Ting ... Ponselnya berbunyi diikuti dengan getaran kecil di sakunya. Naya melihat notifikasi yang ternyata dari aplikasi hijau dengan pemilik nama Mas pangeran.
Buru-buru Naya memencet di kata Mas pangeran.
“Ver ... Aku sementara ini ga ada di apartemen. Kita juga ga bisa ketemu. Jaga diri kamu baik-baik, ya!”
Pesan singkat dari Ansel. Dan saat Naya mencoba menghubunginya via telepon, nomernya sudah tidak bisa dihubungi. Ah, Naya menjadi semakin merasa bersalah. Tak seharusnya dia meminta hal yang memancing emosi publik seperti ini. Naya sangat menyesal, dan itu sukses membuat dia terisak semakin kencang. Bahunya bahkan berguncang karena Naya masih saja menyembunyikan tangisnya yang sudah diketahui oleh Intan.
Intan mulai tak bisa diam, mulut hebohnya tidak bisa untuk tidak bertanya ketika melihat Naya semakin menangis setelah membaca pesan di handphonenya.
“Nay, kamu kenapa, sih? Cerita dong sama aku, Nay. Ada apa?” Intan mengusap punggung Naya yang menyembunyikan wajahnya di antara dua lututnya. Ya, Naya sejak tadi menangis dengan memeluk kedua lututnya. Selain untuk menutupi wajahnya yang sangat kacau, dengan posisi seperti itu sekarang, Naya bisa memiliki pegangan karena kesedihannya.
“Gini aja deh, Nay. Kamu boleh umpetin apapun dari aku, tapi pliiis ... Kalo Cuma berdua sama aku, tumpahin aja tangisan kamu. Jangan ditahan kayak gitu biar kamu sedikit lega.” Intan mengalah. Tak apa dia tidak mengetahui masalah yang menimpa sahabatnya itu. Tapi ... Intan sangat ingin saat di dekatnya, Naya tak perlu menyembunyikan tangisan atau apapun yang sahabatnya itu rasakan.
Naya sesenggukan, dadanya semakin terasa sesak. Dihambur nya tubuh Intan dan dia menangis di sana. Tak ada yang dia tahan. Semuanya tumpah seiring dengan kesedihan dan penyesalan yang menurutnya percuma.
*****
Seorang lelaki yang sengaja tidak melepaskan helm dari kepalanya tampak memerhatikan sebuah apartemen megah di kawasan elit Jakarta. Dialah Bian, yang terlampau marah karena melihat sahabatnya menangis. Dia yakin, penyebab tangisan sahabatnya itu adalah ulah lelaki pemilik apartemen itu. Bian ingin membuat perhitungan.
Dia melepaskan helmnya lalu kemudian turun dengan langkah pasti. Berbekal sebuah situs yang sudah dia dapatkan tentang artis tampan yang terkenal itu, Bian melangkah menuju unit tempat tinggal Ansel, laki-laki yang dianggap Bian sebagai seorang pemain wanita. Dan sekarang, Naya, sahabatnya tengah menjadi bulan-bulanannya, begitu penuh pikiran Bian dengan semua hal buruk tentang Ansel, sampai dia tidak sadar bahwa dia terlihat sangat menakutkan sekarang.
Dipencetnya tombol angka di lift dengan tak sabar. Dia sungguh harus bertemu dan membuat perhitungan pada si pembuat masalah itu, Ansel Mahardika yang belakangan sering sekali merusak kebahagiaan dan senyum Naya, sahabatnya.
Huft ... Baiklah! Kita doakan Bian agar tidak membuat masalah semakin panjang. Sebab kalau sampai dia ketahuan mendatangi Ansel ke apartemennya, alias melabrak Ansel, maka pasti publik akan semakin heboh.
Huh ... Semoga saja tidak!
Ting ... Lift terbuka. Bian masuk dengan bersikap biasa seolah dia adalah bagian dari orang-orang yang biasa berjalan keluar masuk di tempat ini. Dan saat kakinya telah sampai di sebuah unit yang dia tuju, di depan pintu terlihat banyak sekali wartawan.
Sistem keamanan yang minim, membuat Bian bisa menelusup masuk diantara kerumunan wartawan itu. Ya, tepat ketika pintu apartemen terbuka, di sana muncullah sosok manager Ade dengan wajahnya yang terlihat bersaja. Iya, di saat genting seperti ini, manager Ade harus menggunakan kedewasaan dan kewibawaannya sebagai seorang yang paling dekat dengan Ansel.
Banyak pertanyaan yang keluar dan beruntun dari para wartawan. Di saat seperti itu, adalah waktu Bian untuk beraksi.
Pasti laki-laki yang so keren itu ada di dalam dan mengumpet, begitu pikiran Bian.
Bian berhasil menyelinap masuk lewat jendela apartemen yang terbuka. Tak ada yang melihat, sebab semuanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Manager Ade yang fokus pada pertanyaan wartawan, dan para wartawan juga jauh lebih sibuk karena harus mencatat jawaban manager Ade.
Bian tak henti menatap takjub pada interior ruangan yang sangat sempurna. Dia dan Pemilik apartemen ini sepertinya satu selera. Eh, satu selera? Bian enggan mengakuinya. Padahal tanpa dia mengaku, semuanya sudah mengetahui itu. Terbukti dari daya tarik mereka pada perempuan yang sama. Itu adalah satu bukti kuat yang menandakan bahwa dua laki-laki itu memiliki selera yang sama.
Kembali pada Bian, dia menemukan sebuah buku yang tergeletak di atas ranjang. Buku dengan sampul berwarna biru tua. Awalnya, Bian enggan membukanya. Tapi menurutnya ada yang menarik dari tulisan yang dituliskan secara kapital di bagian depannya.
“TER-LUV VERA”
Darah Bian berdesir, jantungnya seketika naik turun karena menemukan benda yang sebenarnya tidak ingin dia temukan berada di tempat itu. Ya, sebuah bukti bahwa ada nama perempuan lain yang sepertinya jauh lebih berharga dalam hidup artis itu.
Tunggu pembalasan dari aku!
Bian berubah seperti seorang vampir pembunuh. Vampir pemangsa yang siap menerkam dan menghabisi nyawa manusia di sekitarnya. Hatinya terasa jauh lebih sakit dari saat Naya menolak cintanya dahulu.
Ah, ada nyeri yang menghujam jantungnya, seperti sebuah belati yang sengaja di tancapkan dan dibiarkan melukainya. Bian sungguh merasa sakit hati atas pengkhianatan yang sebenarnya tidak pernah dilakukan oleh Ansel. Ya, iyalah, Ansel tidak melakukannya! Vera itu adalah panggilan khusus dari Ansel untuk Naya.
Bian membelalak tak percaya. Ada rasa lega saat kalimat pertama dalam isi buku itu adalah nama sahabatnya, Naya Rivera. Tapi mendadak, di waktu yang bersamaan, Bian menjadi merasa bahwa kesempatannya untuk bisa dekat dan punya tempat di hati Naya sudah tidak ada.
Ansel benar-benar mencintai Naya. Menyayangi gadis itu dengan sepenuh hatinya. Ya, Bian mengetahui itu bahkan walau dia tidak membaca keseluruhan isi dalam diary itu.
Kata pertama di sana, adalah Sebuah pertemuan yang terjadi antara Ansel dan Naya.
“NAYA RIVERA, gadis dengan seragam SMA yang membuat aku membelalakkan mataku tak percaya bahwa Tuhan masih menjaga satu makhluk langka di bumi ini.
Dia yang terfokus pada bukunya sampai tidak menyadari ketampanan dan aura yang selalu membuat para wanita ingin bersanding denganku. Dia sungguh makhluk langka.
Di saat semua wanita di muka bumi ini selalu histeris melihatku (bukan takut loh, ya. Dicatat baik-baik! Hehe) dia justru berbeda. Jangankan histeris seperti manusia-manusia umumnya. Melihat dan menjawab ku pertanyaanku saja, sepertinya dia jengah. Sungguh hal yang sangat langka terjadi.
Hari ini, entah karena aku merasa tidak terima atas perlakuannya, atau karena aku merasa tertantang sebab sikapnya. Tapi satu hal yang pasti, aku merasakan bahwa hatiku menjadi tak karuan sejak bertemu dengannya. Aku menjadi sangat ingin turut menjaga makhluk Tuhan yang langka ini.”
Sebuah tulisan tangan dengan banyak sekali emoticon senyum dan tertawa di sana. Rupanya, itu adalah buku harian Ansel. Serius itu buku harian? Bian saja yang masih berstatus pelajar, belum pernah membuat hal seperti itu.
Sepertinya, Ansel ini termasuk dalam kategori cowok yang suka menuangkan perasaannya Lewat tulisan. Apa iya? Sedangkan sebelumnya, sebelum bertemu Naya, Ansel tidak pernah sekalipun mencoret-coret buku.
****
Di sekolah, Naya sudah merasa lebih baik sekarang. Ya, hatinya sedikit lebih lega setelah dengan bebas menumpahkan tangis di pundak sahabatnya, Intan.
Sekarang, keduanya keluar dari kantin setelah sebelumnya, Intan mendandani Naya sedikit di area matanya. Ya, sengaja Intan melakukannya, karena area mata Naya kembali bengkak sebab terlalu lama menangis.
Kenapa Naya menjadi punya hobby baru yang banyak, sih sekarang?
Dia sendiri tak habis pikir pada dirinya sendiri. Dulu, hal yang paling dia sukai adalah belajar. Tapi sekarang, saat dia merasa menyukai hal lain yaitu Ansel, dia menjadi punya banyak sekali hal yang sering dia lakukan bahkan walau dia tidak menyukainya. Salah satunya adalah menangis seperti yang barusan terjadi.
Rupanya benar kata Intan, Naya perlu diberi kelas khusus untuk soal kehidupan selain belajar. Naya terlalu bodoh untuk urusan percintaan dan aneka rasa di dalamnya. Padahal, baru kemarin Bu Rena mengajarinya terkait aneka rasa dalam cinta, dan sekarang, Naya melupakannya.
Padahal, untuk materi sekolah, sampai berbulan-bulan pun dia tetap ingat. Kenapa giliran materi dari Bu Rena, Naya jadi pelupa. Ah, hanya Naya yang tahu!
Begitu kaki mereka keluar, terdengar gunjingan tak sedap yang keluar dari mulut penghuni sekolah. Jangan lupakan! Intan belum baca berita yang membahas Ansel dengan Naya!
“Murahan!” Terdengar umpatan yang tidak Intan dan Naya ketahui tertuju pada siapa.
“Ya, pasti dia udah ngasih tubuhnya buat Ansel.” Siswa yang lain menimpali dan terdengar oleh Naya dan Intan.
Mendengar itu, Naya mengerti bahwa umpatan itu dilayangkan padanya. Tapi justru berbalik bagi Intan. Gadis itu belum juga mengerti maksud bisikan teman-temannya yang terdengar olehnya.
“Ya iyalah. Kan ada videonya si Naya keluar dari apartemen Ansel.” Kali ini Intan mengerti.
Mendadak, wajahnya memerah. Tapi sebisa mungkin dia menahannya agar tidak semakin menambah masalah untuk sahabatnya.
Baiklah, stay cool! Huft ... Intan memejamkan mata dan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
Naya tak peduli. Tak ada alasan untuk dia tidak terima, karena itu hal yang wajar menurut Naya. Rupanya kecerdasannya sekarang sedang berada di mode aktif. Naya berpikir, tak salah jika mereka menganggap demikian. Karena dalam video itu terlihat Naya keluar dari apartemen Ansel.
Apalagi yang dilakukan oleh dua orang berlawanan jenis di sebuah apartemen. Sedangkan dalam video itu hanya memperlihatkan dirinya yang keluar seorang diri. Bisa jadi, di dalam ada Ansel dan tak ada orang lain. Hal itu membuat banyak persepsi atas kejadian di dalam sana. Naya kembali sesak walau hatinya berbesar hati menerima tuduhan salah itu.
Naya tak henti menyalahkan dirinya atas kasus besar ini.
Dia ingin bertemu Mas pangerannya.
“Nay ....” Bian tiba-tiba berdiri di belakang Intan dan Naya. Dia menarik tangan Naya dan membawanya pergi dari tempat itu. Jangan abaikan Intan! Sudah cukup Bian saja yang selalu mengabaikannya dan hanya menarik tangan Naya.
Duh, Intan terlihat kesal. Kakinya dihentakkan ke lantai dengan kasar. Ya, meski ujungnya dia mengekor mengikuti langkah Bian membawa sahabatnya, Naya. Iya, penyakit kepo yang sudah mendarah daging padanya terlampau tinggi, sehingga kekesalannya bisa sirna hanya karena rasa ingin tahu yang tinggi.
“Nay! Elo nggak usah khawatir. Ansel tuh Baik-baik aja. Dia juga nggak ada di apartemennya. Barusan aku udah cek ke sana.” Bian mencoba menenangkan sahabatnya, Naya.
Dia memang paling mengerti Naya. Tanpa Naya memberitahu, Bian bisa mengetahui bahwa perempuan itu mengkhawatirkan kekasihnya si Mas pangerannya.
“Darimana elo tahu alamat Ansel?” Naya menjadi berpikir bahwa Bian salah masuk apartemen.
“Yaelah, Nay. Elo ngeraguin kecerdasan gue,” timpalnya pura-pura terlihat cemberut.
Naya tertawa kecil. Sebisa mungkin dia harus bisa mengontrol perasaannya. Dan itu harus! Kalau dia tidak ingin menjadi bulan-bulanan semua fans Ansel di sekolah ini. Naya sejujurnya mulai takut, jika publik mengetahui informasi tentangnya. Maka, dia dan masa depannya akan habis. Naya tak ingin itu terjadi. Kenapa sefatal itu? Karena jujur, Naya akui dirinya tidak jago bicara selain soal materi dalam kelas. Dan hubungannya dengan Ansel, pasti akan memicu kecemburuan banyak pihak yang mengidolakan Ansel.
Duh! Naya harus siap-siap untuk itu!
“Iya iya, deh.” Naya mengalah.
“Tadi itu bener apartemen Ansel. Karena ada managernya di sana. Dia yang ngadepin wartawan dan menjawab semua pertanyaan mereka.” Bian bercerita tentang apa yang dia lihat tadi.
Naya menjadi lega sekarang mendengar itu. Karena jujur, tadi dia masih ragu untuk percaya bahwa Bian tidak salah apartemen. Tapi syukurlah! Artinya mas pangerannya sedang baik-baik saja dan tidak mendapatkan perlakukan buruk dari manusia bernama netizen.
Semoga semuanya cepet membaik dan Naya bisa bertemu mas pangerannya lagi.
“Sebenarya ada apa, sih?” suara Intan menengahi obrolan Bian dan Naya. Tumben Intan terlihat bodoh dalam urusan artis idolanya. Biasanya, untuk urusan Ansel, dialah yang pertama tahu diantara mereka bertiga.
Oh ya! Hapenya masih ada di tas sekolahnya dalam kelas.
“Baca berita, deh!” Bian menjawab dengan memberikan benda pipih miliknya pada Intan.
Berita itu, Bian sudah membacanya saat tadi mencari alamat tempat tinggal Ansel. Dan itu membuat asumsi berbeda sebelum dia memutuskan pergi. Menurutnya, ada yang sengaja memancing kemarahan publik karena tidak suka pada hubungan Ansel dan Naya.
Yes! Asumsinya seratus persen benar. Karena itu juga yang ada di otak author. Mari kita lihat, siapakah dalang di balik kekacauan ini.
Sedangkan Naya berpikir dengan sangat sederhana. Dia anggap bahwa kencannya kemarin, juga prihal dirinya yang keluar dari apartemen Ansel, dan semua berita itu murni karena ketahuan wartawan dan jadilah berita hangat dan nikmat disuguhkan.
Dan naasnya, Naya menjadi turut trending karena dia adalah objek berita yang tengah hangat dikonsumsi publik itu. Ah ... Perasaan Naya menjadi campur aduk sekarang. Takut diserang oleh pasukan fans garis keras Ansel. Lalu gelisah, karena sampai detik ini Mas pangerannya belum memberi kabar lagi. Dan lagi, bagaimana sekolahnya kalau sampai dia menjadi korban bullying karena ulah fans Ansel nanti?
Ah ... Pikiran Naya berkelana terlalu jauh. Sedangkan, Intan masih asyik menuntaskan berita yang baru di baca. Bian? Jangan tanya dia! Dia memikirkan Naya, tak ada yang lain. Dan itu sudah mutlak tidak bisa diganggu gugat.