BAB 30

1627 Words
~POV Naya~ Aku dan Mas Ansel telah selesai, benar-benar selesai. Rasanya hidupku menjadi sangat berantakan. Kehilangan Mas Ansel, bukan! Melepaskan Mas Ansel adalah seperti aku dengan sengaja menancapkan belati di ulu hati, setiap aku bergerak bahkan bernafas pun rasanya sakit. Aku mencoba menjalani hariku seperti biasanya. Bersekolah, mengantar dan menjemput Dinda, juga mengantarkan Dinda ke gereja setiap Minggu. Saat terpuruk seperti ini, aku pernah ingin mengadu kepada Tuhan. Tapi, saat kakiku melangkah masuk ke gereja, entah kenapa aku seperti ada yang memegangi, dalam hatiku. Sekali aku tak jadi, tapi di kali kedua. Aku paksakan kakiku masuk dan memohon pada Tuhan agar rasa sakit ini dihilangkan dari hatiku. Setelahnya, hatiku masih tidak bisa merasakan perubahan apa-apa. Justru kalut yang teramat mendominasi dalam hati. Sejujurnya, selama aku hidup dan sampai aku SMA, aku tidak pernah tahu aku ini beragama apa? Aku yakin akan adanya Tuhan, hanya saja hatiku tak bisa memilih keyakinan yang sama dengan papa dan mama juga Dinda. Setiap Minggu, aku memang pergi ke gereja, tapi aku hanya sebatas mengantar Dinda sampai depan gereja. Aku tak pernah masuk ke dalam. Dan pernah sekali aku masuk ke dalam dan memanjatkan doa, namun entah kenapa hatiku seperti menyimpan keraguan. Aku belum yakin pada apa yang aku lakukan. Ah ... Sudahlah! Toh sejauh ini mama dan papa masih belum memberiku alasan kenapa aku diberi kebebasan memilih agama yang aku yakini. Sedangkan Dinda, sejak kecil aku melihat dia diajari ibadah dan rutin ke gereja setiap Minggu. Ada yang aneh, Bukan? Dan itu tak pernah berani aku tanyakan. Karena dulu saat aku masih kelas enam SD, aku pernah bertanya pada mama. Kenapa Dinda diajari begitu aku tidak? Jawaban mama sangat simple, “Kamu anak special. Apapun pilihan kamu, mama dan papa akan ikut.” Begitu jawaban mama Rena. Aku akui, mama dan papa tak pernah memberiku batas aku harus apa dan bagaimana? Hanya saja mereka selalu memberiku nasehat mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang buruk untuk tidak dilakukan. Hal itulah yang membentukku menjadi pribadi seperti sekarang. Memilih belajar karena itu merupakan pintu menuju sukses. Ah ... Teringat belajar, aku merasa sudah sangat lama aku tidak mengutamakan hal yang satu itu. Bukan gara-gara Mas Ansel, tapi karena aku sendiri yang selalu lebih suka dan nyaman dengan laki-laki itu. Bagiku, sebelum mengenal Mas Ansel, belajar adalah sebuah tanggung jawab atas diriku sendiri, sebab itu adalah pilihanku. Tapi setelah mengenal Mas Ansel, aku menjadi tahu, bahwa di dunia ini ada hal indah yang aku sendiri lupa dan tak peduli untuk dilihat, yaitu Cinta. Tapi karena cinta pula, aku menjadi tahu, bahwa di dunia ini ada hal yang sangat menyakitkan meski kita tidak menyentuhnya, yaitu sakit dalam hati. Aku merasa belum menyentuh hatiku ke bagian terdalam, tapi kenapa ketika Mas Ansel kelepaskan, terasa nyeri yang tak berkesudahan. Sebab itulah, aku memilih kembali. Ya, kembali pada pilihanku sebelumnya, Belajar. Sejujurnya, aku masih ingin menggapai impian terbesarku menjadi seorang pianis. Tapi ... Materi keluarga yang tidak tergolong kaya ini membuatku menomer duakan mimpiku itu. Kuakui, papa dan mama mendukungku, sekali lagi mereka tidak melarangku jika memang itu yang aku pilih, tapi akulah yang tak ingin menyusahkan mereka. Aku rasa, belajar adalah kunci utama untuk meraih apapun. Menjadi pianis, tentu butuh banyak uang untuk bisa jadi profesional. Lalu aku akan meminta uang itu pada papa dan mama sampai aku bisa gitu? Tidak banget! Itu bukan aku. Dengan senyum yang sudah aku pelajari semalam, aku melangkah masuk ke gerbang sekolah. Menghirup dalam-dalam oksigen yang rasanya sudah sangat lama tidak aku nikmati. Ya, semenjak putus dari Mas Ansel, aku sangat tidak menikmati hidupku. Tapi meski begitu, aku tetap memilih bersekolah meski hanya bengong di kelas. Duduk di bangku paling belakang dengan mencoret-coret buku yang merupakan satu-satunya yang aku bawa. Hari ini tidak lagi! Dan tidak boleh ada Naya yang duduk di bangku belakang lagi! Begitulah aku mengirim sinyal dari otak untuk hatiku agar segera bangkit dari keterpurukan. Baru selangkah kakiku memasuki gerbang sekolah, ulah menyebalkan anak-anak cewek yang merupakan fans Mas Ansel dimulai seperti biasanya. Ya, sebelumnya aku terlalu fokus dengan hatiku yang sangat kehilangan, hingga aku tak mau peduli apalagi membalas perlakuan buruk mereka terhadapku. Beruntungnya, di setiap aku akan dibully oleh mereka, selalu ada Bian yang datang menolongku. Dan hari ini, tepat ketika aku mulai menata hatiku kembali, mereka akan berulah lagi. Seolah apa yang mereka inginkan belum terlaksana dan itulah mereka, selama niat mereka tidak terlaksana, selama itu pula mereka akan terus menggangguku. Hih ... Tapi aku sudah bukan Naya yang biasa mereka tindas hanya diam, lalu Bian datang menjadi pahlawan. Aku sudah beda, hatiku sekarang sudah sekuat karang, sengaja ku poles demikian. Meski realitanya, di dalam sudah tak ada lagi puing hati yang tersisa. “Halo Pengantar Bunga ....” Seorang siswi dengan dua teman genk-nya datang menghampiriku, lebih tepatnya menghadang jalanku. Sebab saat aku mencoba mengacuhkan mereka, mereka ikut kemana arahku berjalan. Ah, sial! Mereka mencari gara-gara sama harimau yang sedang lapar. Aku teringat bahwa tadi sebelum berangkat ke sekolah, aku tak menyiapkan sarapan sama sekali. Bahkan Dinda juga sengaja kubelikan nasi uduk di depan gang rumah saat akan berangkat tadi. Lalu aku? Ya aku belum makan. Dan mereka datang sengaja untuk menjadi santapanku pagi ini, huh. Aku menyeringai. Tak ada wajah menunduk seperti yang biasa aku lakukan saat mereka datang menggangguku. “Lo nantangin kita?” cewek yang berada di tengah mendorong bahuku lalu menyeringai pada dua temannya. Dia seperti memberi kode pada dua temannya, menyeringai sembari mengedipkan sebelah matanya. Ah, aku tak peduli. Entah itu kode atau password sekalipun, aku muak dibully. Dan alasannya hanya satu, karena aku dikabarkan dekat dengan artis idola mereka. Padahal jelas setelah berita itu meledak, Mas Ansel membuat konferensi pers dan mengakui aku sebagai pengantar bunga, tentunya setelah aku membuat pernyataan palsu mengenai perasaanku. Mengingat itu, hatiku kembali merasa sakit. Tapi bukan berarti aku mau diinjak-injak oleh mereka. Sudah cukup aku menyerah pada keadaan, mengorbankan perasaanku demi menjaga sekolah dan masa depanku juga karir mas Ansel. Aku tidak mau menyerah untuk kedua kalinya. Aku tak mau selalu menjadi bulan-bulanan mereka. “Kalo iya, kenapa?” kudorong balik dong tubuh kurus jangkung di depanku. Kuakui dia cukup populer di sekolah. Karena banyak dari anak-anak memerhatikan keberanianku yang melawan pada Mila, gadis yang sekarang sedang mencari-cari masalah denganku. Dia adalah ketua Genk Angelo ini. Cukup perkenalan tentang cewek yang suka cari masalah itu. Aku muak! Sengaja kudorong balik tubuhnya dengan sekuat tenagaku. Bukan hanya terdorong ke belakang, tapi dia jatuh terjerembab ke belakang hingga kedua kakinya terangkat dan memperlihatkan kain tipis berwarna hitam putih Persis warna zebra cross. Semua yang sejak tadi memerhatikan kami dan menjadikan kami tontonan, seketika tertawa karena penampakan di balik rok yang dikenakan Mila. Aku hampir ikut tertawa, jika saja aku tidak teringat bahwa saat ini aku harus terlihat garang agar anak-anak yang lain tidak ada lagi yang berbuat semena-mena terhadapku. Aku tak memberi kesempatan untuk dia bangkit. Apalagi kulihat kedua temannya menganga tak percaya pada apa yang barusan aku lakukan pada ketua Genk mereka. Segera saja kulangkahi tubuh Mila yang sekarang sedang terlentang menyentuh tanah. Bukan maksudku melakukan pembalasan, hanya saja dia menghalangi jalanku satu-satunya untuk masuk ke kelas. Tak peduli pada tatapan mereka, yang pasti sekarang aku masuk kelas dan tidak boleh lagi duduk di bangku belakang, apalagi sampai datang terlambat. Tidak boleh! Segera ku letakkan tas yang aku bawa di kolong meja. Lalu kuambil buku yang sudah lama tidak aku sentuh dengan senyum kecil. Ya, rasanya sedikit beda. Ada rasa malu pada buku yang aku pegang ini, karena setelah cukup lama aku menelantarkannya, kini aku kembali dan membaca lembar demi lembar dalam buku itu. Sebenarnya, aku masih sedikit khawatir, karena pasti Genk Angelo itu akan datang lagi dan membalas perlawananku tadi. Beruntungnya, Bian datang, mendekatiku dan melayangkan senyum yang biasa kulihat setiap kali dia datang dan mendekat ke arahku. Terimakasih untuk semuanya, Bi. Kubalas senyum itu dengan wajah yang pasti menurut Bian berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kenapa aku berpikir seperti itu? Ya karena memang sebelum berangkat ke sekolah tadi, aku sempat mengoleskan sedikit lip tint di bibirku. Entahlah, untuk apa aku melakukannya? Seolah aku ingin merubah penampilan. Padahal, maksudku melakukannya adalah agar aku tak lagi terlihat pucat dan mengenaskan. Sebab, memang sebelumnya, Intan, sahabatku yang cerewet tapi aku sayang itu sering bilang bahwa aku sudah seperti mayat hidup di sekolah SMA Negeri Harapan ini. Ya, karena itulah aku mengoleskan sedikit lip tint di bibirku. Memberinya sedikit warna di sana meski tak selaras dengan hati yang masih kelabu dirundung luka. Ah, aku tak boleh lagi mengungkit dan mengeluhkan lukaku. Aku ingin bangkit! “Pagi, Nay.” Bian menyapa lalu mengambil tempat di sampingku. Ya, semenjak aku selalu di bully, Bian selalu duduk di samping ku. Dia mengambil tempat di mana aku duduk. Jika aku di belakang, dia juga di belakang. Dan sekarang, karena aku sudah duduk di tempatku seperti biasanya, Bian pun duduk di sampingku. Tidak di tempatnya seperti semula? Aku nggak tahu, bukan aku yang minta. Mungkin Bian masih khawatir aku diganggu oleh Genk Angelo jika jauh dari dia. Intan, dia selalu mengalah dan mengambil tempat di depanku. Dan hari ini, dia datang dengan mulut hebohnya dan duduk di belakangku. Dia bercerita, bahwa dia ketahuan mama dan papanya mengoleksi foto Mas Ansel lalu mereka, orang tua Intan menyuruh Intan membuang semua poster foto itu karena tak ingin anaknya jadi korban keberingasan Mas Ansel. Ah, rupanya orang tua Intan kemakan sama berita itu! Dan itu, membuat hatiku merasa sakit. Pasti di dunia ini bukan hanya Orang tua Intan yang seperti itu, seberapa banyak orang yang sekarang tidak menyukai Mas Ansel, yang pasti mereka akan menyesal karena aku tahu betul, Mas Ansel itu sangat baik. Dia tak pernah melakukan hal buruk kepada ku seperti yang ada di pikiran mereka. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Tentu aku hanya bisa diam, dan tersenyum kecil yang terpaksa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD