Berjam-jam di perjalanan menggunakan jet pribadi akhirnya dua insan itu turun dari jetnya. Beberapa Bodyguard menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang kembali Tuan," kata bodyguard itu sambil membungkukkan badan. Adam tak menggubrisnya berlalu begitu saja.
Hawa tersenyum bahagia saat tahu dirinya sudah sampai di tempat kelahirannya. Ia berjalan santai mengamati awan yang mendung, langit tak bercahaya seolah mentari sembunyi di balik gumpalan putih di langit malu-malu menampakkan sinarnya.
Hawa berlari meninggalkan Adam tak ingin pulang bersama lelaki itu lagi, Adam yang menyadari hal itu mengejar Hawa di kerumunan orang, ia begitu kesal karena gadis itu kabur takut mendapatkan hukuman yang di janjikan di mansionnya. Adam sengaja menunda hukuman itu karena ia begitu sibuk seharian mengurus perusahaan ayahnya hingga malam tiba, mereka berangkat terburu-buru setelah mendapatkan telepon dari Bu Bianka untuk pulang malam itu juga karena Ibunya sakit.
"Syukurlah, aku bisa kabur," seru Hawa dengan napas lega. Stok napasnya tinggal sedikit lagi, berlari dari Adam adalah keinginannya. Ia keluar dari bandara menuju Minimarket di pinggir jalan untuk membeli minum, dia merasa kehausan.
Setelah Hawa keluar dari Minimarket itu, hujan turun tanpa meminta persetujuan darinya membasahi seluruh area di kota itu. Ia begitu kesal baru saja dia ingin mencari taxi justru hujan membasahinya. Akhirnya, Hawa berteduh di halte di pinggir jalan. Tak hanya hujan deras, petir juga menggelegar dengan begitu hebatnya. Hawa ketakutan. Ia menutup telinga dan merasa sangat kedinginan. Sambil menggosok-gosokkan dengan jari untuk menghangatkan tubuh, ia melihat seseorang sedang berlari-lari ke arahnya. Dia terlonjak kaget melihat Adam sudah duduk di dekatnya dengan kondisi tubuh sedikit basah.
Astaga. Ternyata mereka berdua terjebak hujan deras dan harus bersama dalam satu atap. Hawa menampakkan wajah yang kesal namun tidak bisa berlari keluar untuk saling menghindar. Adam menemukannya disana ia tersenyum sinis saat mendekati gadis itu. Mereka duduk bersebelahan namun Hawa memilih menjaga jarak dengan pandangan begitu sinis.
"Kenapa kau mengikutiku ke sini?" kata Hawa dengan nada ketus.
"Mengapa aku harus melepaskan tawananku? Kau tahu betul hukumanmu belum selesai, kan?" jawabnya tajam.
Hawa hanya diam dan tidak mau memberi tanggapan, seolah yang berbicara tadi hanya angin ribut. Sekarang, gadis itu berdiri dan mendekati titik-titik hujan. Ia mengeluarkan tangannya dan membiarkan air hujan membasahinya. Sambil menutup mata menikmati butiran demi butiran berjatuhan di tangannya. Adan yang sedang memperhatikannya sangat bingung. Untuk apa gadis itu melakukannya?
"Apa yang sedang kau lakukan gadis aneh?" katanya sambil memperhatikan Hawa.
"Hanya ingin merasakan butiran-butiran air hujan," Jawabnya dengan nada nyolot tanpa menoleh sedikit pun. Hawa masih menutup matanya menikmati momen itu.
"Hm, apa manfaatnya merasakan hujan?"
"Banyak sekali, salah satunya aku bisa menangis sepuasnya di bawah hujan tanpa ada yang tahu aku menangis. Lagipula, saat aku merasakan air hujan jatuh di tanganku seluruh kesedihanku berlalu begitu saja." Sekarang Hawa membuka matanya sambil tersenyum ke Adam yang asik memperhatikannya.
"Benarkah? Aku tak percaya hal itu. Lebih baik rasakan ini sebagai hukuman keduamu!" Adam memercikkan air hujan ke wajah Hawa.
"Siapa takut! Aku sudah pulang sekarang. Jadi, kau harus rasakan pembalasanku." Hawa membalasnya dengan memercikkan air hujan juga sampai sebagian baju Kaisar basah. Mereka tertawa terbahak-bahak bersama tanpa mengingat masalah yang akan mereka hadapi.
Hawa dan Adam berhenti bermain air hujan, mereka tidak berhenti tersenyum saling bertatapan intens. Tiba-tiba seorang wanita melihat kejadian itu hatinya memanas. Ia segera berjalan menghampiri mereka.
"Bagus sekali kau sudah berlibur di New York menjadi J*l*ng Adam. Apa kau puas bermain ranjang dengan lelaki impianku?" Dila dengan nada marah menjambak rambut Hawa. Mereka terkejut dengan kedatangan Dila yang mengganggu kebersamaannya. Hawa memegangi rambutnya ingin melepaskan jambakannya. Nyaris saja Adam ingin mencekik wanita iblis itu.
"Tutup mulutmu! Aku tidak serendah itu." Hawa menatap tajam. Saking marahnya, ia menginjak kaki Dila agar jambakannya terlepas.
"Kenapa kau cemburu? Apa aku pernah bilang tertarik pada wanita ular sepertimu?" Adam melindungi Hawa d balik punggungnya.
"Jangan membelanya Adam! Aku hanya berurusan dengan j*l*ng itu." Dila mendekat berusaha meraih Hawa untuk memberinya pelajaran lagi. Sialan, batin Dila dengan hati memanas.
"Berani kau menyentuh Hawa lagi aku benar-benar akan melukai wajahmu yang menjijikkan ini. Kau bukan tipeku. So, pergi sekarang juga!" kata Adam dengan sangat ketus dan bersikap dingin seperti biasa.
"Adam! Kapan kau membuka hati untukku. Kamu sadar tidak, perasaanku padamu sudah terpendam sangat lama! Tapi, kau tak pernah peduli bahkan lebih memilih Hawa." Dila sudah tidak bisa lagi membendung air mata yang bercucuran.
"Kau harusnya sadar kalau aku benci semua yang ada dalam dirimu. Lagipula aku takkan mencintai gadis murahan. Aku juga tahu kau menyakiti hati Hawa dengan berselingkuh dengan Damian. Harga dirimu tak lebih baik dari seonggok kotoran." Adam berbicara berapi-api tak bisa menahan emosinya dengan perlakuan Dila.
Hati Dila serasa tertusuk pedang sangat dalam. Lelaki itu mengatakannya dengan sangat spontan tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.
“Jangan begini, Adam! Aku sangat mencintaimu. Aku tidur dengan Damian karena ingin membalas dendam." Dila mulai menetaskan air mata lagi menceritakan sebenarnya semua yang di lakukan untuk Adam.
Dan tangan Dila sudah memeluk tubuh Adam.
"Dila! Lepasin! Ini tempat umum, kau jangan mempermalukanku disini!" katanya sambil meronta dengan kasar, tapi gadis itu memeluknya dengan begitu kuat. Tidak tahu kenapa, hati Hawa sakit melihat adegan ini. Tidak tahu apa yang terjadi, semakin lama sakit itu semakin menggebu-gebu ketika matanya menatap kedua orang ini. Ia terpaksa membalikkan badan.
Sampai detik ini, Dila masih tetap memeluk Adam. Hawa tidak sanggup lagi berdiri di hadapan mereka. Akhirnya, ia memilih pergi meninggalkan mereka tanpa banyak bicara. Tidak peduli hujan masih turun dengan derasnya, tidak peduli tubuhnya akan basah kuyup kalau saja menerobos hujan detik ini juga. Ia tidak peduli.
"Pengawal beri gadis ini pelajaran karena berani menyentuhku!" bentak Adam pada dua bodyguardnya.
Adam langsung mendorong Dila untuk melepaskan pelukan itu, membiarkan Dila jatuh ke lantai tanpa perasaan. Dila menangis atas perlakuan kasar Adam yang..... Astaga! Lelaki itu menghancurkan perasaannya. Setelah pelukan mereka terlepas. Dua bodyguard itu menampar Dila hingga pipinya merah.
Adam meninggalkannya lebih memilih mengejar Hawa di bawah hujan. Dila bersumpah, dia bersumpah akan membalas dendam dan membuat perhitungan pada gadis itu. Hatinya terluka di permalukan seperti ini, Hawa selalu saja jadi penghalang cintanya pada Adam.
Adam mengikuti langkah Hawa dari belakang. Air hujan belum sepenuhnya membasahi tubuh mungil itu, jadi Adam semakin mempercepat langkahnya dan membuka jaket kulit warna putih yang dikenakannya.
Ia menarik tangan Hawa untuk berhenti sejenak dan menjadikan jaketnya sebagai teduhan. Ia membiarkan Hawa dan dirinya berteduh di bawah jaket itu. Jarak mereka sangat dekat. Tidak ada penghalang apapun. Postur tubuh Adam yang tinggi membuat Hawa lebih pendek ketika berjalan bersama sehingga Hawa sedikit minder.
Akhir-akhir ini entah angin apa yang membuat Adam memberikan perhatian lebih dari biasanya. Hawa menatap lelaki di hadapannya ini dengan perasaan..... Tidak tahu. Dia tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang.
"Demi Tuhan, kenapa kau selalu saja mengikutiku?" katanya dengan nada ketus.
"Karena aku ingin mengantarmu pulang. Tidak baik hujan-hujanan, Hawa. Sebaiknya kau ikut ke mobilku." Nada bicaranya datar, lalu ia mengajak Hawa berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Adam menyuruh supirnya keluar. Supir itu mengangguk mengerti, memakai payung pergi ke toko di seberang tanpa mengganggu tuannya ingin berdua saja dengan Hawa.
"Jangan mempedulikanku! Kau peduli saja dengan Dila, dia sangat mencintaimu."
"Kenapa kau membicarakan Dila? ” tanya Adam memancingnya untuk berbicara. Hawa tidak mau ikut dengannya tapi Adan memaksa gadis itu dengan menarik tangannya. Mereka berlari kecil mendekati mobil, Ia kemudian membuka pintu lalu cepat masuk ke dalam sana. Kini tinggal mereka berdua di dalam mobil saja. Hawa menaruh ranselnya di samping jok mobil.
“Jawab saja dengan jujur kau cemburu pada Dila karena memelukku. Iya, Kan?" Adam memajukan wajahnya menatap mata Hawa lekat.
"Kenapa harus cemburu? Aku bukan siapa-siapa dan itu bukan urusanku." Wajah Hawa memanas menahan degupan jantungnya yang terus berdetak takkaruan.
"Oke, kau tidak cemburu tapi, sakit hati. Itu, Kan maksudmu?"
"Tentu saja tidak," kata Hawa dengan nada tinggi.
“Kita lihat saja nanti." Adam tersenyum sinis menampakkan wajah datar, membuang muka ke arah lain.
Hawa yang merasakan rambutnya sangat basah membuka gulungan rambutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk menguraikan rambutnya. Dan pertama kalinya, ia melakukannya di depan Adam. Adam tidak bisa merasakan apa-apa kecuali mengakui dalam hati kalau Hawa sangat cantik dengan rambut terurainya. Beberapa detik setelahnya, gadis itu merasa ada tatapan mata yang memperhatikannya. Ia segera memukul kepala Adam.
"Auwww, sakit gadis aneh!" Adam meringis kesakitan.
"Curi perhatian padaku, Yah?" Hawa tertawa kecil.
"Aku tidak sengaja, lagipula kau tebar pesona di depanku," jelasnya membela diri.
"Rambutku basah aku perlu mengeringkannya dengan cara seperti itu." Hawa menjulurkan lidah dan tertawa.
"Aku pikir kau sedang mencoba menggodaku dengan melakukan hal itu." sekarang Adam mendekatkan wajahnya ke Hawa, lebih dekat lagi, bahkan jarak antara mereka tinggal lima senti. Hawa memundurkan kepala ke belakang dekat pintu kaca tapi Adam semakin mendekat. Hawa ketakutan hebat dan berpikiran bahwa Adam akan nekat melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Tapi... Melihat lelaki ini dari jarak sedekat ini membuatnya mengaku kalau Adam memang memiliki wajah yang sangat tampan sampai-sampai dia diam membeku dan tak melakukan apapun.
"Adam jangan menatapku! Kau harus mundur sekarang!" Hawa memalingkan mukanya dengan rasa gugup.
"Memangnya kenapa?" Adam menarik dagu gadis itu hingga mereka saling bertatapan intens, Hawa mulai terhipnotis dengan mata itu lagi. Adam mengambil kesempatan mencium bibirnya yang tampak menggiurkan lalu Adam melepasnya, ia memundurkan kepalanya menjauh dari wajah Hawa.
Kemudian tertawa melihat pipinya merona, gadis itu panik berhasil membuatnya salah tingkah. "Ciuman itu hukuman terakhirmu." kata Adam.
"Kau selalu menciumku tanpa persetujuanku. Aku mau keluar sekarang," rungut Hawa kesal. Ia meraih pegangan pintu mobil.
"Kau yakin tak takut keluar? Di luar hujan deras, gemuruh akan menyambarmu sampai gosong!" Adam menakut-nakutinya.
"Cuma anak kecil yang takut dengan omong kosongmu."
Pintu mobil terbuka. Adam mendekat untuk mencegahnya tapi Hawa berkeras hati mau keluar. Tepat ketika kakinya melangkah keluar, gemuruh dan kilat menggelegar hebat. Hawa berteriak histeris dan langsung berbalik. Tanpa sadar memeluk seseorang sangat erat. Gadis itu kelihatan sangat ketakutan.
Hawa membuka mata dan sadar bahwa ia telah memeluk lelaki ini. Pipinya langsung memerah seperti kepiting rebus. Adam kembali menutup pintu mobil.
“Sorry." hanya satu kata singkat yang terucap dari mulut gadis itu.
Hawa, aduh, apa sih yang loe lakuin? Bodoh... Bodoh... Gerutunya dalam hati.
"Katanya tidak takut?" Adam tertawa lepas. Sebenarnya tadi dia ingin sekali membalas pelukan gadis itu, tapi sangat takut dan gengsi.
"Tadi aku hanya terkejut saja."
"Kau pintar sekali mencari alasan" Adam tertawa sambil mengacak-acak poni Hawa.
Hawa jengkel Adam memandangnya dengan tatapan meledek. Akhirnya ia memukul lelaki itu berkali-kali namun, tidak satupun pukulannya mendapat balasan. Adam hanya menghindar dan tertawa geli.
Akhirnya Hawa menatap keluar ke kaca mobil. Hujan masih turun dengan sangat deras. Hawa merasa hari ini sangat sial dia harus terjebak hujan bersama monster seperti Adam. Kalau boleh jujur, dia ingin sekali menghilang walau hanya sekejap.
Namun, Hawa masih malu dengan apa yang sudah terjadi. Hawa mencoba menyandarkan kepalanya ke sandaran jok dan membiarkan matanya tertutup dengan tenang. Adam menoleh melihat Hawa tertidur lalu mengeluh dalam hati.
Adam menghela napas panjang menatap jendela dan meraih gadget bermain game sambil menunggu hujan reda.
Setelah empat puluh menit berlalu, hujan mereda. Hawa masih tertidur pulas. Adam menyentuh kepala gadis itu dan mengelus rambutnya. Sewaktu hujan tadi Adam bisa saja mengemudikan mobil membawa Hawa pulang tapi hatinya berteriak agar mereka lebih lama bersama.