Aprodytha melangkah kan kakinya keluar dari toko Balenciaga dan diikuti dengan Peter dan Noah yang berjalan tepat di belakangnya. Aprodytha memberikan satu tas belanja yang ia beli dari toko itu pada Peter.
“Ini untuk kalian,” ujar Aprodytha seraya memberikan tas berisikan pakaian yang baru saja Aprodytha belikan untuk Peter dan Noah.
Dua pria itu kebingungan mendapatkan sikap Aphrodite yang berbeda dari biasanya. Lebih tepatnya, mereka tak tahu jika orang di depan mereka bukanlah Aphrodite, melainkan Aprodytha, saudari kembar identiknya.
“Terima kasih!” ujar Peter dan Noah bersamaan.
Orang – orang yang berpapasan dengan mereka pun memperhatikan mereka bertiga yang terlihat sangat menarik perhatian. Seolah mereka memiliki lampu bercahaya dalam kegelapan.
Bagaimana tidak, Aprodytha memiliki paras yang cantik, sedangkan dua orang pengawal pria di belakangnya pun tak kalah menarik dari Aprodytha. Hidung mancung dan rahang tegas menambah kesan tampan bagi siapapun yang melihat Peter dan Noah.
Terlebih dengan jas hitam yang membalut dengan pas di tubuh ke dua pria itu, semakin menambah kesan menarik bagi siapapun yang melihat mereka.
Aprodytha melihat sebuah toko ice cream yang terletak di sudut. Sorot matanya berbinar ketika ia mengetahui toko ice cream kesukaannya ternyata mempunyai cabang di Italia – atau lebih tepatnya toko itu memang ada di Italia, hanya saja Aprodytha yang baru tahu karena baru saja tiba di Italia beberapa hari yang lalu setelah sekian lama berterlur di Amerika.
Aprodytha pun mempercepat langkahan kakinya dan membuat Peter dan Noah turut mempercepat langkahan kaki mereka untuk menyeimbangkan dengan kecepatan Aprodytha yang berubah drastis.
Sesampainya di depan toko ice cream, Aprodytha melihat ke arah Peter dan Noah yang tampak terengah – engah, “Kalian mau ice cream yang mana?” tanyanya.
“Tidak perlu, Nyonya,” jawab Peter.
“Iya, Nyonya. Kami tak perlu makan bersama anda. Anda saja,” sambung Noah.
“Sayang sekali. Kalau begitu aku perintahkan kalian untuk menemaniku makan ice cream,” ujar Aprodytha.
Jari Aprodytha menunjuk berbagai rasa ice cream yang ia pilih. Rasa mint chocolate chips, puss in boots, blueberry cheesecake, shooting star, almond bonbon, very bery strawberry dan cookies n cream menjadi pilihan varian rasa ice cream yang di pilih oleh Aprodytha.
Sejujurnya, Aprodytha sangat menyukai seluruh varian rasa ice cream yang dihadirkan oleh Baskin Robbin. Namun, karena mereka hanya bertiga, jadi Aprodytha hanya memesan varian rasa yang paling ia suka di antara yang ia suka.
Aprodytha langsung masuk ke dalam toko dan tak lupa menarik lengan Peter dan Noah agar ikut duduk bersamanya. Tak lupa, ia juga memesan sebuah ice cream cake yang tersedia di toko itu.
Peter dan Noah pun hanya pasrah karena ditarik paksa oleh Aprodytha. Sedari tadi Peter sudah merasa heran dan ada yang janggal dengan sikap Aprodytha yang tak biasa.
“Saya cukup terkejut melihat Nyonya makan sebanyak ini, apalagi sampai mengajak saya dan Noah duduk bersama anda,” ujar Peter membuka suara setelah duduk di hadapan Aprodytha.
Senyuman di wajah Aprodytha pun memudar, ia menatap Peter dengan serius, “Suasana hatiku sedang baik dan setelah dipikir – pikir aku merasa bosan karena tak memiliki teman bicara. Jadi aku memutuskan untuk menjadikan kalian sebagai temanku,” ujar Aprodytha lalu sebuah senyuman kembali terukir di wajahnya.
Wajah Peter dan Noah pun memerah setelah melihat senyuman Aprodytha dalam jarak yang sangat dekat. Mereka setuju dengan pendapat mata, pikiran dan hati mereka jika Aprodytha sangat cantik.
Pelayan toko ice cream itu membawa tiga mangkuk yang berisikan berbagai macam varian rasa ice cream secara acak. Aprodytha meraih mangkuk yang berisi varian rasa cookies n cream dan mint chocolate chips lalu menaruhnya tepat di hadapannya.
Tak lupa, pelayan toko itu juga menyuguhkan ice cream cake di hadapan Aprodytha, Peter dan Noah. Ice cream cake berwarna pastel terlihat menggiurkan. Aprodytha langsung meraih sendoknya dan langsung menyendokkan ice cream cake ke dalam mulutnya.
Tekstur ice cream yang lembut serta brownies coklat di dalamnya menambah kesan enak hingga berkali – kali lipat. Peter dan Noah pun mulai memakan ice cream yang ada di hadapan mereka. Mata mereka langsung berbinar saat ice cream itu mendarat ke lidah mereka.
“Oh ya,” ujar Aprodytha membuka suara dengan sendok yang masih menempel di mulutnya.
Peter dan Noah menatap Aprodytha menunggu pertanyaan selanjutnya.
“Kalian tinggal di mana?” tanya Aprodytha.
“Kami tinggal di rumah yang sama denganmu, Nyonya. Hanya saja khusus bagi para pekerja seperti pelayan rumah, penjaga, dan tukang kebun memiliki bagian khusus yang terletak di belakang rumah,” jawab Peter.
“Ah begitu. Pantas saja aku jarang sekali melihat para pekerja rumah berlalu lalang di rumah.”
Aprodytha kembali menyendokan ice cream ke dalam mulutnya.
“Kami memiliki ruang tersendiri yang terletak di bawah tanah. Dan kami dilarang keras oleh Tuang Zeousin untuk ikut campur ke dalam rumah, apa lagi jika tak memiliki kepentingan apapun,” ujar Noah.
Aprodytha menganggukan kepalanya mengeti, “Apa di rumah pernah ada maling atau pencurian dan sejenisnya?”
“Sejauh saya bekerja di rumah Tuan Zeousin, tak pernah ada pencurian apapun. Mungkin para pencuri pun akan takut apa lagi Tuan Zeousin adalah seorang maf-”
“Manager!” ujar Peter memotong pembicaraan Noah yang kurang fokus karena sedang sibuk dengan ice cream di hadapannya.
“Damien seorang manager?” tanya Aprodytha.
Peter menatap tajam ke arah Noah yang hampir saja keceplosan, “I-iya benar, suami anda adalah seorang manager di perusahaan minyak. Itu sebabnya Tuan Zeousin sangat jarang pulang.”
Noah menciut saat ia terus menerus mendapat tatapan tajam dari Peter.
Aprodytha pun tiba – tiba teringat dengan sebuah mobil mewah dan kelas tinggi berwarna merah yang pernah dikendarai oleh Aphrodite, namun mobil itu tak pernah terlihat lagi. Bahkan di area parkiran rumahnya pun, tak ada mobil itu sama sekali.
“Apa kalian tau, kemana perginya mobilku?” tanya Aprodytha.
“Mobil? Mobil yang mana Nyonya?” tanya Peter balik.
“Memang mobilku ada berapa?”
“Ada 6 Nyonya,” jawab Noah.
Aprodytha melotot saat mengetahui jumlah mobil milik Aphrodite.
“Yang berwarna merah dengan atap terbuka,” jawab Aprodytha.
“Oh saya tau, mobil Alfa Romeo Disco Volante berwarna merah dengan atap terbuka yang anda tabrakan ke pembatas jalan, bukan?” tanya Noah pada Aprodytha tanpa mencerna kembali perkataannya.
Plak!
Peter memukul kepala Noah atas ucapannya.
Noah pun langsung menyadari ucapan yang salah dari mulutnya, ia lantas meletakkan sendok ice cream dan menundukan kepalanya, “Maafkan saya, Nyonya! Sepertinya saya terlalu asik dalam menikmati ice cream anda belikan dan suasana kedekatan dengan anda saat ini, sampai saya lupa dengan sopan santun saya,” ujar Noah.
“Tidak apa, santai saja,” ujar Aprodytha.
“Jadi aku menabrakan mobilku ke pembatas jalan sampai hancur, begitu?” sambung Aprodytha yang pura – pura bertanya jika dirinya adalah seorang Aphrodite.
“Kurang lebih begitu,” jawab Peter.
“Ke mana mobil itu sekarang?” tanya Aprodytha karena merasa pertanyaannya belum terjawab oleh Peter dan Noah.
“Anda minta kami untuk membuangnya 2 hari lalu. Tepat setelah mobil itu sampai ke rumah dan saat anda tahu biaya perbaikan yang mahal dan tanpa bantuan asuransi, jadi anda memutuskan untuk membuangnya, karena jika di jual pun, tak laku,” ujar Noah menjelaskan ke mana mobil Alfa Romeo Disco Volante berwarna merah yang luar biasa keren itu pergi.
“Tak ada yang mengambilnya?” Aprodytha masih penasaran dengan keberadaan mobil itu.
“Tidak ada, Nyonya. Seluruh barang yang di buang, tak boleh diambil. Dan jika sudah di buang, berarti harus di hancurkan,” ujar Noah lagi.
“Kenapa harus dihancurkan?”
“Karena Tuan Zeousin takut jika barang bekas pakai keluarganya di pakai orang lain akan di salah gunakan. Jadi lebih baik dihancurkan hingga tak berbentuk,” ujar Peter membantu Noah menjelaskannya.
Aprodytha pun kembali menyendokkan ice cream ke dalam mulutnya. Rasa penasarannya sudah terjawab sepenuhnya, meski ada beberapa yang masih terasa janggal, seperti pekerjaan Damien yang merupakan seorang manajer dari perusahaan minyak.
* * * * *
Usai menyantap setumpuk ice cream yang dipesan oleh Aprodytha, mereka pun segera beranjak dari kursi.
Aprodytha melihat beberapa gentong ice cream yang masih tampak penuh dan terlihat menggiurkan. Ia pun teringat pada ucapan Aphrodite yang bisa menggunakan black card miliknya sesuka hati.
“Saya pesan rasa mint chocolate chips dan cookies n cream ya,” ujar Aprodytha pada sang penjaga toko.
“Mau berapa scoops, Nona?” tanya sang penjaga toko wanita itu.
“Dua gentong,” jawab Aprodytha ringan.
“Hah?” Peter, Noah dan penjaga toko itu terkejut mendengar ucapan Aprodytha yang membeli satu gentong full ice cream yang isinya mungkin sekitar 10 liter.
“Satu gentong untuk mint chocolate chips dan satu gentong lagi cookies n cream ya,” ujar Aprodytha.
“Nyonya, anda yakin membeli sebanyak itu? Siapa yang akan menghabiskannya?” tanya Peter.
“Aku,” jawab Aprodytha ringan.
Si penjaga toko ice cream hanya terdiam dan tak tahu harus menjawab apa. Ia pun segera memasukan total harga yang harus dibayar oleh Aprodytha.
“Dua gentong ice cream jadi $ 1021, Nona,” ujar penjaga toko.
Aprodytha langsung mengeluarkan black card milik Aphrodite dan membayar ice cream yang ia beli untuk dirinya sendiri. Ia pun terpikir akan menonton tv di ruang tengah sembari menyantap ice cream di pangkuannya.
Setelah struk pembayaran keluar, sang penjaga toko itu menyerahkan kembali black card tersebut ke Aprodytha dan langsung menyiapkan pesanan milik Aprodytha.
Peter melihat penjaga toko ice cream wanita itu tampak kesulitan mengeluarkan gentong ice cream yang cukup besar. Akhirnya Peter melepaskan jas yang ia gunakan dan ia lempar ke Noah lalu menggulung lengan bajunya dan membantu wanita itu mengangkat gentong ice cream yang akan dikeluarkan dari tempatnya.
Setelah ke dua gentong ice cream keluar dari tempat pendingin, wanita itu segera mengambil penutup wadahnya. Wanita itu melirik ke arah Peter dan Noah bergantian.
“Aku saja,” ujar Noah lalu masuk ke dalam toko dan mengangkat dua gentong ice cream di lengan kanan dan kirinya, lalu menggunakan jas milik Peter sebagai alas agar dingin dari ice cream tersebut tak membuat tangan Noah kaku.
“Apa yang kau -” ucap Peter saat melihat jas miliknya dijadikan alas untuk menggendong dua gentong ice cream yang baru saja di beli oleh Aprodytha.
“Sssttt,” potong Noah seraya menggendong dua gentong ice cream.
Setelah dua gentong ice cream itu diangkat, Aprodytha pun tersenyum pada wanita si penjaga toko, “Terima kasih,” ujarnya lalu berjalan meninggalkan toko Baskin Robbin.
Wanita itu sempat menahan lengan Peter lalu mengucapkan, “Terima kasih atas bantuannya.”
Peter tak menjawab apa pun, ia segera menyusul Aprodytha dan Noah yang sudah berjalan lebih dulu di depan.
Wanita penjaga toko itu masih menatap kepergian Aprodytha, Noah dan Peter. Dan matanya pun berbinar saat ia melihat Peter dari jarak dekat yang terlihat sangat tampan.
“Pertemanan mereka sangat indah,” gumam wanita penjaga toko ice cream itu.
Namun ia pun tersadar, “Tunggu, tapi sepertinya mereka tidak berteman. Bukankah wanita itu sedari tadi di panggil Nyonya oleh dua pria tampan itu?” gumamnya lagi.
Wanita penjaga toko ice cream itu hanya menggidikan bahunya, berusaha membuang jauh – jauh pikiran aneh dan teori berat akan hubungan satu wanita dan dua pria dengan jas rapi yang tiba – tiba saja melintas dalam benaknya.