Pulang

1013 Words
"Assalamualaikum, aku pulang, Ma." Hawa memasuki rumahnya dengan menarik koper besar yang di bawa dari mansion dan hadiah di belinya di New York. "Waalaikumsalam, Hawa akhirnya kau pulang. Mama sangat merindukanmu." Ia menahan tangis memeluk anaknya. Hawa melepas rindu yang sudah di pendamnya selama seminggu. "Hawa lebih merindukan Mama, aku membelikan Mama ole-ole dan karyawan kita di toko." melepas pelukannya. memperlihatkan beberapa kantongan yang di bawanya. "Terima kasih, nak. Dimana Adam?" tanya wanita paruh baya itu. Hawa ingin menjawab kalau lelaki itu sudah pulang setelah mengantarnya, kemudian mereka terkejut mendengar suara dari arah lain. "Adam disini, Tante. Saya meminta maaf karena membawa Hawa pergi tanpa meminta izin Tante lebih dulu." Adam meraih tangan Bu Leni dan menempelkan di pipinya, ia berusaha membujuk dengan bertingkah seperti anak kecil. "Tidak apa-apa, asalkan Hawa pulang dengan selamat. Tante sangat senang," ujar Bu Leni mengelus kepala Adam. "Aku lupa memberitahumu bahwa Nina akan di lamar oleh teman kampusnya hari ini. Jadi sebaiknya kau bersiap-siap datang kesana." tambahnya. Hawa dan Adam terkejut setengah mati. "Apa? Nina, kan masih kuliah. Kenapa mendadak ingin menikah?" Hawa membulatkan matanya tidak percaya dengan berita yang di dengarnya. "Mama tidak tahu sayang tapi Mama hanya tahu mereka saling mencintai dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah." jelasnya panjang lebar. "Siapa lelaki itu, Ma?" tanya Adelia penasaran. "Kalau Mama tidak salah dengar namanya Beno." Bu Leni tampak berpikir mengingat nama yang akan menikahi Nina. "Beno?" jawab mereka bersamaan. Adam yang sejak tadi menyimak percakapan mereka ikut terkejut mendengar nama sahabatnya. Apa-apaan ini? Kenapa mereka berdua tidak tahu. "Nin tak cerita apapun padaku. Mungkin ia merasa tidak enak semenjak kejadian perselingkuhan kakaknya itu." mata Hawa tampak berkaca-kaca menahan tangis mengingat kejadian masa lalu. Hawa menceritakan semua pada Bu Leni dan itu adalah alasannya pergi ke New York. Mendengar penjelasan Hawa, Bu Leni sangat marah bahkan melarang Hawa datang ke acara lamaran Nina. Tapi, Hawa membujuknya kalau masalah itu tak ada sangkut pautnya dengan Nina apalagi mereka bersahabat sudah lama. Adam kemudian pamit pulang, ia ingin ganti baju terlebih dahulu lalu datang ke acara lamaran mereka yang mendadak ingin menikah. Selesai membujuk ibunya Hawa mengganti pakaian bergegas pergi di hari bahagia sahabatnya. Hawa sampai di rumah Nina dengan rambut sedikit berantakan. Begitu memasuki rumah, sudah ada Nina, Adam, dan Beno yang tiba lebih dulu dan duduk di ruang tamu. Hari ini sesuai rencana, Beno ke rumah Nina untuk melamarnya. Damian kelihatannya setuju dengan keputusan mereka untuk menikah. Nina tersenyum puas melihat keluarganya menyukai lelaki idamannya ini. "Maaf aku datang terlambat." Hawa masuk ke dalam rumah Nina duduk di ruang tamu. "Tidak apa-apa. Ayo, silahkan duduk, Hawa!" Sambut Mama Nina dengan ramah. "Iya, Tante, terima kasih." Hawa duduk di samping Adam menampakkan senyuman manis. Mereka sendiri duduk berhadapan dengan Damian. Sementara Hawa dan Adam sibuk mengobrol dan tertawa lepas, ada mata yang memperhatikan mereka. Ada hati yang memanas dan cemburu melihat kedua orang tersebut tampak begitu akrab. Damian menggerutu dalam hati, kenapa ia harus cemburu? Dia kan, bukan siapa-siapa gadis itu lagi. Hawa juga pasti menganggapnya musuh karena kesalahannya meniduri Dila. Mungkin saja jika Damian memaksa, mereka pasti akan berperang dingin meributkan masalah itu. Adam gerah merasa tidak enak terus mengobrol dengan Hawa di hadapan keluarga calon mempelai. Akhirnya dia meminta izin keluar, berjalan menuju taman di sebelah rumah memutuskan untuk duduk di kursi panjang berwarna putih di sana. Sementara Kai duduk dengan santai sambil memperhatikan taman bunga yang masih basah terkena guyuran hujan tadi, Hawa menyusulnya dari belakang dan duduk di sebelahnya. Walaupun Hawa tidak terlalu menyukai lelaki yang satu ini, bagaimanapun Hawa merasa harus tetap peduli karena Adam teman masa kecilnya dulu. Rasa jengkel dan tidak suka memang ada, hal itu sulit untuk dihilangkan, tapi aura kedekatan mereka masih sangat terasa. "Kau keluar karena tidak ingin mengganggu acara lamaran mereka." Adam menoleh dan mendapati gadis itu sudah duduk di sebelahnya. "Yah, aku tidak suka mengganggu orang lain." Adam menjelaskan tanpa basa basi. "Mereka mengejutkanku mengembil keputusan yang cepat. Aku curiga mereka sudah lama pacaran." Hawa menduga-menduga, berpikir keras dengan sahabatnya. "Aku juga berpikir demikian karena Beno pernah bilang jika ia jatuh cinta dengan seorang wanita. Tapi, Beno tidak memberitahuku siapa wanita itu dan aku cukup terkejut mendapati Beno melamar Nina hari ini.” Adam terkekeh dengan Beno yang memberinya kejutan dahsyat menikah di saat masih kuliah. "Sudahlah, itu keputusan mereka justru aku senang sekarang." Hawa diam sejenak, lalu melanjutkan lagi dengan cepat, "jika kau tidak sibuk, aku ingin mengundangmu besok berkunjung ke toko rotiku? Kau bisa mencoba roti buatanku dan makanlah sebanyak yang kau mau." Hawa sambil tersenyum berharap Adam mau menerima ajakannya. Adam menatap gadis di hadapannya ini dengan kening berkerut, "Hm, apa aku bisa jamin kau tidak meracuniku di sana?" "Aku tak akan melakukan hal itu apalagi kau teman masa kecilku." "Baiklah, aku akan datang besok siang. Berikan aku alamat toko rotimu!" Hawa tersenyum dengan cerah, "Jalan Salak 127." Kata Hawa sambil memutar bola matanya dan menyodorkan selembar kertas iklan Toko Roti Bread Love. "Okay," Adam tersenyum sekilas, senyum yang jarang di berikan untuk orang lain. Dia heran, hari ini menurutnya Hawa sangat menarik dengan gaya yang feminim. Adam bersyukur berharap semoga ada perdamain di antara mereka. Hawa tersenyum. Semilir angin berhembus dan membuat beberapa helai rambut menutupi wajahnya. Adam langsung menyingkirkan rambut nakal yang berani menutupi wajah Hawa. "Kau sangat cantik dengan rambut terurai lepas." Adam memujinya dengan tulus. Saking gugupnya mendengar pujian itu pipi Hawa merona merah sambil menelan ludahnya sendiri. Lelaki itu tertawa sambil mengacak-ngacak rambut gadis itu. Hawa harus mengakui kalau paling suka senyum Adam. Senyum yang sangat mahal, tidak semua orang mendapatkan momen itu. Damian sudah lama berdiri di teras sambil menatap mereka. Rasa cemburu menyelinap di dalam hatinya. Rasanya, baru kali ini Hawa sangat dekat dengan orang lain selain dirinya. Damian tidak tinggal diam. Ia harus melakukan sesuatu. Akhirnya ia menghampiri Hawa dan duduk di sampingnya menyuruh Adam sedikit bergeser. Damian tersenyum ketika berhasil duduk di antara mereka. Adam sangat jengkel. Sialan, gumam batinnya dengan hati memanas. Damian datang begitu saja, lalu seenaknya duduk di tengah-tengah mereka sebagai pengganggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD