BAB 13

2190 Words
Ansel barusaja mengantarkan Naya. Entah kenapa, hari ini jiwanya yang tak pernah terpancing oleh aura wanita wanita cantik mendadak meronta saat tadi bersama Naya. Lelaki itu baru kembali ke apartemennya, dan mendapati sang manager yang tak lain adalah pamannya sedang duduk melamun di pinggir kolam renang. Ansel mendekatinya. Pasti ada yang membuat gelisah hati dan pikirannya, sebab saat Ansel berjalan melewatinya, lelaki paruh baya itu tidak menyadari keberadaan Ansel. “Paman,” sapa Ansel. Tapi dilihatnya, yang diajak bicara masih hanya memandang kosong ke depan. Ansel menggerakkan tangannya ke atas ke bawah di depan wajah pamannya namun tak segera disadari. Meski beberapa detik kemudian, lelaki paruh baya itu berkedip ketika menyadari bahwa ponakannya telah datang dan saat ini duduk di sisinya “Dika.” Manager Ade hanya menyebutkan satu kalimat itu lalu kembali melihat jauh ke depan, seolah ada sinema masa lalu yang menghantui pikirannya. Ansel mencoba mengajak bicara pamannya itu dari hati ke hati. Kebersamaan yang selalu membuat keduanya berada dalam fase yang sama, membuat Ansel bisa merasakan ada gundah yang dirasakan oleh sang paman. “Ada apa, Paman?” tanya lelaki itu dengan menatap pamannya serius. “Emh ... Paman hanya kecapekan,” sahut lelaki paruh baya itu dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. “Paman, aku tahu bagaimana paman capek, bagaimana paman sakit, dan aku juga tahu saat paman dalam masalah. Jadi jangan ada yang ditutup tutupi dari aku,” ucap Ansel menatap lekat netra yang telah mulai menua itu dengan penuh keyakinan. Ya, Ansel yakin betul bahwa pamannya yang menjabat sebagai manajer keartisannya sedang punya masalah sekarang. Terlihat dari sorot matanya yang tidak lagi semangat memarahi Ansel karena lelaki itu tidak datang ke lokasi syuting hari ini. “Gimana dengan acara syuting tadi?” Ansel sengaja memancing pembicaraan lain untuk mengalihkan pikiran pamannya yang tak kunjung menyahuti ucapannya. “Ah ... Paman sampai lupa, kamu hanya punya sekali lagi kesempatan untuk peran utama dalam sinetron itu. Paman sudah berkali-kali menelpon, tapi nggak kamu angkat. Jangan bilang kamu malah pacaran sama bocah itu,” ucap Manager Ade panjang lebar. Ansel berhasil. Memang untuk urusan karir Ansel, paman sekaligus manajer Ade adalah orang yang paling memerhatikannya. Dia seperti menomer satukan semua yang bersangkutan dengan Ansel diatas urusannya sendiri. “Ah, sudahlah, paman nggak perlu mengoceh. Aku sudah siap untuk syuting hari ini. Ayo berangkat,” ajak Ansel pada pamannya. Dengan tanpa menjawab, Manager Ade bangkit dan mempersiapkan segala kebutuhan syuting untuk Ansel. Bagi Ansel, meski tidak bisa membantu menyelesaikan masalah pamannya, setidaknya dia berhasil membuat pamannya tidak terlalu kepikiran pada masalahnya. ***** Beberapa jam sebelum akhirnya manager Ade datang dan melamun di pinggir kolam apartemen Ansel, lelaki paruh baya itu sedang mengemudi untuk menjemput ponakannya yang tak lain adalah Ansel untuk jadwal syuting hari ini. Tapi di perjalanan, dia melihat mantan istrinya yang lima belas tahun lalu pergi bersama laki laki lain dengan membawa putrinya yang saat itu berusia belum genap dua bulan. Seketika, manager Ade melupakan niatnya untuk menjemput Ansel. Dia mengejar mantan istrinya yang menaiki taksi menuju sebuah Mall kota Jakarta yang tidak padat. Tapi beruntung, rupanya Tuhan sedang menunjukkan kasih sayangnya pada manager Ade. Dia berhasil menemukan perempuan yang dikejarnya di antara kerumunan diskonan. Tumben mau sama yang diskonan. Biasanya nggak mau beli kalo bukan barang branded. Manager Ade memerhatikan setiap pergerakan mantan istrinya sebelum akhirnya dia memutuskan menarik paksa wanita itu untuk ikut dan bicara dengannya. “Dimana Diana?” tanya Manager Ade langsung pada maksud dan tujuannya menarik tangan perempuan yang tak lain adalah mantan istrinya itu. “Eh, Diana siapa, ya?” wanita itu menjawab dengan memberikan pertanyaan balik. Tentu saja dia hanya akting. Mana mungkin dia melupakan nama anak yang sudah dia lahirkan, kecuali memang perempuan di depan manager Ade itu sedang amnesia. “Jangan main-main denganku, Rukmi. Sekarang aku sudah punya banyak uang untuk merebut kembali hak asuh Diana.” Manager Ade membawa uang untuk bisa membuka kunci mulut mantan istrinya yang memang mata duitan. Tapi rupanya, ego wanita yang dipanggil Rukmi itu telah sejengkal lebih tinggi dari biasanya yang manager Ade tahu. Rukmi memicingkan mata menanggapi setiap kalimat yang manager Ade ucapkan. “Aku sudah tidak Sudi mengurus apalagi menghabiskan uangku untuk anak Pembawa sial itu,” ucap Rukmi dengan tawanya yang sungguh tidak bisa disebut sebagai seorang ibu. Manager Ade mendorong tubuh Rukmi ke dinding. “Apa maksud kamu? Cepat katakan di mana Diana?” manager Ade tak bisa mengontrol dirinya. Dia telah sangat rindu pada putrinya. Mungkin sekarang, putrinya telah lulus dari sekolah SMP dan baru akan masuk SMA. Ah, pasti putrinya sudah besar dan cantik. Tapi wanita di hadapannya membuat dirirnya tidak bisa bertemu dan melihat sebesar apa dan secantik apa putri yang sudah sangat dirindukannya itu. “Hari saat di mana aku keluar dari rumah kamu yang sudah reot dulu, hal pertama yang aku lakukan adalah membuang anak itu ke panti. Lalu aku memutuskan untuk menikah dengan pacarku dan tidak peduli pada anak pembawa sial yang sudah membuat kamu berpaling karena melahirkan dia.” Wantia bernama Rukmi itu tampak tidak melakukan perlawanan meski sudah ditekan kedua bahunya dengan sangat kuat ke dinding. Yang terlihat di matanya, hanyalah kobaran api cemburu dan kemarahan atas pengkhianatan yang dia terima. Ya, dulu ... Ketika Rukmi baru melahirkan, tepat ketika anak bernama Diana itu masih berusia satu bulan dua puluh hari. Rukmi pergi hendak mengunjungi rumah iparnya yang sedang sakit-sakitan. Tepat ketika Rukmi mendatangi rumah iparnya. Dia mendapati suaminya yang seharusnya bekerja di kantor, ternyata ada di rumah iparnya yang tak lain adalah Ibu Tika, mendiang ibu Ansel. Saat itu, usia Ansel masih sekitar tujuh tahun dan sedang menempuh pendidikan sekolah dasar tak jauh dari rumahnya. Rukmi melihat suaminya yang tak lain adalah manager Ade sedang berduaan di kamar iparnya. Dan lelaki itu sedang mengancingkan baju yang dikenakan Ibu Tika. Sejak itulah, Rukmi yang setelah menikah hanya menjadi wanita rumahan, berubah drastis. Meski Manager Ade sudah menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi pikiran Rukmi sudah dikuasai amarah dan kekecewaan. Dia memutuskan cerai dan pergi dengan lelaki yang hanya menjadi pacar pura-puranya. Rukmi bermaksud membalas dendam atas pengkhianatan yang dilakukan manager Ade padanya. Sedangkan manager Ade, dia berulang kali menjelaskan bahwa kejadian saat di rumah Bu Tika hanyalah kesalah pahaman belaka. Bu Tika yang seorang janda setelah ditinggal mati oleh suaminya menjadi sering sakit-sakitan. Tapi Bu Tika merahasiakan hal tersebut dari orang lain. Hanya manager Ade-lah yang mengetahui itu, karena sebelum suami Bu Tika yang merupakan saudara kembar manager Ade meninggal, dia berwasiat untuk menjaga istri dan anaknya padanya. Suami Bu Tika juga memberitahukan penyakit yang diderita istrinya. Tapi atas permintaan istrinya, dia meminta untuk merahasiakan semuanya. Sebab takut terdengar ke telinga Ansel. Dan saat ketika Rukmi pergi, manager Ade sudah menyalakan mobil untuk mengejarnya. Tapi tiba tiba ada panggilan masuk yang mengabarkan bahwa Bu Tika Alfa dan keadaannya kritis. Hal itu membuat dia urung untuk mengejar istrinya. Manager Ade hanya sempat melihat, ketika Rukmi dijemput oleh lelaki yang dia anggap adalah kekasih gelap istrinya. Manager Ade menemui iparnya yang ternyata sudah sekarat. Wanita yang terlihat mengenakan itu menitipkan anak lelakinya padanya. Dan memberikan selembar kertas yang telah bertuliskan beberapa kata di dalamnya. Bu Tika meminta manager Ade untuk memberikan surat itu pada Rukmi. Di dalamnya, dia menjelaskan bahwa apa yang dia lihat kemaren hanyalah kesalah pahaman. Untuk Rukmi, sahabatku juga istri dari saudara suamiku. Assalamu’alaikum ... Saat kamu baca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada dan sudah tertimbun tanah. Aku Cuma mau bilang, apa yang kamu lihat kemaren hanyalah kesalah pahaman. Sebelumnya aku minta maaf. Karena merepotkan suamimu dan membuat kamu merasa cemburu. Kemaren ketika kamu melihat Ade mengancingkan bajuku, dia hanya membantu karena tanganku tiba tiba tidak bisa digerakkan. Saat itu pembantuku juga sudah pamit pulang kampung karena orang tuanya sakit. Jadi aku meminta tolong Ansel untuk menelepon pamannya sebelum berangkat ke sekolah. Aku meminta tolong Ade untuk mengantar aku ke dokter. Tapi kemudian, ketika aku menunggu Ade datang, ketika Ansel sudah berangkat ke sekolahnya. Aku merasa sangat haus. Aku ingin minum dan mengambil air di meja. Tapi ketika aku hendak mengambilnya, gelas itu jatuh dan mengenai hampir semua baju yang aku pakai. Sebab itulah, Ade membantu menggantikan bajuku dengan matanya ditutup pakai kain. Tapi ketika hendak memasang kancing, dia kesulitan, jadi kainnya dilepas. Dan tepat ketika itu kamu datang dan melihat seolah-olah Ade memakaikan baju karena kita habis melepas baju bersama. Padahal tidak, Rukmi. Ade melepaskan jasnya karena sudah sedikit basah terkena bajuku. Aku benar benar minta maaf membuat kacau rumah tanggamu. Aku tahu, kalian berantem kan gara gara aku. Ade nggak cerita. Tapi aku bisa menebaknya. Karena setelah kamu melihat kami berduaan di kamar, kamu sudah tidak pernah lagi datang, membawa Diana bermain dengan Ansel ke rumah. Sekali lagi, aku minta maaf, Rukmi. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaaatuh. Salam Tika sahabatmu Selembar surat yang diterima manager Ade ketika itu. Tapi dia tidak bisa memberikan surat itu pada Rukmi karena wanita itu sudah terlanjur pergi dan tidak bisa ditemukan di manapun oleh manager Ade. Hari ini pun, dengan emosi yang meledak-ledak, manager Ade menarik tangan Rukmi dan memaksanya masuk mobil lalu menyerahkan surat yang selalu dia bawa dalam mobilnya. Ketika membaca surat itu, Rukmi menangis. Dia marasa amat bersalah pada putrinya. Dia telah membuang putrinya yang tidak berdosa itu ke panti asuhan. Dia dikuasai oleh amarah terhadap suaminya. Sehingga ketika melihat wajah putrinya, dia selalu terbayang wajah suaminya yang dianggapnya mengkhianatinya. Lalu bersama dengan manager Ade, Rukmi mendatangi panti yang dulu menjadi tempatnya membuang Diana. Tapi rupanya tempat itu sudah rata dengan tanah. Hanya bersisa reruntuhan bangunan yang tak ada bekas atau petunjuk apapun. ***** Rentetan kisah itu tanpa sadar membuat manager Ade mengingat kembali lukanya. Terlebih, dia turut merasa bersalah pada putrinya yang tidak tahu apa-apa. Dan parahnya, dia sendiri tidak tahu keberadaan putrinya itu. Manager Ade ingin sekali menceritakan masalahnya pada Ansel. Tapi hal itu tidak dilakukannya sebab berpikir masalahnya akan mengganggu konsentrasi syuting sang ponakan. Tapi walau bagaimanapun, dia akan tetap mencari keberadaan putrinya sampai dia sendiri bisa memeluk putrinya dalam nyata, tak hanya sebatas hayalan dan sekelebat mimpi dalam tidurnya. Kali ini, dia harus fokus memilihkan jalan untuk ponakannya. Ansel Mahardika, anak lelaki tujuh tahun yang dulu meneleponnya untuk meminta tolong mengantarkan ibunya ke rumah sakit. Anak lelaki itu sudah tumbuh dewasa sekarang. Dan sudah bisa dipastikan bahwa putrinya juga sudah menginjak usia remaja. “Paman. Aku berencana mengajak Vera jalan di luar. Bagaimana menurutmu?” tanya Ansel saat dilihatnya pamannya hanya diam tak seperti biasanya. Ya, biasanya lelaki yang memilih tetap menyendiri itu selalu cerewet ketika mengantarkan Ansel ke lokasi syuting. Terlebih, hari ini Ansel sangat telat dari waktu yang sudah dijadwalkan. Tapi ponakan yang sudah dianggap anak oleh manager Ade itu bisa merasakan bahwa pamannya sedang ada masalah yang dia pendam. Jadi dia hanya terus memancing pikiran pamannya agar teralihkan dari masalah yang dihadapinya walau hanya sesaat. Dan Ansel lagi-lagi berhasil. Masalah karirnya adalah hal utama bagi pamannya. Sebab dia tahu, ponakannya sangat ingin sukses di industri hiburan tanah air. Jadi dia akan sekuat tenaga membuat sukses ponakannya dan akan mati Matian menjauhkan ponakannya dari hal hal yang hanya akan mengancam karir Ansel. Tak terasa, mobil mereka telah sampai di lokasi syuting. Sedikit teguran tentu Ansel dapatkan. Tapi hal itu tak membuatnya patah semangat, sebab kehadiran Naya ke apartemennya tadi membuat dia memiliki cambuk semangat untuk dirinya sendiri bahkan dua kali lipat dari yang biasa dia dapatkan dari manager Ade. Memang tadi Ansel berniat tidak datang ke lokasi syuting. Karena ingin menghabiskan waktunya berduaan dengan Naya. Dia ingin membayar hari Minggu yang kemaren dia habiskan berempat dengan Bian juga Intan. Ah, menyebut Bian, lelaki itulah yang sebelumnya membuat Ansel uring-uringan. Tak niat untuk kerja dan hanya ingin tidur seharian di apartemennya. Tapi kemudian Naya datang dan mengubah semuanya. Bahkan dia semakin semangat kali ini. Sebagian besar semangatnya ada pada diri Naya. Entah bagaimana jadinya, jika sampai hubungannya dengan Naya berakhir dan dia tidak bisa lagi melihat wajah cantik remaja itu. Tidak! Dia akan terus bersama penyemangat itu. Tak akan ada kata pisah kecuali memang nyawa mereka sudah tak lagi menyatu bersama raga. ***** Sedang di kediaman Naya. Gadis cantik itu tengah memeluk boneka Teddy yang kemaren berhasil dia dapatkan berkat bantuan Ansel. Niatnya untuk memberikan boneka itu untuk Dinda, dia urungkan. Rasanya, boneka berbulu cokelat itu adalah bagian dari kisah cintanya dengan mas pangeran. Ah, pelukan tadi. Aku ingin sekali kamu yang peluk aku duluan. Naya berguling guling di kasurnya. Hingga kemudian sebuah suara mengagetkannya. “Nay, kamu sakit perut?” Suara Pak Leo yang ternyata sudah kembali dari rumah Nenek Zul. Bahkan kedatangan orang tuanya, Naya tidak menyadari saking asyiknya mengulang kejadian dengan Ansel dalam ingatannya. “Eh, Papa. Nggak kok, Naya Cuma olahraga guling guling,” sahut Naya asal. Bu Rena yang juga melihat tingkah anak gadisnya hanya menggelengkan kepala, dalam pikirannya dia menebak bahwa Naya pasti sedang jatuh cinta. Walau Naya tak bicara, tapi sorot mata dan lekukan bibir Naya yang terus membentuk senyuman itu adalah tanda-tanda yang dulu dialami oleh Bu Rena ketika jatuh cinta pada pak Leo. Ah ... Melihat Naya, membuat Bu Rena ikut tersenyum karena kisah masa lalunya yang bertemu Pak Leo di bawah guyuran hujan. Bernostalgia dikit ya, Bu ... Hihihi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD