Aphrodite tampak bersemangat mempersiapkan berbagai barang – barang yang akan ia bawa ke Bali. Ia pun mengeluarkan hampir seluruh isi lemari pakaiannya dan memilih pakaian yang cocok untuk ia pakai selama liburan di Bali bersama Izekiel.
Untuk pertama kali nya, Aphrodite akan keluar dari rumah itu, dan bahkan ia akan meninggalkan tempat itu bersama selingkuhannya yaitu Izekiel. Bukan untuk satu atau dua jam lagi, melainkan selama 2 minggu. Aphrodite pun merasa tidak sabar menanti liburan indahnya.
Aphrodite menarik koper lama yang pernah ia gunakan 3 tahun lalu untuk pindah ke rumah itu dari atas lemari pakaiannya. Debu – debu yang turut menyelimuti koper itu, sukses membuat Aphrodite terbatuk – batuk.
“Uhuk! Uhuk!”
Aphrodite mengibaskan tangannya di depan wajah, berusaha menghindari debu – debu yang berterbangan. Ia pun lantas mengambil tissue dan ia gunakan untuk membersihkan kotoran yang menempel pada koper kesayangannya.
Tok ! Tok ! Tok !
Suara ketukan pintu membuat Aphrodite terhenti dari kegiatannya. Ia menatap ke arah pintu kamar dengan posisi sedang menungging karena sibuk membersihkan kopernya.
Aphrodite panik setengah mati karena menyadari jika kondisi kamarnya luar biasa berantakan. Sepertinya ia terlalu menikmati nikmatnya dilayani setiap hari, hingga kebiasaannya untuk membereskan kamarnya sendiri pun menghilang secara perlahan.
“Maaf, Nyonya. Apa boleh saya masuk? Saya ingin menanyakan makan siang apa yang ingin anda makan,” ujar Alana dari balik pintu yang masih tertutup namun suaranya masih terdengar jelas ke telingan Aphrodite.
Aphrodite bangkit dari posisinya dan segera membuka pintu kamarnya lebar – lebar. Hingga Alana terkejut melihat kehebohan yang dibuat oleh Aphrodite.
“Astaga!” pekik Alana saat melihat ke dalam kondisi kamar milik Aphrodite. Sedangkan Aphrodite hanya tersenyum tanpa berdosa, karena ia tahu kamarnya akan segera dibereskan oleh Alana.
“Anda mau pergi ke mana, Nyonya?” tanya Alana.
Aphrodite memutar otaknya sebelum menjawab pertanyaan itu, ia harus mencari jawaban karena tak mungkin dia dengan lantang menjawab ingin berlibur bersama Izekiel, “Aku akan pergi mengunjungi saudaraku di Amerika,” ujarnya.
“Saudara?” tanya Alana.
“Iya, aku memiliki saudara di Amerika dan mereka selalu rebut karena aku tak pernah mengunjungi mereka setelah mereka,” jawab Aphrodite.
Alana pun menganggukan kepalanya. Ini memang pertama kalinya bagi Aphrodite membicarakan mengenai keluarganya. Karena sebelumnya Aphrodite memang tak pernah bercerita apapun tentang keluarganya. Jangankan keluarga, mengenai Aprodytha aja tak ada satupun yang tahu termasuk Damien.
“Baiklah, nanti akan saya bereskan. Mengenai makan siang, apa yang ingin anda makan, Nyonya?” tanya Alana kembali ke topik awal tujuannya ke kamar Aphrodite.
“Aku mau nasi goreng dari Indonesia saja,” jawab Aphrodite.
Alana pun mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku beserta pena, “Ada lagi, Nyonya?” tanya Alana seraya menatap wajah Aphrodite.
“Itu saja,” jawab Aphrodite singkat.
“Baik,” balas Alana.
Alana pun kembali memasukkan buku catatan kecil itu ke dalam saku dan meninggalkan Aphrodite yang masih berdiri di ambang pintu sesaat, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
Aphrodite kembali melihat tumpukan pakaian, koper yang sudah terbuka dan siap di isi oleh beberapa pakaian miliknya. Tangannya meraih setumpukan baju yang sudah ia pisahkan dan ia susun ke dalam koper.
Usai seluruh pakaian beserta perlengkapan kebutuhan pribadi lainnya masuk ke dalam koper, Aphrodite pun menutup koper dan menduduki koper itu agar resleting yang digunakan untuk menutup koper itu bisa tertutup dengan rapi.
Kopernya sudah siap dan seluruh barang yang ia butuhkan pun sudah masuk ke dalam sana. Mungkin jika ada kekurangan yang lupa ia bawa, ia akan membeli barang – barang lainnya saat di Bali.
* * * * *
Tok !
Tok !
Tok !
Suara ketukan pintu terdengar nyaring di telinga Aphrodite. Wanita yang semula sedang bercermin dan merapikan penampilannya usai mandi, lantas berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu.
“Makan siang anda sudah siap, Nyonya,” ujar Alana ketika melihat Aphrodite yang sudah berdiri di hadapannya.
Aphrodite pun keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Ia berjalan beriringan dengan Alana ke arah ruang makan.
Aphrodite bisa melihat sepiring penuh nasi goreng khas Indonesia yang ia minta untuk makan siang hari ini. Seperti biasanya, beberapa pelayan di rumahnya akan berdiri di sudut ruang makan dan juru masak yang bertugas pun turut berdiri di sudut ruang seraya memperhatikan ke arah Aphrodite.
Jika sesuatu terjadi pada Aphrodite seperti ia kurang menyukai makanannya ataupun keracunan akibat makanan yang ia makan, maka orang – orang di sana, bisa dengan sigap menangani Aphrodite.
Alana menarik kursi untuk Aphrodite, dan Aphrodite yang sudah terbiasa dengan pelayanan itu segera mendudukan dirinya di atas kursi. Sebuah serbet berwarna putih diletakkan di atas paha nya. Lalu ia pun mengambil sendok dan mengambil sesuap nasi goreng yang sangat sehat itu ke dalam mulutnya.
Bagaimana tidak, Aphrodite sangat terobsesi dengan diet karena berat badannya yang bisa naik drastis. Ia pun meminta pada juru kokinya, untuk membuat makanan diet apapun menu yang ia minta. Contohnya adalah nasi goreng di hadapannya.
Jika nasi goreng terlihat berwarna kecoklatan dengan toping potongan daging atau ayam beserta sayuran, namun berbanding terbalik dengan nasi goreng yang disantap oleh Aphrodite. Nasi goreng itu berwarna putih, dan hanya ditambahkan beberapa sayuran seperti kacang polong, wortel dan jagung.
Ketika Aphrodite mulai menikmati makannya, sang juru masak akan berkeringat setengah mati. Ia seringkali mendapat protes yang dilayangkan oleh Aphrodite dan biasanya para juru masak yang masakannya sama sekali tak diterima oleh lidah Aphrodite, akan berakhir dengan pemecatan paksa.
“Alana,” panggil Aphrodite.
Alana yang semula berdiri di sudut ruang makan pun segera menghampiri Aphrodite.
“Siapa yang masak nasi goreng ini?” tanya Aphrodite membuat keringat dingin bercucuran di pelipis sang juru masak.
“Saya, Nyonya,” seorang juru masak pria yang sudah berkeringat hebat akhirnya membuka suaranya dan maju satu langkah dari tempatnya berdiri.
Aphrodite merasa asing melihat wajah yang tak biasa ia lihat, “Orang baru?” tanya Aphrodite.
“Benar, Nyonya. Dia juru masak baru anda karena yang sebelumnya anda pecat,” jawab Alana.
Aphrodite menaikkan sebelah alisnya, “Apa kau akan menjadi orang ke sebelas yang aku pecat?” ujar Aphrodite.
“Maafkan saya, Nyonya! Saya akan masak lebih baik lagi!” ujar juru masak itu seraya berlutut di lantai.
Aphrodite menyunggingkan senyumannya, “Tidak. Masakanmu enak. Aku menyukainya. Siapa namamu?”
“Nama saya Jae, Nyonya!” jawab Jae dengan nada tegas yang sebenarnya membuat beberapa pelayan menjadi menahan tawanya.
“Namamu aneh. Dari mana asalmu?”
“Saya dari Korea Selatan, Nyonya!” jawab Jae lagi.
Aphrodite pun menganggukan kepalanya. Ia teringat pada Izekiel yang berasal dari Jepang. Sebenarnya ia menyukai masakan yang dihidangkan oleh Jae, hanya saja ia berpura – pura untuk membuat suasana tegang.
“Tak perlu berlutut lagi, Jae. Silakan berdiri,” titah Aphrodite.
Jae yang mendengar perintah itu pun segera berdiri dan kembali ke posisi nya.
“Sepertinya masakan orang Asia memang berbeda, ya,” gumam Aphrodite yang ternyata didengar oleh Alana yang berdiri di sampingnya.
“Maaf?” sahut Alana.
“Ah tidak,” balas Aphrodite.
Aphrodite pun kembali meneruskan makan siangnya. Dan seperti biasa, Aphrodite tidak pernah menghabiskan makanan yang disajikan padanya.
* * * * *
Usai menikmati makan siangnya, Aphrodite pun kembali ke kamarnya. Ia melihat kamarnya sudah rapi seperti semula.
“Sepertinya Alana meminta pelayan yang lain untuk membereskan kamarku,” ujar Aphrodite setelah mengingat bahwa selama makan siang dirinya ditemani oleh Alana, dan sangat tidak mungkin jika Alana justru merapikan kamarnya.
Tok !
Tok !
Tok !
Suara ketukan pintu pun terdengar lagi, membuat Aphrodite dengan malas memutar bola matanya, “Astaga apa lagi? Baru saja aku masuk ke kamar!” keluh Aphrodite.
Aphrodite pun terpaksa membuka pintu kamarnya dan melihat sosok pria tinggi yang berdiri membelakanginya.
“Berani sekali dia membelakangiku?” ujar Aphrodite dalam hatinya.
“Maaf, anda siapa ya?” tanya Aphrodite.
Pria di hadapannya pun lantas membalikan tubuhnya dan menatap Aphrodite. Wajahnya sangat asing dan berulang kali Aphrodite mengingat siapa pria itu, namun memori di otaknya sepertinya tak menemukan kecocokan dengan pria manapun yang pernah ia temui.
“Selamat siang Nyonya Zeousin, perkenalkan saya Gaga Anumerta,” ujar pria bernama Gaga itu seraya memperkenalkan dirinya di hadapan Aphrodite.
“Bagaimana anda bisa masuk?” tanya Aphrodite balik.
“Saya dulu adalah salah satu asisten pribadi Tuan Zeousin dan kini saya sudah pensiun karena saya sudah terlalu tua. Saya kemari bermaksud ingin memberitahukan sesuatu pada anda,” ujar Gaga.
Aphrodite menganggukan kepalanya, “Apa kau kemari bermaksud ingin memberitahukan berita duka dari Damien?” tanya Aphrodite lantang karena ia sudah terlalu kesal tak pernah menerima kabar dari seorang Damien Zeousin yang notabene adalah suaminya sendiri.
“Tuan Zeousin saat ini sedang sibuk dengan bisnisnya, jadi beliau mengutus saya untuk menyampaikan beberapa hal. Hal yang pertama adalah, kepulangan Tuan Zeousin belum di konfirmasi. Jadi belum tahu pasti kapan beliau akan pulang, mungkin bisa lebih cepat atau lebih lama,” ujar Gaga pada Aphrodite.
Aphrodite pun menganggukan kepalanya, ia sudah mengira jika pria itu memang tak memperdulikannya sama sekali.
“Hal yang ke dua adalah, anda dilarang untuk berpergian ke luar negeri,” ujar Gaga yang sukses membuat Aphrodite membelalakan matanya.
“Apa?! Mana bisa begitu? Aku kan pergi karena ingin menemui keluargaku!” ujar Aphrodite karena tak terima dengan larangan tersebut.
Gaga menarik napasnya, “Kalau begitu bagaimana jika keluarga Nyonya yang datang ke Italia? Saya akan menanggung seluruh kebutuhan keluarga Nyonya di mulai dari tiket, tempat tinggal dan yang lainnya.”
Aphrodite kaku mendengarnya, jelas – jelas ia sebenarnya berbohong perihal keluarganya. Jika mereka tau ia akan berlibur bersama Izekiel, sudah pasti akan dilarang.
“M-Mereka membenci Italia, itu sebabnya mereka pindah ke luar negeri,” ujar Aphrodite berdalih.
“Bagaimana jika anda pergi dengan pengawasan dari dua pengawal anda yaitu Noah dan Peter,” ujar Gaga berusaha memberikan saran.
“Tunggu! Kenapa saya harus di jaga sampai begitu pentingnya? Saya kan hanya mau ke luar negeri! Lagi pula saya akan segera kembali!” balas Aphrodite tak terima dengan keputusan sepihak yang dilayangkan padanya.
“Tuan Zeousin tidak mengizinkan anda untuk pergi ke luar negeri seorang diri. Mungkin jika bersama Peter dan Noah, Tuan bisa menerimanya.”
“Kalau begitu, biarkan aku bicara dengan Damien sekarang!”
“Maaf, tapi-”
“Dia sibuk kan? Aku sudah tahu jawabannya, kok. Dia sangat sibuk, bahkan sampai tiga tahun pun dia tak pernah memberi kabar apapun padaku!” ujar Aphrodite dengan nada tingginya.
Ia pun kembali masuk ke kamarnya dan membanting pintu di hadapan Gaga. Aphrodite bersandar di balik pintu. Sebetulnya ia takut jika Gaga menyetujui permintaannya untuk berbicara dengan Damien, karena sudah pasti akan ketahuan, mengingat Damien seperti orang yang bisa melakukan apapun.
Aphrodite pun berjalan ke tempat tidurnya, lalu melihat ke arah layar ponselnya. Layar ponsel yang semula gelap, tiba – tiba saja menyala karena panggilan masuk dan menampilkan nama Aprodytha.
“Atau aku bisa menggunakan cara lain,” gumam Aphrodite seraya tersenyum melihat nama malaikat penolong yang baru saja terpampang di layar ponselnya.