tukang masak pribadinya berhenti.
“Kenapa banyak sekali makanan?” sambungnya.
“Maaf Nyonya, saat ini sudah pukul 11 siang, dan sudah memasuki waktu makan siang. Jadi kami langsung suguhkan makan siang. Jika Nyonya ingin tetap sarapan, saya bisa menggantinya dengan sarapan anda seperti biasa,” jelas Alana.
Aphrodite menganggukan kepalanya, “Baiklah, aku langsung makan siang saja.”
Mendengar jawaban Aphrodite yang sudah mempersilakan mereka untuk melanjutkan apa yang mereka lakukan tadi, akhirnya mereka pun melanjutkan meletakkan beberapa makanan lain.
Seorang pelayan pria dengan seragam baju yang sama dikenakan oleh Alana tampak mendekati Aphrodite lalu membalikkan gelas di hadapan Aphrodite dan menuangkan air putih ke dalamnya.
“Terima kasih,” ujar Aphrodite.
Seluruh makanan sudah di tata dengan baik di hadapannya. Selera makannya pun bertambah ketika melihat potongan ayam bakar madu berwarna kecoklatan.
Tangannya terulur untuk mengambil sepotong ayam itu dengan menggunakan garpu, namun rupanya Alana dengan sigap menjulurkan tangannya dan mengambil sepotong ayam bakar itu ke piring kosong Aphrodite.
Aphrodite menikmati makan siangnya dengan nikmat. Ia benar-benar dimanjakan dengan pelayanan yang diberikan oleh para asisten rumahnya. Setiap air yang di dalam gelasnya habis pun, pelayan yang lain akan dengan sigap mengisi air ke dalam gelasnya.
Dua puluh menit pun berlalu. Aphrodite menyudahi sarapan sekaligus makan siangnya dengan melepas kain putih yang tadi diletakkan oleh Alana di atas pahanya. Aphrodite meraih tisu dan mengusapkannya ke bibirnya.
Dengan banyaknya hidangan yang disuguhkan, tentu saja Aphrodite tidak akan menghabiskan seluruh makanannya. Bahkan dari tiga belas macam hidangan, Aphrodite hanya menyantap ayam bakar madu dan tumisan sayur dengan kerang laut. Sisanya, tidak Aphrodite sentuh sama sekali.
Aphrodite melihat para pelayannya yang mulai membereskan sisa makanan, baik yang disentuh maupun tidak. Ia melirik ke arah Alana, dan rupanya seolah mengerti dengan kebiasaan Aphrodite yang selalu melirik orang terlebih dahulu sebelum berbicara, akhinya Alana pun terhenti dan membalas tatapan Aphrodite.
“Iya, Nyonya?” ujar Alana.
“Ah, a-aku ingin bertanya sesuatu padamu,” jawab Aphrodite.
“Sial, kenapa aku jadi terbata-bata seperti ini?” gumam Aphrodite dalam hatinya.
Sebenarnya, sebesit pikiran baru saja melintas di benak Aphrodite. Tiba-tiba saja ia berpikir untuk bertanya tentang seorang Damien Zeousin pada salah satu pelayannya, atau lebih tepatnya pada pelayan pribadinya yaitu Alana.
Alana masih memperhatikan wajah Aphrodite, menunggu ucapan Aphrodite selanjutnya.
“Apa kau mengenal Damien Zeousin dengan baik?” tanya Aphrodite.
“s**t! Damn it! Kenapa kau malah bertanya itu dan membuat orang lain berpikir kau tidak mengenal suami mu dengan baik? Ya, walau sebetulnya memang tidak,” gumam Aphrodite dalam hatinya sembari mengutuk apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Mata Aphrodite melihat ke sekitarnya, namun tampaknya pelayan yang lain tak menggubris pertanyaan konyol yang keluar dari bibirnya.
“Saya baru bertemu Tuan Zeousin satu kali, Nyonya,” jawab Alana.
“Loh, memang kamu baru bekerja dengannya?” tanya Aphrodite balik.
“Saya sudah bekerja dengan Tuan Zeousin sejak sepuluh tahun yang lalu, Nyonya. Namun selama ini saya tidak pernah bertemu dengan beliau. Hanya satu kali saat Tuan Zeousin meminta saya untuk menjadi pelayan pribadi anda,” jelas Alana.
Aphrodite mengangkat sebelah alisnya, “Apa dia jarang pulang?”
“Tuan Zeousin lebih banyak bekerja di luar kota hingga luar negeri, Nyonya,” balas Alana.
Aphrodite kini mulai mengerti dengan kebiasaan aneh suaminya yang secara tiba-tiba menghilang tepat satu hari setelah hari pernikahan mereka. Namun tiba-tiba ia pun terpikir dengan hal lainnya.
“Apa dia pernah memiliki pacar atau wanita lain sebelum saya?” tanya Aphrodite mengeluarkan isi pertanyaan besar yang sebenarnya selama ini selalu menjadi rasa penasaran sekaligus tanda tanya besar baginya.
“Tidak pernah, Nyonya. Tuan Zeousin bahkan tidak pernah mengajak siapapun kemari.”
“Apa dia seorang introvert? Atau sosiopat? Bagaimana bisa dia tinggal sendiri di rumah sebesar ini?” celetuk Aphrodite yang tanpa sadar sebenarnya terdengar jelas oleh seluruh pelayanya.
“Ehem.” Aphrodite berdehem dan mengalihkan pandangannya lalu bangkit dari kursinya.
Alana berjalan menghampiri Aphrodite, “Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Nyonya?”
“Ah satu lagi,” ujar Aphrodite sembari mengangkat jari telunjuk tangan kirinya.
“Apa kau tidak punya kontak pribadi Damien Zeousin? Maksudku, aku bahkan istrinya tapi tak mempunyai kontak apapun. Dia menghilang bagaikan seekor ayam di malam hari dan hanya menghubungiku melalui pesan catatan di uang yang ia kirim padaku setiap bulan,” sambung Aphrodite.
Percayalah, Aphrodite sudah menahan pertanyaannya sedari tadi. Dan karena sudah terlanjur malu, mungkin lebih baik langsung saja tabrak.
Aphrodite melihat ke arah Alana yang menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia tak memiliki informasi atau sesuatu yang dibutuhkan oleh Aphrodite saat ini.
Aphrodite membuang napasnya kasar dan memutar bola matanya malas lalu beranjak pergi dari ruang makan.
Baru beberapa langkah meninggalkan Alana, Aphrodite pun membalikan tubuhnya dan melihat ke arah Alana yang masih terpaku, “Tolong siapkan mobil dan supir untukku, sepertinya aku akan pergi berbelanja hari ini,” ujar Aphrodite.
Alana mengepalkan kedua tangannya di depan dan tersenyum mengangguk.
Usai Aphrodite pergi dari ruang makan, Alana segera memutar tubuhnya dan menatap para pelayan yang lain, yang masih membereskan sisa hidangan makan siang Aphrodite tadi.
“Alana,” panggil salah seorang pelayan pria bernama Defran.
“Iya, ada apa Defran?” jawab Alana.
“Apa aku boleh membawa pulang makanan ini?” tanya Defran seraya menunjuk sepiring besar udang rebus yang tidak tersentuh oleh Aphrodite.
“Ah ya silakan saja. Aku lupa memberitahumu jika Nyonya Aphrodite mempunyai alergi dengan udang, kepiting dan lobster. Jadi kau bisa membawa itu. Dan jika ada makanan lain yang masih utuh, ingin kalian bawa pulang atau kalian makan, silakan saja. Ingat pesan Tuan Zeousin, tidak boleh ada makanan terbuang kecuali jika sudah tidak layak makan,” jawab Alana sembari menjelaskan dan mengingatkan para pelayan yang lain terkait pesan yang pernah diberikan oleh Damien.
“Baik, Alana. Terima kasih banyak,” jawab Defran seraya mengambil piring berisikan udang rebus itu dan dipisahkan untuk ia bawa pulang nanti.
Alana pun pergi meninggalkan ruang makan dan pergi menuju area belakang rumah untuk memberitahukan kepada supir agar segera menyiapkan mobil yang akan digunakan oleh Aphrodite nanti