Naya ingin sekali diam dan membiarkan mas pangerannya memakai pundaknya seberapapun lamanya, tapi tidak! Dia tidak boleh lemah. Dia tidak boleh larut dalam perasaan yang hanya akan membuat dia urung pergi.
“Mas. Lepasin!” Naya mencoba melepaskan tangan Ansel dengan sekuat tenaga agar tidak lagi bertengger di perutnya.
Tapi Ansel tak bergeming. Dia bahkan sibuk menikmati waktunya yang selalu terhalang oleh keadaan. Ya, keadaan selalu membuat Ansel tidak bisa bebas bersama Naya sesukanya.
“Lepasin!” Naya menghentak kasar tangan Ansel hingga sukses membuat tangan itu terlepas dari perutnya.
Air mata Naya jatuh, tapi dengan cepat dia seka agar tidak ketahuan oleh Ansel.
Beruntung, dia sekarang memakai topi yang sengaja di gunakan karena pasti sudah banyak orang yang melihat wajahnya dalam berita itu.
“Aku nggak mau ketemu Mas Ansel lagi. Selama ini, kerjaan aku Cuma belajar dan belajar, tapi sejak kenal mas Ansel, aku malah jarang pegang buku. Dan parahnya, aku kena imbas karena dekat sama artis yang terkenal. Aku mutusin kalo mulai sekarang, aku udah gak mau ketemu dan ada hubungan sama Mas Ansel.” Naya berbalik dan mengucapkan kata-kata itu dengan tidak ada air mata di pipinya.
Ya, tentu saja Naya sekuat tenaga menahannya, sampai suara Naya serak karena pertahanan di sana hampir jebol.
“Selama ini, aku Cuma pura-pura cinta sama kamu, Mas. Karena aku pikir, aku jelek karena aku menjadi satu-satunya siswi yang tidak punya pacar.” Naya bahkan memanipulasi perasannya sendiri sekarang.
Semoga saja dia tidak menyesali tindakannya.
Ansel menganga tak percaya. Dia datang ke sini untuk bicara dan mencari jalan keluar bersama. Memikirkan cara agar hubungan mereka bisa tetap baik-baik saja.
Tapi duar ... Gemuruh di langit bersamaan dengan dentuman jantung Ansel yang seketika remuk mendengar ucapan Naya.
Ansel tak terima tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.
Sementara Naya, tubuhnya bergetar bersamaan dengan air mata yang pada akhirnya lolos jatuh dari pelupuk matanya.
Kekuatan itu hanya sesaat dan begitu rapuh melihat gelengan Ansel yang matanya juga berair.
Apa Naya sudah Melakukan hal yang salah? Apa dia menyakiti mas pangerannya?
Naya terisak tapi buru-buru dia sembunyikan dengan berlari menjauh dari Ansel. Naya takut menarik kembali ucapannya jika sampai dia berlama-lama di dekat Ansel.
Blar ... Guntur kembali terdengar bersamaan dengan air hujan yang turun tiba-tiba. Ansel terduduk dengan air mata yang luruh bersama air hujan.
Naya berhenti di balik pohon besar. Mengamati wajah Ansel dari jauh dengan senyum getir yang menyakitkan. Dia tak menyangka sudah melepaskan sesuatu yang baru dia rasakan mewarnai hidupnya.
Naya sesenggukan. Tapi air matanya Samar terlihat sebab air hujan yang sukses membasahi semua pakaian yang dikenakannya. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
Naya merasa ada benda besar yang menghujam di dadanya. Rasanya sesak. Bahkan Naya seperti butuh hujan yang lebih besar agar menyamarkan tangisnya.
Ansel diam cukup lama di taman itu. Duduk dengan mata kosong memilukan. Barusaja dia menemukan makhluk langka seperti Naya. Tapi sekejap, dia kehilangannya bahkan dia sendiri kebingungan bagaimana caranya membuat dia tetap bertahan.
“Aaakhhh ....” Ansel berteriak bersamaan dengan kilat yang disertai halilintar yang menyambar bumi.
Naya memegangi dadanya dengan terisak. Memandangi wajah yang sudah hancur hatinya sebab dirinya.
“Maafin aku, Mas. Aku ga bermaksud sama sekali buat nyakitin kamu.” Naya berseru lirih. Nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
“Aku harus lakuin ini biar karir kamu selamat dan kamu bisa sukses seperti yang udah kamu impikan, Mas.” Naya berbalik. Menyandar pada batang pohon lalu meremas dadanya.
Kenapa sesak ini ga ilang-ilang, sih?
Naya menepuk-nepuk dadanya. Mengguncangkan tubuhnya ke batang pohon seolah meminta isi di dadanya keluar saat itu. Naya tak kuat. Semuanya terasa sangat menyakitkan.
Dia berbalik, mengintip mas pangerannya yang ternyata melakukan hal yang sama di atas bangku taman yang didudukinya.
Cukup lama hujan mengguyur bumi. Manager Ade turun dengan membawa payung hitam di tangannya. Dia memayungi Ansel lalu mengajak ponakannya itu untuk pergi dari taman ini.
Naya masih memerhatikan mereka, utamanya Ansel. Dia ingin melihat Ansel untuk terakhir kalinya dari jarak dekat seperti ini. Ya, meski Naya akui, ini tidak bisa dibilang dekat, karena kebersamaan kemaren-kemaren itulah yang teramat dekat.
Ansel bangkit dengan tatapan mata kosong. Tak ada yang dia pikirkan selain kenapa Gadisnya bisa tiba-tiba bicara seperti itu? Apa dia telah membuat kesalahan?
Tentu saja dia membuat kesalahan karena berita itu mengancam karirnya sendiri, itulah kesalahan yang membuat Naya tak bisa lagi berada di dekatnya. Menjadi kekasihnya hanya akan membuat Ansel dihujat publik, itulah yang tidak disukai Naya.
*****
Pagi itu di sekolah SMA Negeri Harapan, Naya masuk ke sekolah Seperti biasa. Berada di rumah hanya akan membuat dia selalu terbayang wajah Ansel, sebab itulah dia memutuskan masuk sekolah meskipun hatinya sedang tidak baik.
Tepat bersamaan dengan masuknya Naya di gerbang sekolah. Di jam yang sama Ansel melakukan konferensi pers secara live. Hal itu menarik perhatian semua penghuni sekolah tak terkecuali teman-teman Naya, Intan dan Bian.
“Hari ini, aku Ansel Mahardika akan mengklarifikasi berita yang simpang siur tersebar. Sebenarnya, perempuan yang ada dalam berita itu hanyalah seorang pengantar bunga. Setahuku, dia membantu temannya yang merupakan pemilik toko bunga yang aku sendiri tidak tahu di mana tempatnya. Saat kemarin perempuan itu datang ke apartemen, dia murni hanya mengantar bunga. Dan juga, saat di taman bermain seperti yang kalian lihat di berita, itu juga dia datang mengantarkan bunga. Karena sebenarnya, aku kencan tidak dengan perempuan itu.” Ansel memberi jeda dalam kalimatnya. Terukir senyum di bibirnya menunjukkan bahwa dia teramat santai menghadapi berita yang seolah tak benar.
“Sejujurnya, aku kencan dengan perempuan yang aku belum siap untuk diketahui publik. Sebab itulah, aku menyembunyikan identitasnya. Aku mencintai gadis itu dengan segenap jiwa dan ragaku. Jujur, dia adalah perempuan yang sangat penting dalam hidupku. Aku tak suka melihat dia menangis apalagi menangis karena aku. Aku, Ansel Mahardika mengaku mencintai perempuan itu. Perempuan yang hanya aku sendiri yang mengetahuinya. Dan ini tak akan pernah berubah sampai kapanpun.” Mata Ansel berkaca-kaca. Ungkapan cintanya sukses membuat semua yang melihat berita itu berdecak iri pada perempuan yang dimaksud Ansel.
Sayangnya, tak ada yang tahu siapa perempuan itu?
Dan karena siaran langsung yang barusaja terpampang di TV dan live streaming di akun pribadi Ansel, membuat seisi sekolah menertawakan Naya, mengejeknya dan bahkan masih menghujatnya. Pastinya, hanya Bian dan Intan saja yang justru memeluk Naya dengan erat di saat seperti ini.
Lalu semua guru? Mereka seolah menutup mata dan telinga mereka terhadap kasus yang menurut mereka diluar sekolah.
Huft ... Awalnya Naya pikir semuanya akan selesai begitu dia memutuskan hubungan dengan Ansel. Tapi justru semua pemikiran itu salah total, dia masih saja menjadi bahan omongan anak-anak sekolah. Dan itu yang Naya sangat benci.
Belum lagi kalimat Ansel, hatinya kembali teriris. Ah,. Kenapa hatinya menjadi begitu kuat? Bahkan sudah sejak kemarin terasa hancur, kenapa hari ini masih terasa lagi sakit seperti diiris di dalam sana? Bukankah setelah hatinya hancur, seharusnya dia mati dan tidak merasakan apapun lagi.
Naya ... Apakah artinya dia sangat rapuh? Atau justru teramat kuat karena hatinya masih merasakan sakit lagi dan lagi. Dan anehnya, dia selalu berhasil menutupi kesedihannya.
“Elo yang sabar ya, Nay ....” Bian menyentuh punggung Naya yang tengah duduk menatap kosong ke depan di taman sekolah.
“Iya, Nay. Dari awal aku sebenarnya nggak setuju sama hubungan kamu sama Ansel. Tapi dia emang ganteng, sih ....” Intan berucap dengan meremas pipinya karena membayangkan wajah tampan Ansel. Terlebih, saat live streaming tadi, uh ... Intan pasti akan jatuh pingsan kalau melihat Ansel secara langsung.
Rambutnya yang diwarnai dengan cokelat kekuningan membuat auranya semakin keluar. Dan itu sukses membuat semua orang yang sejak berita itu keluar menghujatnya kembali menjadi fans garis kerasnya. Apalagi ungkapan cintanya, hal itu membuat semua orang menyaksikannya menjadi klepek-klepek dan meleleh.
*****
~Flashback on~
Ansel mengurung diri di kamarnya. Memejamkan mata memikirkan semua yang terjadi dan terasa sangat cepat itu. Dia barusaja mengecap bahagia dengan perempuan yang dia cintai. Bahkan, dia merasa bahwa hatinya sudah terpatri kuat untuk Naya.
Tapi siang tadi, Ansel kehilangan semuanya. Dan itu jelas keluar dari mulut kekasihnya. Ansel sesak. Emosinya naik turun seiring dengan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Naya, dan itu terus terngiang di telinganya sampai akhirnya dia memutuskan bangkit dan membanting pintu.
Di luar pintu, manager Ade menunggu dengan setia. Dia melihat Ansel seperti dulu, seperti saat Ansel memutuskan keluar dari The King.
Dan Manager Ade, kembali mendampingi ponakannya dengan setia.
“Duduk sini.” Manager Ade menepuk sofa yang terletak di depan TV.
Ansel duduk dengan malas. Dia terlihat mengenaskan.
“Pikirkan mimpi kamu, Dik. Jangan karena hal seperti ini kamu melupakan keinginan terbesarmu. Ingat, saat kamu memulai karir di seni tarik suara, lalu kemudian penyakit itu menyerang kamu dan membuat kamu memilih jalur ini. Sampai kapan kamu terus menerus memulai karir dari awal? Ini sudah hampir sampai, Dik. Kamu hanya perlu sedikit berbesar hati menghadapi semua ini. Kamu harus menyelamatkan karirmu lalu kemudian memikirkan cintamu. Itu urutannya.” Manager Ade menatap artis tampan itu bak anaknya sendiri. Ya, tentu saja seperti itu karena memang manager Ade sangat dekat dengan ponakannya yang tampan dan berbakat itu.
Manager Ade akan membantu Ansel sampai akhir, sesuai pesan terakhir mendiang papanya Ansel, maka Manager Ade akan terus ada di samping Ansel sampai laki-laki itu sukses dan bisa menggapai mimpinya.
Ansel lama diam, tapi kemudian dia bicara dengan masih terlihat raut frustasi di wajahnya.
“Apa yang harus aku lakukan, paman?” Wajahnya dia angkat dengan tatapan mata sayu.
“Lakukan konferensi pers besok.” Manager Ade menyerahkan satu lembar yang Ansel enggan menerimanya.
“Baca lalu hafalkan agar besok saat kamu live, kamu tidak gugup.” Manager Ade meletakkan kertas yang sudah penuh dengan tulisan itu di atas meja.
Manager Ade bangkit lalu masuk ke kamar yang merupakan ruang tamu di apartemen Ansel. Ya, setiap kali menginap, maka Manager Ade akan tidur di kamar itu ketika kepalanya terasa berdenyut.
Itu artinya, kepala manager Ade sekarang sedang berdenyut karena banyaknya masalah yang datang bertubi dalam hidupnya. Belum ketemu dengan putrinya, justru muncul masalah Ansel yang ketahuan menjalin hubungan dengan anak SMA.
Huft ... Manager Ade merebahkan tubuhnya di kasur yang sebenarnya adalah tempat ternyaman untuknya. Sengaja dia tinggalkan Ansel beserta kertas berisi pengakuan dan penjelasan Ansel mengenai berita itu. Ya tentu saja itu hanya alibi. Tak ada yang benar dalam isi kertas itu. Hanya saja, itu harus manager Ade berikan agar karir Ansel bisa kembali normal dan bahkan lebih melejit lagi.
Ansel menatap lembar kertas yang berisi tulisan tangan manager Ade di sana. Untuk soal Ansel, manager Ade tidak pernah percaya pada orang lain. Dia selalu menangani apapun yang menyangkut Ansel dengan tangannya sendiri.
Dia baca isi kertas itu dengan dalam hati dia berdecih karena isinya tidak ada yang sejalan dengan hatinya.
Tapi ucapan Naya, meski itu tidak sesuai dengan kenyataannya, Ansel akan mempelajari isi kertas itu dan akan mengucapakannya saat konferensi pers besok.
Karena tak ingin terlihat kacau dan dia berkeinginan agar proses besok menjadi sangat meyakinkan, maka Ansel diputuskan untuk make over. Tentu saja itu adalah ide manager Ade. Awalnya Ansel menolaknya, tapi manager Ade lagi lagi sukses membuat Ansel menurutinya.
Malam itu juga Ansel di make over. Rambutnya yang semula berwarna pirang diganti warna. Pun model rambutnya, sekarang rambut Ansel sudah terlihat lebih rapi menyamai usianya. Tidak lagi tampil seperti anak usia belasan tahun seperti dalam film yang sering dia perankan.
~flashback off~