10 tahun yang lalu…
“Perkenalkan ini anakku Damien Zeousin,” ucap tuan Zeousin ketika melihat putra semata wayangnya baru saja memasuki ruang kerjanya.
Damien yang merasa namanya disebutkan oleh Ayahnya segera tersenyum menatap Adelio Zeousin dan seorang pria yang baru saja ia lihat pertama kali.
Pria paruh baya dengan setelan jas rapi itu tampak berdiri, ia melepas topi yang ia kenakan lalu sedikit menundukan kepalanya menyapa Damien.
“Tidak perlu formal seperti itu, Revano,” ujar Adelio pada Revano yang merupakan sahabat lamanya.
Adelio pun kembali mempersilakan Revano duduk. Damien yang masih berdiri pun segera mengikuti jejak Ayahnya untuk turut duduk di sisi kanan Adelio.
“Nah Damien, perkenalkan, beliau adalah Revano dan dia adalah orang biasa. Dia tidak sama seperti kita,” jelas Adelio pada Damien.
Damien melemparkan pandangannya pada sosok Revano dan mulai membaca penampilan pria itu dari atas ke bawah. Sekarang ia mengerti kenapa pria paruh baya itu dengan polosnya berdiri menyapa Damien.
Damien Zeousin, adalah anak tunggal dari Adelio Zeousin yang dilahirkan untuk meneruskan bisnis serta kegiatan mafia di Italia dan Amerika. Sejak Damien kecil, ia sudah membuktikan bakatnya dalam bidang ekonomi bisnis serta penggunaan senjata tajam seperti senapan api.
Segala sesuatu yang ada pada diri Damien bagai mimpi bagi Adelio. Ia merasa tidak perlu memohon pada Damien untuk meneruskan posisi Adelio sebagai kepala keluarga sekaligus ketua mafia yang berasal dari Zeousin Family. Karena tanpa diminta belajar pun, Damien seolah menyadari kehadirannya untuk menjadi penerus bagi keluarganya.
“Dia sangat tampan, persis sepertimu Adelio,” sahut Revano sembari tersenyum ramah menatap ke arah Damien.
Adelio tertawa mendengar ucapan kawan lamanya.
“Aku tahu itu. Garis ketampananku pasti akan sampai ke putraku dan mungkin bahkan hingga ke keturunan berikutnya,” jawab Adelio.
“Gen ketampanan keluarga Zeousin memang sudah terkenal sejak dulu,” ujar Revano.
Setelah beberapa percakapan, tibalah Adelio memastikan pertanyaan yang pernah ia janjikan pada Revano dua puluh tahun silam saat mereka berdua masih sama-sama duduk di bangku sekolah.
“Jadi bagaimana? Apa kau akan mempercayakan anakmu pada keluarga Zeousin?” tanya Adelio dan kali ini dengan nada yang lebih serius daripada sebelumnya.
Damien bisa merasakan perubahan aura dari Ayahnya. Pertanyaannya yang diberikan pada Revano sangat serius bahkan Damien tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Ayahnya.
Revano menyeringai, ia mengambil secangkir teh yang sudah mulai mendingin di hadapannya lalu menyesapnya secara perlahan. Setelah merasa tenggorokannya basah kembali, ia pun menatap Adelio.
“Aku selalu percaya padamu, Adelio,” jawab Revano.
Damien menatap Adelio dan Revano secara bergantian. Berusaha mencerna maksud dari percekapan anonim mereka namun nihil.
*****
Adelio dan Damien berdiri di depan pintu rumah utama mereka untuk mengantar kepergian Revano. Lalu memberikan salamnya setelah pria itu memasuki mobilnya.
“Jika terjadi sesuatu di jalan, beritahu aku,” ujar Adelio lalu melambaikan tangannya pada Revano.
Mobil yang ditumpangi Revano berjalan meninggalkan pekarangan rumah keluarga Zeousin dan perlahan menghilang terhalang oleh gerbang utama yang cukup besar.
Damien memutar badannya hendak meninggalkan Adelio, namun langkahan kakinya terhenti ketika ia mendengar Adelio memanggil namanya.
“Damien,” panggil Adelio.
Adelio memutar badannya dan turut berjalan menghampiri Damien.
“Jika kau bertanya mengenai apa yang kubicarakan pada Revano tadi, mungkin aku akan menajwabnya,” sambung Adelio.
Damien menatap Adelio tanpa bersuara.
“Aku dan Revano berniat menikahkanmu dengan putrinya.”
“Apa?” tanya Damien seolah ia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Adelio.
Adelio merangkul bahu Damien dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan rumah itu pun tampak memperhatikan Adelio dan Damien yang sedang dalam pembicaraan intim sembari berjalan ke ruang tengah.
“Kau mungkin sudah tahu jika Revano adalah satu-satunya temanku di sekolah yang bukan berasal dari keluarga mafia. Dia adalah orang normal dan bahkan tidak pernah berurusan dengan senjata api, minuman keras atau bahkan bisnis gelap lainnya. Tapi karena ia adalah temanku dan bahkan ia yang membelakku selama di sekolah, maka aku pun menjanjikan masa depan padanya,” ujar Adelio.
Adelio dan Damien duduk di ruang tengah. Di saat pembicaraan mereka, seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan dua cangkir kopi. Damien mengambil cangkir the itu dan meminumnya bahkan hingga habis.
“Aku berjanji padanya jika kita memiliki anak kelak, akan aku jodohkan. Dan sepertinya Tuhan menyetujuinya. Kau lahir sebagai seorang laki-laki dan anak dari Revano adalah perempuan. Aku pernah melihatnya melalui foto yang dikirimkan, dan menurutku gadis itu sangat cocok denganmu Damien,” sambung Adelio.
“Jadi maksud Ayah—”
“Ya, menikahlah dengan putri Revano saat berusia 27 tahun,” jawab Adelio cepat.
“Kenapa harus 27 tahun?” tanya Damien lagi sembari berusaha mencerna kata-kata dari Adelio.
“Karena anak dari Revano berbeda 5 tahun di bawahmu. Setidaknya saat kau berusia 27 tahun, anak Revano sudah menyelesaikan studinya.”
Damien menghela napasnya. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan bisa menolak permintaan Ayahnya. Bagaimanapun, janji adalah janji dan sebuah janji harus ditepati.
“Baiklah,” jawab Damien.
“Kau mau menikah dengan putri dari Revano?” tanya Adelio memastikan ucapan yang dilontarkan oleh Damien.
“Sekalipun aku menolak, kau tetap akan memaksanya bukan? Lagi pula tak ada salahnya jika aku menikahi perempuan pilihanmu. Aku tau pasti gadis itu yang terbaik untukku. Di tambah perempuan yang mengenalku pasti hanya akan mengincar hartaku saja. Jadi mungkin lebih baik begitu. Tapi, apakah putri tuan Revano tahu jika kita adalah seorang mafia?”
Damien menatap wajah Adelio menunggu jawaban dari Ayahnya.
“Tidak. Hanya Revano saja yang tahu,” jawab Adelio cepat.
“Kalau begitu aku setuju.”
“Kau tidak berniat memberitahunya kelak?”
“Sebaiknya tidak perlu, kecuali jika dia memang ingin mengetahuinya,” jawab Damien lagi.
“Apa mau kubuatkan pertemuan agar kau bisa bertemu dengannya?”
“Tidak perlu, Ayah. Lagipula masih ada waktu 10 tahun lagi untuk bertemu dengannya.”
“Kalau begitu, setidaknya biar kau lihat wajahnya lebih dulu.”
Adelio merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya lalu mengulurkan tangannya untuk memberikan ponsel miliknya pada Damien,
“Namanya Aphrodite,” ujar Adelio.
Damien meraih ponsel milik Adelio dan melihat seorang gadis yang masih berusia 12 tahun itu. Wajah gadis itu tampak polos dan dengan riang menatap ke arah kembari sembari tertawa.
“Cantik bukan?” Adelio berusaha menggoda Damien meyakinkan anaknya bahwa putri dari Revano sangat cantik dan Damien tidak akan menyesal menikahi gadis itu.
“Lumayan,” jawab Damien lalu memberikan ponsel Adelio.
“Berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi padaku nantinya atau pada Revano, kau akan menikahi gadis itu.”
Damien menganggukan kepalanya, “Aku berjanji.”
Adelio menepuk bahu Damien dengan semangat. Ia begitu senang mengetahui putranya bersedia memenuhi janji yang ia buat pada Revano.
*
*
*
*
Aphrodite sibuk menurunkan koper-koper dari bagasi mobil. Dengan kedua tangannya ia mengangkat kedua koper berukuran medium itu dan menutup bagasinya dengan satu kaki. Wanita itu meletakkan kopernya di lantai lalu menekan bel yang terletak di sisi pintu.
Ting!
Tong!
Suara bel berbunyi.
"Apa aku tidak salah alamat?" tanya Aphrodite pada dirinya sendiri saat melihat sebuah rumah megah di hadapannya.
Ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya dan melihat isi kertas itu lalu mencocokannya dengan nomor rumah yang berada di sisi pintu.
Ckrek!
Pintu rumah itu terbuka dan menampilkan seorang wanita dengan baju khas seorang pelayan dengan warna dominan berwarna hitam. Rambutnya disanggul dengan rapi ke belakang dan senyuman ramah tampak menghiasi wajah wanita itu.
"Silakan masuk, Nyonya," ujar wanita itu ramah.
Aphrodite menuruti perkataan wanita itu dan hendak membawa koper dengan tangannya, namun aksinya segera ditahan oleh pelayan wanita di hadapannya.
Dengan sedikit menundukan kepala, pelayan wanita mendekati koper milik Aphrodite, “Biar saya yang bantu membawakannya, Nyonya,” ujar pelayan wanita itu.
Aphrodite masih sedikit bingung denga napa yang terjadi, lantas ia pun masuk ke dalam rumah itu. Mata Aphrodite terbelalak bukan main. Interior yang sangat mewah menghiasi setiap sudut ruangan yang ada di rumah itu.
“A-apa aku tidak salah alamat?” gumam Aphrodite lagi dan kali ini dengan sigap dijawab oleh seorang pelayan wanita yang dengan setia menanti langkahan kaki Aphrodite.
“Benar, Nyonya. Ini adalah rumah milik tuan Damien Zeousin,” jawab pelayan wanita itu,
“Ah iya, aku lupa bertanya padamu, siapa namamu? Tidak enak jika aku memanggilmu tanpa nama bukan?” tanya Aphrodite.
“Nama saya Alana, Nyonya,” jawab pelayan wanita bernama Alana itu.
Alana tidak seperti seorang pelayan wanita yang terlihat tua atau bahkan sudah berumur. Jika dilihat, Alana sepertinya masih berusia sekitar 25 tahunan atau mungkin memiliki usia yang sama dengan Aphrodite.
“Mari Nyonya, saya antarkan ke kamar anda,” ujar Alana lalu berjalan mendahului Aphrodite bersama dengan koper yang dibawakan oleh Alana.
Alana berhenti di sebuah pintu berwarna cokelat dengan ukiran bergambar naga di depannya. Wanita itu Nampak mengeluarkan sebuah kartu dan menempelkan kartu itu pada sebuah sensor yang terletak di gagang pintu.
“Ini kunci untuk pintu kamar ini, Nyonya. Tuan Damien sudah berpesan agar Nyonya sementara tidur di kamar ini sembari menunggu kepulangan Tuan Damien,” ujar Alana sembari memberikan kartu berwarna emas itu kepada Aphrodite.
“Memangnya ada apa dengan kamar utamanya?” tanya Aphrodite.
“Tuan Damien hanya tidak ingin terganggu dengan koleksi pribadinya. Beliau juga tidak mengizinkan siapapun untuk menyentuh barang pribadi miliknya, jadi Tuan Damien meminta Nyonya sementara untuk tidur di kamar ini.”
Aphrodite meraih kartu itu dan memasuki ruang kamarnya. Lagi-lagi ia tercengang dengan desain interior mewah.
“Bahkan jika ini menjadi kamar utamaku, sepertinya aku tidak akan masalah,” gumam Aphrodite tanpa mempedulikan apakah ucapannya itu akan didengarkan oleh Alana atau tidak.
Alana berjalan memasuki ruang kamar dan meletakkan koper milik Aphrodite di depan sebuah meja rias yang cukup besar.
“Nyonya, jika ada yang ingin anda butuhkan silakan tekan tombol yang ada disini, nanti saya akan segera datang untuk membantu anda. Tuan Damien meminta saya secara pribadi karena beliau merasa saya akan lebih bisa menyesuaikan diri dengan keinginan Nyonya,” ujar Alana sembari memberikan sebuah alat seperti sebuah kunci mobil lengkap dengan tombol.
“Terima kasih banyak Alana,” ujar Aphrodite dan mengambil bend aitu dari tangan Alana.
“Saya permisi dulu, Nyonya,” ujar Alana lalu pergi meninggalkan Aphrodite.
Sebenarnya Damien sendiri perlu memikirkan berulang kali untuk memilih pelayan pribadi untuk Aphrodite. Ditambah, Damien tidak pernah bertemu dengan Aphrodite, dan di pernikahan kemarin itu adalah momen pertama mereka bertemu dan langsung menjadi sepasang suami istri.
Aphrodite berjalan mengitari ruang kamar yang lebih cocok disebut sebagai ruang keluarga karena ukurannya cukup besar. Ranjang berukuran queen, TV LED yang cukup besar serta lemari pakaian yang terbuat dari bahan kayu berdiri kokoh di kamar itu.
“Sebenarnya apa pekerjaan pria itu? Bahkan Ayah saja tidak pernah mau memberitahukan padaku apa pekerjaan pria bernama Damien itu. Tapi, tak apa. Setidaknya pria yang aku nikahi bukan pria miskin,” ujar Aphrodite.
Aphrodite menghampiri sebuah bingkai foto yang terletak di atas nakas. Ia mengambilnya dan melihat foto sebuah keluarga kecil dengan seorang anak laki-laki yang mirip dengan Damien di sana.
“Apakah ini Damien kecil dengan kedua orang tuanya?” tanya Aphrodite.
Aphrodite berinisiatif membalik bingkai foto itu dan terlihat tulisan Zeousin Family yang diukir dengan menggunakan alat grafir.
“Apa disini juga tidak ada keluarga Damien? Saat pernikahan kemarin aku juga tidak melihat kedua orang tuanya. Apa mereka tidak datang?” Aphrodite kembali meletakkan bingkai foto itu.
Kakinya melangkah menuju kopernya lalu ia membukanya. Ia memilah satu persatu pakaiannya dan memasukannya ke dalam lemari pakaian. Baru saja Aphrodite hendak memasukan pakaian ke dalam lemari pakaiannya, ia kembali terkejut dengan isi dari lemari pakaian itu.
“Kenapa sudah ada baju disini?”
Aphrodite meraih secarik kertas yang ada di atas sana.
*
To : Aphrodite
Ini semua milikmu. Jika ada yang tidak kau sukai, silakan buang saja. Oh ya, aku tidak tahu kau suka warna apa dan model yang seperti apa, jadi aku hanya membeli semua baju yang ada di toko pakaian.
Salam,
Damien Zeousin.
*
Aphrodite mengeluh dan tampak frustasi setelah melihat lemari pakaian yang berisi begitu banyak pakaian. Hampir seluruh pakaian itu berwarna hitam.
“Apa dia pikir aku pergi ke pemakaman setiap hari? Apa yang dia pikirkan sampai mengambil banyak pakaian berwarna hitam? Astaga!” ujar Aphrodite.
Aphrodite terpaksa menyingkirkan pakaiannya dan kini ia harus memilah pakaian yang akan dia gunakan atau tidak. Terlebih dia harus menyingkirkan banyak pakaian warna hitam karena dia kurang menyukai baju dengan warna berwarna monokrom. Menurut Aphrodite, pakaian berwarna monokrom hanya akan membawa kesialan padanya.