BAB 24

2046 Words
Benar yang dikhawatirkan Naya, perlakuan semua fans Ansel membuat dia tidak bisa berada jauh dari Bian. Ya, karena laki-laki itu yang bisa sepenuhnya melindungi Naya di sekolah SMA Negeri Harapan. Sepulang sekolah, Naya menjadi linglung sendiri. Pikirannya terlalu kacau meski sudah tidak menangis seperti tadi. Dia kebingungan untuk melakukan apa hari ini? Lebih tepatnya, dia hanya ingin bertemu Ansel dan tidak berniat melakukan hal lain. Lama berkutat dengan handphonenya. Menunggu kabar dari mas pangerannya, tapi yang ditunggu tak kunjung ada memberi kabar. Naya semakin kuat untuk bertemu dengan Mas pangerannya. Dia ingin memberi semangat pada laki-laki itu meski sebenarnya dia sendiri juga butuh diberi semangat. Ah ... Naya butuh mas pangeran untuk menguatkan dia dan memberi semangat ke sekolah dan belajar. Baru selangkah, dia keluar kamar. Terdengar suara TV menyala yang menyiarkan hasil wawancara dengan manager Ade. Ini persis seperti yang Bian ceritakan. “Saya bisa pastikan bahwa antara Ansel dan perempuan itu tidak ada hubungan apa-apa. Secepatnya Ansel sendiri yang akan menjawab semua pertanyaan kalian.” Manager Ade menjawab semua pertanyaan wartawan yang menyerbunya dengan satu jawaban saja. Dan itu sukses membuat jantung Naya bergetar. Sementara Ansel berniat akan melakukan konferensi pers dan mengatakan seperti yang manager Ade katakan. Sebab itulah dia buru-buru mengirimi Naya pesan lewat aplikasi hijau. Ting ... Sebuah notifikasi masuk di handphonenya. “Jangan percaya apapun yang kamu lihat dan kamu dengar. Aku sepenuhnya milik kamu, Sayang.” Pesan dari mas pangeran. Naya tersenyum, meski dalam hatinya terasa sedikit ngilu. Ah ... Naya harus bisa! Ini resiko pacaran sama artis. Begitu dia menguatkan hatinya. Naya enggan membalas sehingga hal itu sukses membuat Ansel yang sedang menunggu Jawaban Naya menjadi gelisah. Kring ... Handphone Naya berbunyi. Dia melihat nama pas pangeran di sana. “Halo, Mas.” Naya bersikap dan berbicara seperti biasanya. Dia tak boleh ketahuan habis menangis apalagi terdengar sedang kesal karena berita itu. Untuk apa kesal? Begitu pertanyaan hatinya. Sedangkan yang di TV semua berita tentang Ansel dan dirinya salah, jadi wajar saja jika manager Ade menyangkalnya juga dengan jawaban yang salah. Huft ... Naya harus bisa menahan diri. “Halo, Ver. Kamu nggak apa-apa, kan? Bisa kita ketemu?” pertanyaan Ansel lolos padahal jujur, dia sudah menahan diri untuk itu sejak keluar berita tadi. Dan manager Ade juga mewanti-wanti agar Ansel tidak bertemu dengan Naya sampai emosi publik mereda. Ya, banyak netijen menghujat Ansel. Itu bisa berdampak pada kontrak kerjanya yang baru saja berjalan. Managerial Ade tak menginginkan itu terjadi. Sepenuhnya dia harus bisa membersihkan nama baik Ansel agar karir ponakannya kembali aman. Hal itu sukses membuat manager Ade melupakan pencarian anaknya. “Ver! Kamu denger aku, kan?” Ansel memanggil nama kekasihnya seperti biasanya. Dan sepasang mata di balik pintu itu menggelengkan kepala karena mendengar Ansel mengajak perempuan itu bertemu. Benar-benar bandel! Gak bisa dikasih tau! Manager Ade sudah berdiri sejak tadi. Dia mendengar sendiri bahwa Ansel-lah yang selalu mengkal dalam hal ini. Jika mengingatkan Ansel dia gagal, maka satu-satunya jalan adalah mengingatkan kekasihnya, Naya. Setidaknya Manager Ade harus berusaha yang terbaik untuk karir Ansel. Sementara Ansel bicara, manager Ade cepat-cepat berlalu sebelum ketahuan. Dia akan menemui gadis SMA itu dan mengajaknya bicara. ***** “Ansel itu sudah memulai karir dari sejak SMA seperti kamu. Dia jatuh bangun untuk bisa sampai di titik ini.” Manager Ade terlihat bijaksana seperti seorang bapak yang sedang mengobrol serius dengan putrinya. Naya hanya menjadi penyimak yang baik. Dia bungkam dengan hanya menatap pada manager Ade Yang sedang bicara. Manager Ade menceritakan tentang Ansel dari pertama memulai karir sebagai personil The King. Ya, kala itu saat kejayaan The King. Boy band yang membesarkan nama semua personilnya termasuk Ansel. Ada hal yang harus disembunyikan Ansel dari teman-temannya, penyakit laringitis. Ketika itu, saat kondisinya belum parah, Ansel selalu memaksakan diri perform dan menyanyi seperti biasanya hingga suatu hari, suaranya hilang dan dia tidak bisa lagi bernyanyi. Dia juga tidak bisa bicara karena kehilangan suaranya. Teman-temannya semua kecewa dan membencinya karena tiba-tiba Ansel mengundurkan diri tanpa alasan. Saat itu, hanya manager Ade yang tahu tapi dia juga tidak bisa bicara apapun karena Ansel melarangnya. Hingga kemudian, sedikit demi sedikit suaranya kembali setelah dia menjalani pengobatan. Dan Ansel memutuskan untuk berkarir di dunia akting. Itu dia lakukan untuk pembuktian pada teman-temannya bahwa dia juga bisa sukses. Oh ... Rupanya itulah alasan Ansel keluar dari boy band yang sudah membesarkan namanya, dan kehilangan sahabat-sahabatnya. Ansel terlalu takut untuk jujur dan terbuka. Dan hanya bersama Naya dia bisa terbuka seperti sekarang. Sebab itulah, Ansel Sangat tidak ingin kehilangan Naya seperti dia kehilangan sahabat-sahabatnya. Manager Ade menceritakan bagaimana jatuhnya Ansel dan kemudian dia bangkit seperti sekarang pada Naya. Naya diam, dia bisa merasakan sebuah perjuangan yang sangat berat sebelum Ansel sampai di titik ini. Ansel belum sepenuhnya sukses, karena sejauh dia menggeluti dunia akting, belum ada pencapaian yang dia terima selama ini. Dan sinetron baru yang sekarang dilakoninya, itu adalah satu-satunya peluang besar yang akan membawa Ansel pada titik kejayaan. Karena sinteron tersebut banyak diminati masyarakat 62 yang kebanyakan sangat menyukai film romansa yang ada bucin-bucinnya. Perhitungan manager Ade tak pernah salah, karena memang begitu aturan dunia entertainment. Saat sinetronnya laku keras, maka secara otomatis pemeran di dalamnya akan turut mendapat penghargaan dan apresiasi besar dari penikmat cerita itu. “Jadi aku mohon, kalau kamu benar-benar mencintainya, lepaskan dia. Ini demi kebaikan kalian juga mimpinya yang belum tercapai.” Manager Ade menutup ceritanya dengan sebuah permintaan yang memang itulah tujuan utamanya menemui Naya secara pribadi. Berat, tapi bukankah permintaan manager Ade adalah kebenaran? Naya terguncang. Sedikit lagi dia ambruk jika saja Bian tidak segera datang dan membawa Naya pergi. Manager Ade sedikit geram karena dia belum mendapatkan jawaban pasti atas permintaannya tapi Naya sudah dibawa pergi oleh laki-laki yang tidak manager Ade ketahui siapa? Kring ... Suara benda pipih di sakunya mengagetkan manager Ade. Buru-buru dia mengangkatnya, karena tertera nama Dika di sana. “Paman, antar aku ke Sunter Mall, ya. Aku tunggu sekarang.” Suara Ansel yang sepertinya sedang terburu-buru itu membuat Manager Ade segara pergi dari taman dekat rumah Naya. Ada apa lagi sama dia? Manager Ade melajukan mobilnya menuju tempat Ansel sekarang bersembunyi. Lebih tepatnya, dia menenangkan diri di rumah Kontrakan pamannya. Tempat itu sedikit terpencil karena berada masuk ke dalam gang kecil. Tapi sungguh menjengkelkan bagi manager Ade, karena ternyata tujuan Ansel ke Sunter Mall itu adalah untuk bertemu dengan Naya. Manager Ade menolak keras. Bahkan dia mengancam akan mengirim Ansel ke luar negeri jika ansel bersikukuh untuk bertemu Naya. Mau tambah runyam apa dia? Sungguh, manager Ade tak habis pikir pada apa yang ada di pikiran Ansel. Bisa-bisanya dia mau bertemu Naya di tempat ramai, sedangkan saat ini suasana sedang sangat genting. Bukan diantar ke tempat yang diinginkan Ansel, justru manager Ade mengomeli Ansel dengan banyak sekali petuah dan ingatan-ingatan tentang mimpinya. Ansel hanya diam, karena semua yang dikatakan pamannya adalah kebenaran mutlak yang seharusnya dia utamakan sekarang. Dia harus sukses, begitu hati dan otaknya berbicara kompak. Lalu Naya? Naya Rivera, si gadis langka yang dia cintai itu. Ansel tak ingin kehilangan dia. Tapi juga tak bisa mengabaikan mimpinya. Ah ... Ansel tidak bisa! Dia akan tetap bersama Naya meskipun diam-diam. Seenggaknya, dia masih bisa berchating ria dan mengobrol via chat, begitu dia berpikiran. Ting ... Notifikasi masuk di handphonenya. Tertera nama Vera di sana. Ansel dengan cepat membukanya dan melihat isi pesan kekasihnya itu. “Ayo ketemu di taman!” Membaca pesan itu membuat mata Ansel berbinar, setelah tadi sempat galau karena gagal bertemu. Di taman? Ansel akan menemui Naya diam-diam tanpa ketahuan oleh manager Ade. Tapi manager Ade sudah cukup mengenal Ansel dengan baik. Dia bisa melihat Mimik wajah Ansel yang berubah saat menatap layar ponselnya. Sebab itulah, dia mengawasi Ansel dengan sangat ketat. Ya, dia harus tahu kemana Ansel pergi. Meski sebenarnya itu sudah ditebak manager Ade bahwa Ansel akan pergi menemui Naya. Cklik ... Pintu kontrakan itu Ansel buka dengan sangat hati-hati. Tapi mau sekecil apa pun suara yang ditimbulkan oleh pintu itu, Ansel tetap saja ketahuan. Karena memang sejak tadi manager Ade tak henti mengawasi gerak-gerik Ansel meski dia pura-pura tidur. “Mau kemana? Nggak cukup berita yang mengancam karir kamu hari ini?” Suara manager Ade membuat langkah Ansel terhenti. Shit! Gawat ... Kenapa paman kebangun sih? Ansel mengira pamannya itu benar-benar tidur, padahal aslinya ... Manager Ade hanya pura-pura tidur agar dia bisa melihat pergerakan Ansel setelah itu. Enggan berdebat dengan pamannya, Ansel kembali masuk dan menghempaskan pantatnya di sofa. “Ayo paman antar.” Manager Ade mengalah. Dia tak mungkin bisa menahan Ansel lebih lama, karena dia tahu betul karakter Ansel yang tidak pernah bisa berubah. Setidaknya, jika dia mengantarnya, maka dia bisa membantu Ansel untuk menahan diri agar tidak melakukan kesalahan lagi yang hanya akan membuat publik gencar. “Ta_tapi, Paman ....” Ansel meragukan pamannya. Tapi kemudian, dia bangkit dan melangkah cepat menuju mobil pamannya yang terparkir didepan rumahnya. Dia takut, manager Ade berubah pikiran. Di jalan, manager Ade tidak bisa mengunci Mulutnya, dia tak henti memberikan nasehat pada Ansel yang merupakan ponakannya itu terkait berita yang mengancam karirnya. “Kamu harus melakukan konferensi pers dan bilang secara langsung bahwa kamu dan perempuan itu tidak ada hubungan apa-apa. Ingat, Dik ... Kamu belum bisa dibilang sukses karena sudah berhasil membintangi sebuah film. Kamu masih harus melakukan banyak hal untuk membuktikan pada teman-temanmu.” Sengaja manager Ade membawa kata teman yang tentu hal tersebut akan membuat Ansel mengingat kembali tujuannya masuk ke dunia akting. Ya, Ansel tak ingin dianggap remeh oleh teman-temannya sebab dulu saat dia memutuskan keluar dari The King, Ansel menjadi diremehkan. Ansel bertekad, bahwa tanpa mereka pun, dia bisa sukses dalam bidang yang dia tekuni. Tersingkirlah sedikit egonya untuk memperkenalkan Naya pada publik, tapi perlahan ... Hatinya menjadi gelisah. Ah ... Aku memang harus bicarakan masalah ini dengan Vera! Belum selesai masalah dengan berita itu. Muncullah para haters yang menyerang Ansel lewat i********:. Mereka mengatai Ansel sebagai seorang yang sudah melakukan pelecehan pada anak di bawah umur. Ada juga yang mengecam bahwa saat bertemu dengan Ansel nanti, dia akan memotong senjata kelelakiannya. Uuuhhh ... Mendadak ngilu karena membayangkan fans garis keras yang terlampau kecewa, dan menjadi haters lalu mengancam dengan kalimat anarkis. Ansel tak terlalu memikirkan hal itu. Dia sudah terbiasa digosipkan dengan berbagai tuduhan tanpa bukti sejak dulu dia keluar dari The King. Sedangkan Naya yang membaca berita terbaru itu, hatinya kembali bergetar. Ada rasa yang berkecamuk di dadanya. Antara ingin tinggal dan ingin melepaskan. Bukan karena tak cinta, tapi cerita manager Ade tadi sangat mengganggu pikirannya. Tak mungkin dia memaksakan diri untuk tinggal, sebab sama saja dia egois dan tidak memikirkan masa depan dan kebahagiaan Ansel, mas pangeran yang sudah punya tempat special dalam hatinya. Naya tidak bisa duduk diam dan menunggu. Rasanya Ansel sangat lama untuk sampai ke taman itu. Hingga Naya bergerak bebas ke kanan dan ke kiri. Tanpa sadar, Naya menggigit kukunya. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya ketika terlalu gelisah dan galau menghadapi sesuatu. Dia sampai tidak menyadari bahwa Ansel sudah berdiri di belakangnya. Memeluknya dari belakang sembari memejamkan mata, seolah dia telah menemukan stok oksigen di pundak Naya. Tunggu! Apa sejak tadi Ansel nggak napas? Tentu saja dia bernafas. Hanya saja dadanya terlalu sesak karena pilihan hidup yang sangat berat menurutnya. Dan sekarang, dia menemukan pundak yang pemiliknya selalu membuat hatinya tenang. Naya mencoba melepaskan tangan Ansel yang melingkar di perutnya. Dia tak ingin pertahanannya roboh karena perlakuan Ansel sekarang. Ya, Naya sudah memutuskan akan pergi dari hidup Ansel. Entah itu sementara atau justru selamanya. Yang Naya tahu, saat dia memilih pergi, maka tak akan ada harapan untuk dia kembali. Sebab itulah dia sendiri tak bisa memutuskan seberapa lama waktu bisa mempertemukan mereka kembali dan mengembalikan suasana seperti sedia kala, seperti sebelum ada berita menjengkelkan itu. Ya, perasaan di hati Naya bertambah. Ada rasa marah karena berita itu. Berita luknut yang membuat hubungannya dengan Ansel harus dia akhiri demi kebaikan mereka berdua. “Plis ... Biarkan aku kayak gini beberapa saat.” Ansel berbicara pelan. Terdengar seperti desahan tapi juga seperti sebuah keluhan. Ah ... Di saat seperti ini, otak Naya memang tidak pernah berfungsi. Tapi sekuat mungkin, dia menguatkan benteng pertahanannya agar tidak goyah untuk tetap meninggalkan Ansel. Ya, dia harus pergi agar karir Ansel selamat, agar mimpi Ansel terwujud. Agar sakit Ansel terbayar dengan kesuksesannya. Dan Naya tidak mau menjadi penghalang atas semua itu. Untuk mas pangerannya, dia harus melakukannya! Dan dia sendiri harus tegar menghadapi semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD