Naya belum percaya bahwa saat ini Ansel datang untuknya. Seketika rasa yang masih menyisakan perih dalam hatinya dalam sekejap sirna tak lagi terasa.
Bahkan hanya dengan melihatnya, hati Naya langsung terasa adem.
“M_Mas Ansel,” gumamnya seraya berjalan mendekat ke arah lelaki yang saat ini tengah memandanginya.
“Kamu darimana, Nay?” Pak Leo bertanya mendahului Ansel yang barusaja akan bertanya hal yang sama.
“Em, itu ... Naya abis dari gereja. Maaf tadi nggak ngabarin, Naya pikir bapak sama ibu bakal sibuk di resto.” Naya berjalan menaiki tiga undakan tangga di depan rumahnya.
A_apa maksudnya Naya orang Kristen?
Ansel mematung menjadi penyimak obrolan anak dengan bapaknya.
Sedangkan Dinda dengan polosnya bergelayut di pangkuan Ansel.
“Owh, ya sudah kalo gitu, bapak berangkat lagi. Tadi HP bapak ketinggalan, jadi balik lagi buat ambil. Eh pas Sampek sini, ada mas ganteng ini,” ucapnya sembari menunjuk Ansel yang sedang mencubit pipi Dinda, gemas.
Pak Leo berangkat lagi, meninggalkan Naya dengan Ansel juga Dinda yang sejak tadi masih bermain dengan orang yang dia anggap pangeran.
“Din, kamu masuk dulu, ya. Kakak mau ngomong sama kakak ini dulu,” ucap Naya kemudian.
Dengan sedikit terpaksa, Dinda menurut masuk dan meninggalkan kedua orang yang tampaknya masih enggan saling bicara. Nyatanya tidak! Hanya Naya di sini yang malas bicara, sedangkan Ansel ... Lelaki itu seperti biasa terlihat santai walau sebenarnya hatinya berdenyut sejak tadi melihat wajah Naya.
“Ada apa kemari?” tanya Naya tanpa basa-basi.
“Aku minta maaf soal yang kemaren. Aku tau aku salah tapi sungguh aku nggak ada hubungan apa-apa sama Lisa. Kamu harus tau satu hal, Ver. Sejak pertama kali bertemu kamu, pandanganku gak pernah lepas dari kamu. Sifat kamu yang cuek dan jutek waktu kita ketemu di taman. Kamu yang serius banget waktu mau coba ambil boneka Teddy. Lalu kamu yang tertawa lepas saat mengetahui hobi anehku. Aku ... Semua itu aku perhatikan. Dan saat kita semakin sering bertemu, semakin dalam rasa aku buat kamu, Ver. Yang aku suka Cuma kamu, dan aku ingin selalu ada di sisimu.” Ansel berucap dengan kesungguhan dan raut wajah yang sulit dijelaskan.
“Mas Ansel ...” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Naya. Hatinya serasa meleleh dan rasa sakit itu benar-benar hilang tak lagi berbekas.
“Duh, norak banget yak.” Ansel menggaruk kepalanya yang tidak gatal mengingat semua kalimat yang terlontar begitu saja.
Naya tersenyum kecil.
“Aku juga minta maaf karena langsung lari tanpa denger penjelasan kamu. Aku juga menyukaimu dan aku ingin selalu ada di sisimu, Mas Ansel.”
Ansel turut tersenyum dan tanpa dikomando tubuhnya menarik tubuh mungil Naya ke dalam pangkuannya.
Seperti inikah ketika Rindu lalu berlabuh pada muara yang seharusnya? Aku nggak mau kehilangan kamu, Ver.
Sedangkan di balik pintu, sosok Dinda mengintip dua pasangan yang sedang saling melepas rindu mereka lewat pelukan erat satu sama lain. Rupanya Dinda tidak benar-benar masuk ke kamarnya. Dia hanya masuk ke dalam dan bersembunyi di balik pintu yang setengah terbuka.
“Aku minta maaf karena tidak pernah mengajakmu jalan di luar dan bergandengan tangan seperti pasangan pada umumnya.” Ansel melepaskan pelukannya. Menjauhkan tubuhnya untuk bisa menatap wajah cantik manis yang sangat dirindukannya itu.
“Besok, aku akan jemput kamu buat jalan di luar,” ucapnya lagi.
Naya mengangguk seraya tersenyum lalu menghambur memeluk tubuh Ansel lagi saking bahagianya. Ya, selain ciuman di bibir, jalan diluar dengan bergandengan tangan adalah hal yang juga diinginkannya.
Satu persatu, keinginannya akan terpenuhi. Naya bahagia.
Semua kalimat Intan pada akhirnya tidak terbukti. Ya, sehari setelah Ansel dikabarkan akan main film dengan Lisa, Intan pernah berkata bahwa seorang artis terkenal bisa saja memiliki banyak wanita semau mereka.
Naya ingat betul, saat itu Intan menariknya ke taman hanya untuk membicarakan itu. Sahabatnya yang suka heboh dan lebay itu teramat peduli pada Naya. Dia tak ingin Naya kecewa dan sakit hati.
“Elo tau soal sinetron baru Ansel?” tanyanya begitu mereka sampai di tempat yang cukup sepi untuk membahas Ansel.
“Iya, aku tau. Emang kenapa?” tanya Naya menatap wajah serius sahabatnya.
“Gua mau kasih tau sesuatu sama Lo. Tapi elo harus janji bakal tenang dan jangan mikir macem-macem.” Ingatan Naya memutar kembali setiap bait kata yang Intan ucapkan padanya di taman sekolah beberapa hari yang lalu.
“Elo tau siapa Lisa? Lawan main Ansel di sinetron terbarunya?” tanya Intan dengan mimik wajah serius.
“Kamu mau nanya-nanya apa mau ngasih tau sesuatu? Tadi bilang mau ngasih tau, tapi malah nanya-nanya. Aku mana tau, Ntan. Dia siapa?” sahut Naya tampak jengah dengan sikap sahabatnya dan kalimatnya yang berbelit-belit.
“Nggak, elo jawab dulu. Baru abis itu gua kasih tau semuanya sama Lo,” jawab Intan lagi.
“Nggak.” Naya menjawab singkat.
“Jadi Lisa itu adalah mantan pacarnya Ansel. Mereka pacaran dua tahun yang lalu dan mereka putus karena mereka sama-sama sibuk.” Intan menceritakan tentang hubungan Ansel dan Lisa yang sedikit banyak Naya sudah mengetahuinya.
Ada rasa takut sebenarnya yang tiba-tiba merayap dalam hatinya sebab seperti yang sudah banyak orang ketahui, Lisa adalah sosok wanita cantik dengan rambut lurus menjuntai panjang. Wajahnya putih glowing dengan body yang aduhai.
Ah, Naya sama sekali tak ada seperempatnya jika dibandingkan dengan Lisa.
Sebenarnya ada yang masih mengganjal dalam hatinya tentang ciuman Ansel dengan mantan kekasihnya itu. Dia juga ingin sesekali berada di posisi Lisa, dicium oleh Ansel.
Akh, jorok kali pikiranku.
Naya melepaskan pelukannya, mengajak Ansel masuk dan mampir sejenak ke rumahnya.
Di dalam, Dinda sudah menunggu dengan banyak mainan yang dia miliki. Dia ingin bermain dengan seorang pangeran yang menurutnya sangat serasi dengan kakaknya.
“Main sini, Kak. Dinda punya mainan banyak banget,” ajaknya dengan melambaikan tangan memanggil Ansel agar duduk di bawah untuk bermain dengannya.
“Booleh,” jawab Ansel dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
Tawanya kembali, seiring dengan hubungannya yang telah membaik dengan Naya. Begitupun sebaliknya, Naya juga tampak berbinar sebab semua yang dia pikirkan tentang Ansel selama menyendiri dalam kamar, semuanya salah.
“Wah, bonekanya bagus banget.” Ansel meraih boneka Teddy yang dimainkan Dinda.
“Kata kak Naya, ini hadiah dari Tuhan Yesus karena Dinda rajin belajar,” sahut Dinda dengan senyum mengembang di bibir mungilnya.
Deg ... Hati Ansel berdesir.
Tuhan Yesus?
Ansel memang bukan orang yang taat beragama. Islam-nya hanya sebatas Islam KTP, tapi bagaimanapun itu, dia tak pernah menyangka bahwa dia akan menjalin hubungan dengan orang yang berbeda keyakinan dengannya.
*****
“Sebaiknya aku jalani aja dulu, toh suatu saat bisa aja Naya mau bersama dalam hal apapun denganku. Entah itu keyakinan ataupun yang lainnya.” Ansel bergumam sendiri dalam kamarnya.
Namun tak berapa lama, Manager Ade datang dengan sekotak martabak cokelat kesukaan Ansel. Dia sejenak bisa mengalihkan pikiran Ansel yang mulai tak menentu. Ya, dia belum bisa menentukan pilihan untuk kelanjutan hubungannya dengan Naya setelah mengetahui dia dan gadis SMA itu berbeda agama.
“Tumben nggak langsung diabisin?” tanya manager Ade ketika melihat sikap Ansel yang tak seperti biasanya.
“Kenyang, Paman.” Ansel menjawab asal. Padahal sejak tadi siang, dia belum ada memakan apapun.
“Paman, aku boleh minta sesuatu nggak?” tanya Ansel menatap Pamannya dengan tajam nan serius.
“Apa?” tanya manager Ade, menatap tak kalah serius. Dia tahu betul bahwa ponakannya ketika meminta sesuatu bukanlah hal yang main main.
“Aku pengen booking taman bermain yang ada di taman kota. Aku mau ajak Naya jalan di luar,” ucap Ansel kemudian.
Manager Ade tentu saja terkejut mendengar permintaan aneh ponakannya yang ternyata telah benar-benar bucin pada sosok Naya.
Semoga semuanya baik-baik aja dan terus jadi rahasia.
Yang manager Ade takutkan adalah hubungan Ansel dengan siswi SMA yang pasti akan menuai kontroversi publik. Manager Ade hanya ingin karir Ansel berjalan mulus hingga sampai masa kejayaannya.
Manager Ade tak segera menjawab, banyak hal yang masih dia pertimbangkan sebelum akhirnya lelaki yang suda kepala tiga itu menuruti permintaan ponakannya.
Memang sejak dulu, tak ada satupun keinginan Ansel yang tidak diturutinya.
*****
Pagi telah benar-benar datang. Sesuai permintaan Ansel, Manager Ade membooking tempat seperti yang Ansel mau.
Dan dengan sangat terpaksa, manager Ade menjadi boneka Mampang yang mengkawal Naya begitu tiba di taman kota.
Bisa saja sih Ansel menyuruh orang untuk mengkawal Naya dan membiarkan semua petugas taman dan tiap permainan untuk tetap masuk seperti biasa, tapi dasar manager Ade yang begitu sangat protektif menjaga Ansel dan karirnya, dia rela menjadi badut Mampang sekaligus mengganti tugas setiap wahana oleh dirinya.
Naya dan Ansel berjalan dengan bergandengan tangan. Tak ada masker ataupun kacamata dan juga hodie yang menutupi wajahnya.
Naya tampak sangat bahagia begitupun Ansel. Keduanya bergandengan tangan sembari mencoba satu persatu wahana yang ada di sana.
Bahagia itu sederhana. Hanya melihat senyum dan tawa Naya, Ansel sudah sangat bahagia. Begitupun sebaliknya, Naya merasakan hidupnya sekarang telah nyaris sempurna.
Naya sudah sangat bahagia karena bisa bergandengan tangan di depan umum. Ah, meski di sini tak ada siapa-siapa, hanya badut Mampang saja yang dia lihat, tapi Naya bahagia. Karena walau bagaimanapun, tempat mereka berada saat ini adalah tempat umum. Sebab itulah Naya teramat bahagia.
Menjadi pacar Mas pangeran adalah hal besar dengan aneka rasa di dalamnya. Benar kata Bu Rena. Dalam sebuah cinta ada banyak rasa yang bisa dirasakan pahit asam manisnya serta ada gurihnya.