Aprodytha pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah lebih jauh, dan matanya benar – benar tak lepas dari berbagai hiasan interior rumah yang begitu mewah. Meski tak terlalu besar, namun desain yang sangat luar biasa, membuat Aprodytha tak memungkiri jika rumah itu tampak seperti istana.
Seorang pelayan wanita datang menghampiri Aprodytha dengan napas terengah – engah. Aprodytha kebingungan, ia hanya memperhatikan wanita itu dan menunggu wanita itu berbicara lebih dulu.
“Maaf Nyonya, saya tidak tahu jika anda pergi olahraga ke luar rumah. Sepertinya saya tertidur lelap dan mengabaikan panggilan anda,” ujar wanita dengan name tag bertuliskan Alana di d**a kirinya.
“T-tidak apa,” jawab Aprodytha kaku.
Aprodytha berusaha keras untuk membuat orang di rumah itu percaya jika dirinya adalah Aphrodite dan tak boleh ada orang yang tahu jika ia bukan Aphrodite yang asli.
“Saya akan siapkan air panas untuk anda mandi, Nyonya,” ujar Alana lalu pergi meninggalkan Aprodytha dan Gaga.
“Saya juga akan pergi ke belakang sebentar, Nyonya. Ada beberapa hal yang perlu saya kerjakan,” ujar Gaga lalu turut pergi meninggalkan Aprodytha.
Kini hanya tersisi Aprodytha yang tak tahu harus apa. Dia bahkan tak tahu denah rumah itu. Meski hanya memiliki satu lantai, namun dengan luas yang melebihi lapangan tenis meja, sepertinya akan sulit bagi Aprodytha mengetahui tata letak dan setiap sudut dari rumah itu.
Aprodytha melangkahkan kakinya dan menemukan sebuah televisi beserta sofa. Televisi dengan ukuran sebesar kendang harimau terpampang di ruang tengah. Sofa berwarna cokelat pun terlihat menggiurkan bagi Aprodytha.
Lantas ia pun segera memandu kakinya menuju sofa dan mendudukan dirinya. Ia mengambil remote tv yang berada di atas meja dan mengambil toples yang berisikan makanan ringan. Jari nya bahkan sibuk menekan tombol seraya mencari saluran tv yang pas untuk ia tonton di pagi hari.
“Apa yang biasa Aphrodite tonton jika di pagi hari? Kartun? Berita? Atau sinema dewasa?” gumam Aprodytha, hingga pilihannya jatuh pada sebuah kartun dengan bentuk kotak berwarna kuning yang hidup di bawah laut.
Baru beberapa saat Aprodytha bersantai, Alana kembali menghampirinya, namun kali ini raut wajahnya berbeda hingga mengundang tanda tanya bagi Aprodytha.
“Apa?” tanya Aprodytha membuka suara.
“Tidak ada, Nyonya. Saya hanya sedikit terkejut melihat anda menyalakan televisi,” jawab Alana.
“Apa biasanya Aphrodite tak pernah menonton televisi? M – Maksudku, apa biasanya aku tak pernah menonton televisi?” ujar Aprodytha setelah mengkoreksi ucapannya.
“Astaga kau bodoh sekali, jika kau Aphrodite, tak perlu menyebut namanya lagi, bodoh!” ujar Aprodytha dalam hati.
“Biasanya anda selalu menonton televisi di kamar anda, dan sangat jarang keluar dari kamar,” ujar Alana.
“Rupanya kebiasaan wanita itu tak pernah berubah,” gumam Aprodytha pelan saat mengetahui jika saudari kembarnya jarang keluar kamar, sangat persis dengan kebiasaan Aphrodite dahulu yang memang sangat sulit meninggalkan kamarnya.
Aprodytha pun mematikan tv itu kembali dan meletakkan toples serta remote tv nya seperti semula dan lagi – lagi diperhatikan oleh Alana dengan tatapan heran.
“Dia pasti juga tak pernah membereskan barang – barang yang habis ia pakai,” ujar Aprodytha dalam hati.
Aprodytha pun masuk ke dalam salah satu kamar mandi yang lokasinya tak jauh dari ruang tengah, namun tingkah laku aneh Aprodytha benar – benar membuat Alana heran. Alana bahkan berdiri di ambang pintu kamar mandi dan melihat Aprodytha yang justru kebingungan berada di dalam kamar mandi.
“Nyonya, anda sedang apa?” tanya Alana.
“Tadi kau bilang kau sudah menyiapkan air panas untukku mandi kan? Dan kau sudah kembali. Kalau begitu, mana air panasnya. Aku akan segera mandi,” jawab Aprodytha sembari melihat ke sekeliling kamar mandi namun tak menemukan air panas di sana.
“Di kamar mandi yang ada di kamar anda, Nyonya,” ujar Alana yang sukses membuat Aprodytha kaku.
“A – ah, iya benar! Kamarku!” ujar Aprodytha terbata – bata seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Aprodytha pun memberi isyarat pada Alana agar berjalan mendahuluinya, atau lebih tepatnya ia meminta Alana agar menunjukan kamar Aphrodite.
Alana berhenti di sebuah pintu kamar lalu menempelkan sebuah kartu mirip dengan kartu yang diberikan oleh Aphrodite pada Aprodytha. Alana lalu masuk ke dalam kamar diikuti dengan Aprodytha di belakangnya, lalu tiba lah mereka di depan pintu kamar mandi.
Aprodytha bisa merasakan uap air panas yang menyembul keluar dari dalam bath tub di dalam kamar mandi itu, “Terima kasih,” ujarnya.
Alana hanya tersenyum, lalu ia menunjuk ke arah bagian botol – botol yang terletak di sisi bath tub, “Saya sudah mengisi shampoo dengan aroma strawberry seperti yang anda minta kemarin, Nyonya.”
“Iya, terima kasih, Alana,” ujar Aprodytha seraya memberikan senyum manisnya.
Alana pun meninggalkan Aprodytha di kamar itu, sedangkan Aprodytha masih sibuk melihat kamar yang cukup luas, dengan nuansa putih menyelimuti seluruh ruangan.
“Aku penasaran apa pekerjaan suami Aphrodite sampai memberikan fasilitas rumah semewah ini,” gumamnya.
Aprodytha lantas melepas jaket dan meletakan ponsel, kartu beserta kunci di atas meja rias Aphrodite. Usai meletakkan semua barang – barang yang ia bawa, ia pun akhirnya masuk ke kamar mandi dan mulai membilas dirinya dengan air hangat.
Tangan Aprodytha meraih sebotol shampoo yang baru saja diisi ulang oleh Alana dengan shampoo aroma strawberry, Aprodytha tersenyum saat shampoo itu menyentuh rambut miliknya.
“Aroma kesukaanku,” gumam Aprodytha seraya mengaduk – aduk shampoo itu di atas kepalanya.
* * * * *
Usai membilas tubuhnya dengan air hangat serta shampoo dan sabun yang sepertinya terasa sangat mahal, Aprodytha merasa tubuhnya menjadi jauh lebih rileks. Dengan berbalut sebuah handuk, Aprodytha keluar dari kamar mandi dan duduk di atas kursi yang berada di depan meja rias.
Ia melempar sembarang jaket yang berada di atas meja itu ke arah tempat tidur yang terletak di belakangnya. Dengan handuk kecil, ia mengeringkan rambutnya yang masih basah seraya bercermin dan menatap pantulan dirinya sendiri.
Aprodytha pun terdiam ketika sebesit pikiran terlintas dalam benaknya, “Apa aku sanggup melewati 2 minggu ini sebagai Aphrodite?” gumamnya.
Tok !
Tok !
Tok !
Suara ketukan pintu terdengar nyaring, Aprodytha yang semula melamun karena meratapi dirinya sendiri, langsung menolehkan kepalanya menatap ambang pintu yang masih tertutup sekaligus asal dari suara ketukan itu.
“Masuk!” teriak Aprodytha dari tempat duduknya bermaksud mempersilakan orang yang mengetuk pintunya masuk.
Pintu itu tak terbuka sama sekali, justru membuat Aproduytha heran, “Apa dia tak mendengar aku berteriak?” ujar Aprodytha.
Aprodytha akhirnya beranjak dari duduknya dan meletakkan handuk itu di atas kasur dan berjalan menghampiri pintu kamarnya, lalu membuka pintu itu dan melihat sosok Alana yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah bingung.
“Apa kau tidak dengar jika tadi aku memintamu untuk segera masuk setelah mengetuk pintu?” tanya Aprodytha.
“Maaf, Nyonya. Saya tidak terbiasa langsung masuk ke dalam kamar anda. Biasanya anda akan keluar untuk membukakan pintu,” jawab Alana.
Aprodytha merasa dirinya kaku seperti batu. Dia sudah merusak kebiasaan Aphrodite cukup banyak sejauh ini. Mulai dari menonton televisi, masuk ke kamar mandi depan dan sekarang ia justru meminta orang lain untuk masuk ke dalam kamarnya.
Sudah 5 tahun lebih Aprodytha tak bertemu Aphrodite, mungkin itu pula yang menyebabkan Aprodytha lupa dengan kebiasaan – kebiasaan yang selalu dilakukan Aphrodite.
“Aku sedang malas membuka pintu. Kau tidak lihat rambutku masih basah?” ujar Aprodytha berdalih seraya mengibaskan rambutnya yang masih basah.
“Bukankah biasanya anda langsung mengeringkan rambut anda dengan pengering rambut yang ada kamar mandi? Atau saya lupa memeriksanya tadi?” ujar Alana yang membuat Aprodytha memutar otaknya.
“Rusak!” jawab Aprodytha dengan nada lantang yang sukses membuat Alana tersentak.
“M – maksudku, pengering rambut milikku rusak, jadi aku tak memakainya.” Aprodytha merutuki dirinya sendiri karena terlihat sangat bodoh saat ini.
“Maafkan saya Nyonya! Saya lalai dalam pekerjaan saya dan tak memeriksa jika pengering rambut milik anda rusak,” ujar Alana lalu sedikit menundukan kepalanya, tangannya pun terlihat mengepal di depan paha nya.
Rupanya, perilaku yang ditunjukan oleh Alana membuat Aprodytha merasa bersalah.
“Tidak – tidak, kau tidak bersalah, Alana. Aku saja yang lupa memberitahumu. Kau tidak lalai sama sekali,” ujar Aprodytha lalu mengusap bahu Alana dan lagi – lagi wanita itu tersentak.
Sebelum Alana melanjutkan pembicaraan Aprodytha pun segera menarik tangannya dan memundurkan tubuhnya dan hendak menutup pintu kamarnya lagi bermaksud tak ingin berlama – lama dengan pelayan yang sangat mengetahui kebiasaan Aphrodite secara detail dan bisa mengancam Aprodytha yang akan ketahuan jika ia dirinya bukanlah Aphrodite. Namun sepertinya kalah cepat dengan Alana yang langsung bertanya pada Aprodytha.
“Maaf Nyonya, saya sampai lupa dengan tujuan saya ke sini. Saya bermaksud ingin menyampaikan jika sarapan anda sudah siap. Apakah anda mau makan di kamar atau di ruang makan?” tanya Alana.
“Sarapan?” Aprodytha menolehkan kepalanya dan melihat ke arah jam dinding yang tergantung se arah dengan tatapan matanya.
“Sudah jam tujuh rupanya. Apa Aphrodite sering makan di kamar? Atau di ruang makan? Ah bodo amat, aku akan makan di ruang makan agar mengenal rumah ini,” ujar Aprodytha dalam hati.
“Aku makan di ruang makan saja,” jawab Aprodytha.
Alana pun menganggukan kepala sebagai tanda bahwa ia mengerti, “Baik, Nyonya. Akan segera saya siapkan,” ujarnya lalu membalik badan dan hendak meninggalkan Aprodytha.
“Tunggu,” panggil Aprodytha sebelum Alana melangkahkan kakinya.
“Bisakah kau tidak ceritakan tentang keanehan ku di pagi ini pada pelayan lain? Sepertinya akan lucu jika mendengar aku tampak bingung dengan kebiasaanku sendiri kan?” ujar Aprodytha.
“Apakah anda sedang sakit, Nyonya? Mau saya panggilkan dokter?” tanya Alana memberi tawaran pada Aprodytha.
“Tidak usah. Aku hanya sedang merasa bingung saja. Sepertinya otak ku tertinggal di jalan saat aku lari pagi tadi,” ucap Aprodytha yang sukses membuat Alana menahan tawa.
“Baik, Nyonya. Saya tidak akan memberitahukan hal ini pada siapapun. Lagi pula saya tak berani menyebar informasi kurang menyenangkan apa lagi sampai menebar gosip,” jawab Alana.
“Oke kalau begitu.” Aprodytha menutup pintu kamarnya tanpa menunggu jawaban apapun dari Alana.
Aprodytha bersandar di balik pintu dan membuang napasnya lega.
“Huft! Hampir saja,” gumamnya.
Aprodytha pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia menemukan pengering rambut yang berada di dekat wastafel. Ia segera menyalakan alat itu dan menggunakannya untuk mengeringkan rambutnya.
Usai rambutnya kering, Aprodytha mengoleskan minyak rambut dan pengharum rambut yang juga berada di atas wastafel. Setelah rambutnya kering dan wangi, Aprodytha mengambil pengering rambut yang ia gunakan lalu ia letakkan ke dalam wastafel dan menyiramnya dengan air.
Setelah basah, ia kembali mengangkat pengering tadi dan ia coba nyalakan kembali dan hasilnya pengering rambut itu mati dan rusak karena air. Karena ucapan Aprodytha tadi yang berkata jika pengering rambutnya rusak, Aprodytha pun terpaksa melakukan hal itu.
“Oke beres,” gumamnya.
Aprodytha pun berjalan ke luar kamar mandi dan menghampiri lemari pakaian. Ia mengambil baju kaos dan celana pendek. Sebenarnya ia tak tahu kebiasaan Aphrodite dalam berpakaian di rumah. Ia memutuskan hanya akan memakai pakaian yang membuatnya nyaman.