Leonardo da Vinci – Fiumicino Airport
Fiumicino, Lazio, Italy
Sinar terik matahari berhasil menyinari Kota Lazio beserta dengan udara panasnya. Namun sepertinya, suasana panas itu tak menyurutkan niat para pendatang serta penduduk asli di Fiumicino Airport atau yang biasa disebut sebagai Leonardo da Vinci Airport.
Sebuah mobil Alfa Romeo Disco Volante berwarna merah menepi ke tempat pemberhentian yang disediakan untuk menjemput orang – orang yang baru saja tiba di Leonardo da Vinci Airport. Warna merah yang mencolok, desain mewah dan terlihat mahal serta tak memiliki atap, membuat sosok wanita yang mengendarai mobil itu semakin terlihat menarik dan berhasil merebut perhatian banyak orang yang berada di sana.
Mata Aprodytha langsung tertuju pada mobil berwarna merah yang berhenti tepat di hadapannya. Ia tersenyum saat melihat siapa pengendara mobil mewah itu. Wanita yang memiliki paras sama cantiknya dengan dirinya kini sedang menatapnya dengan sebuah kaca mata hitam besar yang menghiasi wajahnya.
“Lihatlah siapa yang baru saja tiba dengan gaya yang begitu menarik perhatian seluruh orang di sini,” ujar Aprodytha seraya melempar senyumnya.
Aphrodite yang berada di dalam mobil langsung melepas kaca matanya dan sedikit membenarkan rambutnya yang tampak berantakan akibat angin yang menerpa rambutnya selama ia berkendara.
“Ternyata bukan apa kabar atau ucapan memuji, rupanya kau justru mengomentari gayaku yang tampak mencolok perhatian,” sahut Aphrodite.
“Karena memang kenyataannya seperti itu,” balas Aprodytha.
Aprodytha pun mengangkan koper berwarna merah muda miliknya ke bagian kursi belakang mobil lalu ia pun membuka pintu dan duduk di kursi penumpang yang tepat berada di sebelah Aphrodite.
Setelah menggunakan seat belt, Aphrodite segera menancapkan gas dan meninggalkan bandara. Melalui spion nya, ia bisa melihat beberapa orang yang ternyata mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto dari mobilnya tersebut.
“Tiga tahun menikah rupanya membuatmu semakin kaya, huh?” ujar Aprodytha.
“Tidak seperti itu, Aprodytha,” jawab Aphrodite seraya mengendarai mobil mewahnya dengan pandangan mata yang sesekali melihat ke arah Aprodytha lalu kembali fokus kepada jalanan di depannya.
“Apa dia masih tidak memberimu kabar?” tanya Aprodytha.
Aphrodite terdiam sejenak, “Dia tak pernah mengabariku. Mungkin dia sudah lupa jika dia memiliki istri di sini,” balasnya.
“Mana mungkin dia lupa, Aphrodite. Jelas – jelas ia masih suka mengirimkan uang ke rekeningmu. Sudah pasti dia mengingatmu.”
“Jika dia mengingatku, dia akan menghubungiku, kan? Walau hanya sebulan sekali, paling tidak beri aku kabar,” jawab Aphrodite dengan nada kesal, dan tanpa ia sadari ia memukul stir mobil miliknya.
Keheningan pun menyelimuti wanita kembar identik itu. Aprodytha enggan memberikan komentar apapun, karena ia takut menyakiti perasaan Aphrodite. Dia tahu jika Damien memang tak pernah memberi kabar pada Aphrodite. Sebagai istri pun, Aphrodite berulang kali menuntut Damien untuk menghubunginya namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya ia menyerah, dan hidup seperti sekarang.
“Aku sudah mencoba melayangkan gugatan untuk bercerai, namun ditolak mentah – mentah oleh pengacara pribadinya. What the hell?!” gumam Aphrodite yang secara jelas dapat didengar oleh Aprodytha.
Setelah melewati puluhan kilometer melalui jalanan Italia, akhirnya mereka tiba di Sisilia. Sebelum Aprodytha tiba, Aphrodite sudah menyewakan sebuah rumah kecil yang tak jauh dari rumah tempat ia tinggal. Aprodytha sedikit kebingungan saat mobil yang ia tumpangi menepi di depan sebuah rumah asing.
“Rumahmu?” tanya Aprodytha saat Aphrodite telah menepikan kendaraannya di halaman depan rumah itu.
“Rumahmu,” jawab Aphrodite.
Aphrodite lalu turun dari mobil dan membantu Aprodytha menurunkan kopernya. Aprodytha melihat rumah sederhana di hadapan nya.
“Kenapa tidak kembali ke rumah lama kita saja? Bukankah rumah itu kosong?” ujar Aprodytha.
“Aku sudah menjual rumah itu. Aku tak tahan mengingat kenangan bersama Ayah,” balas Aphrodite.
Aprodytha mengerenyit, “Apa kau gila? Rumah itu punya banyak kenangan!” Aprodytha menggertak Aphrodite yang main memutuskan keputusan penting seorang diri.
“Maaf! Oke? Sekarang pun tak ada guna nya untuk membeli rumah itu lagi, karena lahan rumah itu sudah diratakan dan dibangun sebuah pusat perbelanjaan,” balas Aphrodite dengan nada yang sama kesalnya.
Aprodytha yang masih kesal pun meninggalkan Aphrodite dan merebut kunci dari tangan Aphrodite lalu segera membuka pintu rumah itu. Ia mengambil sebuah gelas dan segera mengisinya dengan air yang sudah berada di atas meja makan.
Aphrodite menyusul Aprodytha dan meletakkan koper milik saudari kembarnya di depan sebuah pintu kamar, “Ini kamarmu. Kau akan tinggal sendirian disini,” ujarnya.
Aprodytha tak memperdulikan ucapan Aphrodite. Aphrodite tahu jika saudari kembarnya sangat marah dan ia pun merasa bersalah karena membuat keputusan penting seorang diri. Ia akhirnya pergi dari rumah itu tanpa berpamitan dengan Aprodytha terlebih dahulu.
Usai saudari kembarnya pergi, Aprodytha pun menghampiri kopernya dan membuka pintu kamar. Rumah itu sangat minimalis. Hanya tersedia dua kamar dan dua kamar mandi. Itu pun satu kamar yang lain rupanya di desain sebagai ruang kerja yang mungkin bisa Aprodytha gunakan suatu saat nanti.
* * * * *
Aphrodite mengendarai mobilnya ganas karena rasa kesal yang meluap. Ia tahu jika dirinya salah namun ia paling tidak suka disalahkan. Namun sekalipun ia salah, setidaknya Aprodytha tak perlu marah padanya, apalagi mereka baru saja bertemu setelah hampir 5 tahun tak pernah berjumpa.
Bruk!
“s**t!” pekik Aphrodite seraya memukul kemudinya.
Mobil yang ia kendarai menabrak pembatas jalan karena ia kehilangan kendali. Aphrodite segera turun dari mobilnya untuk melihat kerusakan mobil serta pembatas jalan yang di akibatkan oleh dirinya.
Bumper mobil tersebut rupanya sedikit penyok dan pembatas jalan pun hancur karena ditabrak olehnya tanpa sengaja. Aphrodite lalu memeriksa ponsel miliknya dari dalam tas yang berada di kursi belakang namun hasilnya nihil.
Ia baru teringat jika ia meninggalkan ponselnya yang masih mengisi daya di dalam kamarnya. Aphrodite sepertinya tak memperdulikan hal itu, ia lantas kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan lokasi kejadian.
Dengan kecepatan tinggi, Aphrodite mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Sebelum sampai ke rumahnya, matanya ternyata menangkap sebuah mobil berwarna biru tua yang sangat ia kenali. Ia pun segera menancap rem dan mendekati mobil itu.
Setelah menepikan mobilnya di sisi jalan, Aphrodite turun dari mobil dan mengetuk kaca mobil itu. Kaca mobil pun terbuka dan menampilkan sosok Izekiel di dalamnya.
“Hei,” sapa Izekiel ramah.
Pria itu sepertinya menyadari jika raut wajah Aphrodite tidak sedang baik – baik saja.
“Suasana hatimu sedang kacau rupanya,” ujar Izekiel.
“Ya, kau tahu itu, kan?” balas Aphrodite malas.
“Masuklah. Urusan mobilmu serahkan saja padaku. Biar orang suruhanku yang mengurusnya,” ujar Izekiel.
Aphrodite sedikit tersenyum mendengarnya. Ia pun segera berlarian ke sisi penumpang dan membuka pintu itu lalu masuk ke dalam mobilnya.
“Jadi, kau sudah bertemu dengan saudari kembarmu?” tanya Izekiel yang rupanya justru menambah rasa kesal pada dirinya.
“Ah aku mengerti,” sambung Izekiel.
Tanpa basa – basi dan setelah mengetahui penyebab Aphrodite kesal, ia pun segera membawa wanita itu pergi. Dari kaca spion, ia bisa melihat jika mobil yang dikendarai oleh Aphrodite habis menabrak sesuatu, namun Izekiel tak akan bertanya karena ia tahu itu akan membuat suasana hati Aphrodite semakin buruk.
Sudah tiga tahun Izekiel mengenal Aphrodite, dan sudah sewajarnya jika ia sangat memahami Aphrodite. Selama 3 tahun itu pula, Izekiel dan Aphrodite menjalin hubungan terlarang. Aphrodite menutup rapat jika ia berhubungan dengan Izekiel.
Meski Alana pernah mencurigai Aphrodite karena terus menerus pergi dengan Izekiel, rupanya Izekiel tak pernah kehabisan akal agar bisa tetap bersama dengan Aphrodite.
* * * * *
Izekiel membawa Aphrodite ke sebuah restaurant Jepang yang berada tak jauh dari rumah Aphrodite. Setelah mobilnya terparkir, Izekiel segera turun dan membukakan pintu untuk Aphrodite dan mempersilakan wanita nya turun.
“Apa ini?” tanya Aphrodite saat menyadari ia kini berada di restaurant asing.
“Restaurant makanan jepang. Mungkin jika ke penthouse milikku, kau akan merasa bosan dengan makanan itu – itu saja yang aku buatkan. Jadi aku memutuskan untuk mengajakmu kemari, sekaligus memperkenalkan cita rasa negara asalku,” jawab Izekiel.
Aphrodite pun tersenyum, ia meraih lengan Izekiel dan memeluknya. Mereka berdua pun jalan beriringan dan memasuki restaurant itu.
Izekiel memilih tempat duduk yang tak menggunakan kursi, melainkan hanya lesehan biasa di atas lantai kayu. Izekiel pun membantu Aphrodite melepas high heels yang wanita itu gunakan.
“Kau tidak bersama dengan pengawalmu?” tanya Izekiel.
“Aku sudah berkata akan ke bandara untuk menjemput saudaraku, dan mereka menurutiku untuk tidak mengikutiku. Jadi, aku seorang diri saat ini,” jawab Aphrodite.
Izekiel tersenyum dan mengusap pipi Aphrodite.
Seorang pelayan restaurant dengan pakaian kimono berwarna merah muda menghampiri mereka lalu menyerahkan buku dengan daftar makanan di dalamnya.
“Silakan. Jika ada yang ingin anda pesan, silakan menekan tombol yang ada di atas meja,” ujar pelayan wanita itu seraya menunjukan sebuah tombol kecil berwarna merah yang terletak tepat di tengah meja lalu pergi meninggalkan meja Izekiel dan Aphrodite.
Izekiel mengambil buku daftar makanan itu dan membalikan halaman demi halaman, “Kau mau makan apa?” tanya Izekiel lembut.
“Aku tidak tahu harus makanan apa. Pilihkan saja yang rendah kalori, karena aku tidak tau jenis makanan khas Jepang seperti apa,” jawab Aphrodite.
Izekiel baru saja teringat jika ini adalah pertama kalinya bagi Aphrodite berada di restaurant jepang. Ia pun akhirnya membalikan halaman hingga tiba di halaman yang dipenuhi dengan gambar sushi.
“Aku pesankan sushi dengan topping ikan salmon ya,” ujar Izekiel.
“Iya apa saja,” jawab Aphrodite.
Izekiel pun menekan tombol yang berada di tengah meja sesuai dengan instruksi pelayan restaurant itu. Lalu sang pelayan pun datang dan mencatat pesanan mereka.
Tak perlu menunggu waktu lama, makanan yang mereka pesan akhirnya tiba di atas meja. Izekiel mengambilkan sebuah garpu dan ia serahkan pada Aphrodite, karena ia sudah bisa menebak jika wanita di hadapannya itu tidak akan bisa menggunakan sumpit.
Aphrodite menancapkan garpu di atas ikan salmon berwarna merah di hadapannya dan memasukan ikan ke dalam mulutnya. Matanya terbuka dan raut wajahnya terbuka, sedangkan Izekiel yang duduk di hadapannya terlihat bingung dan menunggu respon dari Aphrodite.
“Bagaimana? Kau suka? Apa itu enak?” tanya Izekiel.
“Aku suka!” jawab Aphrodite, ia pun kembali memasukan potongan yang lain ke dalam mulutnya.
Selagi Aphrodite menyantap makanannya, rupanya Izekiel tampak merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Ia membuka kunci layarnya lalu ditunjukan kepada Aphrodite.
“Apa ini?” tanya Aphrodite, lalu meletakkan garpunya dan melihat ke layar ponsel Izekiel.
“Bali?” sambung Aphrodite setelah melihat tulisan di atas ponsel milik Izekiel.
Aphrodite tampak kebingungan. Akhirnya Izekiel pun menarik ponselnya kembali lalu memasukan ke dalam sakunya.
“Kita sudah mengenal cukup lama, lagi pula suamimu itu tak pernah menghubungimu dan tak pernah sekalipun datang setelah tiga tahun lamanya bukan? Tidak ada salahnya jika kita menggunakan waktu berharga tersebut dengan berlibur ke Bali,” kata Izekiel berusaha menjelaskan maksud dirinya yang telah memesan dua tiket pesawat menuju Bali.
“Apa maksudmu?”
“Coba pikirkan lagi, Aphrodite. Tak ada salahnya, kan?” ujar Izekiel lalu menyentuh tangan Aphrodite yang berada di atas meja dan mengusapnya perlahan.
“Tapi, aku tak mempunyai passport karena aku tak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri,” ujar Aphrodite.
“Tenang saja, aku akan mengurusnya untukmu. Akan aku pastikan kau hanya tinggal terima berangkat,” ujar Izekiel berusaha menenangkan Aphrodite yang merasa khawatir karena tak memiliki passport sebagai salah satu syarat untuk berpergian ke luar negeri.
Aphrodite berpikir sejenak, ia pun sebenarnya setuju dengan saran Izekiel. Terlebih, Damien memang tak ada kabar sama sekali dan mungkin sangat aman baginya jika meninggalkan rumahnya dan pergi berlibur dengan Izekiel ke Bali.
“Aku berhak menghirup udara segar, kan?” gumam Aphrodite seraya memperhatikan wajah Izekiel dengan seksama.
“Tentu saja, sayangku,” balas Izekiel.
Aphrodite pun menganggukan kepalanya sebagai tanda ia menyetujui ide liburan ke Bali bersama dengan Izekiel.