BAB 31

1994 Words
~POV Author~ Di sebuah warung sembako, terparkir mobil yang sama seperti kemaren. Itulah mobil Manager Ade yang kali ini mengajak serta Ansel agar laki-laki itu bisa ikut membantu sekalian refreshing, begitulah yang dipikirkan Manager Ade. Sedang Ansel, tampak tak berselera untuk ikut pamannya kali ini. Dia sungguh ingin menikmati libur syutingnya dengan berdiam di kamar dan memutar ulang memoar kebersamaan antara dirinya dan Naya. Sebab itulah, laki-laki yang masih berpagut dengan lukanya itu hanya duduk di beranda warung yang pamannya datangi. ***** Sepulang sekolah, Naya diajak Bian menemaninya ke mall. Meski enggan, Naya tak bisa menolak ajakan Bian, sebab sahabatnya itu sudah banyak membantunya selama ini. Naya juga ingin sekalian mencari suasana baru dan mencari kesenangan di mall nanti. Entah kesenangan seperti apa yang dimaksud Naya? Tapi yang pasti, Naya hanya ingin pergi, berbaur pada keramaian dan melakukan apa saja yang belum dia lakukan selama ini. Banyak hal yang belum pernah Naya lakukan sebelum mengenal Ansel, dan kali ini, dia akan melakukannya untuk bisa mengalihkan pikirannya agar tidak selalu tersangkut pada Mas pangerannya. Satu hal yang tentu tidak akan Naya lakukan saat masuk ke mall nanti, berbelanja. Tidak seperti perempuan biasanya yang sangat menyukai shopping, Naya tetaplah Naya. Dia tak suka memakai uang untuk hal yang tidak berguna. “Pesen taksi dulu ya, Nay.” Bian membuka suara saat mereka baru keluar dari gerbang sekolah. “Jangan, Bi. Jalan kaki aja yuk,” ajak Naya dengan tersenyum, manis sekali. Bian sampai tak berkedip karena melihat sesuatu yang beda dari sahabatnya. Tentu Naya berbeda, karena itulah yang dia inginkan. Dia ingin membuang semua Naya yang dulunya tak pernah peduli sekitar. Ah, bukankah itu yang membuat Ansel meliriknya? Tak sungkan, Naya meraih tangan Bian menggandengnya dengan senyum terus mengembang di bibirnya. Aku adalah Naya yang beda. Naya yang dulu udah mati bersama cintanya yang kandas. Begitu hatinya berseru, mengirimkan energi positif yang membuat senyum terus mengembang di bibirnya. Sungguh pemandangan yang sangat langka menurut Bian. Dan dia tidak melewatkannya. Mengarahkan layar ponselnya tepat pada wajah Naya yang sedang tersenyum menatap ke depan sembari sebelah tangannya menggandeng tangan Bian. Tak peduli pada keramaian di sekitar mereka, keduanya menyusuri trotoar yang mulai menampakkan keasliannya. Terik matahari menjilati kulit ketika tengah siang seperti ini. Naya tak terlalu peduli, dia terlalu fokus dengan pikirannya sendiri yang ingin melakukan banyak hal ketika nanti tiba di mall. Jika melihat Naya sekarang, dia persis seperti bocah Lima tahun yang sedang berjalan untuk membeli permainan yang diinginkannya sejak lama, begitulah raut wajah Naya sekarang. Sedangkan Ansel, laki-laki itu tampak sibuk dengan gadgetnya, mengamati layar ponselnya yang baru terdapat pesan masuk dari orang suruhannya yang dia perintahkan untuk menjaga Naya dari jauh. Ada gemuruh di dadanya, melihat sebuah pemandangan yang membuat hatinya sesak. Naya menggandeng tangan Bian dan bahkan dia tampak tersenyum di depan pagar sekolah mereka. “Dik, nanti begitu Pak Rino sudah siap. Kita langsung ke kampungnya Bu Deden.” Manager Ade berbicara serius memandang pintu warung yang dari sana belum juga muncul orang yang ditunggunya. Jangan bilang, Pak Rino masih main-main lagi sama istrinya. Wah ... Bisa gawat urusan kalau begitu. Jadi, Pak Rino ini adalah pemilik warung yang kemaren kita kenal dengan sebutan si papa, dan istrinya, si mama. Rupanya, karena telepon Bu Deden menjadi tidak bisa dihubungi sejak manager Ade meminta alamat lengkap rumahnya di desa, manager Ade memutuskan untuk mengajak Pak Rini alias si papa untuk menjadi penunjuk jalan. Kebetulan, Pak Rino alias si papa ini adalah tetangga asli mendiang suami Bu Deden. “Itu Si Pak Rino kok lama banget ya, Dik?” lagi-lagi manager Ade mengajak ngobrol ponakannya tanpa melihat pada lawan bicaranya. Dan belum pindah sama sekali, pandangan matanya mengarah ke pintu warung yang terbuka sedikit. Rasanya ingin sekali Manager Ade membuka lebar pintu itu dan menyuruh Pak Rino untuk segera besiap lalu bergegas. Tapi hal itu ditahannya hingga kemudian dia mulai sadar, bahwa Ansel Mahardika, ponakannya tidak merespon ucapannya sejak tadi. Dan astaga ... Apa yang sedang dia lakukan? Bahkan Ansel sekarang sedang terduduk di bawah dengan kondisi tidak sadarkan diri. Sial! Rupanya foto Naya dengan Bian membuat dunianya runtuh seketika. Ingin melarang, tapi dia sudah tak punya kuasa karena sudah bukan siapa-siapa. Ingin merelakan, tapi sumpah demi apapun, Ansel tidak ikhlas melihat gadisnya bersama dengan orang selain dirinya. Buru-buru manager Ade mengangkat tubuh Ansel yang sudah tak berdaya itu. Secepatnya juga dia membawa Ansel masuk ke mobil lalu pergi dari tempat itu. Tak lagi memikirkan apa yang tengah Pak Rino lakukan, manager Ade mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk bisa cepat sampai ke tempat tujuannya, rumah sakit. Ah, tertunda lagi harapannya untuk bisa bertemu dan menemukan titik jelas tentang putrinya. Tapi, bagi manager Ade sekarang, keselamatan Ansel adalah hal utama. Meski sebenarnya, harapan dan keinginannya sudah sangat menggebu dalam hatinya. Ayah mana yang tidak ingin segera menemukan putri mereka yang hilang? Terlebih anaknya itu adalah korban atas kesalah pahaman yang terjadi antara dirinya dan istrinya, mantan istrinya. Tadinya, manager Ade akan langsung segera ke kampung Bu Deden, Kampung halaman pengasuh panti asuhan tempat anaknya ditinggalkan oleh sang mama. Di sana, manager Ade merasa bahwa di tempat itu dia akan bisa menemukan petunjuk tentang putrinya yang hilang. Entah diasuh orang atau di pindah ke panti lain. Yang pasti, Manager Ade buru-buru kesana karena dia masih harus melanjutkan pencariannya jika nanti anak perempuannya berada di tempat lain atau bahkan mungkin diadopsi orang lain. Ah, pupus sudah harapannya saat ini. Semoga setelah ini manager Ade bisa langsung tancap gas lagi ke tujuannya semula. Menunggu Ansel ditangani oleh dokter, manager Ade bergegas membayar administrasi agar perkara Ansel nantinya bisa langsung ditangani jika sesuatu yang gawat terjadi. Ah, tapi tidak! Semoga Ansel baik-baik saja. Selesai dengan urusan administrasi rumah sakit Ansel, manager Ade duduk di kursi tunggu tepat di depan ruangan Ansel ditangani dokter. Mengingat bahwa tadi Ansel baik-baik saja lalu kemudian secara tiba-tiba dia pingsan. Manager Ade berpikir bahwa ada sesuatu yang membuat dia drop dan tak sadarkan diri. Dan bukankah sejak tadi, Ansel berkutat dengan handphone-nya? Buru-buru manager Ade mengeluarkan handphone Ansel yang sempat dia masukkan ke dalam kantong celananya. Tak ada sandi ataupun pola yang mengunci layar pipih milik ponakannya, sehingga manager Ade bisa bebas mengecek apakah yang sebenarnya terjadi dan dilihat oleh ponakannya di sana? Dengan cekatan, manager Ade mengecek riwayat aplikasi yang dibuka Ansel. Dan ternyata aplikasi hijaulah yang menjadi satu-satunya aplikasi yang dibuka Ansel. Manager Ade ikut membuka aplikasi yang merupakan satu-satunya yang ada di riwayat handphone Ansel. Ada pesan masuk dari nomer baru yang dengan sangat penasaran manager Ade melihat profil orang itu. Seorang laki-laki bertopi yang bisa dikatakan seumuran dengannya. Siapa laki-laki ini? Begitu manager Ade bergumam sembari terus mengamati wajah laki-laki itu. Tak ada petunjuk dalam profil itu, manager Ade berlanjut hendak melihat isi pesan dari orang itu. Tapi belum sempat dia melihat kiriman yang merupakan foto yang cukup banyak, seorang suster memanggilnya. “Permisi, dengan keluarga pasien Ansel Mahardika?” Suara yang tak asing bagi manager Ade. “Iya. Rukmi?” manager Ade bangkit. Dia tidak bisa menahan keterkejutannya karena ternyata suster yang memanggilnya adalah mantan istrinya. Ah, kebetulan sekali. Manager Ade akan mengajaknya ikut serta jika nanti kondisi Ansel tidak terlalu menghawatirkan. “Gimana keadaan Ansel?” tanpa basa-basi manager Ade menanyakan kondisi ponakannya kepada perawat cantik yang sudah memliki tempat Spesial dalam hatinya, hati manager Ade. “Oh, kalo itu biar nanti dokter yang menjelaskan.” Rukmi terlihat jauh lebih cantik dengan ekspresi dan pakaian seperti itu. Hal itu sukses membuat manager Ade jatuh cinta untuk kedua kalinya pada orang yang sama, yaitu Rukmi. Perempuan dalam masa lalu tapi selalu dia harapkan menjadi wanitanya di masa depan. Manager Ade masuk dengan diikuti Rukmi di belakangnya. Tak ada obrolan yang terjadi karena begitu masuk, manager Ade melihat Ansel sedang duduk melamun menatap jendela. Ah, sungguh hal itu adalah pemandangan yang sama, yang pernah manager Ade lihat seperti saat Ansel baru keluar dari the king. Galaunya bisa berbulan-bulan sampai Ansel bisa menemukan sendiri semangatnya. Manager Ade tak akan biarkan itu terjadi. Dia mengajak dokter yang menangani Ansel untuk bicara serius mengenai kondisi Ansel, ponakannya. “Dia pingsan karena tak ada asupan makanan yang masuk sama sekali. Juga karena depresi. Pasien mengalami kejadian yang membuat mentalnya down. Apa sesuatu sudah terjadi?” Dokter bertanya tapi tidak ditanggapi oleh manager Ade. Bukan apa-apa, rasanya dia sendiri yang malu mengatakan bahwa ponakannya baru putus cinta di usianya yang sudah bukan remaja lagi. Meski agak memalukan, manager Ade pada akhirnya menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Dia baru ditinggalkan oleh kekasihnya yang sebentar lagi akan dia nikahi.” Manager Ade sedikit membuat kebohongan agar dirinya tidak terlalu merasa mempermalukan diri sendiri. Dokter itu tersenyum. Dan itu membuat manager Ade berdecih dalam hatinya. Percakapan singkat dengan dokter yang menangani Ansel membuahkan hasil yang cukup membuat manager Ade sedikit lega. Selain bisa mengajak Ansel ikut serta dengannya menemui Bu Deden, yang pada dokter manager akui sebagai kerabat jauh. Dan tak hanya itu, manager Ade berhasil membawa serta Rukmi dengan alasan untuk memantau Ansel selama dalam perjalanan dan di kampung itu sendiri. Rumah sakit menyetujui. Mobil mereka kembali ke warung Pak Rino yang di sana, seorang laki-laki sudah menunggu. Gantian, tadi manager Ade dan Ansel yang menunggu pak Rino. Sekarang, pak Rino yang menunggu mereka. Tanpa banyak bicara, Manager Ade mengisyaratkan pak Rino untuk langsung masuk ke mobil yang di sampingnya terdapat kursi kosong. Ya, Ansel dan Rukmi duduk di kursi belakang. ***** Lalu bagaimana dengan Naya? Perempuan itu tentu saja melancarkan niatnya yang sudah terancang di otaknya sejak tadi. Menyapa semua orang yang berpapasan dengannya sampai Bian membuang muka saking malunya. Berubahnya nggak sampe kayak gitu, Nay. Duh ... Bikin Bian malu aja, deh. Tapi yang namanya cinta ya begitu. Meski Naya membuat dia malu setengah mati, Bian tetap menggandeng tangan Naya dengan ikut-ikutan tak tahu malu. Kalo sudah cinta, tahi koceng pun terasa cokelat. Begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk Bian sekarang. Terlebih, Bian sejak tadi tak henti-hentinya melihat senyum Naya. Sesuatu yang sangat jarang dia lihat tapi hari ini bisa dia lihat Sepanjang perjalanan mereka. Senyum Naya bak guyuran air yang sejuk melepas semua dahaga rindu atas cintanya yang hampir kering kerontang. Kalau saja Bian bisa meminta, Bian ingin senyum Naya hanya untuk dirinya. Dan juga, jika boleh meminta lagi, Bian ingin meminta Naya agar tidak selalu menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya. Bagaimana tidak, Bian yang sejak tadi sudah ada barang yang dibeli, menjadi tak berselera karena setiap kali melangkah Naya masih berbicara dengan orang-orang seperti sudah kenal sebelumnya. Heuh ... Bian kali ini ingin mengumpat. Apa cinta sebodoh ini? Sampai dia sendiri ikutan bego membiarkan Naya melakukan hal yang asli waribiyasah itu. Kalau di komplek atau gang tempat mereka tinggal mungkin tak apa. Tapi ini mall, tempat orang berbelanja semua kebutuhan mereka. Dan di sini. Astaga, Naaay ... Bian ingin menariknya saat ini. Bian capek nunggu. Capek berdiri karena baru selangkah berjalan harus diam lagi dan menunggu lagi. Tapi itu semua hanyalah isi kepala Bian yang tidak mampu dia ungkapkan secara keseluruhannya. Tak mungkin dia tega hilangkan senyum Naya hanya karena dia capek, bukan? Hup ... Bian memilih diam. Dan gagal semua yang dia ingin beli di mall ini, karena endingnya, mereka ke mall hanya menyapa hampir semua orang di sana. Duh, Naaay ... Ada yang lebih ingin kamu lakukan selain kayak gini, nggak? Bian sungguh ingin pulang, istirahat. Capeknya luar biasa. Melebihi keliling pasar ketika menemani ibunya belanja. Astaga ... Tapi Bian tetap melakukannya. Bahkan dia sampai membeli dan membawa satu minuman di tangannya demi menemani Naya. Eh tunggu! Sejak tadi, Naya yang bicara. Kenapa Bian yang kehausan? Mohon maap pemirsa. Bian di sini tidak kehausan, hanya saja dia butuh minum agar otaknya bisa dingin sedingin minuman yang ditenggaknya. Pun dia minta rasa yang super manis agar pikirannya juga tidak lagi asem karena harus terus menerus menggerutu di dalam hatinya. Sebenarnya, yang bodoh di sini siapa? Bian ataukah Naya? Hahaha. Pemirsa menjawab, yang kejam authornya, UPS ... Dan author hanya tersenyum membayangkan Naya yang Cuma pinter di sekolah sama Bian yang bucinnya melewati kebegoan-nya. Xixixi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD