BAB 12

2067 Words
Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidup Naya. Dia tak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran Bu Ondi, sampai guru matematika killer itu hanya bisa menggelengkan kepala saat Naya ketahuan melamun dalam kelas. “Semua boleh keluar, kecuali Naya. Nay, kamu tinggal dulu di kelas. Ada yang mau ibu bicarakan,” ucap Bu Ondi setelah terdengar bel istirahat berbunyi. Dia menatap seluruh siswa siswinya bergantian lalu berhenti tepat di meja Naya. Gadis itu tampak tak bersemangat hari ini. Siapa lagi penyebabnya, jika bukan si mas pangeran yang terakhir kali bertemu kemarin, lelaki itu berlalu tanpa senyum ataupun kata perpisahan romantis untuk Naya. Ah, Naya menjadi rindu. Eh, Rindu? Naya tak tahu definisi rindu. Tapi dalam hatinya, dia merasakan keinginan untuk bertemu dan melihat wajah tampan mas pangerannya. Kini, tinggallah Naya dengan Bu Ondi yang memandang Naya penuh perhatian. Tak terlihat lagi jiwa garang dan tak sukanya pada siswa dan siswi yang tak bertanggung jawab seperti yang Naya lakukan hari ini. Jangan lupakan! Naya adalah murid kesayangan Bu Ondi. Gadis cantik itu adalah satu satunya diantara sekian siswa yang mendapat perhatian lebih dari Bu Ondi bahkan ketika di luar kelas sekalipun. “Apa yang membuatmu seperti tadi, anakku?” Bu Ondi menatap Naya penuh perhatian. “S_seperti tadi bagaimana, Bu?” Naya tak sadar bahwa sejak tadi ketika kelas dimulai, dia menjadi objek pandangan Bu Ondi. Bu Ondi tersenyum sembari berkata, “Ibu perhatiin, daritadi Naya ngelamun.” “Apa ada yang sedang kamu pikirin?” tanya Bu Ondi lagi. “Eng ... Nggak ada, Bu. Saya cuma kecapekan aja,” sahut Naya berbohong. Pertama kalinya juga dia melakukannya. Ah, menjadi pacar Ansel, membuat Naya banyak berubah. Dia sendiri tak mengerti, hal itu dia lakukan tanpa perlu dia merencanakannya. Seolah mengalir begitu saja saat dia mengucapkannya. Kehadiran Mas pangeran membawa pengaruh besar dan membuat perubahan signifikan dalam dirinya. Bahkan sekarang, dibandingkan belajar, Naya lebih sering memikirkan mas pangeran. Mas pangeran ... Kau berhasil memalingi dunia dan hati Naya sekarang. “Kalo gitu, mending kamu ke UKS, deh.” Bu Ondi bangkit hendak membantu Naya. Perhatiannya sudah seperti pada anaknya sendiri. Bahkan hal kecil seperti yang Bu Ondi lakukan padanya, jarang sekali dia dapatkan dari Bu Rena. “Eh, nggak usah, Bu. Saya bisa kok. Lagi pula dengan istirahat sebentar di kelas, saya pasti enakan.” Naya menolak dengan membuat kebohongan lagi. Memang benar, satu kebohongan dilakukan akan membuat kebohongan kebohongan yang lain. “Ya sudah, kamu istirahat di rumah aja. Biar ibu yang tanggung jawab untuk absesnsi kamu,” ujar Bu Ondi lagi. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bu Ondi, entah kenapa hati Naya berlonjak girang. Padahal sebelum mengenal Ansel, gadis yang menjadi bintang kelas itu tak pernah sekalipun izin sekolah walau sedang sakit sekalipun. Hari ini, Naya benar benar merasa tidak mengenali dirinya sendiri. Tapi biarlah, hari ini dia akan menemui Mas pangeran di apartemennya. Naya bergegas pulang. Beruntung, Bu Rena dan Pak Leo juga Dinda belum kembali dari rumah Nenek. Jadi Naya bisa sedikit bebas tanpa perlu memikirkan jawaban dan mengarang sebuah kebohongan lagi sebab kepulangannya dari sekolah yang bukan waktunya. Naya segera mengganti seragamnya dengan baju santai yang biasa dia pakai sehari-hari. Tapi kemudian, dia merasa harus terlihat cantik untuk menemui Ansel hari ini. Naya kembali mengganti pakaiannya dengan blouse kuning motif bunga-bunga kecil berwarna hitam. Bawahannya dia memilih celana selutut dengan gambar Winnie the Pooh kecil di bagian kiri pahanya. Rambutnya dia ikat ke atas dengan satu jepit rambut kecil di sebelah atas kanan. Dia menaiki motor skutik-nya lagi menuju kediaman Ansel, si Mas pangeran. Naya tak lupa mengetuk pintu yang tampak terkunci dari luar itu. Sebenarnya, dia datang tanpa sedikitpun kabar tentang Ansel. Entah lelaki itu ada di apartemen atau justru ada di luar sedang syuting seperi kesibukan Mas pangerannya seperti biasanya. Naya mengetuk pintu. Baru sekali dia melakukannya, terdengar sebuah suara dari dalam. “Masuklah.” Naya memutar handle pintu namun tak ada siapapun di dalamnya. “Permisi ... Punten,” Naya memakai logat Sunda yang merupakan asal kediaman sang Mas pangeran. “Monggo.” Terdengar sahutan lembut dari balik pembatas tak jauh dari tempat Naya berdiri. Naya berjalan sedikit untuk melihat sedang apakah sosok mas pangerannya. Ah, Naya sudah sangat rindu. “Eh? Maaf, aku ga liat.” Naya menutupi wajahnya ketika dilihatnya si Mas pangeran sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, sedangkan bagian atas tubuhnya dibiarkan bertelanjang d**a. Ansel terkekeh melihat aksi Naya. “Ternyata kau gampang terangsang, ya,” ledeknya berjalan mendekati Naya dengan tak henti tertawa. “Mana ada. Aku cuma khawatir mas Ansel bisa masuk angin kalo telanjang kek gitu,” sahut Naya. Dengarkan? Naya mulai pintar sekali mencari alasan. Ansel masih tertawa. Mendekati tubuh Naya hingga gadis itu terbentur ke pembatas di belakangnya. Ansel dengan sengaja menghalangi tubuh Naya agar tak bisa bergerak lagi dengan sebelah lengannya. “M_mas Ansel mau apa?” Naya tak bisa lagi berjalan mundur. Dia pun tak bisa menggeser tubuhnya ke samping karena lengan mas pangeran yang menghalanginya. “Aku mau ....” Ansel menggantungkan kalimatnya. Lalu mendekatkan wajahnya tepat ke pipi kiri Naya. “Kamu bantu keringkan rambutku,” bisik Ansel dengan terlihat kembali lukisan Tuhan yang tampak sempurna dalam senyum manisnya. Naya butuh oksigen. Dadanya terasa sesak karena melihat senyum manis itu lagi, padahal semalam, Naya nyaris tidak tidur karena Ansel yang pulang tanpa memberikan senyum itu. Gadis itu pun tak henti dibuat spot jantung oleh ulah iseng Ansel yang memang sangat suka menggodanya. Dengan menahan rasa malu yang mulai membuat kedua pipinya memerah seperti dipoles dengan blush on setebal dua centi, Naya mendorong tubuh Ansel sembari bertanya tanpa memandang wajah si tukang usil Mas pangeran. “Dimana hair dryer-nya?” Ansel menarik tangan Naya membawa gadis itu masuk ke kamarnya di lantai ke dua tepat di atas mereka berdiri sejak tadi. “Ada di lemari itu, Yank.” Ansel menunjuk sebuah lemari yang terletak di dalam ruangan khusus di dalam kamarnya. Di dalam kamar, ada banyak ruangan. Apa begini kalo jadi orang kaya? Satu kamar kayak satu rumah di tempatku. Naya melongo takjub pada penglihatan yang baru di lihat. Kemegahan dan kemewahan milik Ansel sejenak membuat dia lupa tujuannya dibawa masuk ke kamar ini. Plak .... Ansel menepuk bahunya. Menariknya lagi masuk ke ruangan yang dimaksud sebab Naya terlihat mematung tak bergerak dengan matanya saja yang bergerak ke kiri ke kanan. Dia ngapain, sih? Aku nggak mau dia juling kalo kelamaan kayak gitu. Ansel segera bertindak, tak ingin gadis kecilnya menjadi juling jika kelamaan memandangi setiap sudut kamarnya dengan mata bergerak ke kiri dan ke kanan seperti itu. Kini, hair dryer itu sudah ada di tangan Naya. Dengan lembut dan hati-hati, gadis itu membantu mas pangerannya mengeringkan rambut pirangnya. “Kita udah kayak suami istri ya, Ver.” Ansel memejamkan matanya. Menikmati setiap sentuhan tangan lembut Naya yang rasanya tak ingin cepat berlalu. Suami istri? Udah boleh peluk cium dan main ke telaga kecil disana dong. Aih ... Hati Ansel yang sudah terbilang matang di usianya yang mau menginjak ke dua puluh lima itu mulai dipengaruhi nafsu kotor. Ah, bisa hancur semua janji yang Ansel ucapkan sendiri untuk selalu menjaga gadis kecilnya. Naya tersenyum mendengar ucapan Ansel. Dalam hatinya, dia menginginkan itu agar bisa hidup bersama dengan Mas pangeran. Ah, bayangin apa sih, aku? Masih belum lulus SMA, masa bayangin nikah .... Akal sehatnya masih berkerja walau hatinya sudah kehilangan sembilan puluh persen kewarasannya. Ansel meraih sebuah buku yang tertulis “Cara cepat jago main piano.” Di halaman sampulnya. “Di filmku selanjutnya, aku menjadi pianis. Tapi sepertinya ini akan sulit,” tutur Ansel dengan mengamati buku panduan bermain piano di tangannya. “Mas Ansel jangan khawatir. Apa yang sebelumnya tidak bisa dilakukan Mas Ansel, besok dan seterusnya pasti akan bisa Mas Ansel lakukan.” Naya memberinya semangat. “Main piano, semakin sering main akan semakin pandai kok. Jadi Mas Ansel Cuma perlu sering main piano kalo mau mahir,” ucap Naya lagi sembari tangannya sibuk bergerak lembut di rambut kepala Ansel. "Dan lagi, seperti apapun nada-nya jika dilakukan dengan hati pasti akan terdengar indah dan merdu," tambah Naya dengan segurat senyum terlukis di wajahnya. “Kamu kok tahu?” tanya Ansel. Karena hal itu kalimat pertama yang diucapkan oleh pelatih yang kemaren dia minta untuk datang ke apartemennya. Seorang lelaki yang bisa dikatakan seumuran dengan manager Ade, sosok paman yang sudah sejak dulu dianggap sebagai orang tua sendiri oleh Ansel. “Ehm .... Itu dulu aku suka main piano. Dan aku juga berkeinginan buat jadi pianis. Tapi kondisi keuangan yang hanya cukup untuk aku sekolah, aku terpaksa mengalah. Lagi pula, walau sudah mengeluarkan uang banyak untuk berlatih, tetap saja tak bisa menjamin aku bisa menjadi pianis profesional.” Naya dengan mudanya menceritakan segala hal yang dulu sangat diinginkannya. Padahal selama ini, jangankan membahas piano. Membahasa mimpinya saja dengan Bian, Naya tak pernah. Ansel diam, seperti ada nyeri yang tiba-tiba menelisik masuk dalam hatinya mendengar segala mimpi gadisnya yang dibiarkan luruh tanpa perlawanan. “Sudah.” Naya telah selesai dengan rambut pirang Ansel. Ansel pun bangkit, sedang Naya melepaskan kabel hair dryer dari stop kontak yang berada di kolong kursi. Tak berapa lama, Ansel kembali duduk dengan menepuk sofa di sebelahnya yang kosong, mengisyaratkan Naya untuk duduk di sampingnya. Naya pun menurut. Duduk di sisi Ansel dengan debaran jantung yang tak berubah sejak menyadari Ansel-lah mas pangeran yang diimpikannya. “Ini.” Ansel memberikan sebuah kunci pada Naya. “Kunci?” “Heum. Untuk kamu, biar kamu bisa bebas datang dan masuk ke sini meskipun aku nggak ada,” ucap Ansel sembari memiringkan kepalanya bersandar di bahu Naya. Ini sangat nyaman. Bahkan lebih nyaman dari si Loli. Ansel memanggil bantal kesayangannya dengan sebutan Loli. Ada ada saja lelaki ganteng satu ini. “T_tapi ....” Naya tak mengerti maksud Ansel tapi dia sendiri bingung mengucapkannya. “Sini,” Ansel menarik tangan Naya untuk gadis itu ikut dengannya ke ruangan sebelah. Sudah aku bilang, kan. Satu kamar Ansel seperti sebuah rumah yang ditempati Naya, ber-ruang-ruang. Ansel menyingkap sebuah kain putih yang menutupi benda besar yang ternyata adalah sebuah piano. Naya menganga tak percaya. Ini piano yang sangat dia inginkan. Tapi karena harganya mahal, Naya hanya bisa membayangkan benda itu dalam mimpinya saja. “Kamu bisa bebas masuk ke sini dan berlatih.” Ansel tersenyum memandang wajah haru Naya yang di kedua telaga beningnya sana terdapat genangan air yang memenuhi di sana. Sumpah Ansel ingin memeluknya. Tapi seperti ada sekat pembatas yang sudah dia sendiri janjikan pada hatinya. Ansel hanya bisa mengusap cairan bening itu dengan senyum terkembang di bibir manisnya. Jangan nangis, Yank. Sumpah gua jadi pengen meluk. Kalo udah meluk, gua takut tubuh gua minta lebih. Tapi kemudian, Naya-lah yang menghambur memeluk Ansel. Membuat lelaki itu seperti tiba tiba dimasukkan dalam oven besar yang membuat tubuhnya memanas. Jangan lupakan! Ansel lelaki dewasa yang sudah sampai masanya, k-cong piaraannya meminta jatah makan, eh ... Ansel balas memeluknya. Mengusap lembut pundak gadisnya yang berada di pangkuannya. Ya, hanya memeluk. Meski di dalam sana, di balik celana longgar yang dikenakannya mulai terlihat k-cong piaraannya menyembul meminta kebebasan. Semoga Vera nggak sadar dan nggak nanya nanya .... Belum selesai hatinya bergumam dengan sedikit harapan di sana. Naya bertanya dengan polosnya. “Mas Ansel kenapa? Kok pahanya tiba-tiba keras gitu?” Glek ... Ansel menelan ludahnya sendiri, tak tahu harus berkata apa. “Kram, ya? Mau aku pijitin?” tawarnya dengan menjauhkan sedikit kepalanya dari d**a bidang Ansel. What? Pijitin? Boleh plus plus nggak? Eh ... Ansel ingin sekali menoyor pikiran kotornya sendiri agar lebih bersih. Malah nawarin mijit, bisa makin gencer bangunnya k-cong gua. Aduh, Ver ... Bisa nggak sih di saat kayak gini pinternya dibawak. Ansel menarik napas sejenak. Lalu melepaskan pelukannya. “Aku ... Nggak bisa kelamaan berdiri,” sehut Ansel asal. Naya dengan bodohnya percaya dan untungnya, gadis kecilnya Ansel itu tidak melihat ke bawah. Yang disana terdapat sesuatu yang menonjol membentuk lekukan yang jelas terlihat dengan benda keras yang tadi sempat tersentuh oleh Naya. “A_aku ... Ke kamar mandi bentar, ya ...” Ansel bangkit lalu masuk begitu saja ke kamar mandi tanpa mendengar persetujuan Naya. Jangan sampai Naya berpikir, Mas pangerannya marah lagi Cuma karena langsung nyelonong masuk ke kamar mandi. Bisa habis urusan kalo sampai gadis yang hanya pintar di sekolah itu menyusul ke kamar mandi dan melihat piaraan Ansel, si k-cong. Dan untungnya, saat Ansel keluar dari kamar mandi, dia melihat gadis kecilnya tertidur di sofa sebab semalam Naya susah tidur karena memikirkan Mas pangeran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD