BAB 10

1329 Words
Orang tua Bian belum kembali dari luar kota. Hingga hari Minggu ini, Naya memutuskan untuk membantu Bian lagi di tokonya. “Biar gua aja yang ngatur mawar mawar itu, Bi.” Naya mengambil alih pekerjaan Bian yang menata mawar merah untuk dipindahkan ke pot. “Eh, oke.” Bian menjawab dengan memberikan pot yang dia pegang pada Naya. “Kalian sangat serasi,” ucap seorang ibu yang merupakan customer tetap di toko bunga Bian. Ibu itu pemilik rumah makan di seberang jalan. Dia setiap hari membeli bunga di tempat Bian untuk mengganti bunga bunga di ruangannya. Dan setiap dua Minggu sekali, mengganti bunga di meja makan restorannya. “Ahahaha, tapi kami hanya berteman,” sahut Naya dengan tertawa. “Aku pikir kalian ....” Ibu itu tidak melanjutkan kalimatnya sembari tersenyum meledek Bian. “Tapi pasti kelak wanita yang menjadi istrinya Bian akan bahagia,” sahut Naya lagi dengan tersenyum, dia melihat pada Bian lalu beralih pada ibu yang sejak tadi menggoda mereka. Bian tersenyum mendapat pujian dari Naya, sahabatnya sedari kecil yang dia inginkan bisa menjadi teman hidupnya sepanjang dia bernafas. Hingga kemudian, ibu yang tadi berlalu pergi, kembali ke rumah makannya yang sebentar lagi akan jam buka. “Kalo gitu, elo Cuma perlu nikah sama gua, jadi istri gua.” Bian memberikan setangkai bunga mawar untuk Naya. Tapi Naya berpikir bunga itu diberikan padanya untuk dipindahkan juga ke dalam pot. “Eh? Bisa aja Lo becandanya, Bi,” sahut Naya menerima bunga itu lalu memasukkannya ke dalam pot persis seperti bunga-bunga lain yang sebelumnya sudah dia masukkan ke dalam pot. “Jarang-jarang elo becanda kayak gini,” ucap Naya lagi, memindahkan pot bunga itu ke deretan bunga yang sama. Jantung Bian bergemuruh, barusaja dia mengajak Naya menikah. Ah ... Apa yang gua pikirn, sih? Masih SMA masa udah ngajak nikah. Bego bego! Bian ingin sekali memukuli kepalanya sendiri, jika saja dia tidak segera sadar karena dering handphone milik sahabatnya yang berbunyi amat nyaring. “Halo,” Naya menerima telepon itu dengan bibirnya membentuk senyum tipis saat melihat nama si penelepon yang tertera di layar pipih di tangannya. “Bisa ke apartemen hari ini?” tanya si penelepon yang tak lain adalah Ansel. Duh, pacar. Bisa nggak sih? Sehari aja aku dibikin tenang. Aku deg deg-an tiap kali liat nama Lo di hape gue. “Ee ... Bisa bisa,” sahut Naya dengan segera. Komplit, setelah dia bikin jantung Naya dag dig dug, dia juga yang akan memberikan penawarnya. Ah, mendadak Naya ingat adegan ciuman Ansel kemarin. Kapan aku bisa ngerasain itu? Aih ... Naya tersadar, rasanya dia ingin menyentil sedikit hatinya yang mulai tak waras. “Eng ... Bi, gua pamit, ya. Ada urusan mendadak nih,” tutur Naya dengan memasukkan kembali handphonenya ke saku celananya. Bian yang masih berperang dengan debaran jantungnya sendiri segera mengangguk mantap. Dia tak ingin ketahuan bahwa saat ini hati dan jantungnya sedang tidak stabil, karena pernyataan cintanya yang dianggap becandaan. ***** Naya telah tiba di apartemen Ansel. Gadis SMA itu memencet bel di depan pintu berwarna kelabu itu. “Ayo cepet masuk,” ajak Ansel dengan cepat menarik tangan Naya. Dia tak ingin gadisnya berlama lama di luar. Lebih tepatnya, Ansel tak sabar ingin segera bersama dengan Naya menghabiskan waktunya yang telah lebih banyak di lokasi syuting. “Eh ....” Naya tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Dia hampir jatuh saat Ansel menariknya, tapi melihat tubuh Naya limbung, dengan cepat Ansel menarik pinggang gadis itu untuk tidak benar-benar jatuh ke lantai. Waktu serasa menjadi sangat lambat. Keduanya saling menatap, mencoba untuk bisa saling menemukan candu yang ada pada diri masing-masing. Wajah Ansel mendekat, lelaki dewasa itu terbawa suasana dan hendak melumat bibir ranum milik gadis kecil di pangkuannya. Tapi dia tersadar, bahkan saat Naya menutup matanya, lelaki itu merasa akan sangat berdosa bila sampai menyentuh yang dimiliki gadisnya. Sumpah sampai kapanpun, dia akan menjaganya. Janji yang tiba-tiba menelisik di relung hatinya terdalam, janji cinta untuk dia jaga sampai tiba saatnya dia sudah boleh menyentuh dan menikmatinya. Ansel hanya memainkan hidung Naya, menggesek gesekkan hidungnya pada hidung Naya. “Aku selalu ingin melihat kamu dari jarak dekat seperti ini,” bisik Ansel tepat di telinga Naya. Naya tersipu, dipikirnya Ansel akan mencium bibirnya seperti dalam adegan syuting yang kemaren sempat Naya lihat. Ah, Naya mendadak ingin menjadi pacar Ansel dalam sinetron. Tapi belum lima menit kebersamaan mereka, handphone Ansel berbunyi. Manager Ade meneleponnya untuk segera ke lokasi, karena ada jadwal syuting iklan yang kemaren baru ditandangani olehnya. Habis sudah waktu Ansel bersama sama dengan Naya. Tapi sebelum itu, Ansel mengantarkan Naya ke rumahnya. Aktor tampan itu tak ingin jika pacar yang baginya adalah hal terpenting itu pulang sendirian dan kenapa-kenapa di jalan. Terlebih, matahari siang ini tengah menjilati bumi dengan teriknya. Kapan hujan akan turun? Lalu aku bisa bebas memeluk pacarku ini saat sedang kedinginan! Di perjalanan, ketika Ansel dan Naya sama sama larut dalam pikiran masing-masing. Tepat ketika lampu merah menyala. Naya menjadi punya keberanian untuk mengatakan hal yang dia inginkan sejauh hubungan mereka sekarang. Ya, menjadi pacar Ansel adalah keinginan semua kaum hawa di kota Jakarta ini. Ansel yang tampan dan selalu terlihat manis dalam setiap penampilannya. Naya ingin dicium seperti yang dia lihat ketika adegan syuting kemaren. “Eng ... Aku_ aku pengen ... Itu,” Naya terbata. Ingin sekali mengucapakan yang diingatnya. Tapi urat malunya masih kuat memegang kendali atas dirinya. “Apa?” Ansel menoleh pada Naya. Dia akan mewujudkan apapun yang Naya inginkan. Karena saat ini, hal terpenting untuk membahagiakan hatinya sendiri, adalah melihat tawa bahagia Naya. “Nggak jadi,” ucap Naya memperlihatkan barisan gigi putihnya, membuat Ansel ingin sekali mencubit pipi menggemaskan milik Naya. Tak terasa, mereka telah sampai, mobil berhenti tepat di depan rumah Naya. Ansel memegang tangan Naya, menahan gadis itu untuk tidak segera keluar. “Ada apa, Mas Ansel?” tanya Naya dengan polosnya. “Aku hanya ingin tahu, yang kamu mau tadi itu apa?” tanya Ansel menatap maniak cokelat milik Naya yang bergerak ke kiri ke kanan. “Eh? Anu ... Itu.” Kembali Naya tergagap. Rasa malunya mendominasi untuk dia menahan diri sekarang. “Apa?” Ansel menanyai-nya lagi. “Aku ingat saat kemarin mengantarkan bunga ke tempat Mas Ansel syuting sinetron. Mas Ansel ...” Naya menggantung kalimatnya. “Aku minta maaf sekali lagi soal itu. Aku sudah memperlihatkan sesuatu yang nggak layak buat kamu lihat. Seharusnya aku menjeda sebentar biar kamu nggak liat. Dengan begitu, kamu gak perlu kepikiran Sampek sekarang,” ucap Ansel memandang penuh rasa bersalah. Andai dia tahu Naya akan datang ke lokasi syutingnya, dia akan pura-pura lupa dialog sehingga adegan berciuman itu tak kan sampai terlihat langsung oleh Naya. “Eh, bukan itu maksudku,” sahut Naya kemudian. “Lalu?” “Sebenarnya aku sangat terkesan dengan adegan kemaren. Jadi aku selalu kebayang-bayang akting Mas Ansel yang sangat mengagumkan,” ucap Naya. “Ahahha ....” Ansel tertawa mendengar penuturan polos Naya. “Tapi ... Sebenarnya lagi .... aku ingin, ciuman pertamaku adalah dengan Mas Ansel,” ucap Naya pada akhirnya. Byar .... Urat malu Naya terputus sesaat. Tapi kemudian tersambung lagi membuat Naya menunduk ketika sadar pada apa yang telah dia ucapkan. “Tapi aku harus buru-buru sekarang, Sayang ....” Mendengar Mas pangeran memanggilnya Sayang saja, membuat Naya merasa kehabisan nafas. Ini nggak lagi mimpi, kan? Apa begini kalo orang pacaran? Apa yang diminta pasangan seolah sebuah keharusan. Ah ... Aku mau denger sekali lagi, Pangeran. “Eh, tapi nggak harus sekarang, kok.” Naya tak ingin membuat Mas pangerannya kepikiran karena keinginan konyolnya. Ansel tak menjawab, tangannya mengunci tubuh Naya dengan lengannya yang panjang. Kepalanya miring sedikit untuk meraih wajah Naya yang berada di bawahnya. Sedangkan Naya menutup mata begitu melihat wajah Ansel bergerak cepat ke arahnya. Mulut Ansel menganga, menyentuh ujung hidung Naya dengan hidungnya sendiri menyentuh tepat di kening Naya. Naya membelalakkan matanya tak percaya pada yang barusaja terjadi. Bukan seperti yang dia inginkan. “Itu penyegel ciuman. Biar kamu nggak disentuh oleh pria lain. Apalagi sampai mencium kamu,” ucap Ansel dengan tersenyum lebar. Tidak! Sejujurnya dia ingin merasakan sensasi bibir ranum gadisnya. Tapi belum saatnya, akan sampai masanya, ia akan bisa menyentuh, mencium dan menikmati setiap inci dari gadis di depannya. Naya sendiri tidak kecewa. Hanya saja, dia merasa bahwa hawa di dalam mobil terasa amat panas. Dia harus cepat keluar sebelum tubuhnya benar benar matang bila berlama-lama berada dalam mobil yang sudah mirip oven.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD