[17] A Announcement

1979 Words
Aprodytha turun dari mobil lebih dulu dan seperti biasa ia membuka pintunya sendiri tanpa bantuan Peter dan Noah. Sedangkan Peter dan Noah terlihat sangat kesulitan dengan ice cream yang di beli oleh Aprodytha tadi. Aprodytha membuka pintu rumah yang tak terkunci lalu berhenti di ruang tengah karena teringat ice cream yang baru dan beberapa saat kemudian Peter dan Noah pun turut masuk ke dalam rumah mengikuti Aprodytha. “Tolong letakkan ice cream itu di lemari pendingin, ya,” ujar Aprodytha. Alana pun datang menghampiri Peter dan Noah. Ia terkejut melihat Noah dan Peter yang membawa sebuah ember putih besar yang mengeluarkan uap dingin. “Astaga,” pekik Alana saat menyadari benda yang di bawa oleh Peter dan Noah adalah sebuah ice cream. “Tolong tunjukan pada mereka letak lemari pendinginnya ya, Alana,” titah Aprodytha lalu pergi meninggalkan Alana, Peter dan Noah yang masih sibuk mengurus ice cream milik Aprodytha. Usai Aprodytha pergi, Alana pun berjalan menghampiri Peter dan Noah, “Punya siapa ini?” tanyanya dengan nada berbisik karena takut Aprodytha mendengar percakapan mereka. Noah tak menjawab, dia hanya memberikan gestur sembari menunjuk Aprodytha yang masih sibuk membuka pintu kamarnya menggunakan kunci kamar miliknya dengan dagu dan tatapan matanya. “Ayo,” ajak Alana lalu berjalan lebih dulu dan mengarahkan Peter dan Noah menuju lemari pendingin untuk meletakkan dua gentong besar ice cream milik Aprodytha. “Oh ya,” Aprodytha membuka suaranya saat Peter, Noah dan Alana baru saja berjalan menuju lemari pendingin yang berada di bagian belakang. “Saat makan malam nanti, tolong ambilkan 8 scoop untukku ya, Alana,” titah Aprodytha. “Delapan?” gumam Peter pelan. “B – baik, Nyonya,” lirih Alana, lalu ia kembali berjalan dan mengarahkan Peter dan Noah ke tujuan semula mereka. Nit! Pintu kamar milik Aphrodite akhirnya terbuka. Aprodytha pun langsung menekan kenop pintu dan membuka pintu kamar itu. Aprodytha melempar tubuhnya di atas tempat tidur lalu merentangkan kedua tangannya ke samping seraya menatap langit – langit kamar. “Ah pegal sekali,” gumam Aprodytha. Walau lelah dan merasakan pegal yang luar biasa, sepertinya Aprodytha tak menyesali hal itu. Karena hari ini, ia baru saja menikmati indahnya surga dunia dengan menggunakan black card milik Aphrodite. Aprodytha bangkit dari posisi tidurnya dan mengepalkan tangannya, “Aku harus menghabiskan ice cream itu sebelum Aphrodite pulang,” cetus Aprodytha. Dddrtttt ! Dddrtttt ! Dddrtttt ! Telinga Aprodytha mendengar suara getaran yang berasal dari ponsel milik Aphrodite. Akhirnya Aprodytha mengeluarkan ponsel dari dalam tas yang ia bawa tadi. Dua pesan baru saja masuk, dan dari nomor yang di awali dengan angka +62, Aprodytha sudah tahu jika pesan itu berasal dari saudari kembarnya yang sedang berlibur di Bali. * * * * * From : +6281333300011 ( Indonesia Phone Number ) Sent a photos. * * * * * From : +6281333300011 ( Indonesia Phone Number ) Hei ! Aku baru saja tiba di kamar hotel. Hari ini aku habis berkelilingi laut Bali dengan menggunakan kapal yang sangat mewah! Kau tahu? Izekiel melamarku di atas kapal itu!!! Benar – benar sangat romantis, bukan? Astaga, aku tak sabar melayangkan surat gugatan bercerai pada Damien. Tapi, jika memang kau menyukai pria itu, kau bisa memilikinya, Aprodytha. Tenang saja, aku dan dia tak pernah bersentuhan sedikit pun. Maaf aku baru bisa memberimu kabar karena Izekiel baru saja tertidur, dan tak mungkin bagiku untuk mengirim pesan selama dia masih bangun. Dia sama sekali tak mengetahui tentang rencana ini. Yang ia tahu, aku berhasil pergi ke luar dari rumah itu tanpa pengawasan apapun. Oh ya, bagaimana dengan hari mu di sana? Apakah baik – baik saja? Maaf aku mengirim pesan terlalu panjang, biaya pajak mengirim pesan ke Italia sangat mahal. Jadi aku terpaksa mengirimnya dalam satu badan pesan. Jangan lupa balas pesanku setelah membaca pesan dariku, oke?   Xoxo, Aphrodite. * * * * * Aprodytha mencubit layar ponselnya dan memperbesar gambar yang baru saja dikirimkan oleh Aphrodite. Terlihat jari manis pada tangan kiri Aphrodite dihiasi cincin berwarna silver dengan permata biru di bagian tengahnya. Sedangkan di latar belakang foto itu tak lain dan tak bukan adalah seorang pria tanpa busana yang sudah pasti adalah Izekiel. * * * * * To : +6281333300011 ( Indonesia Phone Number ) Hai. Bagaimana kabarmu di sana? Kau selalu ingat pesanku untuk selalu menjaga kesehatan kan selama di sana? Dan yaaa, aku di sini baik – baik saja. Tak perlu khawatirkan apapun. Bersenang – senanglah selagi bisa. Untuk Damien menjadi suamiku, sepertinya tidak terima kasih, aku lebih memilih untuk jatuh cinta pada diriku sendiri atau setidaknya laki – laki lain yang tak akan meninggalkan ku sampai 3 tahun tanpa kabar. Oh ya, satu lagi pesanku bertambah. Jangan sampai kau hamil sebelum menikah! Aku tidak ingin memiliki keponakan jika kau belum menikah dengan pria itu!!!   Xoxo, Aprodytha * * * * * Oh well, baik Aprodytha dan Aphrodite sama – sama bukan seorang gadis polos lagi. Terlebih saat Aprodytha melihat Izekiel yang tertidur tanpa busana, Aprodytha langsung mengetahui kejadian apa yang baru saja terjadi pada saudari kembarnya itu. Setelah memastikan pesan balasannya terkirim, Aprodytha pun segera menghapus pesan itu. “Apa aku mandi saja dulu, ya,” gumam Aprodytha seraya melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 8 malam. Tok ! Tok ! Tok ! Baru saja Aprodytha beranjak dari tempat tidurnya, tiba – tiba ia mendengar suara ketukan pintu. Aprodytha melangkahkan kakinya menuju pintu dan membuka pintu itu. “Peter?” ujar Aprodytha saat melihat Peter yang berdiri di depan pintu kamarnya. “Saya hanya ingin memberitahu jika ice cream milik Nyonya sudah saya letakkan di lemari pendingin,” ujarnya. “Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak,” balas Aprodytha. Aprodytha hendak menutup pintu kamarnya, namun dengan cepat ditahan oleh Peter, “Nyonya,” panggil Peter. “Ya?” sahut Aprodytha sambil membuka kembali pintu kamar yang baru saja akan ia tutup. “Apa anda sedang dalam masalah? Atau anda terpikir oleh sesuatu?” Aprodytha berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya, “Aku rasa tidak ada. Mengapa kau bertanya begitu?” “Tidak ada maksud apa – apa, Nyonya. Hanya saja, 2 hari terakhir ini anda tampak berbeda. Seperti orang yang berbeda dari yang biasa saya ketahui. Ya, anda tahu kan jika saya telah bersama anda selama 3 tahun, jadi saya sangat hafal dengan kebiasaan dan sifat anda, Nyonya,” tutur Peter. Aprodytha pun tertawa mendengar ucapan Peter, “Tidak ada masalah apapun. Aku memang sedang dalam suasana hati yang baik,” balas Aprodytha. “Atau anda sedang terusik dengan keberadaan Tuan Zeousin?” “Keberadaan Damien? Maksudmu?” “Ah tidak ada, Nyonya. Itu hanya persepsi saya saja. Mungkin saja anda mulai merindukan suami anda. Saya hanya bisa berharap, semoga Tuan Zeousin bisa segera pulang dan bertemu dengan anda. Kalau begitu, saya permisi dulu,” ujar Peter lalu pergi dari depan pintu kamar Aphrodite. Aprodytha pun hanya menyaksikan kepergian Peter dari depan kamarnya. Setelah pria itu benar – benar pergi dari pandangan matanya, Aprodytha kembali masuk ke dalam kamarnya dan kembali ke agenda utama nya yaitu membersihkan dirinya sebelum makan malam. * * * * * Air mengalir membasahi seluruh tubuh Aprodytha. Suara gemercik air menimbulkan kesan menenangkan bagi gadis berusia 25 tahun itu. Matanya menatap kosong langit – langit kamar mandi, pikirannya tak henti memikirkan berbagai hal yang mengganggu dalam benaknya. Dalam batinnya, ia terus beradu argument tentang apa yang ia lakukan hari ini. Yang tak lain dan tak bukan adalah berpura – pura menjadi saudari kembarnya sendiri yaitu Aphrodite. Apakah pilihanku tepat  ? Apakah yang aku lakukan benar ? Pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya. Yang ia takutnya hanya 1, takut menyesali perbuatan yang ia ambil. Selama ia hidup, Aprodytha memang sering berpikir lama sebelum bertindak, karena ia tak pernah mau menyesali perbuatannya. Dan kali ini, demi kebahagiaan saudari kembarnya – Aphrodite, ia rela berpura – pura memainkan peran sebagai Aphrodite. Menipu banyak orang dan menutupi kejadian yang sebenarnya. Entah berapa dosa yang mengalir, dalam pikirannya ia hanya menginginkan Aphrodite hidup bahagia. Karena Aprodytha pun sedikit menyesal. 10 tahun yang lalu, ketika Ayahnya pulang membawa berita tentang perjodohan, Aprodytha lah yang diminta untuk menikah dengan pria bernama Damien itu. Tapi takdir berkata lain. Aprodytha menerima beasiswa untuk jenjang pendidikan S1 dan S2 di Amerika yang membuatnya harus pergi ke sana. Sehingga, akhirnya Aphrodite menjadi pion pengganti bagi Aprodytha untuk menikah dengan Damien. Usai memikirkan berbagai hal yang terus mengganggu dalam benaknya, Aprodytha pun mematikan air yang mengalir di tubuhnya. Tangannya meraih handuk yang tergantung tepat di luar pintu kaca shower. Kakinya melangkah keluar dari dalam ruangan shower sembari mengeringkan tubuhnya dari bulir – bulir air yang masih menempel di tubuhnya. Setelah seluruh tubuhnya kering, Aprodytha melingkarkan handuk itu di tubuhnya lalu meraih pengering rambut dan menatap dirinya di pantulan cermin. Tangannya terulur untuk menyibak uap dari air hangat yang ia pakai dan mengakibatkan cermin itu menjadi berembun, “Ayo bersabar, Aprodytha! Hanya tersisa 12 hari lagi,” gumamnya seraya menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Aprodytha menyalakn pengering rambut dan langsung mengeringkan rambutnya. Ia melihat sejenak ke arah pengering rambut yang memiliki model dan warna sama dengan apa yang ia siram air kemarin. “Mereka benar – benar membeli yang persis dengan yang sebelumnya,” ujar Aprodytha saat menyadari jika pengering rambut tersebut benar – benar mirip dengan apa yang ia rusak kemarin. Setelah mengeringkan rambutnya, Aprodytha keluar dari kamar mandi dan membuka lemari pakaian milik Aphrodite. Kepalanya pun menoleh ke atas tempat tidurnya dan melihat tas belanja dengan nama Balenciaga di depannya. Ia pun terpikir untuk menggunakan kaus yang tadi ia beli dengan celana pendek milik Aphrodite. Setelah menentukan pilihan pakaiannya, Aprodytha pun segera memakai pakaian itu. “Untuk pertama kalinya, aku memakai kaus branded sekelas Balenciaga hanya untuk tidur,” ujarnya setelah mengenakan pakaiannya. Setelah merasa rapi. Aprodytha melihat ke ponsel yang berada di atas nakas nya, lalu karena tak ada pesan apapun dari Aphrodite, akhirnya Aprodytha memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mempersiapkan perutnya untuk makan malam. * * * * * Aprodytha terkejut melihat seluruh pelayan yang sudah berjajar dengan rapi di sisi ruang makan. Ia menjadi sedikit merasa bersalah karena membiarkan para pelayan di rumah itu menunggu dirinya. “Maaf, aku terlalu lama untuk mandi ya?” tanya Aprodytha pada seluruh pelayan yang ada di sana. “Tidak apa, Nyonya. Sudah menjadi tugas kami untuk menunggu anda,” ujar salah seorang pelayan pria yang berdiri tak jauh darinya. “Baiklah. Tapi, maaf ya,” lirih Aprodytha. Pelayan pria itu pun membantu Aprodytha untuk duduk dengan nyaman di kursi meja makan. Setelah memberikan serbet putih di atas paha Aprodytha, pelayan pria itu pun membuka penutup makanan tepat di hadapan Aprodytha. “Wah,” gumam Aprodytha saat melihat sebuah steak daging yang terlihat sangat lezat di hadapannya. “Selamat menikmati hidangan makan malam, Nyonya!” ujar pelayan pria itu. Aprodytha pun menyadari jika Alana tak berada di ruang itu. Lalu ia menarik lengan baju milik pelayan pria yang berada di sampingnya dan menatap pria itu, membuat pria itu menahan napasnya. “Alana ke mana?” tanya Aprodytha. “Alana sedang istirahat di kamarnya karena kurang enak badan, Nyonya,” jawab pelayan pria itu. “Begitu. Oh ya, siapa namamu?” tanya Aprodytha lagi. “Nama saya, Hanks, Nyonya.” “Terima kasih, Hanks,” ujar Aprodytha. Aprodytha lantas mengambil pisau dan garpu yang sudah di sediakan di sisi kanannya lalu mulai menikmati makan malamnya. Irisan tipis dari steak sapi masuk ke dalam mulutnya. Tak lupa, Aprodytha memasukan mashed potato yang berada di samping steak daging itu. Bumbu yang nikmat, serta tekstur steak dan mashed potato yang lembut membuat Aprodytha semakin ingin berlama – lama di rumah Aphrodite. Bagaimana tidak? Dari segi pelayanan, kebersihan dan makanan, mungkin rumah itu memiliki fasilitas yang setara dengan hotel bintang lima. “Ya ampun ini enak sekali! Astaga kau beruntung hidup seperti ini Aphrodite!” pekik Aprodytha dalam hati sambil memasukan potongan – potongan daging ke dalam mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD