3 tahun kemudian . . .
Times Square, New York City, USA
Puluhan gedung tinggi menjulang tinggi ke langit seolah saling berlomba siapa yang paling cepat menyentuh awan. Ribuan papan iklan digital menayangkan berbagai macam iklan. Mulai dari fashion, makanan, minuman, hingga beberapa produk kecantikan yang disampaikan secara menarik melalui papan iklan digital itu.
Seorang perempuan dengan badan ramping melangkahkan kakinya di sepanjang jalan Kota New York. Matanya berbinar melihat berbagai toko yang menjajakan diskon super di akhir tahun. Sorot matanya pun terpaku saat ia melihat sebuah toko kosmetik yang menawarkan pembelian satu gratis satu.
Kakinya berhenti di depan sebuah zebra cross, ia dengan sabar menanti lampu itu berganti menjadi hijau. Dan, sepertinya Tuhan menyetujui kehendaknya. Lampu itu pun segera berubah menjadi hijau, ia pun melangkahkan kakinya seorang diri melewati jalanan Kota New York yang tak pernah kenal kata sepi.
Alis tebal, hidung mancung dan mata berwarna hijau ternyata menjadi daya tarik seorang perempuan bernama Aprodytha Patricia itu. Dengan senyuman ramahnya, ia menyapa salah seorang pelayan toko yang sedang membereskan beberapa produk ke dalam etalase.
“Halo, selamat siang,” sapanya.
Sang pelayan dengan pakaian serba hitam itu pun segera meletakkan barang yang ada di tangannya dan menatap Aprodytha, ia membalas senyuman Aprodytha dan memperbaiki postur tubuhnya, “Selamat datang di Urban Decay. Ada yang bisa saya bantu?” jawab pelayan dengan pin nama bertuliskan Kinan di d**a sebelah kiri nya dengan penuh semangat.
“Hai. Saya melihat ada beli satu gratis satu di depan sana, apa saya boleh tahu apa itu?” tanya Aprodytha pada Kinan.
Kinan memperhatikan penampilan Aprodytha dari atas hingga ke bawah, dia tidak bisa memungkiri jika hanya dari penampilan sederhana Aprodytha, ia sudah tahu bahwa wanita di hadapannya ini sangat menyukai barang diskon dan gratis.
Kinan menghampiri sebuah etalase yang menjajakan produk eye shadow dengan berbagai warna. Mulai dari yang dengan terlihat metalik, hingga warna – warna gelap dan netral.
“Produk ini semuanya beli satu gratis satu, jadi silakan pilih yang mana saja,” ujarnya.
Aprodytha tersenyum, “Terima kasih,” balasnya.
Kinan pun kembali membereskan barang yang tadi ia tinggalkan untuk melayani Aprodytha. Sedangkan Aprodytha pun masih terfokus dengan tumpukan eye shadow dengan warna netral. Meski ia sangat menyukai make up, namun sebenarnya ia lebih menyukai yang bergaya netral dan tak memberikan kesan menonjol pada wajahnya.
Selagi Aprodytha memilih warna eye shadow yang akan ia bawa pulang, tanpa ia sadari sepasang mata tertuju ke arahnya. Pria itu melihat Aprodytha dengan seksama bahkan tak beranjak sedetik pun dari sosok Aprodytha.
Aprodytha pun selesai memilih 6 warna eye shadow yang akan ia bawa pulang. Ia segera melangkahkan kakinya menuju kasir. Kinan yang mengetahui Aprodytha sudah selesai memilih eye shadow yang ia tunjukkan, ia pun segera beranjak menuju tempat kasir dan membantu Aprodytha untuk membuat total belanjaannya.
Kinan meraih salah satu eye shadow tersebut dan memperlihatkan barcode nya pada sebuah mesin pembaca barcode.
Tit!
“Ada tambahan lainnya?” tanya Kinan sembari memasukan ke 6 eye shadow itu ke dalam tas belanja bertuliskan Urban Decay yang diberikan secara cuma – cuma.
“Itu saja. Oh ya, kamu hanya sendiri?” tanya Aprodytha balik.
“Kebetulan jika siang hari hanya satu orang saja yang berjaga di toko. Karena biasanya toko ini hanya ramai di akhir pekan atau malam hari,” balas Kinan.
Aprodytha menganggukan kepalanya, memberikan respon bahwa ia mengerti dengan apa yang Kinan bicarakan, lalu ia pun mengeluarkan kartu debitnya dari dalam dompet yang berada di dalam tas selempang miliknya dan memberikannya pada Kinan untuk membayar belanjaan miliknya.
“Totalnya jadi $ 180 ya,” ujar Kinan sembari menggesekan kartu debit milik Aprodytha pada sisi layar monitor.
Setelah terbayar, Kinan pun memberikan struk pembelanjaan beserta kartu debit milik dan tak lupa kantung belanja berwarna hitam itu kepada Aprodytha.
“Terima kasih,” ujar Aprodytha.
“Terima kasih kembali,” balasnya.
Aprodytha mengulurkan tangannya dan mengambil tas belanja yang berada di hadapannya dan segera keluar dari toko itu. Selama kaki nya melangkah kemana pun, nyatanya sorot mat aitu masih tetap mengawasi Aprodytha.
Namun, entah mengapa wanita itu tak menyadari sama sekali jika dirinya menjadi bahan tontonan bagi orang misterius yang berjarak hampir tiga puluh meter dari tempat nya berdiri. Aprodytha hanya terfokus pada beberapa toko yang memberikan diskon menarik sembari ia melihat kembali daftar belanja barang – barang yang ia butuhkan.
* * * * *
Setelah tak merasa ada yang ingin ia beli lagi, Aprodytha pun memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu toko restaurant Italia yang masih berada dalam kawasan Times Square, New York City.
Aprodytha memilih tempat duduk yang berada di lantai dua dan terletak di balkon restaurant itu, sebenarnya ia ingin menikmati suasana makan siangnya dengan pemandangan Kota New York.
Ini adalah pertama kalinya bagi Aprodytha pergi keluar dari asrama kampusnya dan tak berkutat dengan tumpukan buku – buku di ruang belajarnya. Setelah satu tahun berkutat dengan ilmu pengetahuan yang luar biasa menyiksa dan menguras seluruh otaknya, akhirnya ia pun menyelesaikan studi nya tepat pada hari ini.
Demi merayakan kelulusannya yang bahkan tak dirayakan oleh siapa pun, Aprodytha hanya memanjakan dirinya dan turut mengucapkan selamat pada dirinya sendiri karena telah berhasil bertahan hidup di kerasnya Kota New York dan mengemban pendidikan seorang diri tanpa bantuan siapapun. Bahkan untuk seorang teman pun, Aprodytha tak memilikinya satu pun. Aprodytha justru beranggapan jika memiliki teman apalagi kekasih hanya akan memperlambat langkahnya menuju ambang kesuksesan.
Aprodytha meraih sebuah daftar menu yang berada di hadapannya, ia pun mencari menu yang bisa ia nikmati siang ini sekaligus mengisi perut kosongnya yang sedari tadi sudah berbunyi namun terus ia abaikan karena ia lebih memilih untuk shopping daripada memenuhi keinginan perutnya untuk makan.
Setelah memilih makanan yang akan ia pesan dari daftar menu, ia pun mengangkat tangannya dan seorang pelayan wanita datang menghampirinya, “Halo, Nona. Selamat siang. Sudah memutuskan makanan apa yang ingin anda santap siang ini?” sapa pelayan itu.
Aprodytha membalikkan daftar menu itu pada sang pelayan wanita dan menunjuk sebuah makanan bernama Fettucine Carbonara Udang, “Aku mau ini,” ujar Aprodytha.
“Satu Fettucine Carbonara Udang,” ujar sang pelayan wanita setelah mengetahui apa yang ingin Aprodytha pesan. Namun, baru saja pelayan wanita itu ingin menulis makanan yang akan dipesan oleh Aprodytha, tangan Aprodytha pun menyentuh lengan pelayan wanita itu dan memberikan sebuah interupsi.
“Dua,” sahut Aprodytha.
Pelayan wanita itu pun segera membetulkan angka satu yang sudah ia tulis dan menggantinya dengan angka 2.
“Ada tambahan lainnya?” tanya pelayan wanita itu usai membetulkan angka pesanan pada daftar kertas nya.
“Aku ingin minum es lemon tea namun tanpa es ya,” jawab Aprodytha dan segera ditulis oleh pelayan wanita itu.
“Baik, saya ulangi pesanan nya ya Nona. Dua Fettucine Carbonara Udang dan satu lemon tea dingin tanpa es,” ujarnya.
Aprodytha menganggukan kepalanya, “Yap, sudah benar,” ujar Aprodytha.
“Minumnya hanya satu saja? Atau minum satu lagi menunggu teman anda untuk datang?”
Aprodytha sedikit tertawa mendengar pertanyaan dari pelayan wanita itu, “Aku memakan dua porsi seorang diri,” jawabnya.
Mata pelayan wanita itu sedikit terkejut mendengar jawaban Aprodytha. Bagaimana tidak, tubuh Aprodytha sangat ramping sedangkan porsi makannya sangat banyak.
“Baik. Mohon tunggu ya, Nona,” ujar wanita itu lalu pergi dari hadapan Aprodytha.
Aprodytha menolehkan kepalanya, melihat pemandangan gedung – gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Jauh di bawah sana, terlihat orang – orang yang sibuk dengan belanjaan di tangan mereka.
Mata Aprodytha tertuju pada seorang pria dengan tubuh kekar yang terlihat cukup tampan baginya. Pria itu baru saja keluar dari sebuah bar dan diikuti dengan seorang pria kurus di belakangnya. Perlahan ia pun menyadari jika pria kurus di belakangnya itu justru membawa pisau yang ia simpan diam – diam di tangan kanannya dan sepertinya hendak berbuat jahat pada pria berbadan kekar di depannya.
Aprodytha segera berdiri dan berteriak, “Hei! Awas!” pekik Aprodytha berusaha mengingatkan jika pria itu sedang dalam bahaya.
Pria berbadan kekar di depan itu sepertinya tak mendengar ucapan Aprodytha. Justru pria berbadan kurus di belakangnya lah yang mendengar ucapan Aprodytha dan takut kesempatan emas itu menghilang, pria kurus itu segera mendorong pisaunya ke depan sekuat tenaga.
Tangan pria berbadan kekar itu justru dengan cepat menahan pisau yang di dorongkan kepadanya. Tubuhnya bergerak ke samping dan tangan kirinya menahan mata pisau hingga darah pun mengalir dari genggamannya. Tangan lainnya digunakan untuk mencekik pria kurus itu dan mendorongnya hingga ke tembok.
Tak kehabisan akal, pria berbadan kurus itu justru menggigit tangan sip ria berbadan kekar dan berhasil kabur. Darah pun menetes dengan deras dari telapak tangan kirinya. Aprodytha pun bernapas lega karena setidaknya pria itu tak lagi dalam bahaya, namun yang membuat Aprodytha heran adalah mengapa tak ada orang yang peduli pada pria berbadan kekar itu.
Terlalu asik menyaksikan kejadian di bawah, rupanya pelayan wanita itu sudah berdiri di samping Aprodytha sembari meletakkan makanan yang dipesan oleh Aprodytha, “Permisi, Nona,” ujar pelayan wanita itu.
Aprodytha pun segera menolehkan kepalanya dan melihat pelayan wanita itu sudah meletakkan dua piring Fettucine Carbonara Udang dan satu lemon tea di atas meja nya.
“Terima kasih,” ujar Aprodytha.
Pelayan wanita itu pun pergi dari meja Aprodytha, bisa terlihat dari palayan wanita itu yang sedikit kebingungan karena sedang berdiri dan melihat ke arah bawah, sampai – sampai pelayan wanita itu mengira jika Aprodytha adalah seorang turis yang baru saja datang dan masih terpana melihat indahnya Kota New York.
Setelah pelayan itu pergi, Aprodytha pun kembali berdiri untuk memastikan pria bertubuh kekar yang tangannya tergores pisau masih berada di bawah sana. Namun kenyataannya pria itu pergi entah kemana.
“Kemana dia?” gumam Aprodytha.
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha mencari keberadaan pria itu.
“Pasti sakit rasanya terkena pisau, apalagi dia menahan dengan kuat hingga tangannya mengeluarkan darah yang cukup banyak,” gumam Aprodytha.
Aprodytha pun memutuskan untuk membuang rasa khawatir sekaligus rasa penasarannya terhadap pria asing yang baru saja ia lihat di bawah sana. Aprodytha segera duduk dan menikmati hidangan yang sudah siap di hadapannya.
Aprodytha menarik satu piring mendekat ke arahnya dan mulai menyantap makanan kesukaannya, yaitu udang. Ia sangat menyukai udang dengan ukuran besar dengan bumbu carbonara. Sudah lama sekali ia tidak bisa menikmati makanan seenak itu.
Bagaimana tidak, selama mengemban pendidikan di Amerika, Aprodytha selalu berusaha untuk hemat meski terkadang saudari kembarnya – Aphrodite sering memberi tambahan uang jajan padanya. Namun, hidupnya di Amerika tentu saja tidak hanya sehari atau dua hari, melainkan beberapa tahun.
Hingga akhirnya Aprodytha berhemat dan kini setelah studi nya berakhir, tersisa uang puluhan juta dollar di rekeningnya dan ia putuskan untuk memakainya untuk membeli barang – barang yang selama ini ia inginkan serta makanan enak yang selalu ia dambakan.
“Aku jadi merindukan Aphrodite. Bagaimana kabar wanita itu di sana? Bagaimana hubungannya dengan suaminya? Apakah baik – baik saja? Pasti berat baginya untuk menikahi pria asing, terlebih dia terpaksa menggantikanku untuk menikah dengan pria itu dan mengalah hanya karena aku sedang mengemban pendidikan di sini,” gumam Aprodytha saat pikirannya teringat pada saudari kembarnya yang kini sudah berstatus menjadi istri orang.
Aprodytha pun akhirnya memutuskan untuk memberitahu pada Aphrodite bahwa ia sudah selesai menyelesaikan studi nya di Amerika dan akan segera kembali ke Italia beberapa hari lagi.