[12] Switching Positions

1812 Words
03:00 AM Zeousin’s House Akhirnya keinginan Aphrodite untuk meninggalkan rumah itu untuk pergi berlibur bersama Izekiel segera terwujud. Ia berhasil membujuk Aprodytha untuk menggantikan dirinya selama ia pergi berlibur ke Bali, sedangkan pertugas keamanan yang bertugas menjaga kamera keamanan di seluruh rumah sepertinya tertidur lelap karena ia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dini hari. 3 tahun adalah waktu yang cukup bagi Aphrodite untuk memahami kebiasaan para pekerja di rumahnya, seperti petugas keamanan yang memiliki kebiasaan tertidur pada pukul dua belas malam sampai dengan 4 pagi. Dengan kesempatan waktu tersebut, Aphrodite bisa memakai waktu itu dengan sangat baik. Seperti sekarang ia sedang berusaha untuk mengeluarkan koper serta dirinya sendiri secara diam – diam. Aphrodite berjalan dari ruang tengah ke ruang tamu dengan langkah perlahan. Bahkan koper yang ia gunakan dengan berat hampir dua puluh kilogram itu terpaksa Aphrodite angkat agar tak menimbulkan suara apapun. Suatu keuntungan tersendiri pula bagi Aphrodite karena pintu utama nya bisa dibuka dengan menggunakan sidik jari. Ia pun menempelkan sidik jarinya pada scanner dan pintu pun berhasil terbuka. Aphrodite membuka pintu secara perlahan lalu melihat ke arah kanan dan ke kiri, memastikan tak ada siapapun yang melihatnya. “Oke aman,” gumam Aphrodite lalu mulai meletakkan kopernya ke atas jalan dan ia berlarian kecil menuju gerbang utama. Sesampainya di gerbang utama, ia pun diam – diam membuka tombol gerbang dan saat terbuka, ia langsung berlari keluar. Rupanya sang penjaga gerbang sempat terbangun sesaat dan menyadari gerbang yang terbuka, namun ia mengabaikannya dan memutuskan untuk kembali tertidur karena gerbang utama rumah itu dirancang secara otomatis dan akan tertutup dengan sendirinya. Aphrodite berdiri di pinggir jalan dan dewi fortuna sepertinya berpihak padanya. Sebuah taksi kosong langsung berhenti di hadapannya karena melihat dirinya yang berdiri di tepi jalan dengan sebuah koper di sisinya. Supir taksi itu segera turun membantu Aphrodite memasukkan koper miliknya ke dalam bagasi lalu membantu membukakan pintu penumpang untuk Aphrodite. Aphrodite pun segera masuk dan memberitahukan tujuan tempat yang akan ia datangi. * * * * * Setelah 10 menit perjalanan, Aphrodite akhirnya tiba di sebuah pekarangan rumah sederhana yang tak lain adalah rumah yang ia sewakan untuk tempat tinggal Aprodytha. Supir taksi itu lalu turun dari kursi kemudinya dan membantu Aphrodite menurunkan koper. Aphrodite pun memberikan uang $ 20 pada supir itu. “Maaf Nyonya, saya tidak ada kembalian. Biaya nya hanya,” ujar supir itu. “Ambil saja sisanya,” balas Aphrodite. “Terima kasih, Nyonya!” supir itu pun lantas kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah. Aphrodite susah payah menarik kopernya yang cukup berat, pada beberapa saat yang lalu ia dengan lancar menggendong kopernya hingga keluar rumah. Tok ! Tok ! Tok ! Aphrodite mengetuk pintu rumah. Tak perlu menunggu waktu lama, pintu rumah pun terbuka dan menampilkan sosok Aprodytha yang sudah mengenakan pakaian olahraga. Sebelum memasuki rumah itu, Aphrodite melihat ke belakang, ia memastikan sekali lagi bahwa tidak ada satu pun orang yang mengikutinya ke rumah Aprodytha. Setelah memastikan tak ada satu pun yang mengikutinya, baru lah Aphrodite melangkahkan kakinya ke dalam rumah. “Astaga, tanganku sakit karena mengangkat koper itu!” pekik Aphrodite seraya menjatuhkan dirinya ke atas sofa. Aprodytha berjalan mendekati Aphrodite, ia duduk di samping wanita itu, sedangkan Aphrodite menatap penampilan Aphrodite dari atas hingga ke bawah. “Kau mau olahraga?” tanya Aphrodite karena tak mengerti alasan Aprodytha memakai kaus polos, jaket, dengan celana legging dan rambut yang dikuncir rapi. “Mungkin ini ide terbaik untuk masuk ke rumahmu. Aku akan berpura – pura habis ber olahraga agar mereka percaya,” ujar Aprodytha. “Apa? Tapi aku tak pernah pergi olahraga ke luar rumah! Aku selalu melakukan kegiatan olahraga ku di dalam rumah dengan berbagai alat fitness yang memang disediakan di rumah itu” balas Aphrodite. “Ya anggap saja ada siraman ilahi yang membuat seorang Aphrodite ingin berolahraga ke luar rumah untuk sekedar jogging.” “Oke, bisa diterima.” Aprodytha melihat penampilan Aphrodite yang sudah sangat siap untuk pergi ke Bali, “Kau yakin ini akan aman? Suamimu tak akan menghubungiku. kan?” “Tentu saja. Hanya 2 minggu Aprodytha. Setelah itu, kau bisa menjalani hari – harimu seperti biasa. Oh ya, kau belum bekerja kan?” Aprodytha menaikan kedua bahunya, “Belum terpikir untuk bekerja, namun segera akan kudapatkan,” jawabnya. Aphrodite merogoh sakunya, ia mengeluarkan ponsel, kartu yang digunakan sebagai kunci masuk ke kamarnya dan juga kunci cadangan pintu depan karena sudah pasti sidik jari Aprodytha tak akan terdaftar di pintu itu. “Apa ini?” tanya Aprodytha melihat barang – barang yang akan dia gunakan selama berpura – pura menjadi Aphrodite. “Ini ponselku, kau harus menggunakan ini. Dan ya, nanti aku akan menghubungimu setelah tiba di Bali dengan menggunakan ponsel lain. Aku bisa beralasan ponselku hilang pada Izekiel. Lalu ini adalah kunci kamarku dan ini kunci depan rumah,” ujar Aphrodite berusaha menjelaskan barang – barang yang ada di hadapan Aprodytha saat ini. “Oh ya satu lagi,” sambung Aphrodite seraya mengeluarkan sebuah black card yang biasa ia gunakan untuk pergi berbelanja. “Beli lah kebutuhanmu apapun itu dengan kartu ini.” Aphrodite menambahkan benda itu bersamaan dengan tiga benda lainnya yang sudah lebih dulu diletakkan di hadapan Aprodytha. “Okay, ada lagi?” Aphrodite melihat ke ponsel, kunci dan kartu yang ada di atas meja lalu berpikir sejenak, “Sepertinya itu saja,” jawab Aphrodite. Tangan Aprodytha meraih ponsel, kunci dan kartu yang ada di hadapannya lalu memasukannya ke dalam saku jaketnya. “Apa ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Aphrodite. “Aku hanya perlu berpura – pura menjadi dirimu, kan? Tak ada yang lain?” tanya Aprodytha balik. “Tidak ada, hanya itu saja,” jawab Aphrodite. Aprodytha menganggukan kepalanya, “Baiklah, aku rasa aku bisa. Semoga saja suamimu tidak pulang dan jika dia sampai pulang, aku akan memaksamu untuk pulang dari Bali.” “Tenang saja!” Aphrodite beranjak dari duduknya, ia menghampiri kopernya dan menatap Aprodytha. “Aku pergi dulu,” ujar Aphrodite. Aprodytha turut bangkit dari duduknya dan menghampiri Aphrodite dan memeluk saudari kembarnya. “Aku tahu, mungkin berat bagimu hidup dengan suami yang acuh, namun aku akan membantumu sebisaku. Tapi, jangan sampai ketahuan, aku tak ingin berada dalam masalah apapun,” ujar Aprodytha seraya mengusap punggung Aphrodite. Aphrodite pun membalas pelukan saudari kembarnya, “Tenang saja.” “Jaga dirimu baik – baik.” “Kau juga.” Aphrodite dan Aprodytha pun melepas pelukan mereka satu sama lain, dan terhitung mulai hari ini, mereka akan bertukar atau lebih tepatnya Aprodytha akan menyamar sebagai Aphrodite. Aprodytha mengantarkan Aphrodite keluar rumahnya, “Kau ke bandara sekarang?” “Iya, aku akan menunggu Izekiel di bandara. Lagi pula jadwal penerbangan kami tiga jam lagi,” jawab Aphrodite. “Seharusnya kau biarkan taksi tadi menunggumu.” “Tidak apa, sebentar lagi juga akan ada taksi yang lewat,” ujar Aphrodite. Benar saja, sebuah taksi tiba – tiba muncul dari arah pertigaan jalan dan melewati rumah Aprodytha. Taksi itu pun langsung berhenti di hadapan Aphrodite. Aprodytha membantu Aphrodite memasukan kopernya ke bagasi. Setelah Aphrodite masuk ke dalam mobil, ia pun membuka pintu kaca mobilnya dan memberikan salam perpisahan pada saudari kembarnya itu, “Bye!” “Hati – hati di jalan! Kabari aku jika kau sudah mendapatkan ponselmu, okay,” balas Aprodytha. Mobil taksi yang ditumpangi Aphrodite pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah Aprodytha. Sekarang, hanya tersisa seorang Aprodytha yang akan menjalani kehidupan sebagai seorang Aphrodite. Ia membalikan badannya dan mengunci pintu rumahnya, “Kita akan bertemu lagi dalam 2 minggu,” gumam Aprodytha dan akhirnya pergi meninggalkan rumahnya. * * * * * Sudah dua jam Aprodytha berdiri di depan gerbang rumah Aphrodite atau lebih tepatnya kediaman saudari kembarnya bersama dengan suaminya yang entah berada di mana. Aprodytha merasakan ragu karena ia tak tahu harus mulai dari mana permainan berpura – pura menjadi Aphrodite. Sorot lampu yang berasal dari sebuah mobil menyorot ke arah Aprodytha yang membuat gadis itu meringis dan langsung menutup jalan cahaya yang langsung menembus ke matanya dengan menggunakan kedua tangannya. Suara mesin diesel terdengar jelas, Aprodytha bisa mengetahui jika mobil itu berdiri di depannya atau lebih tepatnya di depan gerbang rumah kediaman Aphrodite. Pintu mobil itu terbuka dan kembali tertutup, menandakan sang pengemudi keluar dari mobilnya dan mungkin kini berjalan ke arah Aprodytha. “Nyonya?” sapa pria dengan setelan jas berwarna abu – abu yang baru saja turun dari mobilnya. Aprodytha menyipitkan matanya karena kesulitan melihat akibat sorot lampu cahaya yang berasal dari mobil itu. Namun rupanya, pria itu peka dengan apa yang di maksud oleh Aprodytha dan langsung berdiri tepat di antara sorotan cahaya yang menuju ke Aprodytha. “Apa yang anda lakukan? Apakah anda baru saja berolahraga?” tanya pria itu. Aprodytha menatap pria paruh baya yang berdiri di hadapannya, “Ah, iya. Aku baru saja selesai olahraga,” jawabnya seraya memberikan senyuman getir karena tak tahu dengan siapa ia berbicara. “Sudah selesai? Kalau begitu, mari Nyonya, saya antarkan anda menuju ke dalam,” ujar pria itu lalu sedikit merangkul bahu Aprodytha lalu membukakan pintu penumpang di kursi belakang dan mempersilakan Aprodytha masuk. Pria paruh baya itu perlahan masuk ke dalam kursi kemudi nya dan membunyikan suara klakson. Tak perlu menunggu waktu lama, gerbang rumah itu tiba – tiba terbuka. Pria itu pun segera melajukan mobilnya dan baru beberapa melaju, mobilnya pun berhenti di sebuah pos penjagaan, lalu membuka kaca mobilnya. “Selamat pagi, Nata!” sapa pria paruh bayu itu bersemangat. Pria bernama Nata itu pun tampak menundukan kepalanya dan melihat siapa yang baru saja datang, dan matanya pun menangkan sosok Aprodytha atau yang sedang dikenali sebagai Aphrodite, lantas ia pun segera berdiri tegap dan memberikan hormat. “Selamat pagi Tuan Gaga dan Nyonya Aphrodite!” ucap Nata. Aprodytha tersenyum kaku, ia hanya menganggukan kepalanya tanpa membalas ucapan apapun. Mobil yang ia tumpangi pun kembali melaju perlahan dan akhirnya berhenti di sebuah rumah. Meski masih pukul 5 pagi, rupanya beberapa pekerja sudah banyak yang terbangun dan mulai melakukan tugasnya di pagi hari. Gaga turun dari mobil lalu membukakan pintu kursi penumpang di bagian belakang dan Aprodytha pun segera turun. Ia sedikit bingung dengan dua pria yang menatapnya seperti melihat seekor beruang alaska yang baru saja turun dari mobil. Aprodytha membalas tatapan dua pria itu, namun mereka justru menundukan tubuhnya. “Maaf jika kami lancang, Nyonya!” ucap kedua pria itu secara bersamaan. Aprodytha tersenyum kaku, ia buru – buru melangkahkan kakinya. Sesampainya di depan pintu, ia berusaha merogoh sakunya dan mengambil kunci rumahnya, namun Gaga mendahuluinya dan menempelkan jempolnya ke arah scanner finger print  yang ada di gagang pintu itu. Pintu pun terbuka, Aprodytha melangkah masuk mendahului Gaga, “Terima kasih,” ujar Aprodytha kaku. Saat masuk, Aprodytha terpana melihat rumah mewah yang baru saja ia injaki, “Apa ini keindahan harta yang dinikmati oleh Aphrodite? Dia benar – benar bodoh karena memilih berselingkuh dengan pria yang bahkan tak ia ketahui tahu bebet bobot nya,” ujar Aprodytha dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD