Izekiel’s Penthouse
Rintihan kecil keluar dari bibir Aphrodite saat ia terbangun. Matanya berkedip beberapa kali seolah berusaha mengenali tempat di mana ia berada saat ini. Setelah ia sadar ini bukan tempat yang ia kenali, Aphrodite lantas langsung terduduk dari posisi tidurnya. Ia melihat ke arah jam yang berada di dinding tepat di depan arah pandang matanya.
“Apa maksudnya jam tujuh? Apakah ini jam tujuh malam?” gumam Aphrodite.
Ia pun menyadari jika itu sangat tidak mungkin, mengingat pukul delapan saja ia sedang makan malam bersama Izekiel di luar.
“Tunggu dulu! Jam itu rusak, kan?” tanya Aphrodite lagi pada dirinya sendiri.
Aphrodite memicingkan matanya, melihat jarum yang menandakan detik itu masih berjalan dan ketika melewati angka dua belas, jarum panjang pada jam itu pun bergeser ke satu menit setelahnya.
Aphrodite terbelalak, ia menyadari jika jam itu tidak rusak. Ia pun melihat sekelilingnya dan berusaha mencari ponselnya. Tangannya masuk ke balik bantal dan mencari keberadaan benda kecil yang memang seringkali Aphrodite letakkan di bawah bantal yang ia gunakan.
Tangannya tak berhasil menemukan apapun, akhirnya Aphrodite beranjak dari tempat tidur dan melempar seluruh bantal, guling hingga selimut yang ada di atasnya untuk mencari keberadaan benda kecil berbentuk kotak bernama ponsel itu.
“s**t! Kemana benda itu pergi!” ujar Aphrodite frustasi.
Ia pun kembali teringat jika ini bukanlah kamarnya. Kakinya melangkah terburu – buru dan tangannya pun meraih gorden kamar yang sedari tadi menghalangi cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan itu.
Cerah. Itulah yang terlihat ketika Aphrodite menyibak gorden di ruangan itu. Ponsel hilang dan itu bukan ruang kamarnya sudah cukup membuat Aphrodite terkejut, dan sekarang rasa terkejutnya kembali bertambah saat ia menyadari ia sudah berganti pakaian.
Pakaian yang ia gunakan berbeda dengan pakaian yang ia pakai tadi malam. Ia bisa mengingat jelas jika ia menggunakan mini dress berwarna merah. Rambut nya yang bergelombang pun sudah kembali seperti semula.
“Astaga! Apa semalam aku mabuk? Sampai aku tak tahu aku berada di mana?” pekik Aphrodite sembari mengacak – acak rambutnya.
Aphrodite pun teringat akan ucapan Alana yang pernah berkata jika kejahatan bisa saja terjadi padanya. Terlebih tadi malam ia tidak pergi bersama dua pengawalnya.
“Atau aku diculik?” gumam Aphrodite.
Aphrodite mengambil bantal yang berada di atas lantai dan duduk di atas kasur sembari memeluk bantal beserta lututnya. Matanya melotot dan kosong, ia menggigit jari jempolnya untuk menyalurkan rasa takutnya.
“Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!” pekik Aphrodite sembari memukul kepalanya berulang kali karena penyesalannya yang tak mengajak dua pengawal miliknya untuk menjaganya seperti biasa.
Pintu berwarna coklat yang berada di sudut ruangan tiba – tiba saja terbuka, membuat Aphrodite tersentak dan langsung memalingkan wajahnya ke arah pintu. Jantungnya berdegup kencang menanti sosok yang akan muncul dari balik pintu tersebut.
Izekiel masuk ke dalam kamar tersebut dengan menggunakan setelan jas berwarna abu – abu. Ia menyembulkan kepalanya dari daun pintu sedangkan tubuhnya bersembunyi di balik pintu.
“Sudah bangun?” tanya Izekiel ketika ia menyadari kondisi kamar yang menjadi berantakan dengan bantal, guling dan selimut yang berada di lantai serta Aphrodite yang sedang terduduk di atas kasur sembari memeluk bantal dan lututnya.
Aphrodite akhirnya bernapas lega ketika ia mengetahui jika sosok yang baru saja membuka pintu kamar tersebut adalah Izekiel. Lalu tiba – tiba sebesit pikiran pun muncul, “Kau menculikku?” tanya Aphrodite pada Izekiel.
Izekiel menaikkan sebelah alisnya dan menatap Aphrodite. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu dan berusaha mendekati Aphrodite.
Aphrodite lalu mengulurkan sebelah tangannya dan memberikan perintah pada Izekiel, “Jangan mendekat atau aku akan teriak!” pekik Aphrodite.
Rasa menyesal kembali menyelimuti Aphrodite, jika saja ia tak percaya pada Izekiel yang baru ia kenal selama tiga hari terakhir, mungkin ia tak akan berada di sini. Ia yakin jika orang di rumahnya terutama Alana akan berusaha mencari keberadaannya.
“Maaf? Apa maksudmu?” tanya Izekiel dengan nada pelan. Ia terlihat kebingungan melihat tingkah Aphrodite yang berubah bagai seekor anak kucing yang ketakutan karena didekati oleh induk anjing.
“Kau menculikku kan? Kau nanti akan menyentuhku secara paksa, lalu membunuhku, memotong tubuhku menjadi beberapa bagian lalu memasukannya ke dalam mesin penggiling daging?!” ucap Aphrodite lantang. Ia kembali memeluk bantalnya.
Izekiel tertawa keras mendengar penuturan yang diucapkan oleh Aphrodite, “Astaga, kau melupakan bagian bahwa aku akan membunuhmu dengan sebuah tali kecil hingga kau kehabisan napas,” jawab Izekiel yang sukses membuat Aphrodite menjadi sangat takut terhadapnya.
Izekiel pun melangkahkan kakinya mendekati Aphrodite yang sedang memeluk lutut dan bantalnya dengan erat lalu duduk di tepi kasur dan menatap Aphrodite.
“Walau kita baru saja berkenalan tiga hari dan aku sudah berani mengajakmu untuk makan malam, bukan berarti aku memiliki niatan buruk untuk itu, Aphrodite,” ujar Izekiel.
Aphrodite sedikit melunak ketika mendengar ucapan dari mulut Izekiel, “Apa maksudmu?” tanya Aphrodite berusaha meminta penjelasan yang lebih rinci dari ucapan Izekiel.
“Aku tidak sedang menculikmu, Aphrodite. Tadi malam kau pingsan karena reaksi alergimu yang berlebihan terhadap hidangan lobster yang disajikan. Lalu karena aku tak enak hati membawamu pulang, jadi aku membawamu kemari. Aku sudah mengirimkan teks pada Alana bahwa aku membawamu ke rumah sakit dan tidak perlu khawatir soal itu,” ujar Izekiel berusaha menjelaskan apa yang terjadi saat Aphrodite tak sadarkan diri tadi malam.
Mendengar sebuah kata alergi yang muncul dari bibir Izekiel, Aphrodite lantas memeriksa seluruh tubuhnya, “Ruam nya sudah hilang. Tadi malam dokter pribadiku datang dan langsung menyuntikkan anti alergi. Kau tertidur karena efek samping dari obat itu,” sambung Izekiel.
“Ah begitu. Tapi tunggu, kau yang melepas-”
“Aku tidak menyentuhmu Aphrodite. Bahkan pakaianmu digantikan oleh pelayanku. Jadi aku tak melihat apapun,” ujar Izekiel memotong pembicaraan Aphrodite.
Aphrodite pun menganggukan kepalanya, “Maaf tadi aku sudah berprasangka buruk terhadapmu.”
“Tidak apa.” Izekiel mengusap kepala Aphrodite dan berusaha memberikan ketenangan.
“Sekarang ayo kita sarapan,” ajak Izekiel.
Aphrodite pun menuruti ajakan Izekiel dan akhirnya mereka pergi bersama ke ruang makan untuk sarapan bersama. Namun, tiba – tiba langkahan kaki Aphrodite yang sudah berada di ambang pintu pun terhenti, ia teringat pada ponselnya yang menghilang dari tangannya.
“Tunggu,” ujar Aphrodite yang sukses membuat Izekiel yang berada di depannya juga berhenti melangkahkan kakinya.
Izekiel membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Aphrodite, “Iya?” jawab Izekiel.
“Dimana ponselku?” tanya Aphrodite.
Izekiel menunjuk sebuah tas kecil yang berada di atas sebuah meja yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri. Aphrodite pun segera menghampiri tas yang memang ia gunakan tadi malam untuk makan malam bersama Izekiel.
Aphrodite merogoh saku tas itu hingga berhasil menemukan sebuah ponsel yang ia kenali, “Ah kupikir kau menghilang,” gumam Aphrodite seraya memeluk ponselnya erat.
“Seluruh barangmu kuletakkan di atas meja,” sahut Izekiel.
Aphrodite pun melihat ke atas meja itu dan turut menemukan sebuah tas yang berisikan pakaian yang ia pakai tadi malam di dalamnya. Kini pikirannya pun semakin tenang karena ia sudah menyadari jika ia bukanlah korban penculikan dan Izekiel bukan seorang pria yang jahat.
Setelah memastikan seluruh barangnya ada, Aphrodite pun kembali menghampiri Izekiel dan mereka bersama – sama pergi menuju ruang makan.
Sejak kejadian di salah satu toko beberapa hari yang lalu, Izekiel pun semakin akrab dengan Aphrodite. Terkadang mereka saling melempar gurauan klasik, mengirim pesan teks hingga larut malam bahkan melakukan panggilan telepon hingga beberapa jam.
Meski baru tiga hari, keberanian Izekiel cukup untuk diacungkan jempol. Ia berhasil merebut hati, pikiran dan perhatian dari seorang Aphrodite hingga wanita itu melupakan jati dirinya sebagai seorang istri dari pria bernama Damien Zeousin.
Aphrodite masuk ke ruang makan yang tak jauh dari kamarnya. Meski penthouse milik Izekiel tidak sebesar rumah yang ia tinggali, namun penthouse milik Izekiel memiliki desain yang sangat mewah.
Izekiel menarik satu kursi untuk Aphrodite dan mempersilakan Aphrodite untuk duduk. Setelah Aphrodite duduk, Izekiel pun menarik kursi yang ada di sisi Aphrodite dan mengambil sebuah pancake lalu diletakkan di atas piring yang berada di hadapan Aphrodite.
“Sebenarnya aku tidak tahu harus memasak apa untuk sarapanmu, jadi aku hanya bisa membuat ini,” ujar Izekiel ketika pancake yang tadi ia ambil sudah mendarat dengan mulus di atas piring milik Aphrodite.
Suara tertawa keceil terdengar dari mulut Aphrodite, “Kau memasak?” tanya Aphrodite.
“Iya, aku bisa memasak. Ah, memang benar di sini juga aku memiliki beberapa orang pelayan walau tak sebanyak di rumahmu. Tapi untuk masak dan beberapa keperluan pribadi dan orang yang spesial bagiku, pasti akan kukerjakan seorang diri,” jelas Izekiel.
Aphrodite sedikit tertarik ketika Izekiel menyebut kata orang yang spesial, “Orang spesial? Apa yang kau maksud diriku?” tanya Aphrodite.
Izekiel menganggukan kepalanya perlahan dan kaku.
“Apa ada yang salah?”
Aphrodite menggelengkan kepalanya, “Tidak ada. Hanya saja aku baru saja mendengar ucapan itu,” jawab Aphrodite.
“Suamimu? Apa dia tak pernah berkata demikian?”
Aphrodite kembali menggelengkan kepalanya, ia menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, “Apa kau berpikir aku dekat dengannya? Tidak. Aku baru bertemu satu kali dengannya dan sejak itu tak pernah lagi hingga saat ini. Tapi tunggu, dari mana kau tahu aku sudah bersuami?”
“Saat pertama kali bertemu denganmu, aku melihat sebuah cincin melingkar di jari manismu, tapi entah mengapa kau melepas benda itu saat makan malam denganku. Jadi secara spontan saja kau berarti menganggapku spesial dan wajar jika aku mengucapkan hal tadi, bukan?” Izekiel lalu mengambil sepotong pancake ke atas piring yang berada di hadapannya, lalu memotong pancake itu dan memasukan potongan itu ke dalam mulutnya.
Aphrodite merasakan sedikit bahagia dan jantungnya pun berdegup kencang karena ucapan Izekiel. Izekiel adalah pria manis, dia tampan dan juga baik hati. Meski baru beberapa hari mengenal pria bernama Izekiel Huang itu, Aphrodite mengakui jika dirinya merasa nyaman di dekatnya.
“Apa kau tak masalah jika aku sudah memiliki suami?” tanya Aphrodite yang sukses membuat Izekiel tersedak dengan pancake nya.
Uhuk!
Izekiel lantas mengambil air putih yang berada di dekatnya dan terburu – buru menenggak air itu.
“Segamblang itu?” tanya Izekiel balik.
“Ah maaf, sepertinya aku sudah sangat lancang dan melewati batasanku,” jawab Aphrodite dengan nada sedihnya dan membuat Izekiel sedikit merasa bersalah.
“Tidak. Aku tidak bermaksud demikian. Maksudku. Apa kau merasakan hal yang aku rasakan, Aphrodite? Kukira kau tidak akan menyukaiku karena aku ini orang Asia, yang jelas berbeda denganmu,” ujar Izekiel.
Aphrodite menggelengkan kepalanya cepat, “Aku tak peduli kau keturunan dari benua mana, tapi memang benar aku tertarik padamu terutama perhatian itu. Aku merasa aku membutuhkannya,” jawabnya.
Izekiel tersenyum. Ia mendorong kursinya sedikit ke belakang dan bangkit dari duduknya. Ia pun memeluk Aphrodite yang masih terduduk dan mengusap kepala wanita itu.
“Terima kasih karena sudah terbuka padaku, aku pun merasakan hal yang sama,” ujar Izekiel.
Aphrodite pun tersenyum senang mendengarnya, ia turut membalas pelukan hangat yang diberikan oleh Izekiel. Sedangkan Izekiel turut tersenyum, namun justru bukan senyuman tulus yang seperti biasa ia tunjukan pada Aphrodite. Senyuman Izekiel kian memudar dan berganti wajah datar, meski tangannya masih dengan santai mengusap kepala Aphrodite lembut.