“Ada apa, Nggun?” Bu Rena berbicara lembut pada pengasuh ibunya di kampung.
“Iya, Bibi tahu Bibi salah kemaren ngggak bisa pulang waktu pemakaman ibu. Tapi bibi benar-benar ada keperluan mendesak yang tak bisa bibi tinggal.” Bu Rena mengira bahwa orang di seberang yang sedang menelponnya akan menegurnya karena tidak menghadiri pemakaman mendiang ibunya.
“Bukan itu, Bi. Aku ada kabar yang lain. Ini bukan soal Ibu,” sahutnya di seberang.
Bu Rena bahkan sampai memicingkan matanya sebab untuk pertama kalinya Anggun menelepon tidak untuk membahas ibunya, Bu Deden. Perempuan yang sudah berusia lanjut itu sempat meminta anak kandungnya yang bernama Rena untuk pulang.
Tapi karena beberapa alasan, Bu Rena yang merupakan ibu dari Dinda juga istri dari Pak Leo itu dengan sangat terpaksa harus menomer duakan ibunya. Pernah sekali mereka pulang mengunjungi Bu Deden, tepat ketika Bian berulang tahun.
Rupanya Bu Deden-lah orang yang dimaksud sebagai nenek Naya itu.
“Lalu?” Bu Rena mulai penasaran pada arah pembicaraan anak angkat ibunya itu.
“Aku sudah ketemu keluargaku, Bi. Mereka ternyata tidak membuangku, mereka Cuma salah meletakkan bayi mereka karena lampu padam katanya.” Anggun bercerita terus terang persis seperti yang Rukmi dan Manager Ade katakan padanya.
Mendengar itu, Bu Rena refleks memicingkan matanya. Dia ingat betul, bahwa dia-lah yang menemukan Anggun di tong sampah dekat pasar. Apa namanya kalau bukan dibuang?
Tak ingin merusak kebahagiaan Anggun, Bu Rena memilih bungkam dan tidak menceritakan kebenarannya.
Tapi justru karena cerita Anggun, Bu Rena malah menjadi gelisah. Dia teringat pada bayi kecil yang dia temukan di teras panti bersamaan dengan ditemukannya bayi Anggun saat itu.
Dan Bayi kecil itu adalah Naya, si gadis SMA yang terlalu menfokuskan hidupnya dengan belajar, belajar dan belajar.
Sayangnya, Bu Rena belum siap untuk jujur dan kehilangan Naya. Sebab karena gadis itu, karena mengangkatnya sebagai anak dan mengasuhnya sejak kecil, Bu Rena yang awalnya susah punya anak menjadi dikaruniai satu peri kecil dalam hidupnya, dialah Dinda.
Tapi meski begitu, meskipun Naya hanyalah anak angkat, tapi tak ada perbedaan kasih sayang antara Naya dan Dinda. Dan Bu Rena juga menyayangi Naya sebagaimana dia menyayangi Dinda. Dia tak ingin Naya pergi meninggalkannya.
Ya, meski itu orang tua kandungnya, tapi Bu Rena sungguh tidak rela jika Naya bertemu mereka dan meninggalkannya. Dia sungguh tak ingin berpisah dari Naya. Sangat egois, tapi itulah isi otak dan hatinya sekarang.
Cukup lama mengobrol dengan Anggun, beitu selesai, Bu Rena bergegas menyiapkan makan siang untuk kedua putrinya yang sebentar lagi pasti datang dari sekolah.
Dinda yang biasanya dijemput oleh Naya, kini memakai jasa antar jemput yang merupakan tetangganya.
Dan Naya, hari ini dengan sangat terpaksa menemani Aldo jalan-jalan ke mall. Huft ... Naya masih sama seperti dulu untuk soal keramaian, dia tak suka.
Kejadian saat bersama dengan Bian tempo hari, justru membuat Naya merasa malu sendiri jika dia sampai bertemu dengan orang-orang yang pernah disapanya.
Sepanjang jalan, dia menutupi wajahnya dengan buku panduan belajar piano yang dipegangnya. Sangat malu rupanya dia.
“Nay, kita ke sana, yuk.” Aldo mengajak Naya masuk ke restoran seafood yang di sana juga terdapat basecamp untuk kawula muda. Dan memang banyak anak-anak muda berseragam sekolah yang tengah asyik bercanda ria di sana.
Huft ... Naya malas sekali! Tapi mau gimana lagi? Bahkan dengan alasan Dinda pun, Aldo masih belum menyerah mengajak dia jalan-jalan.
Ini sih bukan jalan-jalan, tapi nongkrong.
Naya menggerutu dalam hati. Oh ya, Dinda! Tadi kan Naya bilang akan menjemput Dinda dahulu. Yes! Ada alasan untuk dia bisa bebas dari Aldo sesaat setelah masuk nanti.
Sementara Aldo, dia sudah menyiapkan banyak sekali rencana untuk menyatakan cinta pada Naya di dalam. Mulai dari dekorasi yang sengaja dia pesan khusus, lalu anak-anak berseragam di dalam, itu hanya orang sewaan Aldo yang kebanyakan adalah teman-teman band-nya.
Ya, Aldo adalah drummer band yang belakangan mulai dikenal publik. Mereka baru-baru ini membentuk grub band dengan tujuh empat personel. Tak terlalu terkenal memang, sebab mereka adalah band pendatang baru.
Seperti yang sudah Naya pikirkan, baru duduk sebentar, dia langsung berpamit untuk pulang terlebih dahulu. Dia mengatakan bahwa Dinda tak ada yang menjemput. Alhasil, karena hal itu semua yang Aldo rencakan gagal total.
Tapi bukan kesal, Aldo justru merasa bersalah, sebab dirinya-lah Dinda, calon adik iparnya jadi terlambat dijemput.
Sudah gagal, Aldo masih harus bertanggung jawab menjemput Dinda ke sekolahnya.
Huft ... Kali ini Naya selamat. Naya bukan lagi gadis bodoh yang tidak bisa membaca gerak gerik orang. Terlebih tatapan Aldo padanya selalu berhasil membuat Naya salah tingkah, sebab itulah Naya memakai Dinda sebagai alasan untuk dia bebas dan tak perlu repot memikirkan jawaban untuk Aldo.
Pasti Dinda udah di rumah sekarang. Naya bercakap dalam hati. Memikirkan langkah selanjutnya agar dia tak perlu ke sekolah Dinda tapi juga tak harus kembali ke restoran tadi.
Sungguh, Naya takut jika sampai ada pernyataan cinta di dalam sana. Heuww ... Membayangkannya saja, Naya merinding. Dia hanya ingin Mas Pangerannya lah yang berlutut di depannya, memberikan setangkai bunga atau juga sebuah cincin untuknya. Ah ... Naya rindu Mas Ansel.
Mobil Aldo semakin jauh dari restoran yang berada di tengah-tengah pusat perbelanjaan kota itu. Sedangkan ke sekolah Dinda jaraknya pun masih agak jauh. Jika Naya mengatakan bahwa Dinda sudah dijemput, maka pasti Aldo akan memaksanya kembali ke restoran itu. Naya tak mau! Sebab itulah dia memilih diam dan berpura tidak tahu apa-apa.
Maaf udah boongin kamu, Do.
Naya bisa saja bertahan di restoran itu dan mendengarkan pernyataan cinta dari Aldo. Tapi entah kenapa, untuk menolaknya rasanya Naya takut. Ya, Naya takut di-bully lagi. Kasus di sekolahnya yang lama membuat dia mengalami trauma untuk membuat masalah dengan teman satu sekolahnya. Sebab itu, Naya lebih baik tak usah sekalian mendengarkan pernyataan apapun dari Aldo dan dari siapapun.
Dia lebih baik mencari jalan aman daripada akhirnya sakit hati mereka berimbas pada bullying seperti yang sudah Naya alami.
Mobil sudah hampir sampai ke sekolah Dinda. Di perempatan jalan tak jauh dari tempatnya yang sedang menatap jalanan di depan, ada motor Bian dan bahkan pemiliknya juga sedang menikmati es serut Mang Uki, langganan Naya juga saat dia masih bersekolah di SMA Negeri Harapan.
“Do, mampir di sana, yuk.” Naya mengajak Aldo untuk mampir ke lapak Mang Uki yang tidak terlalu ramai sekarang. Biasanya, di jam pulang sekolah, tempat itu pasti penuh dengan anak-anak SMA Negeri Harapan.
Kalau begitu, artinya Bian bolos sekolah.
Oh ya, jam sekolah di SMA Negeri Harapan dengan Sekolah Musik yang Naya masuki jam masuk dan pulangnya itu berbeda. Di SMA Negeri Harapan, masuk jam tujuh dan kelar kelas jam satu siang. Sedangkan di sekolah musik Naya, masuk jam delapan dan pulangnya jam sebelas siang.
Mobil Aldo diparkirkan di sebuah persimpangan yang masuk ke gang tak jauh dari sekolah SMA Negeri Harapan. Sedangkan Naya sudah berjalan lebih dulu, duduk tepat di sebelah Bian yang tampak tak peduli pada sekitar. Dia terlihat asyik menikmati es serut buatan Mang Uki.
“Heum ... Enak ya, siang-siang gini makan es serut.” Naya bersuara, dan itu sukses membuat tangan Bian berhenti menyendok isian es ke mulutnya.
“Naya?!” Bian sedikit tak percaya.
“Menurut Lo?” Naya tampak menggoda Bian.
Belum berlanjut ke pembahasan berikutnya, Aldo datang diantara mereka. Hal itu membuat Bian yang tadinya ingin bertanya banyak hal pada Naya menjadi kesal dan jengkel.
Huh ... Siapa sih ni cowok? So Deket lagi sama Naya.
Bian ngedumel di hatinya.
“Hai, kamu siapanya Naya? Kok kayaknya akrab banget?” Aldo yang memang selalu welcome pada siapapun menyapa Bian dengan tersenyum. Duh manisnya!
Tapi tentu tidak untuk Bian. Bisa dipastikan sekarang Bian ingin menjawab bahwa dia adalah calon suami Naya, eh. Ya, dia ingin dikenal sebagai orang yang paling dekat dengan Naya, maksud Bian begitu.
“Gua sahabatnya Naya DARI KECIL.” Bian memberi penekanan pada kata dari kecil saat mengucapkannya. Dan hal itu membuat Aldo tersenyum makin manis.
Entah apa yang sebenarnya ada di benak Aldo Sekarang? Bian bahkan ingin muntah karena laki-laki itu terus tersenyum dari sejak dia datang tadi.
“Aku temennya Naya di Musica School.” Aldo menyebutkan nama sekolahnya. Dan lagi, dia tersenyum.
Huh ... Bian empet karena tak ada angin tak ada hujan, Si Aldo terus tersenyum saat bicara dengannya.
“Di sini tuh es-nya enak banget tau, Do. Aku sama Bian seriiing banget ke sini,” ucap Naya pada Aldo.
Bian sedikit merasa di atas Aldo karena Naya mengakui bahwa dia dan dirinya sudah sering ke tempat ini. Ya, meski kenyataannya mereka sering ke sini bukan hanya berdua, melainkan bertiga dengan Intan.
Bicara soal Intan, gadis itu masih di sekolah sekarang. Entah dia sudah dapat kawan baru atau belum setelah Naya pindah sekolah, tapi yang pasti, semenjak Naya pindah sekolah, Intan menjadi rajin belajar. Karena sang penolong saat dia tidak bisa mengerjakan tugas sekolah sudah tidak ada lagi di sana.
Ini dia harusnya bersyukur kan atas kemajuannya? Tapi tidak! Justru Intan seringkali sekali bercerocos pada Naya via telepon. Dia bilang, bahwa kepindahan Naya Dari sekolah adalah bencana untuknya.
Heuh ... Padahal harusnya dia bersyukur. Karena dengan begitu, dia jadi rajin belajar dan tidak lagi mengandalkan orang lain.
Kembali pada dua laki-laki yang sedang saling mencari perhatian Naya, keduanya berebut untuk membayarkan minuman yang sudah Naya pesan. Parahnya, Naya tidak hanya beli untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Dinda, Pak Leo dan Bu Rena di rumah.
Ya, begitulah Naya. Saat dia makan atau minum di luar sekolah, maka pasti dia akan membeli empat porsi. Satu untuk dirinya dan sisanya untuk orang rumah. Memang limited edition gadis seperti Naya ini.
Tapi yang namanya cinta, jangankan untuk semua keluarga orang yang dicintai di rumah, untuk orang sekampung kalau sudah cinta mah akan dibayar, demi mendapatkan simpati dari orang yang dicintai.
“Pakek uang aku aja, Pak.” Bian dan Aldo berucap bersamaan pada Mang Uki.
Dan tak hanya itu, keduanya malah berdebat memperebutkan siapa yang lebih berhak membayar es pesanan Naya.
“Udah gua aja yang bayar,” ucap Aldo berbicara pada Bian.
“Nggak nggak, gua aja. Gua tuh udah biasa bayarin Naya tiap ke sini.” Bian tak mau kalah.
“Ya karena elo udah sering, makanya sekarang biar gua aja. Elo kan udah sering.” Aldo pun malas sekali kalau harus kalah dari Bian.
Haih ... Naya yang melihat itu menjadi kesal sendiri. Dirogohnya uang di dalam tas selempang yang dibawanya. Lalu dengan tanpa suara dia memberikan selembar uang lima puluh ribuan itu pada Mang Uki.
Mang Uki hendak bicara, tapi dengan cepat Naya memberi isyarat agar Mang Uki tak perlu bicara apa-apa. Naya membelalakkan matanya sembari membuat pola seperti sedang meresleting di bibirnya. Dan UPS ... Mang Uki segera mengangguk dan membalas dengan kode yang sama.
“Ya nggak bisa gitu dong, elu siapanya Naya? Dia tuh gak suka kalo dibayarin sama orang yang baru dikenal.” Bian berbicara asal. Yang penting, Aldo tak boleh membayar es pesanan Naya.
“Kata siapa? Itu mah kata elu doang. Ya kan, Nay?” Aldo menoleh ke tempat Naya tadi berdiri di antara dua laki-laki itu.
Dan, sosok Naya sudah tak ada di sana.
Aldo dan Bian menoleh bersamaan. Tadinya, mereka akan meminta pembelaan untuk diri mereka sendiri pada Naya. Tapi ternyata, gadis itu sudah lebih dulu pergi dan tak ada di tempatnya sekarang.
Aldo dan Bian saling pandang, lalu kemudian mereka berebut untuk keluar.
“Ih, elo bisa nggak sih, gak usah halangin gua,” seru Aldo saat punggungnya berbenturan dengan punggung Bian.
Bian tak bisa diam begitu saja disalahkan oleh Aldo.
“Yang ada, elo tuh yang halangin jalan gua.” Bian tak terima.
Mereka berebut lagi untuk keluar. Tapi kemudian sebuah teriakan terdengar nyaring dari balik tubuh keduanya.
“Oey, Elu berdua mau kemane? Bayar dulu, dong. Main pergi seenaknya!” Rupanya itu adalah suara istri Mang Uki. Dan Oh Tuhan ... Wanita berdaster motif bunga itu mengacak pinggang seraya membelalakkan matanya pada dua anak muda yang dia lihat mau pergi padahal mereka belum bayar.
Huh, cari masalah sama Gorila betina Mereka ini!
Baik Aldo ataupun Bian, hanya bisa nyengir kuda. Mereka tersadar pada sesuatu memalukan yang baru saja mereka lalukan.
Kini, bukan hanya Mang Uki yang menatap mereka, tapi seluruh customer Mang Uki yang sedang duduk menikmati es serut itu, semua menatap mereka.