BAB 18

1059 Words
Ansel dan Naya sama sama pulang dengan hati dipenuhi banyak bunga yang mengundang ribuan kupu-kupu untuk menggelitik di dalam sana. Senyum keduanya tak pernah hilang sebab sekarang, Manager Ade sudah menyetujui hubungan mereka. Naya langsung masuk ke kamarnya setelah sebelumnya dia menyapa orang tuanya dengan senyum terbaiknya. Pak Leo dan Bu Rena melihat dengan banyak pertanyaan begitu menyadari tingkah laku anaknya yang banyak berubah akhir-akhir ini. Tak jauh berbeda dari Naya, Ansel juga pulang dengan bibirnya tak henti tersenyum. Dalam hatinya dia merasa semua semangatnya telah kembali. Dia akan membuktikan bahwa mimpinya layak diperjuangkan dan mendapat kejayaan, sama seperti grub band-nya dahulu. Tapi, ada yang mengganjal dalam hatinya, soal keyakinan Naya. Meski Ansel tahu diri bahwa Islam yang dia anut hanyalah sebatas Islam KTP, tapi tetap saja, dia tak menyangka akan bersama dengan orang yang beda kepercayaan dengannya. Kenapa semuanya malah kayak gini, sih? Ingin rasanya Ansel mempertanyakan itu pada Naya saat ini juga. Tapi biarlah! Untuk sementara ini, Ansel akan menjalani semuanya dengan santai. Toh garis takdir akan membawanya pada kebahagiaan juga kebaikan untuk hidupnya. Jarum jam telah mengarah ke angka delapan malam, masih terlalu sore jika Ansel tidur sekarang. Suasana hatinya yang sedang sangat baik sekarang ini, membuat Ansel berlaku dengan sangat baik pada orang-orang bahkan benda-benda di sekelilingnya. Jangankan pada Manager Ade yang sejak tadi mendengkur di depan TV, dengan HP, Kulkas, TV juga sofa yang didudukinya, semuanya Ansel ajak bicara dengan lembut. Aduh, Cinta yang membuat orang menjadi gila, rupanya tak hanya sebatas slogan semata. Tengah malam, ketika jarum jam mengarah ke angka dua belas malam. Ansel terbangun sebab bermimpi melihat Naya menangis ketika bersamanya. Apa maksud mimpinya itu? Tapi gara gara mimpi itu, Ansel jadi susah melanjutkan tidurnya. Ya, perbedaan keyakinan yang tadi sempat dia pikirkan, kembali mengobrak Abrik pikirannya sendiri. “Loh, belum tidur, Dik?” Manager Ade tiba tiba muncul dari balik pintu dapur ketika Ansel sedang hendak membuka pintu kulkas. “Eh, paman kok udah bangun aja, perasaan tadi ngorok di sofa.” Ansel berbalik menanyai pamannya. Sebab seingatnya manager Ade tadi memang sedang tidur di sofa depan TV. Lelaki yang merupakan paman dari Ansel tak tanggung-tanggung saat tadi tidur, dia mengorok dengan sangat keras ketika Ansel sedang menonton TV. Untung suasana hati Ansel sedang dalam mode sangat baik jadi dia tidak ada niatan sedikitpun untuk mengerjai pamannya. Coba ketika Ansel sedang kalut lalu manager Ade mendengkur sudah pasti Ansel akan mencoba berbagai cara untuk mengerjainya. Biasanya Ansel akan mendandani Manager Ade dan lalu pura pura jatuh di dekatnya dengan segelas air dingin di tangannya. Bahkan terkadang, Ansel berteriak di telinga manager Ade mengatakan, “Kebakaaraaaan ... Kebakaran ...” “Paman mimipiin anak paman,” ucap Manager Ade yang seketika membuat Ansel tersedak air yang baru setengah sampai di tenggorokannya. Ansel terbatuk sembari menepuk nepuk dadanya dia meletakkan gelas yang tadi digunakannya untuk tempat dia minum. Ansel tersentak kaget, bagaimana mungkin pamannya yang setahunya adalah seorang jomblowan, tiba tiba mengatakan bermimpi tentang anak. “Ahahah, Lucu banget paman. Anak dalam mimpimu itu akan lahir dari perempuan seperti apa ya?” Ansel mencandai pamannya dengan melanjutkan perkataan pamannya. “Paman serius. Paman punya anak dan istri sebelum paman mengasuh kamu ketika mamamu meninggal,” ungkap manager Ade dengan raut wajah serius. Wah, ini si paman ngigaunya parah. Ansel belum juga percaya pada apa yang diucapkan manager Ade, Pamannya. Sebab memang seingatnya pamannya itu belum punya istri apalagi anak. Ya, ketika Ansel kehilangan mamanya, lelaki itu sempat drop dan koma di rumah sakit. Tapi keajaiban membangunkannya dan dia kehilangan sebagian ingatannya termasuk tentang keluarga pamannya. Yang dia tahu, dia hanya punya mama dan papa yang karena saran dokter, Manager Ade membohongi Ansel memberitahukan bahwa papa dan mamanya ke luar negeri sebab urusan kantor. Tapi setelah Ansel menginjak remaja, manager Ade memberi tahukan kebenarannya dan meminta maaf karena membohongi Ansel tentang orang tuanya yang sebenarnya telah tiada. Sekarang, ketika manager Ade mengatakan memimpikan anaknya Ansel tertawa sebab tak percaya sebab begitulah ingatannya belum sepenuhnya kembali bahkan dia menganggap manager Ade adalah satu satunya keluarga yang dia miliki dan memiliki Ansel. “Paman bermimpi putri paman menjadi gadis pintar dan berbakat. Tapi dia tidak mengakui dan tidak mengenali paman,” cerita manager Ade. “Lalu seperti apa wajah anak paman dalam mimpi paman?” tanya Ansel. Dia mulai menyingkirkan rasa tak percaya-nya sebab melihat keseriusan di wajah pamannya. Lagi pula, tengah malam seperti ini rasanya tak mungkin jika pamannya bermaksud mengerjainya. “Paman gak ingat, hanya saja paman seperti mengenal anak itu dan wajahnya ... Ah, dalam mimpi paman gak jelas wajah dan tempatnya. Yang pasti paman bermimpi seperti itu. Paman ingin mencari dia, Dik.” “Tenang, Paman. Mimpi itu hanya bunga tidur. Lagi pula, mimpi yang nggak jelas itu biasanya datang dari setan.” Ansel teringat ucapan guru agamanya ketika dia ketahuan menangis karena bermimpi baju kesayangannya dirampas oleh temannya sewaktu masih kecil. Ketahuilah! Ansel dan manager Ade adalah seorang muslim. Tapi ya itu, iman mereka masih dangkal dan mengerjakan kewajibannya hanya setengah hati. Tapi akal dan pikiran mereka percaya, bahwa dunia dan seisinya ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan pasti berbeda dari makhluk yang lain. Dialah Allah yang memiliki sifat ikhtiyajuhu Ilal Mahalli Awil mukhossisi, sifat Allah yang satu itu seiras dengan pemikiran keduanya. Dalam Islam, Allah memiliki dua puluh sifat yang wajib bagi-Nya. Salah satu diantaranya adalah yang penulis sebutkan di atas. Juga ada qiyamuhu binafsihi yang artinya berdiri dengan sendirinya. Hal itu membuat keyakinan keduanya pada Islam kian kuat, sebab menurut mereka seorang pencipta tentunya kuasa sesuai sifat qudrah-nya Allah yang menciptakan alam semesta ini. Kembali pada Ansel dan Manager Ade. Keduanya sejenak terdiam sebab sama sama larut dalam pikiran masing-masing. Ansel dengan ingatan masa kecilnya ketika dia pergi ke mushola untuk mengaji dan ketika itu dia tak pernah bolong sholat. Ah, kenapa hatinya jadi ngerasa berdosa. Sedangkan manager Ade, dia memikirkan putrinya yang sekarang tidak tahu keberadaannya. Tapi karena mimpi itu, Manager Ade berniat akan mencari lebih keras sampai dia bertemu dengan putrinya, sebelum sang anak tidak mengakuinya sebagai ayah seperti dalam mimpinya. # mohon Krisan untuk bab ini, sebab authornya takut salah mendeskripsikan sebagian sifat Allah diatas. dan lagi, untuk hal sensitif seperti ini biasanya akan menuai kontroversi bagi orang yang baca. jadi mohon kalian jadilah pembaca bijak. jika ada yang ingin kalian sampaikan, sampaikan lah dengan bahasa yang sedap dibaca (udh kek makanan, heheh)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD