BAB 11

1968 Words
Kriiiing ... Pagi buta handphone Naya berdering. Tepat saat dirinya sedang sibuk menyiapkan pesta kejutan kecil untuk sahabatnya, Bian. “Halo,” Naya menerima panggilan yang tak sempat dia lihat penelponnya sebab dia benar benar sibuk sekarang. Orang tuanya yang biasa membantu untuk menyiapkan kejutan pesta ulang tahun Bian sedang tidak ada di rumah. Ya, Bapak Leo juga Mama Rena serta Dinda sedang pulang kampung karena Nenek Zul, Nenek Naya dari Mama Rena. Perempuan yang dipanggil Oma oleh Naya itu meminta anak semata wayangnya untuk pulang. Naya terpaksa ditinggal, karena sekolah Naya yang sangat ketat peraturannya. Semua siswa dilarang ijin lebih dari satu hari kecuali sakit, itupun harus ada keterangan dokter yang menyatakan bahwa siswa tersebut benar benar dalam kondisi yang tidak baik. “Katanya, hari ini nggak ada jadwal syuting. Mau kencan nggak?” suara di seberang dengan ajakan menggiurkannya membuat Naya tersentak kaget. Jika saja boleh teriak, Naya akan berteriak saking senangnya. Tapi .... “Andai saja aku bisa membelah diri,” gumamnya tapi terdengar jelas oleh Ansel, sebab handphone-nya dia apit dengan telinga dan bahunya. “Eh? Jangan! Aku ingin kamu menjadi satu-satunya pacarku. Jangan sampai membelah diri lalu menjadi pacar orang lain,” sahut Ansel. “M_maksud aku, aku ingin sekali berduaan dengan Mas Ansel. Tapi, hari ini aku benar benar tidak bisa pergi kemana mana,” terang Naya. Dia sedikit terbata karena gugup mendengar penuturan Ansel yang menginginkan dia menjadi satu satunya miliknya. Ah, bahagianya punya pacar pangeran. “Kenapa? Apa terjadi sesuatu sama kamu?” tanya Ansel terdengar khawatir. “Tidak tidak! Hari ini, aku harus merayakan ulang tahun sahabat kecilku,” tutur Naya. “Owh, yang tukang bunga itu?” tanya Ansel lagi. “Iya. Namanya Bian. Dia teman yang sangat berharga. Dari kecil aku dan dia selalu saling merayakan ulang tahun kami. Dan sekarang, aku akan membuat pesta kecil untuk dia di rumahku,” cerita Naya dengan bersemangat. Ansel diam menyimak setiap yang dia dengar dari cerita Naya. Kemudian ... “Karena hari ini aku sedang tidak ada kegiatan apapun. Jika kamu tidak bisa kesini, maka aku yang akan ke sana,” ucap Ansel kemudian. Naya merasa bahwa kali ini Mas Ansel adalah sosok pangeran yang selama ini diciptakan Tuhan untuk mewarnai hatinya yang sejak dulu hanya terdapat satu warna. Bagaimanapun, kehadiran Ansel dalam hidupnya, membuat hampir keseluruhan hidupnya dia lalui dengan senyum merekah. Sungguh tak lagi datar dan biasa biasa saja. ***** Jarum jam telah mengarah ke angka sembilan. Sebentar lagi, tepat di jam setengah sepuluh, Bian akan mengulang hari dan jam kelahirannya. Naya bersiap siap untuk pesta kecil yang sudah dia siapkan. Tapi tunggu! Bukan untuk Bian dia berdandan untuk bisa tampil cantik lebih dari biasanya. Dia ingin terlihat cantik karena Ansel akan datang untuk turut merayakan pesta ulang tahun Bian. Tok tok tok ... terdengar pintu rumahnya di depan diketuk, Naya baru selesai dengan gaun terakhir yang dia pilih setelah semua isi lemari dia bongkar habis tak bersisa. “Halo, Vera. Apa acaranya udah mulai?” tanya Ansel saat terlihat sosok Naya dengan gaun pink dengan pita kecil di pundaknya. “Baru dipoles sedikit, dia terlihat sempurna.” Ansel tak henti memandangi Naya hingga gadis itu tersipu. “Ayo masuk, Mas.” Naya mempersilahkan Ansel masuk. Naya meminta Ansel untuk menunggu sahabatnya di bangku samping rumah. Maksudnya agar Mas pangerannya tidak bosan jika harus menunggu di dalam, sebab rumahnya sempit tak selebar apartemen milik Ansel. Sedang diluar pintu rumah Naya, dua orang dengan pakaian yang terlihat biasa itu sedang mengobrol serius. Dialah intan yang sedang memberikan sekapur sirih tentang seribu satu cara menembak gebetan. “Dengar! Di pertengahan nanti, gua bakal pura-pura pamit duluan. Gua bakal biarin lo berduaan sama Naya. Jadi gunain kesempatan ini buat ngungkapin perasaan elo sama dia,” ucap Intan menepuk bahu Bian penuh keyakinan. “Hari tunjukkan kejantananmu!” Intan memberi semangat dengan sedikit candaan agar Bian tak terlalu gugup. Intan paham betul, bahwa lelaki di sampingnya sekarang sedang mengumpulkan energi untuk bicara yang sebenarnya hatinya rasakan selama ini. Bian menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Berkali-kali dia melakukannya, hingga pada akhirnya, diapun mengetik pintu rumah itu setelah debaran dalam hatinya mulai bisa dia kuasai. “Silahkan masuk,” ucap Naya membuka pintu. Baru selangkah mereka berjalan masuk. Keduanya disambut oleh artis tampan yang belakangan selalu membuat heboh jagad entertainment karena sinetron terbarunya. “Selamat siang,” sapa Ansel beranjak dari duduknya mendekati dua sahabat Naya. Tak lupa, bunga yang dibawanya pun dia raih di atas bangku di sisi tubuhnya. “Ha?” Intan dan Bian bersamaan mengucapkan satu kata yang membuat mulut keduanya menganga lebar. “Maaf, aku juga mengundang Mas Ansel ke sini,” ucap Naya karena melihat ekspresi kedua sahabatnya yang menganga, membuka mulut lebar lebar seperti mempersilahkan serangga yang kepanasan di luar untuk berteduh di mulut mereka. “Tunggu dulu, ini maksudnya apa?” Intan belum juga mengerti. Dia masih tak percaya seorang Intan yang kalian sudah tahu dia seperti apa, bisa mengundang artis ngetop yang menjadi idola semua perempuan. “Tentu saja, aku pacarnya Vera.” Kali ini Ansel yang bersuara. Hingga kemudian, Ansel teringat pada bunga yang dibawanya. “Selamat ulang tahun, Bian.” Ansel menyerahkan buket bunga yang dia bawa pada Intan. Intan dengan senang hati menerima bunga itu meski dia sendiri tahu, bunga itu untuk Bian. Intan tersenyum senang menerima buket bunga itu dari tangan artis idolanya. “Mas Ansel keliru. Bian tuh bukan yang ini,” ucap Naya sembari menunjuk Intan. “Tapi yang ini,” Bian melanjutkan kalimat Naya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bian kesal karena Ansel datang ke acara yang Naya siapkan untuk dirinya. Dan lebih kesal lagi, karena kedatangan Ansel sekarang, Bian jadi gagal mengungkapkan perasaannya pada Naya. Dan jauh lebih kesal lagi, karena dia tahu, ternyata Ansel sudah mendahuluinya mengikat Naya sebagai pacar Ansel. Ingin rasanya Bian mengamuk sekarang, hari ulang tahunnya menjadi sangat memperihatinkan. Tak ada satupun yang membuat hatinya senang hari ini. Pengen gua tendang ini orang. Sok kecakapan banget jadi cowok. “Lah, cowok?” Ansel bertanya tak percaya, Dia memastikan bahwa Bian yang dimaksudkan Naya adalah lelaki di depannya. Ah, semakin kesal saja hati Bian mendapat pertanyaan demikian. Sudah tau cowok, masih nanya. Melihat gelagat dua orang lelaki di depannya yang mulai saling memanas. Naya pun berinisiatif untuk mengajak ketiga tamunya agar segera memulai acaranya. Huft ... Untung aku bisa melerai mereka. Naya menyiapkan beberapa camilan sebelum memulai acara potong kue dan lainnya. Saat Naya sedang menyiapkan camilan untuk ketiganya. Intan tak henti mengoceh dengan idolanya yang tak pernah dia sangka bisa satu meja dengannya, lebih tidak disangkanya lagi, dia ada di rumah Naya. “Aku Intan. Sahabatnya Naya, aku mendukung penuh hubungan kalian,” ucapnya pada Ansel dengan penuh bersemangat. “Dasar pengkhianat,” gerutu Bian dengan nada terendah yang dia punya. “Makasih, loh.” Ansel menanggapi ucapan Intan dengan tersenyum. “Kalian bertiga sudah akrab sejak dulu, ya?” tanya Ansel kemudian. Dia melihat ke arah Naya yang masih sibuk memiringkan beberapa sosis yang sudah dia bakar. “Iya, kita satu sekolah dari SMP,” jawab Intan. “Tapi kalo Naya sama Bian, mereka udah saling kenal dari lama,” tambah Intan lagi. “Ya karena tetanggaan. Jadi dari kecil kita udah bareng,” sahut Naya dari tempatnya berdiri sembari membawa piring yang sudah penuh dengan sosis di tangannya. “Elo tuh kebiasaan, nggak banyak ngomong kalo ada orang baru,” sindir Naya pada Bian sembari meletakkan sepiring sosis goreng di tengah meja. “Siapa bilang?” Bian tak terima. Memang benar, Bian lebih banyak diam ketika bersama dengan orang baru. Jangankan dengan Ansel yang memang dia tidak menyukainya, dengan Intan saja Bian jarang bicara. Hanya dengan Naya saja lelaki itu bisa bebas bicara. “Aku,” jawab Naya singkat. “Berisik, lu.” Bian mencomot sosis tanpa melihat siapapun di sekitarnya. Sungguh Pemalu sekali ya, dia. “Walapun dia terlihat begini sekarang, tapi kenyataannya dulu dia pendek dan cengeng,” ucap Naya mengejek Bian dengan sengaja mengatakannya pada Ansel. “Siapa ya yang pas tau gua makin tinggi, langsung minum s**u sebanyak banyaknya Sampek sakit perut?” Bian balas meledek. “Aduh! Jangan percaya! Dia tuh boong. Jangan bilang yang malu maluin, dong,” ucap Naya melihat pada Ansel, lalu beralih melihat pada Bian. “Tapi Bian dulu pernah pipis di celana waktu SD,” ucap Naya lagi sembari tertawa bersama dengan Bian. Ansel hanya menjadi penonton diantar keduanya, begitupun dengan Intan yang sudah biasa berada dalam situasi seperti ini. “Mereka emang suka kayak gini,” tutur Intan pada Ansel. Ansel hanya tertawa menanggapinya. Setelah jam terlihat tepat mengarah pada angka sepuluh, Naya bangkit. Dia hendak mengambil kuenya untuk segera memulai acara potong kue yang dia masak sendiri. “Aku bantu Naya bentar, ya.” Intan turut bangkit, menyisakan dua lelaki yang kemudian terdiam seperginya Intan dan Naya. Cukup lama Bian dan Ansel sama sama diam. Hingga Bian yang sejak tadi merasa bahwa Ansel hanya ingin mempermainkan Naya pada akhirnya angkat bicara. “Elo serius sama Naya?” “Hah?” Ansel tak mengerti dengan pertanyaan Bian. “Kenapa artis terkenal kayak elo mau sama dia?” Pada akhirnya pertanyaan itu lolos keluar dari mulut Bian. Dia semakin tak bisa menahan diri karena Ansel yang menurutnya pura pura tak mengerti. “Dia itu belum tahu sama sekali soal cinta, diia masih sangat polos untuk soal pacaran. Kalo elo nggak serius, mending nggak usah deketin dia,” ucap Bian membenarkan posisi duduknya yang mulai tak nyaman dirasanya. “Elo suka sama dia?” Ansel bukan menjawab, justru memberikan Bian pertanyaan yang tepat sebab pasti akan sulit menjawabnya. “Sorry. Gua nggak suka dinasehati sama orang yang nggak berani jujur sama perasaan sendiri.” Ansel melingkarkan tangan di dadanya. Dia merasa akan menang untuk menjatuhkan Bian yang seperti meragukannya. “Apa yang Lo tau soal gua juga soal Naya. Gua emang suka sama dia tanpa dia tau, tapi kalo elo sedikit aja nyakitin dia, gua nggak akan tinggal diam,” ucap Bian tak mau kalah. Keduanya kembali saling menatap, persis seperti saat tadi baru bertemu di depan. “Bian, kuenya datang!” seru Naya sembari berjalan mendekati mereka yang Naya tau mulai kembali terpercik hawa panas dalam tatapan masing-masing. “Selamat ulang tahun, Bian.” Naya dan Intan bersamaan mengucapkan selamat ulang tahun pada Bian dengan membawa kue yang dibuat oleh Naya. Tak terasa, hari telah mulai berganti malam. Intan sudah lebih dahulu pulang karena ditelepon ibunya yang minta diantar ke rumah sakit. Kini bersisa Bian dan Ansel yang keduanya tak ada yang mau beranjak pulang. Bian yang memang satu gangan dengan Naya menjadi pemenang. Sebab Naya lebih dulu mengantar Ansel ke jalanan depan gangan agar lelaki itu bisa istirahat untuk bisa fresh saat syuting besok. “Emangnya nggak apa-apa ngasih tau mereka soal hubungan kita?” Naya berjalan bersama dengan Ansel menuju mobil Ansel yang dititipkan di pos jaga depan gang. “Mereka temanmu yang berharga, kan? Berarti bisa dipercaya,” jawab Ansel tenang. Padahal sebenarnya hatinya mulai resah karena memikirkan ucapan Bian. Bukan karena dia berniat menyakiti Naya, tapi dia memikirkan perkataan Bian yang mengatakan bahwa dirinya sama sekali tak tahu banyak tentang Naya. Dan dia teramat ingin mengetahui semuanya tanpa ada yang terlewat satupun. “Aku ingin sesuatu dari kamu.” Ansel berucap dengan raut yang tak seperti biasanya. Senyum di wajah itu tak terlihat malam ini. Naya menatapnya penuh tanda tanya. “Aku ingin berduaan dengan kamu, Vera.” Dengan berduaan, dia bisa tahu lebih banyak tentang diri Naya, pacar yang dia cintai tapi ternyata ada lelaki lain yang juga mencintainya. Parahnya, lelaki itu jauh lebih mengenal Naya daripada dirinya. “A_apa?” Naya tak mengerti dengan keinginan mas pangerannya. “Kamu punya temen cowok dan dia lebih banyak tau tentang kamu ketimbang aku,” jelas Ansel dengan tak terlihat sebaris pun senyum di bibirnya. “T_tapi dia .... Mas Ansel, apa kamu ...?” Naya berpikir bahwa mas pangerannya sedang cemburu sekarang. Uh .... Manisnya. Padahal ada seribu Bian pun, nggak akan bisa gantiin kamu, Mas pangeran. “Eh, tapi nggak mungkin, ya.” Naya merasa khayalannya terlalu tinggi. “Jika itu tentang kamu, aku sama sekali nggak handal dan nggak tau apa-apa.” Ansel berlalu tanpa sedikitpun senyum di bibirnya. Melihat hal itu, diam diam Naya tersenyum kecil karena kali ini dia merasa bahwa khayalannya tak hanya sebatas khayalan. Ansel benar benar cemburu sekarang. Itu artinya, dia memiliki tempat spesial dalam hati lelaki itu, eh ... sejak kapan Naya menjadi pintar soal hati dan perasaan? Ah, entahlah bersama dengan Ansel memang membuat banyak perubahan dalam diri Naya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD