[3] Sinful City

2002 Words
Yeux D’Amitie Bar N Club New Orleans, Louisiana, USA Dentuman suara musik menggema hingga ke tepi jalan. Jalanan satu arah dipenuhi oleh kendaraan roda empat dengan gaya klasik dan elegan, tak jarang mobil kelas mahal sekelas Ferrari, BMW dan Mercedes pun melalui jalan itu. Puluhan wanita dengan pakaian di atas lutut berlalu lalang dengan sebuah botol wine di tangan mereka. Gelak tawa pun turut menghiasi keramaian di Kota New Orleans, Louisiana, USA. Pakaian mewah seperti Gucci, Louis Vuitton, YSL hingga brand terkenal lainnya sudah menjadi konsumsi murah di sana, seolah mereka dapat membeli barang itu seperti membeli sebuah permen di warung. Sepertinya sudah menjadi hal yang sangat biasa dengan pemandangan penuh dosa di sepanjang jalanan kota ini. Salah satu kota di Amerika yang terkenal akan seks bebas, narkotika yang mudah didapat hingga minuman keras yang di jual dengan harga murah. Setiap sudut jalan selalu dipenuhi oleh beberapa kerumunan anak muda yang sedang menikmati masa muda nya dengan indah. Kota ini pula yang membuat Damien Zeousin menjadikan salah satu pilihan untuk membangun klub malam dengan nama Yeux D’Amitie yang terletak di pusat Kota New Orleans. Selain kemudahan akses dan perizinan untuk mendirikan sebuah klub malam, Damien memilih kota ini karena terkenal dengan gaya hidup mewah, tinggi dan gengsi. Siapapun akan berusaha untuk terlihat mewah dan dinilai berkelas meski harus mengorbankan satu ginjalnya. “Oh s**t!” ucap Damien saat melihat sebuah antrian di depan sebuah salah satu gedung mewah dengan marmer berwarna hitam yang menutupi bagian luarnya. Falqib yang duduk di kursi penumpang pun melihat arah mata Damien saat pria di sebelahnya itu baru saja melontarkan sebuah kata u*****n. “Lihatlah antrian itu,” ujar Damien sembari menunjuk antrian panjang itu yang tak lain dan tak bukan adalah untuk menunggu giliran masuk ke dalam klub malam miliknya. Yeux D’Amitie adalah salah satu klub malam mewah yang cukup terkenal di New Orleans. Bukan karena mudah dimasuki, justru karena klub malam milik Damien sangat pemilih dalam menerima pengunjung, justru itu membuat para pengunjung merasa tertantang dan seolah mereka sedang mengadu kasta dengan seleksi masuk menuju klub malam tersebut. Selain memilih orang tertentu yang bisa masuk, Yeux D’Amitie pun memiliki beberapa kelas pelayanan yang terbagi di tiga lantai. Dimana lantai merupakan kelas paling umum, sedangkan lantai dua berisikan para pelanggan VIP yang berani membayar biaya keanggotaan hingga $ 1000 perbulan dan lantai paling tinggi yakni lantai tiga, dikenal sebagai heaven floor dan hanya seorang ketua mafia, pemilik perusahaan besar dan orang terpandang yang bisa pergi ke lantai tersebut. “Bukankah seharusnya bagus melihat antrian di sana?” tanya Falqib ketika menyadari jika Damien mengumpat karena melihat antrian sepanjang tiga meter di depan klub malam miliknya. Damien menepikan mobilnya tepat di depan klub malam miliknya. Seluruh tatapan mata para pengunjung atau yang lebih tepat disebut sebagai calon pengunjung itu, tertuju pada mobil mewah Chevrolet Convertte MK1 berwarna hitam milik Damien. Seorang pria dengan pakaian berwarna hitam putih segera menghampiri Damien dan sedikit membungkukan tubuhnya lalu mengulurkan kedua tangannya seolah mengerti jika itu adalah tugasnya ketika sang pemilik klub malam datang berkunjung. “Selamat datang, Tuan Zeousin!” ujar pelayan itu. Damien melemparkan kunci mobilnya pada pelayan laki-laki itu dan merapikan jas yang ia kenakan. Setelan berwarna biru tua yang digunakan Damien sepertinya cukup membuat para pengunjung terpana dengan penampilan Damien saat ini. “Kau sudah tampan. Jangan tebar pesona seperti itu. Ingat, kau sudah beristri sekarang,” sahut Falqib. Damien menyunggingkan senyuman nya di sudut bibir. Setelah merasa penampilannya lebih rapi, Damien segera melangkahkan kakinya menuju klub malam kesayangannya, diikuti dengan Falqib di belakangnya. Suara lantunan musik menyelimuti keramaian di dalam Yeux D’Amitie. Beberapa orang menyatu dalam sebuah kerumunan tampak menggoyangkan tubuhnya dengan semangat mengikuti dentuman musik. Damien dan Falqib disambut oleh dua orang wanita cantik dengan pakaian minim hingga lekuk tubuhnya bisa terlihat dengan jelas di mata ke dua pria itu. “Selamat datang Tuan Zeousin dan Tuan Blanco,” sapa salah satu wanita itu. Damien tersenyum tipis, sedangkan Falqib merasa bangga mendapatkan sapaan dari pelayan wanita malam itu. Mereka ber dua berlalu melewati wanita itu dan berjalan menuju tangga untuk pergi ke lantai tiga. “Kau benar-benar luar biasa, Damien! Kau tak sekedar memilih wanita dengan tubuh indah, melainkan dengan wajah anggun bak bidadari dari khayangan,” ujar Falqib. “Bukankah sudah seharusnya klub malam memberikan pelayanan maksimal?” jawab Damien. “Pelayanan di klub mu tidak pernah mengalahkan pelayanan di klub malam manapun. Selalu yang paling terbaik.” Falqib mengambil segelas champagne yang di bawa oleh salah satu pelayan wanita dan lalu melempar senyuman nakal pada wanita itu, lalu menghabiskan champagne berwarna emas itu dalam sekali tegukan. “Aku tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan apapun, Falqib,” ujar Damien. Percakapan singkat mereka pun berakhir ketika mereka tiba di lantai tiga Yeux D’Amitie. Setiap lantai diawasi dengan empat orang penjaga laki-laki dengan tubuh kekar dan mereka semua memiliki sertifikat lulus sebagai pemegang sekaligus master dalam ilmu bela diri. “Hei, Damien, Falqib!” pekik salah seorang pria yang sudah duduk di salah satu sofa besar di lantai tiga. Falqib memberikan gelas champagne yang telah kosong kepada penjaga itu dan segera berjalan mendahului Damien. “Gamaliel!” sapa Falqib setelah berhadapan dengan seorang pria yang sudah lebih dulu duduk di sofa berwarna ungu dan di kelilingi oleh wanita cantik nan seksi yang bertugas untuk menghibur dan menemani pria itu. Gamaliel mengulurkan tangannya dan disambut dengan tepukan dari tangan Falqib, “Lama tak berjumpa,” ujar Falqib penuh semangat. Damien berjalan perlahan menghampiri Gamaliel dan Falqib dengan ke dua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana nya. “Woah, lihatlah pengantin baru kita akhirnya tiba!” sapa Gamaliel kemudian berdiri dari duduknya dan memberikan salam pada Damien dan memeluk Damien sembari menepuk bahu Damien dengan penuh semangat. “So, bagaimana malam pertamamu? Apakah dia perawan?” celetuk Gamaliel dengan penuh semangat. Damien menggelengkan kepalanya dan memilih untuk mengabaikan pertanyaan dari Gamaliel. Gamaliel berpikir dan menunjuk wajah Damien, “Jangan bilang-” “Dia bahkan belum menyentuh wanita itu, Gam,” sahut Falqib memotong pembicaraan Gamaliel. Falqib sibuk menikmati beberapa potongan buah yang disuapi oleh para wanita penghibur itu. Damien menghela napasnya kasar. Ia mengangkat tangan kirinya dan mengisyaratkan pada beberapa wanita penghibur itu untuk pergi meninggalkan mereka bertiga. Seolah mengerti, ke empat wanita penghibur itu pun langsung mengakhiri kegiatan mereka dan pergi meninggalkan Damien, Gamaliel dan Falqib. “Oh man! Aku baru saja menikmati kebahagiaan duniawi,” ucap Falqib yang protes dengan perintah yang baru saja diberikan oleh Damien. Damien melihat Falqib dengan tatapan dinginnya. Dan sepertinya tatapan itu cukup membuat Falqib yang membeku hingga tak berani berkomentar ataupun protes dengan apapun. “Ada yang perlu kuurus,” celetuk Damien memulai pembicaraan mereka. Gamaliel dan Falqib menatap wajah Damien serius. Menanti perkataan yang akan dilontarkan oleh pria itu selanjutnya. Damien merogoh sakunya lalu mengeluarkan selembar foto dari dalam dompetnya. Gamaliel pun mengambil foto tersebut dan melihat ke arah Damien, menunggu penjelasan dari pria itu. “Dia adalah salah satu karyawan di kebun anggurku. Namun beberapa hari terakhir ini ia membuat masalah yang cukup fatal,” ujar Damien. “Kesalahan fatal? Apa itu?” tanya Falqib. “Dia membakar kebun anggurku,” jawab Damien singkat yang sukses membuat bola mata Gamaliel dan Falqib hampir saja loncat dari tengkorak kepalanya. “Apa?” sahut Falqib seolah ia tak mendengar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Damien. “Sebenarnya aku sudah lama menerima laporan tentang pria bernama Galen ini. Namun kupikir tidak akan bertambah fatal. Akhirnya kemarin seluas dua ratus meter kebun anggurku habis terbakar dan menurut pekerja yang lain, pada malam harinya mereka melihat Galen membawa satu jerigen yang dicurigai sebagai bahan bakar,” jelas Damien sembari meneguk segelas wine miliknya. Damien melihat botol wine yang ada di hadapannya, tercetak dengan jelas brand wine bernama The Angel di sana, yang jelas merupakan salah satu brand wine terkenal milik Damien yang memang diberikan untuk menyuguh para pelanggan di lantai tiga Yeux D’Amitie. “Lalu, kemana dia sekarang?” tanya Falqib. “Hilang,” jawab Damien. “Apa? Hilang?” sahut Gamaliel. “Setelah kebakaran itu, Sophie berusaha mencari keberadaan Galen, namun hasilnya nihil.” Damien tersenyum miris saat mengucapkan itu. “Sophie? Siapa dia? Sepertinya aku baru saja mendengar nama itu,” tanya Gamaliel. “Ah, dia consigliere keluarga Zeousin,” jawab Damien, lalu menuangkan sebotol wine ke dalam gelas nya yang telah kosong. “Apa maksudmu? Bukankah seharusnya dipegang oleh Gaga Anumerta?” tanya Gamaliel memastikan. “Sudah diganti sejak tiga tahun lalu,” sahut Falqib. “Kau yakin jika bukan Sophie dalang di balik kejadian ini? Maksudku, ini bukan tentang kerugian kecil, dude! The Angel adalah salah satu brand premium wine milikmu dan omset nya pun tak hanya sekedar ratusan juta. Sudah pasti ada orang dalam yang membantu hal ini,” ujar Gamaliel. Damien meletakkan gelas wine nya lalu menjilat bibirnya seduktif, “Aku pun berpikir demikian. Tapi aku tak berniat mencurigai Sophie. Dia anak dari Clarexa yang merupakan mantan consigliere khusus untuk keluargaku. Jadi, sudah seharusnya aku memberikan kepercayaan padanya.” Damien mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah rekaman video dari kamera pengawas di sebuah rumah yang memang disediakan bagi para pekerja di kebun anggur miliknya. “Galen terakhir kali terlihat setelah kebakaran yang ia lakukan. Setelah itu dia menghilang. Seluruh kamera pengawas sudah diperiksa dan hasilnya pun nihil. Dia seperti sangat handal dan mengetahui beberapa titik buta kamera ku,” ujar Damien menjelaskan apa yang baru saja ia perlihatkan. Gamaliel meraih ponsel milik Damien lalu menekan tombol bagikan pada video itu. “Aku akan membantu menyebarkan wajah pria b******k ini. Akan kupastikan dia membayar perbuatannya serta kerugian yang telah dia buat,” ujar Gamaliel. Damien kembali mengambil ponsel dan foto Galen lalu memasukannya ke dalam saku jas nya. Gamaliel menatap setiap tindakan Damien, membuat Damien merasa risih dengan perlakuan yang diberikan oleh Gamaliel. “Apa?” tanya Damien. “Apa dia perawan?” tanya Gamaliel balik. Plak! Satu pukulan mendarat dengan mulus di atas kepala Gamaliel. Falqib tercengang, atau sebenarnya ia lebih menahan tawa nya saat ini, “Sudah kukatakan dia belum menyentuh wanita itu.” “Aw!” ujar Gamaliel meringis sembari memegang sisi kepala yang baru saja dipukul oleh Damien. “Kau baru menikah beberapa jam yang lalu, dan belum sampai 24 jam kau sudah terbang ke Amerika hanya untuk berandal sialan itu? Astaga dimana pikiran bodohmu itu, Damien!” sambung Gamaliel. “Aku bodoh?” sahut Damien ketika mendengar kata bodoh yang dilontarkan oleh Gamaliel. Sorot mata Damien menusuk tajam ke arah Gamaliel, sedangkan Gamaliel kini merasa sesak dan kesulitan untuk bernapas. “Kau cari mati,” celetuk Falqib saat merasakan suasana antar alpha team di atas meja itu. Ya sebetulnya Gamaliel pun ada betulnya jika ia mengatakan Damien bodoh. Bagaimana tidak, Damien dan Aphrodite baru saja bertemu sekali yaitu saat di pernikahan mereka. Dan sekarang Damien secara sepihak pergi ke Amerika hanya untuk mengurus seekor tikus hitam, yang keberadaannya entah dimana. “Jika kau terlalu lama meninggalkan istrimu, akan kupastikan dia berpaling padaku,” ujar Gamaliel yang sepertinya tidak ada habisnya melontarkan ucapan aneh pada Damien. Plak! Satu pukulan hampir saja mendarat di kepala milik Gamaliel, namun rupanya usaha itu segera digagalkan oleh Gamaliel.  “Astaga, tolong jangan kepalaku! Kau tidak tahu kan berapa lama aku menata rambutku hingga aku bisa terlihat tampan dan jauh lebih tampan darimu,” ujar Gamaliel. “Sekali lagi kau bahas istriku, akan kulaporkan pada Dinea apa yang terjadi di sini saat aku belum tiba,” ujar Damien sembari menunjuk sebuah kamera pengawas yang rupanya berada tepat di hadapan mereka dan mengarah ke arah sofa yang mereka duduki. “Astaga, ampun!” Gamaliel meringis menyadari jika kamera itu sedari tadi menyorot ke arahnya dan jika Dinea – istrinya mengetahui ia baru saja mencium salah satu wanita, mungkin Gamaliel akan tidur di luar lagi. Damien tersenyum menang. Sebenarnya, Damien selalu menang, dan hal itu sudah menjadi hal mutlak bagi seorang Damien Zeousin. “Lalu, kau akan tetap di sini sampai menemukan Galen?” tanya Falqib. Damien menganggukan kepalanya sembari meneguk habis segelas wine nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD