[15] Crazy Rich Italy

2029 Words
Hari ke enam sebagai Aphrodite rupanya mendatangkan keuntungan besar bagi Aprodytha. Selain ia merasakan seperti memiliki puluhan pelayan dalam satu hari, ia turut merasakan bagaimana kehidupan sebagai salah satu orang kaya di Sisilia, Italia. Sedari kecil, Aprodytha dan Aphrodite dibesarkan dalam lingkungan sederhana. Mereka hanya hidup sesuai kebutuhan mereka. Tak pernah sekalipun hidup bergelimang harta. Hingga akhir hayat Ayah mereka pun, Aprodytha dan Aphrodite tak mendapatkan warisan harta apapun. Aprodytha meraih ponsel yang berada di atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Ia pun mengatur posisi bantalnya agar berdiri tegak sehingga ia bisa bersender pada head board tempat tidurnya. Jari Aprodytha menekan ikon berwarna aurora keunguan dengan tulisan i********:. “Sudah lama aku tak buka i********:,” gumam Aprodytha sembari memasukan username beserta password miliknya. Akhirnya laman sosial media itu pun terbuka. Ia melihat berbagai permintaan pertemanan dari berbagai orang. Matanya pun tertuju pada salah satu username yang memiliki foto profil menarik bagi Aprodytha, yaitu seorang pria dengan berbagai botol minum keras sebagai latar belakangnya. Aprodytha menekan profile i********: dengan username @xeon.ve tersebut. Lalu jarinya menarik layar dari bawah ke atas untuk melihat berbagai moment yang dibagikan oleh pria itu di akun sosial medianya. “Ah dia sudah beristri. Tapi dia tampan,” gumam Aprodytha saat menemukan foto pernikahan dengan seorang wanita dengan caption foto emot cincin. “Tak ada similar friends? Hm, siapa dia,” gumam Aprodytha lagi saat mengetahui pria yang baru saja mengikuti akun sosial media miliknya tak memiliki teman yang sama satupun. Aprodytha pun menekan tombol kembali dan melihat kotak masuk pesan, namun tak ada apapun di sana. Akhirnya Aprodytha memutuskan untuk me log out akun sosial medianya dan kembali menghapus aplikasi itu. Sebenarnya Aphrodite sang saudari kembarnya memang tak pernah memiliki akun sosial media, Aprodytha pun baru saja memiliki akun sosial media sekitar satu tahun yang lalu karena iseng dan penasaran dengan dunia internet yang terkenal keji. Aprodytha pun kembali meletakkan ponsel milik Aphrodite ke atas nakas. Ia lalu beranjak dari temapat tidurnya dan bercermin di sebuah cermin yang cukup besar yang ada di lemari tersebut. Aprodytha memperhatikan wajahnya yang sangat – sangat mirip dengan wajah Aphrodite. “Pantas saja mereka percaya jika aku Aphrodite,” gumam Aprodytha. Sekarang rasa bosan pun menghampiri Aprodytha. Ia tak terbiasa duduk terdiam seorang diri di dalam kamar, terlebih di luar sana ia memiliki banyak teman untuk diajak berbicara. Namun karena ia sedang bertingkah layaknya seorang Aphrodite, mau tak mau ia harus mengikuti kebiasaan Aphrodite. “Sepertinya aku akan mati kebosanan jika terus menerus seperti ini,” gumamnya. Tok ! Tok ! Tok ! Tiba – tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar Aphrodite. Dengan malas, Aprodytha pun melangkahkan kakinya mendekati pintu dan membuka pintunya. Alana berdiri di depan pintu dan menatap Aprodytha, “Mobil anda sudah siap, Nyonya,” ujar Alana. “Mobil?” tanya Aprodytha. “Iya. Ini hari Sabtu dan seperti biasa anda akan pergi berbelanja,” jawab Alana. Aprodytha terdiam sejenak lalu menjawab Alana, “Oke, aku akan siap – siap.” Lalu kembali menutup pintu kamarnya. “Astaga, Aphrodite punya jadwal belanja?” gumam Aprodytha. Ia pun langsung masuk ke kamar mandi dan mempersiapkan dirinya untuk pergi belanja sebagai seorang Aphrodite. * * * * * Usai bersiap, Aprodytha segera keluar dari kamarnya dan menuju halaman utama rumah itu. Tak lupa, ia membawa black card milik Aphrodite di dalam tas mini. Peter dan Noah menatap Aprodytha dari atas hingga ke bawah, hingga menimbulkan tanda tanya dalam benak Aprodytha. “Apa yang kalian lihat?” tanya Aprodytha pada dua pria dengan jas rapi yang berdiri di hadapannya. “Tidak ada, Nyonya. Hanya saja ini pertama kalinya kami melihat anda mengenakan celana jeans untuk pergi berbelanja,” jawab Peter. Aprodytha pun melihat penampilannya sendiri dari atas hingga ke bawah, “Aku ingin sedikit bersantai,” ujarnya. Aprodytha pun masuk ke dalam mobil setelah Noah membantu membukakan pintu untuknya. Meski pakaian yang dipilih Aprodytha hanyalah kaus putih dengan celana jeans, namun seluruh pakaian dari atas kepala hingga ujung kaki yang dipakainya bernilai hingga ribuan dollar. Aprodytha membuka kaca mobilnya dan melihat Peter dan Noah yang masih berdiri di luar mobil lalu bertanya, “Apa yang kalian lakukan?” tanya Aprodytha. “Kalian tidak ikut? Padahal kalian sudah rapi begitu,” sambung Aprodytha. Belum sempat Peter dan Noah menjawab pertanyaan Aprodytha, Aprodytha pun kembali bertanya, “Berapa umur kalian? Sepertinya kalian masih muda.” “Saya 25 tahun, dan Noah berusia 24 tahun,” jawab Peter. “Oh begitu. Siapa namamu?” tanya Aprodytha lagi. “Saya Peter,” jawab Peter. “Noah, Peter, masuklah ke dalam mobil bersamaku. Noah duduk di depan dan Peter bersamaku di belakang. Sedari kemarin aku merasa bosan karena tak memiliki teman untuk diajak bicara,” titah Aprodytha yang membuat Peter dan Noah terkejut mendengarnya. “Apa?” sahut Noah saat ia memastikan tak salah dengar dengan perintah yang baru saja diberikan oleh Aprodytha. “Aku minta kalian masuk ke dalam mobil ini,” ujar Aprodytha mengulangi perkataannya. “Tapi, bukankah biasanya anda akan meminta kami berangkat dengan mobil lain dan mengawasi anda sedari jauh?” tanya Peter. “Sepertinya Aphrodite benar – benar menganggap dirinya sebagai nyonya besar yang berkuasa atas segalanya,” ujar Aphrodite dalam hati. Aprodytha pun tersenyum, “Tidak perlu. Kalian ikut satu mobil denganku dan temani aku pergi berbelanja, oke?” “Baik!” jawab Peter dan Noah bersamaan. Mereka akhirnya langsung masuk ke dalam mobil. Sesuai intruksi yang diberikan Aprodytha, Peter duduk di samping Aprodytha dan Noah di bagian depan. Setelah kedua orang itu masuk, mobil yang ditumpangi oleh Aprodytha pun melaju meninggalkan halaman rumah itu dan berangkat menuju pusat perbelanjaan di mana Aphrodite biasa menghabiskan akhir pekannya untuk berbelanja. Selama perjalanan, Noah dan Peter hanya berdiam karena canggung dengan suasana yang menyelimuti mobil itu. Akhirnya, Aprodytha pun memutuskan untuk membuka suara lebih dulu untuk mencairkan suasana canggung di antara mereka, “Apa kalian biasa menaiki mobil terpisah denganku?” tanya Aprodytha. Peter dan Noah menatap satu sama lain sebelum menjawab. “Biasanya Nyonya akan marah jika kami mengikuti anda terlalu dekat. Jadi Nyonya selalu meminta kami untuk berjaga sampai tiga puluh meter dan tak boleh terlihat seperti mengikuti anda,” jawab Noah yang duduk di bagian kursi depan. Aprodytha pun menganggukan kepalanya mengerti, “Tapi tidak apa kan, jika aku meminta kalian duduk di sampingku dan menemaniku berbelanja?” “Tentu tidak apa, Nyonya. Kami hanya khawatir membuat anda terganggu dan merasa tidak nyaman. Namun jika Nyonya meminta seperti itu, pasti akan kami lakukan,” ujar Peter. “Terima kasih,” ujar Aprodytha. Peter yang duduk di sebelah Aprodytha melihat penampilan Aprodytha sekali lagi dari atas hingga ke bawah. Hingga ia menyadari jika Aprodytha masih mengenakan sendal rumah. “Nyonya,” panggil Peter. Aprodytha pun menolehkan kepalanya ke samping kiri dan melihat ke arah Peter. “Apa anda lupa mengganti sendal anda?” tanya Peter dan membuat Aprodytha melihat alas kaki yang sedang ia pakai. “Memang kenapa?” tanya Aprodytha balik karena merasa tak ada yang salah dengan alas kaki yang ia gunakan. “Itu sendal rumah. Tidak biasanya anda mengenakan sendal rumah.” “Aku hanya sedang ingin bersantai saja,” balas Aprodytha berdalih, padahal sebenarnya ia tak tahu jika Aphrodite biasanya akan mengganti alas kakinya. Lagi pula, sendal yang ia pakai juga bukan sembarang sendal tanpa merk, melainkan sendal yang diproduksi oleh brand Louis Vuitton. Jadi jelas saja, Aprodytha merasa tak perlu mengganti alas kakinya. * * * * * Mobil BMW berwarna abu – abu yang ditumpangi oleh Aprodytha akhirnya menepi di depan lobby pusat perbelanjaan yang sangat megah. Peter dan Noah turun terlebih dahulu dan hendak membukakan pintu untuk Aprodytha, namun gadis itu terlalu mandiri dan justru membuka pintu mobilnya sendiri. “Wah! Shopping time!” ujar Aprodytha setelah menghirup udara di sekelilingnya. Aprodytha melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang berada di depan matanya, sedangkan Peter dan Noah berjalan jauh di belakangnya. Menyadari Peter dan Noah yang tak ada di sisinya, Aprodytha pun menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat Peter dan Noah yang terlihat seperti sebatang pensil. Aprodytha pun memberikan isyarat pada Peter dan Noah untuk mendekat ke arahnya. Melihat Aprodytha yang memanggil Noah dan Peter dengan gerakan tangan, mereka berdua pun langsung berlari kecil menghampiri Aprodytha. Aprodytha langsung merangkul lengan mereka di sisi kanan dan kiri dengan Aprodytha yang berada tepat di tengah mereka, seraya memberikan senyuman manis miliknya. Peter bertanya pada Noah dengan gerakan mata karena merasa kebingungan dengan tingkah Aphrodite yang tampak tak biasa. Sedangkan Noah hanya menggidikan bahunya karena tak tahu jawaban atas tingkah aneh Aphrodite. “Ke mana kita harus pergi lebih dulu?” tanya Aprodytha pada Peter dan Noah. Noah dengan wajah dinginnya menunjuk sebuah toko dengan tulisan Givenchy yang ada di luar toko itu, “Bagaimana jika ke sana, Nyonya,” ujar Noah memberikan saran. “Apa aku biasa masuk ke sana?” tanya Aprodytha. “Tidak juga,” jawab Noah. Mata Aprodytha justru tertuju pada toko Balenciaga yang sedang menghadirkan diskon sampai dengan 50%. Segera Aprodytha pun menarik lengan Peter dan Noah untuk masuk ke dalam toko yang tepat berada di seberang toko Givenchy. “Selamat datang!” sapa salah satu karyawan toko itu. “Oh, Nona Aphrodite?” sapa salah satu karyawan yang lainnya dan segera berlari ke arah Aprodytha. Aprodytha melepaskan tautan lengan dirinya dengan Peter dan Noah dan ia berjalan mendekati dua karyawan wanita dari Balenciaga. “Selamat siang Nona Aphrodite. Apa yang ingin anda cari?” tanya karyawan wanita yang mengenal dirinya. “Aku melihat diskon di depan…” ujar Aprodytha yang membuat dua wanita di hadapannya sedikit kebingungan. “Aku ingin memberikan untuk dua pengawalku, jadi lebih baik aku berikan yang diskon, kan?” ujar Aprodytha seraya melihat ke arah Peter dan Noah yang berdiri di ambang pintu masuk toko Balenciaga, seolah memberi isyarat jika Aprodytha akan memberikan barang Balenciaga pada ke dua pengawalnya. “Untuk pria ya? Silakan lewat sini, Nona,” satu wanita mengarahkan Aprodytha pada barang – barang Balenciaga. “Apa ini diskon?” tanya Aprodytha. “Untuk barang yang ini tidak diskon, Nona. Yang diskon hanya produk stok lama kami. Saya sangat tahu betul jika anda tidak menyukai barang lama dan bahkan dipakai juga oleh orang lain. Jadi mungkin pilihan ini bisa cocok dengan selera anda,” ujar wanita itu. Aprodytha melihat kaus, celana dan beberapa topi yang terjajar rapi di hadapannya. Ia salah waktu karena sebagai seorang Aphrodite sangat tidak mungkin meminta diskon pada toko yang biasa ia datangi bahkan si karyawannya pun sampai hafal dengan Aphrodite. Jadi, dengan sangat terpaksa Aprodytha membeli kaus tanpa diskon apapun. Mata Aprodytha tertuju pada sebuah kaus dengan tulisan ‘Her Bodyguard’ yang terdiri dari dua jenis, yakni dengan panah menghadap ke kiri dan ke kanan. “Saya mau itu,” ujar Aprodytha seraya menunjuk ke arah kaus yang membuat dirinya tertarik. “Masing – masing 2 baju ya,” ujar Aprodytha. Karyawan itu pun mengambil masing – masing 2 buah kaus yang ditunjuk oleh Aprodytha, “Apa ada yang lain, Nona?” Aprodytha meraih sebuah topi berwarna hitam polos dengan tulisan Balenciaga di tepi kiri nya, lalu mengambil topi itu dan ia berikan pada karyawan wanita di depannya. Lalu ia pun mengambil celana pendek berwarna putih pendek yang juga bertuliskan Balenciaga. “Itu saja,” ujar Aprodytha. Karena Aprodytha tak mendapatkan diskon, jadi ia hanya memilih barang terbatas yang menurutnya menarik. Ia sengaja mengambil topi dan celana pendek, karena ia merasa akan membutuhkan itu. Karyawan wanita itu pun membawa barang yang dibeli oleh Aprodytha ke kasir dan me – scan barcode pada label yang tertera di baju dan topi, “Totalnya jadi $ 1200, Nona,” ujar wanita itu. Aprodytha pun mengeluarkan black card dari dalam tas nya dan membayar barang – barang yang akan ia bawa pulang. Usai struk keluar sebagai bukti pembayarannya berhasil, wanita itu pun memberikan kartu, struk dan belanjaan milik Aprodytha pada pemiliknya. “Terima kasih telah berbelanja di Balenciaga, Nona,” ujar wanita itu. “Terima kasih,” balas Aprodytha langsung mengambil barang belanjaan miliknya dan pergi meninggalkan toko Balenciaga. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa sedikit kesal karena tak mendapatkan diskon apapun. Namun, karena ia belanja dengan menggunakan Aphrodite, kekesalannya pun melebur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD