Aphrodite menggeser tanda hijau panggilan yang tertera di layar ponselnya ke sebelah kiri lalu menempelkan ponselnya ke telinga, “Halo,” sapa Aphrodite memulai sambungan panggilan tersebut.
“Aphrodite, maaf aku mengganggumu. Aku bermaksud untuk meminta maaf karena aku main menuduhmu, aku tak bermaksud demikian,” ujar Aprodytha dari sebrang sambungan telepon.
Aphrodite berjalan ke atas meja riasnya dan mengambil kunci mobil yang terletak di atas sana.
“Kau di mana sekarang?” tanya Aphrodite tanpa berbasa basi.
“Di rumah. Ada apa?” tanya Aprodytha balik.
“Baiklah, aku akan menuju ke sana dalam lima menit,” ujar Aphrodite lalu langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu balasan dari Aprodytha.
Aphrodite keluar dari kamarnya, untung saja Gaga sudah pergi dan dia tak perlu menjelaskan kemana ia akan pergi.
Aphrodite melangkah secara perlahan mendekati mobil BMW berwarna hitam yang terparkir di halaman depan. Mobil itu memang mobil yang paling biasa Aphrodite pakai, selain mobil merah yang baru saja ia tabrakan kemarin ke pembatas jalan.
Tanpa izin apapun pada Alana serta Peter dan Noah, ia segera menancapkan gas meninggalkan rumahnya.
Penjaga gerbang yang bertugas menjaga penjagaan dan keluar masuk orang – orang di rumah itu pun menyadari jika Aphrodite mengendarai mobilnya seorang diri tanpa siapapun melalui bayangan kaca depan mobil itu.
“Selamat siang, Nyonya!” sapa si penjaga gerbang seraya memberikan hormat dan posisi tegap siap pada Aphrodite.
Aphrodite berhenti di depan pos penjagaan dan membuka kaca mobilnya, “Tolong buka gerbangnya,” titah Aphrodite.
“Tapi sepertinya anda tidak ditemani dengan Noah dan Peter. Saya akan mengkonfirmasi terlebih dahulu ke dalam,” balas pria itu.
Baru saja ia akan mengambil telepon yang menghubungkan komunikasi para pelayan di rumah itu sama lain, Aphrodite pun akhirnya memberikan selembar uang $ 100 dan mengulurkan tangannya ke luar kaca.
Pria itu melihat uang tersebut dan tampak tergiur melihatnya, “Tolong jangan lama – lama ya, Nyonya,” ujar pria itu lalu menekan tombol untuk membuka gerbang.
Aphrodite tersenyum dan menutup kaca mobilnya, ia pun segera menancap gas pergi menuju rumah Aprodytha.
Selama perjalanan ia terus tersenyum memikirkan rencana yang ia perbuat dan berharap semoga Apordytha – saudari kembarnya, menyetujuinya.
Seperti yang Aphrodite ucapkan sebelumnya, ia pun akhirnya tiba di pekarangan rumah Aprodytha hanya dalam waktu 5 menit. Dan di depan pintu, ia melihat Aprodytha yang berdiri guna menyapa kedatangannya.
Aphrodite turun dari mobilnya dan dengan terburu – buru ia menarik Aprodytha ke masuk ke dalam rumah.
“Eh?!” pekik Aprodytha saat tangannya ditarik oleh Aphrodite secara tiba – tiba.
Aphrodite menutup pintu rumah rapat – rapat dan duduk di atas sofa ruang tengah bersama dengan Aprodytha. Ia melihat wajah Aprodytha dengan seksama.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Aprodytha menyadari wajahnya seperti sedang dibaca oleh seorang peramal.
“Ternyata kau sangat mirip denganku,” ujar Aphrodite.
“Kau gila? Kita saudara kembar!” balas Aprodytha.
“Tidak! Bukan itu. Kau benar – benar mirip denganku. Mungkin orang awam yang melihatnya tak akan menyadari jika kita berdua kembar.”
Aphrodite masih sibuk menelaah wajah Aprodytha yang membuat Aprodytha sedikit merasa tidak nyaman. Aprodytha pun berusaha beranjak dari sofa namun tangan Aphrodite segera menahannya.
“Ya, kita memang mirip. Terkadang Ayah pun sering tertukar antara aku dan kau, kan? Hingga akhirnya Ayah memberikan pembeda dengan membuat tattoo di punggung kita. Kau ingat?” ujar Aprodytha.
Aphrodite menganggukan kepalanya semangat. Ia mengingat dengan jelas bagaimana saat kecil Ayah mereka memaksa memberikan sebuah tattoo bergambar bintang dan bulan yang terletak di bahu mereka dan hanya Aprodytha, Aphrodite serta Ayah mereka yang mengetahui tattoo pembeda itu.
Tattoo pada punggung Aphrodite terletak di bahu kiri dengan lambang bintang sedangkan tattoo milik Aprodytha terletak di bahu kanan dengan lambang bulan sabit.
“Aprodytha,” panggil Aphrodite seraya mendekatkan tubuhnya ke Aphrodite dan mulai meraih lengan saudari kembar identiknya dan matanya pun berbinar.
“Jika kau sudah seperti ini, pasti ada sesuatu yang akan kau minta dariku, kan?” balas Aprodytha menebak apa yang sedari tadi ingin disampaikan oleh Aphrodite.
“Ternyata kau masih hafal kebiasaanku,” kata Aphrodite dengan tatapan penuh harap.
“Katakan padaku.”
“Kau mau tidak, tinggal di rumahku selama 2 minggu?” tanya Aphrodite yang akhirnya membuka suara.
“Apa? Kau gila? Kau sudah ber rumah tangga dan tak mungkin bagiku tinggal bersamamu. Orang – orang bisa berpikir aku akan merebut suamimu!” Aprodytha pun melepaskan pegangan tangan Aphrodite pada tangannya.
“Atau kau justru mau aku menikahi Damien?!” sambung Aprodytha sambal menunjuk wajah Aphrodite.
Aphrodite pun menepis kasar jari telunjuk Aprodytha, “Gantikan aku sebagai diriku selama 2 minggu,” pinta Aphrodite.
“Ternyata kau memang gila,” ujar Aprodytha, ia pun berusaha beranjak namun lagi – lagi di tahan oleh Aphrodite.
“Aku berselingkuh,” ujar Aphrodite yang ternyata sukses membuat Aprodytha kehabisan kata – kata.
“Apa?” Aprodytha pura – pura tak mendengar ucapan Aphrodite.
“Dengarkan aku dan tolong bantu aku kali ini saja. Suamiku pergi selama 3 tahun tanpa kabar dan jujur saja aku haus akan perhatian, dan Izekiel datang di saat aku membutuhkan perhatian itu. Kini hubunganku dengannya sudah berjalan hampir 3 tahun dan aku hanya berniat untuk pergi bersama nya ke Bali selama 2 minggu,” ujar Aphrodite berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Aprodytha menggelengkan kepalanya dan masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh saudari kembarnya, “Kau sudah bersuami, Aphrodite!”
“Aku tahu itu, Aprodytha! Aku salah, tapi aku tak bisa menahan harus jatuh cinta dengan siapa. Jika kau ingin menyalahkan orang lain, kau seharusnya menyalahkan Damien yang pergi tanpa kabar selama 3 tahun namun tetap ingin terikat dalam pernikahan. Bukankah dia sangat egois?”
Aprodytha pun membenarkan ucapan Aphrodite. Mungkin Aphrodite benar – benar membutuhkan Izekiel sampai ia bertindak sejauh ini. Namun, apa jadinya jika Damien tahu bahwa istrinya berselingkuh dengan pria lain? Apa lagi sampai berlibur ke luar negeri.
“Lalu, sekarang kau mau aku harus apa?” tanya Aprodytha.
“Aku mau kau menggantikanku di rumah,” jawab Aphrodite seraya membenarkan postur tubuhnya agar duduk dengan tegap.
“Maksudmu?”
“Jadi, aku bilang bahwa aku akan pergi ke luar negeri untuk mengunjungi sanak keluargaku, namun Gaga selaku asisten pribadi Damien justru tak menyetujui keberangkatanku. Dia berpesan untuk mendatangkan keluargaku ke Italia padahal itu sebenarnya hanyalah alibiku agar bisa pergi berlibur dengan Izekiel. Jadi pilihannya berganti, aku boleh pergi dengan dua orang pengawal atau tak pergi sama sekali.”
“Kenapa harus dengan pengawal? Memang di luar sana berbahaya, apa? Aku selama lima tahun di Amerika sepertinya baik – baik saja. Suamimu itu benar – benar terlalu protektif.”
“Sangat! Dia sangat berlebihan dan egois dalam hal apapun!”
Aprodytha pun semakin bersemangat mendengar rencana milik Aphrodite dan ia mulai memahami rencana yang dibuat oleh saudari kembarnya itu, “Lalu, kau mau tetap pergi dengan Izekiel dan tentu saja tanpa pengawal, namun untuk mengelabui mereka aku akan berpura – pura menggantikan posisimu sebagai seorang Aphrodite? Begitu maksudmu?”
“Benar! Kau tahu kan kita benar – benar sangat mirip!”
“Tapi, kita memiliki tanda yang berbeda, Aphrodite.”
“Siapa pun tak akan ada yang tahu tentang tanda itu. Damien sekalipun tak pernah melihatku telanjang, jadi otomatis dia tak akan tahu,” ujar Aphrodite menjelaskan bahwa dirinya memang benar tak pernah disentuh sama sekali oleh Damien.
“Tapi, bagaimana jika Damien tiba – tiba pulang saat kau tak ada?”
Aphrodite mengangkat tangannya lalu menggerakannya ke kanan dan ke kiri, “Tidak mungkin. Lihatlah selama 3 tahun ini, dia tak pernah pulang apa lagi menghubungiku. Jadi, tenang saja.”
“Baiklah jika memang begitu. Ingat! Hanya 2 minggu dan tidak lebih, okay?”
Aphrodite menganggukan kepalanya lalu segera memeluk Aprodytha, “Kau tak usah khawatir, Aprodytha. Tak ada satupun yang tahu jika aku memiliki saudara kembar identik.”
Aprodytha pun mengusap punggung Aphrodite. Mungkin dia berdosa karena membantu perselingkuhan saudari kembarnya, namun ia juga tak ingin Aphrodite tersiksa karena terus menunggu Damien tanpa kabar.
* * * * *
Las Vegas, USA
Damien melangkahkan kakinya ke dalam ruangan gelap dan kosong. Jauh di tengah ruangan, terdapat sorot cahaya yang berasal dari sinar matahari yang langsung menyinari sosok pria yang terikat di atas kursi dengan mata yang ditutup dengan kain berwarna hitam.
Tuk !
Tuk !
Suara langkahan kaki Damien menambah kesan seran bagi pria.
“Siapa di sana! Lepaskan aku!” teriak pria itu.
Damien tak mengindahkan ucapan pria itu. Ia terus berjalan perlahan lalu menempelkan sebatang rokok dan mengeluarkan korek api dari dalam sakunya. Ia pun menyalakan rokok di mulutnya dan setelah berdiri di hadapan pria yang terikat di atas kursi, Damien pun menghirup rokok itu dengan kuat dan menyemburkan asapnya tepat di depan wajah pria itu.
“Uhuk! Uhuk!” pria itu terbatuk – batuk karena asap rokok yang ia hirup.
“Persetan!” pekik pria itu lagi lalu berusaha bergerak hingga kursi yang ia duduki goyang, “Lepaskan aku!”
Brak!
Damien menendang kursi itu ke belakang hingga kursi beserta orang yang duduk di atasnya terjatuh. Karena terlalu kuat menendang kursi kayu itu, kaki kursinya pun sampai patah.
Satu tangan dimasukkan ke dalam saku dan satu tangan lainnya Damien gunakan untuk mengambil rokok dari dalam mulutnya dan ia injak dengan satu kaki. Kakinya pun melangkah mendekati pria itu dan berlutut di hadapannya.
Tangan Damien menarik paksa kain yang menutupi mata pria itu dan sontak pria itu terkejut setelah mengetahui sosok yang berada di hadapannya.
“Bukankah tadi kau bilang untuk melepaskan benda ini?” ujar Damien seraya mengangkat kain hitam yang sudah robek karena ditarik paksa olehnya.
“Tolong ampuni aku, Damien!” ujar pria itu lalu mendudukan kepalanya karena badannya pun masih terikat pada kursi yang sudah hancur akibat ditendang oleh Damien.
Damien menyunggingkan senyumnya sinis, “Ampuni? Untuk apa, Galen?”
Suara Damien yang dingin dan mengintimidasi membuat pria bernama Galen itu tak mampu berkata apapun. Yang ada di pikirannya saat ini, hidupnya sudah tamat di hadapan seorang Damien Zeousin.
“Tiga tahun aku mencarimu dan sepertinya itu menjadi hadiah bagiku karena aku berhasil menemukanmu yang ternyata sedang berusaha membunuhku dengan pisau bodoh hingga tanganku tergores,” ujar Damien dan menunjukan telapak tangan yang terdapat luka tergores yang masih basah.
Galen menelan ludahnya setengah mati, keringat sudah bercucuran di pelipisnya.
Damien kembali berdiri dan berjalan meninggalkan Galen yang masih tersungkur di lantai dengan ikatan tubuhnya pada kursi.
Falqib datang menghampiri Damien dan memberikan ponsel yang digunakan oleh Galen selama 3 tahun terakhir.
“Ternyata tak hanya kebun anggur milikmu yang dibakar, ia juga menjadi pelaku yang memberikan laporan fiktif mengenai bar yang baru saja kau dirikan di Las Vegas, serta pembunuhan terhadap beberapa penari striptis di bar milikmu,” ujar Falqib.
Damien melirik pada Galen yang masih tersungkur. Selama tiga tahun Damien mencari keberadaan Galen yang terus menerus memberikan terror yang merugikan bagi bisnisnya. Damien dan Falqib pun berjalan menjauhi Galen.
Dua orang pria berbadan kekar dengan jerigen berisi bahan bakar datang menghampiri Damien, tanpa berkata apapun, mereka hanya menyapa Damien dan langsung mendekati Galen. Sorot mata Galen langsung berubah, ia sudah tahu apa yang akan terjadi padanya jika ia berurusan dengan seorang Damien Zeousin.
“Tunggu! Tunggu! Tidak! Jangan!” teriak Galen saat dua pria berbadan kekar itu mulai menyirami tubuh Galen dengan bahan bakar yang mereka bawa.
Tubuh Galen langsung basah kuyup, dan satu pria lainnya mengeluarkan korek api lalu membuang korek api yang masih menyala tersebut ke atas tubuh Galen.
Kobaran api langsung menyelimuti tubuh Galen, ia berteriak dan masih mengucapkan kata ampun yang dilayangkan pada Damien.
“Maafkan aku! Aku hanya disuruh oleh-” ujar Galen sebelum akhirnya ia tewas akibat kobaran api yang menggerogoti tubuhnya.
Damien tersentak saat ia samar – samar mendengar ucapan Galen di akhir hayatnya. Ia pun bertanya pada Falqib untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar.
“Kau dengar itu?” tanya Damien seraya menolehkan kepalanya ke samping kiri dan melihat Falqib yang masih berdiri terpaku menatap Galen yang dilahap api.
“Ada orang yang menyuruhnya untuk melakukan hal itu,” jawab Falqib.