BAB 33

2203 Words
Ting, laporan chat masuk di handphonenya. Ansel melihat pengirim pesan itu adalah orang suruhannya. “Bos. Cewek itu udah ngedaftar.” Pesan singkat itu membuat Ansel tersenyum tampak senang. Jika Naya bisa melangkah maju untuk sukses, maka dia pun harus melakukan hal yang sama. Suatu saat nanti, akan datang masanya Ansel dan Naya akan dipertemukan dengan keadaan yang sedikit berbeda. Dan semoga saja, rasa di hati mereka akan tetap sama seperti sebelumnya. “Dik, Anggun mana?” Manager Ade muncul dari balik kamar tamu apartemen Ansel. Ah ya, ada yang terlupa. Anggun dibawa serta ke Jakarta sebab manager Ade dan Rukmi sangat yakin bahwa Anggun adalah anak mereka yang hilang. ***** ~Flashback on~ Ketika di rumah Bu Deden, Rukmi memeluk Anggun sebab merasa iba atas kesedihan yang menimpanya. Hal itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya Anggun yang semula menangis mulai sedikit tenang. Saat itulah, Rukmi dengan lembut meminta ijin untuk melihat letak kamar mendiang Bu Deden. Dan di kamar mendiang Bu Deden, terdapat banyak sekali barang yang mengarah bahwa si Anggun ini adalah mereka. Ada bedong bayi dengan selimut bayi yang tersimpan rapi di sana. Itu sangat mirip dengan bedong yang Rukmi pakaikan pada bayinya belasan tahun yang lalu. Ah, tapi Rukmi sudah lupa-lupa ingat. Melihat itu, Rukmi pun memanggil manager Ade untuk mengobrol serius dengan Anggun yang saat ini sedang mengemasi barang-barang milik mendiang Bu Deden. Niat anggun, dia akan memberikan benda-benda yang masih layak pakai milik Mendiang Bu Deden untuk orang-orang kampung yang lebih membutuhkan. Kini, di kamar mendiang Bu Deden sudah ada tiga orang yang saling berburu dengan pikiran mereka sendiri. Anggun dengan benda-benda peninggalan Mendiang Bu Deden. Lalu Rukmi dengan selimut dan bedong bayi yang tersimpan rapi di lemari. Sedangkan Manager Ade, dia menyimpan tanda tanya besar di otaknya tapi tak bisa dia tanyakan. Hanya wajahnya yang bicara pada Rukmi, bertanya ada apa? Rukmi yang mengerti gerakan wajah Manager Ade pun menunjuk pada lemari yang sedang terbuka. “Itu kayak bedong sama selimut anak kita,” bisiknya. Manager Ade melihat ke arah lemari seperti yang Rukmi tunjukkan, lalu ... “Boleh kami memegang benda ini?” Manager Ade memberanikan diri bertanya dan mendekati benda yang dimaksud oleh mantan istrinya. “Silahkan, Om.” Anggun tampak enggan melihat pada benda yang dimaksud oleh Manager Ade. Meski begitu, manager Ade tetap mengambil benda itu dan membawanya pada mantan istrinya yang sejak tadi berdiri sebab sungkan jika harus bertindak seperti yang manager Ade lakukan sekarang. Diamatinya bedong dan selimut bayi itu dengan seksama oleh Rukmi. Memang benar, itu adalah bedong yang pernah dia beli ketika dia baru pergi dari rumah Manager Ade. Rukmi seketika sesenggukan. Tangisnya tak tertahankan. Dia berhambur memeluk Anggun dan tidak dia lepaskan cukup lama. “Kamu anak mama, Nak. Kamu anak yang kita cari-cari,” ucapnya sembari menangis. Anggun tak mengerti, hanya saja dia sedikit paham bahwa orang yang saat ini bertamu ke rumahnya rupanya mencari anak mereka yang mungkin pernah menjadi salah satu anak panti yang dikelola Bu Deden. Rukmi terus memeluk Anggun dengan erat. Sedangkan Anggun, dia tampak senang karena dengan begitu, dia bisa punya orang tua baru yang setidaknya bersama mereka, dia bisa melupakan sedikit demi sedikit kesedihannya atas kematian Bu Deden. Jangan tanya Ansel di mana? Dia sibuk menghubungi layanan untuk kelas musik Naya dan menghubungi kurir kepercayaannya untuk mengambil formulir sekaligus mengantarkannya ke rumah Naya. Dengan satu permintaan yang dia utarakan sebelum dia membayar lunas untuk semua biaya sekolah musik Naya, yaitu Ansel meminta agar semua yang dia lakukan ini dirahasiakan. Ansel menghubungi ketua yayasan secara pribadi dan meminta agar Naya mengetahui bahwa dirinya mendapat beasiswa bukan karena Ansel yang mendaftarkan dan membayangkannya sekaligus. Ketua yayasan menyetujui dan menerima semuanya sebab Ansel bukan hanya membayar untuk sekolah Naya, melainkan dia juga memberikan donasi yang cukup besar sebagai wujud terimakasih dan juga permohonan agar di sana Naya dijaga dan tidak ada tindak bullying terhadapnya. Oh, rupanya Ansel mengetahui banyak hal tentang Naya selama di sekolahnya, sekolah SMA Negeri Harapan. Kini, bukan hanya Ansel yang sukses dengan rencananya. Tapi juga Manager Ade dan Rukmi, mereka juga sukses membawa serta anak mereka yang hilang untuk ikut ke Jakarta. ~Flashback off~ ***** Kembali pada manager Ade yang sejak kemaren menginap di apartemen Ansel, rencananya untuk bisa menemukan anaknya sudah terwujud. Dan sekarang, berlanjut pada misi kedua, menjodohkan Ansel dan membuat ponakannya dekat dengan putrinya. Ansel yang sejak tadi ditanya tentang Anggun hanya menggeleng acuh. Dia terlalu senang karena mendapat kabar bahwa Naya resmi mendaftar di akademi musik di sekolah favorit dengan jalur beasiswa padahal aslinya, Ansel lah yang membiayai Naya. Mission Accomplished Hanya misi manager Ade-lah yang belum sepenuhnya terlaksana. Mengingat misi manager Ade, ada satu lagi keinginan manager Ade yang belum terlaksana setelah dia berhasil menemukan putrinya, menikah kembali dengan Rukmi. Tapi barusaja teringat dengan niat itu, muncullah Anggun dengan nampan penuh camilan yang dia bawa menuju ke meja bundar tempat Ansel dan manager Ade sedang saling sibuk dengan gadget mereka. Ansel sibuk melihat-lihat foto yang dikirim oleh orang suruhannya. Sedangkan manager Ade, dia berniat menghubungi Rukmi dan menagih janji pada mantan istrinya itu. Tapi belum sempat menghubungi Rukmi, sosok anggun membuat dia urung melakukannya. “Kamu kalo capek, mending istirahat, Nak.” Manager Ade berucap lembut. Tadinya, manager ade akan membawa Anggun ke rumah kontrakannya. Tapi karena letak apartemen Ansel berada lebih dekat daripada kontrakannya, manager Ade membawa Anggun ke apartemen Ansel agar putrinya bisa lebih cepat beristirahat. “Aku nggak capek kok, Om. Eh, Pa.” Anggun masih saja sering keceplosan memanggil manager Ade dengan panggilan Om. Manager Ade-lah yang memintanya untuk memanggil dirinya dengan panggilan papa. Manager Ade tersenyum setiap kali mendengar anggun selalu salah menyebutkan panggilan untuknya. Nanti pada akhirnya anggun akan terbiasa. Anggun melirik pada Ansel. Berharap laki-laki itu saat ini menatapnya diam-diam. Tapi sama sekali tidak! Jangankan menatap, meliriknya saja Ansel tidak tertarik. Dia lebih tertarik melihat foto Naya dengan seragam baru dan rambut yang digerai dengan bando kupu-kupu di atasnya. Ah, sungguh membuat Ansel selalu jatuh cinta setiap kali melihat wajah manis itu. Manager Ade mengerti pada tatapan anak gadisnya. Dia berpura pamit ke belakang padahal aslinya dia kembali masuk ke kamarnya dan berlanjut menagih janji pada Rukmi. Ditinggal berdua dengan Anggun, sama sekali tidak membuat Ansel merespon dengan baik kata sapaan dari Anggun. Ansel tetap cuek, karena sejatinya dia sangat mengerti pada apa yang dipikirkan pamannya. “Eh, sorry, ya. Aku harus ngafalin skenario,” pamitnya saat Anggun hendak membuka topik obrolan diantara mereka. Dalam urusan mendekati Ansel, tentu Anggun sangat bersemangat, sebab sejak awal dia sudah tertarik dan bahkan jatuh hati pada Ansel. Laki-laki tampan dan terkenal itu sungguh menjadi idola semua wanita, tak terkecuali dirinya. Tapi sayangnya, Ansel tidak berminat sama sekali padanya. "Huh ... Aku kan anak managernya. Masa dia kayak gitu?" Anggun menggerutu begitu sosok Ansel menghilang diantara anak tangga yang berbelok di atas sana. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Anggen, Ansel harus menjadi miliknya. **** Sedangkan Naya, gadis itu tampak tak berhenti tersenyum karena sebentar lagi, dia akan memulai meniti langkah demi langkah meraih impiannya. Naya akui, dia sempat sedih dan menangis saat tadi berpamitan pada Bian dan Intan. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah jalannya untuk meraih mimpi yang sudah lama diimpikannya. Naya tak ingin membuang-buang kesempatan. Dia harus sedikit berkorban dalam hal ini. Ya, berpisah sekolah dengan kedua sahabatnya sungguh membuat Naya sedih, tapi inilah pengorbanannya. Toh, mereka masih bisa terus berkomunikasi dan bertemu ketika diluar sekolah, itulah yang selalu Naya katakan pada dirinya sendiri dalam hatinya. Di sekolah barunya, Naya menjadi pribadi yang sangat berbeda. Jika dulu dia selalu berkutat dengan buku. Maka di sekolahnya kali ini, dia lebih periang sebab ingin menjalin hubungan baik dengan semua siswa di sini. Terlebih, di sana materi pelajaran tidak terlalu dianggap penting. Yang terpenting adalah ketekunan dalam berlatih alat musik. Itu adalah cambuk yang tak perlu lagi Naya asah. Sejak dulu, dia selalu menginginkan ini. Jadi sudah pasti semangat itu selalu menggebu dalam hatinya. Pribadi Naya yang sekarang, membuat banyak teman-temannya menyukainya. Tak terkecuali, Aldo. Siswa dengan prestasi dan sudah sering mengharumkan nama sekolah karena kepiawaiannya bermain piano. Laki-laki itu tak segan mengajak Naya ngobrol dengan alasan untuk mengajarkan cara mahir bermain piano untuk pemula. Hey, Naya bukan pemula. Hanya saja dia sudah sangat lama tidak bersentuhan dengan tuts piano sebab kendala biaya. Naya selalu mengangguk senang setiap kali Aldo mengajaknya belajar bersama. Seperti hari ini, Aldo menemui Naya setelah gadis itu selesai dengan kelasnya. “Pulang sekolah mau ke mana?” tanya-nya dengan senyum yang tak pernah hilang saat bicara dengan Naya. “Em ... Nggak kemana-mana sih. Ada apa?” Naya berbalik menanyainya. “Jalan yuk.” “Ha?” kebodohan Naya kembali saat ada pembahasan di luar pelajaran sekolah dan musik. Baiklah, Aldo belum tahu aslinya Naya ini seperti apa? Jadi dia hanya menggaggukkan kepala mengulang kembali ajakannya, “Ya, jalan. Jalan berdua.” Baru juga deket, Al. Duh ... Gini nih kalo cowok udah kadung suka. Pepet terooos .... Naya tak segera menjawab. Ada yang membuatnya enggan menerima ajakan Aldo. Siapa lagi kalau bukan Mas pangeran yang selalu dia ikuti perkembangan semua berita tentangnya. Karir Mas pangeran yang selalu menjadi cambuk agar dia bisa secepatnya sukses dan layak bersanding dengan aktor tampan itu. Apa Naya yang terlalu berharap, ya? Sedangkan di setiap berita yang dia tonton, Ansel selalu saja menggandeng wanita berbeda setiap harinya. Naya tak pernah berminat untuk lanjut menonton jika Ansel sudah bersama wanita. Sebab itulah, dia tidak pernah tahu siapa dan apa hubungan mereka ketika diwawancarai. Sementara Aldo, dia tidak menyerah dengan misinya. Mengajak Naya jalan-jalan dan menyatakan perasaannya sebelum keduluan sama anak-anak lain yang juga memiliki rasa yang sama sepertinya. Naya menjadi idola di sekolah itu. Tapi sesuai permintaan Ansel, tak boleh ada kata bullying terhadap Naya. Dan itulah yang terjadi sekarang, meski Naya menjadi popular dan mengalahi banyak senior cewek, belum ada satupun siswa yang berani mengganggunya. “Gimana ya, Do. Akutuh masih harus jemput adek aku dulu.” Naya beralasan. Padahal sejak masuk sekolah musik ini, urusan jemput menjemput sudah digantikan oleh Pak Leo. Sebab arah sekolah baru naya dengan sekolah Dinda sudah tidak searah lagi. “Gini aja deh, nanti kita jemput Dinda bareng. Lalu abis itu kita jalan-jalan, gimana?” Aldo tak kehabisan akal. Pantang baginya untuk menyerah untuk mendapatkan hati Naya. Melihat kegigihan Aldo, Naya-lah yang kehabisan akal. Dia mengalah dan mengiyakan saja, daripada dia tak jadi ke kantin dan jatah makan siangnya raib secara percuma. Setelah diiyakan, bukan kembali ke kelasnya. Aldo malah mengekor, mengikuti Naya ke kantin. “Kamu ngapain sih, Do?” Naya terkekeh saat dilihatnya Aldo ada di belakangnya. “Hehe ... Pengen aja seharian bisa liat kamu.” Ups ... Aldo keceplosan. Wajahnya memerah padahal Naya sendiri belum merespon ucapannya. Mendengar itu, Naya bersikap seolah tak mendengar. Daripada suasana jadi canggung? Naya tak suka. “Apa, Do?” Aldo menggeleng, sembari diam-diam mengusap dadanya karena dianggapnya Naya tak mendengar ucapannya yang terlupa tidak dia rem saat tadi bicara. Huh, dikira kendaraan kali ya mulut si Aldo, haha. Naya menikmati pesanannya. Bakso dengan semua varian adalah menu kesukaannya di kantin Bu Dewi di sekolah barunya. Aneka rasa di dalamnya membuat dia teringat kata-kata Bu Rena yang mengatakan bahwa di dalam sebuah hubungan ada banyak rasa yang harus kita terima. Kalimat itu sukses membuat Naya sedikit tegar meski sebenarnya hatinya selalu meronta ingin bertemu mas pangerannya. Naya tak pernah mau peduli pada perasaannya untuk sekarang. Sekali lagi, dia harus sukses terlebih dahulu untuk merajut kembali cintanya yang sudah dia lukai. Maafkan aku, Mas .... Kalimat itu selalu terucap lirih di hatinya. Bukan menyesali, tapi sebuah kerinduan yang tak pernah bisa di temukan muara yang dia inginkan sebelum mimpinya benar-benar telah terwujud. Naya bisa apa? Ini adalah takdir cinta yang mau tidak mau, harus dia jalani walau kenyataannya sungguh amat pahit dan menyakitkan. Aldo masih memandanginya yang terlihat sangat menikmati bakso aneka rasa itu. Naya bahkan sampai memejamkan mata hanya demi bisa mengenali rasa yang di setiap bulatan yang ada di mulutnya. Aldo terkekeh karena Naya begitu menggemaskan. Lalu Naya? Untuk hal satu ini, dia memakai tabiat lamanya. Cuek bin bodo amat. Yang penting, dia bisa menebak dengan baik dan benar pada isian baksi yang dilahapnya. ***** Sementara di kediaman Pak Leo dan Bu Rena. Terdengar bunyi telepon yang sejak tadi terus berdering tiada henti. Sampai akhirnya, Bu Rena yang berniat meninabobokan Dinda, menjadi kesal dan memilih mengangkatnya terlebih dahulu. “Halo, Bi.” Suara yang tak asing bagi Bu Rena. Tadinya Bu Rena akan marah-marah, tapi karena suara si penelepon yang ia kenali, dia urung melakukannya. “Ada apa, Nggun?” Bu Rena berbicara lembut pada pengasuh ibunya di kampung. “Iya, Bibi tahu Bibi salah kemaren karena ngggak pulang waktu pemakaman ibu. Tapi bibi benar-benar ada keperluan mendesak yang tak bisa bibi tinggal.” Bu Rena mengira bahwa orang di seberang yang sedang menelponnya akan menegurnya karena tidak menghadiri pemakaman mendiang ibunya. Tapi ternyata apa yang Bu Rena pikirkan salah. ***** Helo gaes ... Ada yang ingat nama bayi Manager Ade dan Rukmi nggak? Heheh, authornya pelupa parah. Sudah nyoba nyari kok aku malah pusing baca tulisan aku sendiri?? Yang masih ingat, bolehlah diinfokan namanya teh saha? Oh ya, jangan lupa tap love yaa biar pas TYD update, kalian bisa dapet notif. Lupiyuuuu semuaahhh???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD