BAB 14

2044 Words
Hari ini, sepulang sekolah. Naya tidak pergi ke taman seperti biasanya. Dia ingin menemui Ansel dan belajar main piano bersama dengan mas pangerannya. Naya pun lebih dulu datang ke kedai ibunya untuk meminta ijin. Ya, Pak Leo dan Bu Rena sudah kembali dari kampung, rumah nenek zul yang selama hidup, seingat Naya, dia belum pernah ikut ke sana. “Ma, aku nggak bisa jemput Dinda hari ini. Nggak papa kan, Ma? “ Naya duduk di dekat meja kasir, tempat ibunya melayani pembayaran orang orang yang singgah dan makan di rumah makannya. “Memangnya kamu Mau kemana, Nay?“ Bu Rena menatap putrinya yang sekarang terlihat ada yang berubah dalam diri anaknya. Naya tak segera menjawab, tiba tiba saja terlukis senyum yang muncul tanpa permisi. “Kamu keliatannya lagi seneng, Nay. Apa kamu udah punya pacar?” Bu Rena penuh antusias menanyai putrinya. Sebab seumur umur Naya hidup hingga sebesar sekarang, Bu Rena tak pernah sekalipun melihat Naya dekat dengan laki laki selain Bian. Pada awalnya,Bu Rena berpikir, Bian dan Naya pacaran. Tapi setelah menanyai kejelasan praduganya pada Bian, remaja cowok yang menjadi teman akrab Naya itu menjawab bahwa memang dia menyukai Naya, tapi belum berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi hari ini, Bu Rena melihat sesuatu yang berbeda dari putrinya. Persis seperti saat pertama kalinya Bu Rena bertemu Pak Leo di perempatan jalan dekat pasar. Ketika itu, hujan turun dengan sangat lebat. Bu Rena hendak menyeberang untuk bisa berteduh di halte di seberang jalan. Tapi padatnya kendaraan Jakarta menjadikannya tertahan cukup lama di bawah guyuran hujan. Hingga kemudian seorang lelaki remaja berkacamata datang dengan payung pink di tangannya, lelaki itu Pak Leo. Pak Leo remaja memayungi Bu Rena muda yang sudah setengah basah. Keduanya berjalan menyeberangi jalan yang kendaraan sudah berhenti semua sebab lampu merah. Pertemuan yang selalu membuat Bu Rena tak henti tersenyum ketika mengingat itu. Bahkan hanya karena melihat senyum dan binar bahagia di wajah Naya, perempuan yang sudah tidak lagi muda itu kembali ingat perjumpaan pertamanya dengan lelaki berkacamata yang sekarang sudah sah menjadi suaminya serta bapak dari anak anaknya. Naya hanya mengulum senyum mendapat pertanyaan yang sangat tepat mengena pada urat k*********a, eh urat malunya. Naya tersipu. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Naya berpamitan pergi. “Aku pergi dulu ya, Bu.” Naya berlalu menghilang di balik pintu resto. Meninggalkan Bu Rena yang turut tersenyum karena bayangan payung pink milik pria berkacamata yang saat ini menatapnya dari arah dapur. Bahkan saat ini pun, aku selalu jatuh cinta setiap kali liat wajahnya. Ah ... Bu Rena bikin iri authornya. ***** Naya barusaja akan turun dari motor skutik yang dikendarai nya, ketika tiba tiba seorang perempuan tak sengaja menabrak tubuhnya hingga kunci motornya terlempar entah kemana. “Sorry, sorry ... Aku nggak sengaja. Aku buru-buru soalnya,” ucap perempuan itu dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Naya hanya mengangguk tak terlalu memperhatikan sosok yang menabraknya sebab dia mencari-cari keberadaan kunci motornya yang jatuh terlepas dari genggamannya. Perempuan itu berlalu, sedang Naya masih harus mencari benda pengendali motornya yang tadi jatuh. “Untung ketemu,” ucap Naya setelah beberapa menit mencari. Peluhnya membentuk bulatan kecil di dahinya sebab dia terpaksa berpanas-panasan untuk bisa menemukan kunci motornya. ***** Sedang di apartemen Ansel, lelaki itu tampak asyik dengan buku panduan belajar piano untuk pemula di tangannya. Padahal bisa saja dia belajar di YouTube. Tapi entah kenapa, dia seperti lebih tertarik pada buku sebab kalimat Naya sebelum pulang kemaren, wanita itu berkata, “Aku dulu sewaktu awal awal belajar main piano, aku pakai buku karena lebih gampang.” Kalimat itu membuat Ansel ingin melakukan hal yang sama seperti Naya. Ansel merasakan perutnya tiba tiba terasa keroncongan. Dia berniat memasak untuk dirinya sendiri. Namun tiba tiba terdengar bel pintu apartemennya berbunyi. Ansel girang bukan kepalang. Dia berpikir, Naya datang sebab hari ini gadis itu mengiriminya pesan akan datang ke apartemennya. “Hai ...” perempuan berbeda dari yang diharapkan Ansel berdiri dengan seutas senyum terukir di wajahnya yang tak pernah lepas dari polesan make up. Ansel mempersilahkan dia masuk meski bukan wanita itu yang dia harapkan datang. “Ada apa, Lis?” tanya Ansel mengiringi langkah Lisa, lawan mainnya dalam sinetron my sweet love sekaligus kekasih masa lalu Ansel. “Nggak ada sih, Ans. Akutuh Cuma kangen sama tempat kamu.” Perempuan itu menyilangkan kakinya duduk seksi di sofa panjang milik Ansel. Ansel hanya tertawa. Entah apa yang dia tertawakan. Hanya saja dia merasa bingung untuk menjawab kalimat kangen yang terucap dari mulut Lisa. Pertama, karena Ansel tidak merasakan kangen seperti yang Lisa rasakan. Lalu juga, Ansel ingin Lisa secepatnya pulang dan keluar dari apartemennya. “Aku mau buat makan siang dulu. Kamu kalo mau nunggu, silahkan. Tapi kalo mau pulang, juga silahkan.” Ansel bangkit. Kalo bisa, mending pulang aja deh. Ansel meneruskan niatnya untuk mengisi perutnya yang sejak tadi keroncongan. Sedangkan Lisa tampak bersantai di sofa. Dia menyandarkan tubuhnya sembari memiringkan sedikit kepalanya untuk bisa menikmati wajah tampan mantan kekasihnya dari samping. Tak lama, terdengar bel berbunyi. Tapi Ansel tak mendengar. Sedang Lisa, wanita itu tampak acuh dan tak beranjak dari tempatnya. Pasti cewek udik itu yang datang. Awas aja, elo bakal liat sesuatu yang bakal bikin elo nangis nangis. Lisa bangkit mendekati Ansel. Sedang Naya yang sudah berulang kali memencet bel pintu apartemen Ansel, pada akhirnya membuka sendiri pintu dengan kunci yang sudah Ansel berikan padanya. Dia tertawa sendiri. Sekarang kesempatan ku buat liat liat isi apartemen mas Ansel. Mumpung gak ada orangnya. Naya melangkah masuk. Berjalan pelan sembari tersenyum mengingat tingkahnya sendiri yang masuk ke apartemen orang ketika pemiliknya sedang tidak ada. Bukan mau maling. Cuma pengen tahu lebih soal kamu, Mas. Lagian kamu sendiri kan yang bilang aku boleh keluar masuk sini sesuka aku. Naya semakin masuk ke dalam. Melewati ruang TV yang tadi adalah tempat duduk Lisa di sofa di depan layar TV besar yang tampak gelap tak menyala. Sedangkan Lisa, dia melancarkan aksinya, berjinjit di sebelah Ansel lalu dengan sengaja mencium pipi lelaki yang sedang mencuci brokoli di tangannya. Naya menutup mulutnya sendiri untuk tidak bersuara ketika melihat pemandangan di depan sana. Tiba tiba hatinya seperti dihimpit benda keras yang membuat sesak. Kali ini beda, sesaknya bukan menggelitik, tapi terasa sakit dan perih di dalamnya. Naya membalikkan badannya hendak keluar tanpa diketahui oleh dua orang yang terlihat sedang bermesraan di dekat wastafel. Tapi naas, tangan Naya terasa lunglai tak ada tenaga sama sekali. Kunci motor yang dipegangnya jatuh ke lantai menimbulkan suara yang membuat dua orang di sana menoleh ke arahnya. Tapi Naya tak peduli, dia hanya ingin keluar sekarang dan tidak melihat apapun lagi yang hanya akan membuat dadanya semakin terasa sakit. Naya berlari keluar tapi kemudian kembali lagi ke dalam karena kunci motor yang tadi jatuh lupa diambil olehnya. Ah, sial. Pakek lupa ngambil. Kenapa sih? Aku nggak pinter kalo ada di deket pangeran buaya. Hati Naya menggerutu. Menyebut Ansel dengan sebutan pangeran buaya karena pemandangan yang teramat menyakitinya tadi. Naya mengambil kunci motornya, lalu berlalu pergi. SedangkanAnsel meletakkan kembali brokoli yang tadi dicucinya ke sembarang tempat. Dia tak ingin gadis kecilnya salah paham dan berpikiran buruk tentangnya. Ansel turut berlari keluar, mengejar Naya yang telah sampai di depan lift. “Ver, tunggu!” Ansel meraih tangan Naya mencoba menahan gadis itu untuk tidak lagi berlarian. Tapi dengan kasar, Naya menepis tangan Ansel dan hendak berlalu lagi. Kembali Ansel meraih tangan Naya sembari berucap, “Itu nggak kayak yang kamu liat, Ver. Sungguh.” Ansel memakai nada terendah agar tak terkesan membentak gadisnya. Sebetulnya, dia ingin sekali berteriak sekarang. Ingin bilang, untuk Naya diam dan mendengarkan penjelasannya. Jangan langsung pergi, Ver. Dengerin penjelasan aku dulu. Tapi itu semua hanya ada dalam benaknya. Sebab air mata di pipi mulus gadisnya membuat dia turut merasakan sakit dan tak berdaya. Naya tak mendengarkan ucapan Ansel. Dia lebih ingin menyendiri dan menenangkan hatinya yang sejak tadi benar benar terasa amat sakit. “Aku memang masih anak-anak. Aku belum bisa disebut remaja apalagi dewasa. Tak seharusnya aku seperti ini. Seharusnya aku hanya duduk di rumah dan duduk di bangku sekolah sambil belajar tanpa memikirkan hal lain. Aku yang salah dalam hal ini, dan aku putuskan ... Mulai sekarang, aku hanya ingin hidupku seperti dulu.” Naya mengucapkan itu sembari air matanya tak henti lolos memenuhi setiap lekukan wajahnya yang cantik tapi sekarang terlihat sangat pucat. Rasa sakit di hatinya seperti menguras semua energi dalam tubuhnya. Dia amat lelah dan hanya ingin sendiri di dalam kamarnya. Naya berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Dia merasa dalam hatinya sedang terdapat perang kecil yang membuat dia merasa sangat tertekan. Satu hal yang amat menyakitkannya, dia menyesali perbuatannya sendiri, yang membiarkan hatinya bermain dengan sebuah rasa yang dulu tak pernah terpikirkan oleh Naya, Cinta. Dan kali ini, akibat dari ulahnya sendiri, dia merasakan sakit yang teramat. Seolah perasaannya pada mas pangeran yang sekarang dia sebut pangeran buaya itu dibuat jatuh bangun. Awalnya, dia merasa terbang karena menjadi satu-satunya orang yang berarti dalam hidup lelaki itu, bahkan sampai dia mendapatkan kepercayaan memegang kunci apartemennya yang kata Ansel belum pernah dia lakukan pada orang lain. Tapi kemudian, dalam hitungan detik. Saat Naya dengan rasa bahagianya memasuki apartemen lelaki itu, justru dia dibuat terpelanting jatuh ke dasar jurang penderitaan terdalam. Pemandangan yang teramat menyakitkan untuk Naya. Seharian gadis itu menangis dan mengurung diri di kamar. Bahkan hingga makan malam yang tak pernah dia lewatkan dengan Dinda. Malam ini, Naya masih tetap mengurung diri di dalam kamarnya. Semua sudut dalam rumah ini seolah menertawakan kebodohannya. Dan dia muak dengan itu. Rasa sakit dalam hatinya adalah pertama kalinya sekarang. Dia tak pernah menyangka bahwa bermain main dengan yang namanya cinta akan membuat dia merasakan sakit yang teramat seperti ini. Naya lebih suka menjadi anak anak seperti dulu. Walau terjatuh dari sepeda dan dia terluka di lututnya itu hanya bertahan sesaat. Setelah diobati luka itu perlahan sakitnya menghilang. Tapi sekarang, sakit dalam dadanya, Naya bingung bagaimana menyembuhkannya. Naya tak suka seperti ini. Dia ingin kembali menjadi anak anak seperti dulu. Yang bisa bebas menangis ketika terluka seperti saat jatuh dari sepeda. Sedangkan sekarang, Naya menangis diam-diam tak ingin ada yang mengetahui lukanya. Ah lukanya selebar apa? Kenapa sakitnya kerasa banget. Nyakitin aku banget. Dia terus menangis. Tak ada yang bisa dilakukannya sekarang. Di mana obat yang menjual sakit seperti yang hatinya rasakan sekarang? Naya harus bertanya pada siapa tentang obat ini? Apa di apotik tempat langganan dia membeli obat untuk pereda nyeri haid-nya ada juga obat untuk sakit yang dia rasakan dalam hatinya? Ah, kali ini Naya benar benar merasa bodoh. Bahkan nama obatnya saja dia tidak tahu. Jangankan nama obat, nama luka yang seperti cukup besar di dalam hatinya saja dia tak tahu. Naya meraih handphonenya dia atas nakas. Ada banyak panggilan tak terjawab dari nomer yang dia simpan dengan nama Mas pangeran. Ada delapan puluh enam panggilan tak terjawab dari mas pangeran. Apa dia nggak syuting? Apa apaan sih, Naya ini? Masa bodoh dengan orang bernama Ansel itu. Naya tak ingin lagi memikirkan laki laki itu. Tapi panggilannya yang sangat banyak padanya, membuat rasa sakitnya sesaat teralihkan. Ah, Naya jadi lupa. Bahwa dia mengambil handphone-nya untuk dia mencari-cari nama penyakit seperti yang dirasakannya sekarang. Belum sempat mengetikkan kata kunci di google, pintu kamar Naya diketuk. “Nay. Makan malam udah siap.” Suara Bu Rena terdengar di balik pintu. Tumben ibu pemilik kedai itu pulang di jam seperti sekarang. Biasanya Naya menyiapkan sendiri makan malam untuk dirinya dan Dinda. Ah, syukurlah. Jadi Dinda tidak akan kelaparan meskipun Naya tidak masak malam ini. Maafin kakak, Din. Naya merasa semakin sakit. Ah, penyakit yang baru dideritanya kenapa membuat pikirannya menjalar ke semua orang. Naya hanya terus menangis dan anehnya, air matanya seolah tak ada habisnya. Padahal sudah dari tadi siang dia menangis dan mengeluarkan air mata. Kenapa sampai selarut ini air matanya belum juga habis? Apa tanpa Naya tahu, dia punya stok air mata melebih stok air minum di rumahnya. Naya tak bisa berhenti menangis. Hanya saja setelah sekian lama dia hanya menangis dan menangis, pada akhirnya dia terlelap karena kelelahan menangis terus menerus tak berhenti. Untung Naya nangisnya dibekap pakai bantal. Jadi tak terdengar oleh Bu Rena yang sejak tadi berusaha menguping apa yang sebenarnya dilakukan Naya di dalam. Sebab tidak biasanya anak gadisnya bersikap demikian, tidak keluar kamar dan tidak membuat makan malam untuk adiknya, Dinda. Juga dia melewatkan makan malamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD