Beberapa menit kemudian Adam sampai di mansion dengan Hawa, gadis itu hanya diam saja di mobil. Hawa berkali-kali mendesah. Entah, apa yang di pikirkan tapi Adam tahu kalau dirinya tampak gelisah memikirkan kata-kata mengenai hukuman itu.
Adam mempercepat langkah memasuki kamar yang tampak rapi, Hawa mengekor di belakang. Adammandi air hangat untuk menghilangkan rasa lengket di badan. Hari ini benar-benar sangat melelahkan, pekerjaan di kantor Papanya benar-benar memusingkan kepalanya. Lelaki tua itu tahu Adam di New York bersama Hawa. Sungguh, ia pusing mendengar celotehnya yang menyuruh membereskan pekerjaan yang menumpuk di kantor karena belum kembali dari Thailand.
Adam tadi menelpon pelayan di rumah apakah Hawa sudah pulang tapi pelayan itu mengatakan gadis itu belum pulang padahal sudah malam. Kota glamour ini memperdaya Hawa melupakan jam pulangnya, ia merasa kesal dan menelpon Pak Krish, dia semakin kesal saat tahu Hawa pergi sendirian ke Times Square tanpa pengawasan Pak Krish.
Mobil Adam tadi melaju begitu kencang tampak khawatir dengan kecorobohannya. Hawa pertama kali menginjakkan kaki ke New York, mana mungkin ia membiarkannya sendirian yang tidak tahu jalan. Sepuluh menit menunggu di dalam mobil yang di kemudikan Pak Krish, gadis itu datang.
Hawa begitu terkejut melihat Adam, wajahnya tampak menggemaskan. Hukuman yang Adam berikan semakin membuatnya kesal. Ia begitu menikmati kepolosannya yang ingin protes. Saat ia menarik Hawa masuk ke mobil gadis itu jatuh ke pelukannya, Adam merasa damai bersamanya tapi dia takkan mengakui hal itu. Keputusan yang terburu-buru bisa saja menjebak.
"Gantai pakaianmu! Lalu terima hukuman dariku," kata Adam setelah keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk yang melilit bagian bawahnya, memperlihatkan tubuh yang kekar dan Six Pack.
Setelah Hawa keluar dari ruang ganti Adam melihat gadis itu memakai baju baju piyama Doraemon dan tampak lucu. Hawa berteriak kencang karena melihatnya bertelanjang d**a.
Arrghhhh...
"Apa-apaan kau ini? Kau seharusnya keluar memakai baju, aku tidak mau mata suciku ini ternoda karena melihatmu," teriak gadis itu sambil menutup matanya. Benar-benar sangat polos. Adam mulai berpikir apa gadis ini dulu tinggal di gua sendirian sampai-sampai terkejut melihatnya bertelanjang dadaa. Dalam dunia Entertaiment para model biasanya bertelanjang dadaa.
"Haha, kau gadis yang lucu," tawanya menggema mendekati gadis itu yang selalu mundur menghindar.
"Dasar m***m! Sebaiknya kau cepat kenakan pakaianmu. Aku akan ke kamar mandi."
Ia lihat gadis itu lari ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi. Adam hanya tertawa melihat tingkah polosnya, lalu mencari baju tidur keluar dari Walk in Closet.
"Apa bisa hukumannya besok saja? Aku benar-benar lelah hari ini," tawar Hawa memohon padanya agar Adam mengasihaninya. Ia melihat wajahnya memang kelelahan dan mengantuk.
"Aku ingin hukumannya hari ini. Kau hanya lelah berkeliling saja," bentaknya pada Hawa yang memanyungkan bibirnya kesal. Adam tak akan terpengaruh dengan alasan gadis itu.
"Kau benar-benar menyebalkan!" teriaknya pada Adam.
"Berani sekali kau berteriak padaku. Sudah kuputuskan aku tak akan membawamu pulang ke Indonesia," ancam Adam dingin. Gadis itu hampir saja menangis memohon padanya.
"Aku minta maaf telah meneriakimu tapi bawa aku pulang, Yah. Aku siap menerima hukuman apapun asalkan kita pulang ke Indonesia." Hawa memegang tangan Adam pasrah, sebisa mungkin membujuk agar berubah pikiran. Mata Adam tajam menatapnya, menakut-nakuti gadis itu.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Sekarang hukuman pertama untukmu menulis namaku 1000 kali." ia tersenyum sinis menyuruhnya mengambil kertas dan pulpen di laci meja dekat jendela. Hawa menuruti perintahnyabmulai menulis nama Adam. Senang sekali rasanya melihat Hawa memohon padanya. Dendam yang telah lama akhirnya bisa terbalaskan.
"Tulislah namaku dengan baik. Aku tidak ingin kesalahan satu huruf pun atau kau akan mengulangnya dari awal lagi."
"Kau! Mengancamku?" tegasnya pada Adam. Lalu Hawa mendesah pelan melanjutkan tulisannya. "baiklah, aku mengalah. Nama anda akan tertulis rapi tanpa kekurangan sedikitpun Tuan Adam." lanjutnya lagi. Hawa mengejekku seolah menegaskan gelar itu sebagai orang yang suka memerintah. Dia melihat tangannya mengepal menahan amarah ingin membalasnya.
"Bagus, jadilah peliharaan yang penurut." Adam mengelus kepalanya menyemangati.
"Kau kira aku binatang. Istirahatlah! Aku tidak ingin di ganggu sekarang."
"Selamat di hukum Nona Hawa. Aku tidur dulu." merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk, melihat gadis itu serius menulis. Lucu sekali menyiksanya, itu adalah hukuman paling cocok dengannya. Sebelum Adam tertidur kakinya terasa sangat pegal.
"Hey! Kau kemarilah pijat kakiku! Aduh ..., Sakit sekali," Keluhnya bohong pada Hawa yang tetap mengabaikannya.
"Jika kau tidak kemari jangan salahkan aku mengurungmu besok di kamar." ingin rasanya Adam terbahak. Gadis itu pasti akan menuruti perintahnya.
"Kau suka sekali mengancam dan menindasku. Menyebalkan sekali!" teriaknya naik ke atas ranjang mulai melakukan aksinya. Tangannya mulai memijat perlahan dan membuatnya mengantuk, dua detik kemudian dia memijatku dengan sangat keras membuat mataku tidak ingin tidur lagi.
"Berhenti memijat! Sebelum kakiku lebam karena pijatanmu. Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku tidak ingin di pijat lagi." Ia menyerah bertahan pada pijatannya yang terasa mencubit. Hawa mengerjakannya dengan setengah hati. Aku juga melihatnya tertawa telah mengerjaiku.
"Jangan senang dulu! Aku akan membalasmu besok."
Hawa mengabaikannya tak menoleh sedikitpun hanya fokus menulis nama. Besok Adam berencana akan membawanya pulang ke Indonesia. Mama tidak berhenti menelpon menanyakan kapan anak gadis orang kubawa pulang, Adam tahu Mama sangat sayang pada Hawa bahkan ia berencana menjodohkannya setelah menyelesaikan megister Adam. Jujur saja, Hawa berbeda dengan gadis lain yang berlomba mendekatinya. Tapi teman kecilnya itu, tak merasa Adam menarik bahkan selalu saja menolak ajakannya pergi bersamanya.
Ia benar-benar istimewa menarik perhatian, mungkin saja di masa depan Adam bisa memilikinya setelah ia benar-benar yakin memilihnya. Adam tahu dia takkan mengecewakannya karena dia sebagaian masa lalu. Hawa anak baik apalagi pada ibunya yang selalu di hargainya bahkan Adam tahu Hawa bukan wanita pecinta uang, gadis itu pekerja keras dan mandiri.
Sayangnya, dia pernah terluka oleh Damian. Berdasarkan informasi yang pengawal Adam katakan kalau Hawa terpaksa menerima Damian sebagai pacarnya karena desakan Marsha yang ingin Hawa bahagia. Selama menjalin hubungan dengan Damian gadis itu hanya menganggapnya sebagai Kakak. Adam benar-benar marah melihat Hawa menangis waktu itu, di pikiranku hanya ingin membawanya pergi jauh dari semua kesakitannya.
Alam bawah sadar mulai menguasainya, perlahan mata tertutup tapi masih mendengar suara-suara angin yang berhembus. Rintik hujan mulai terdengar di balik jendela kamar, menetes di dedaunan, menghalau semua makhluk untuk segera berteduh. Hujan pertanda kenangan yang tak ingin di lupakan. Banyak orang yang mencintai hujan termasuk aku. Hujan sangat istimewa untukku.