Jalan-jalan

1392 Words
Setelah sampai di kamar Hawa keluar ke balkon menghirup udara yang segar, sapuan angin menerbangkan rambutnya kesana kemari. Hawa sangat bahagia di sini. Berkat Adam ia bisa datang ke New York. Tempat ini sangat indah, budaya yang sangat berbeda di Indonesia, budaya penduduk Amerika yang cenderung lebih santai dan informal. Hawa mengingat kartu kredit yang Adam berikan tadi untuk pergi berbelanja. Tentu saja dia ingin membeli barang branded seperti tas, jam tangan, sepatu, dan baju. Jarang sekali Hawa mendapatkan kesempatan ini, menikmati kota yang paling ingin di kunjungi. Hawa memutuskan hari ini akan pergi berbelanja dan melihat seluruh kota yang di juluki Big Apple. Langkahnya teramat cepat masuk ke kamar, ia ingin mengganti pakaian dan pergi berbelanja, hari ini Hawa pergi ke Woodbury Common Premium Outlets dan Times Square. Dia berjalan mencari Pak Krish untuk mengantarnya kesana. "Nona sudah siap?" Pak Krish tersenyum mempersilahkan Hawa masuk ke dalam mobil. "Aku sangat siap." dia tersenyum bergegas masuk ke dalam mobil. Kecintaannya pada kota New York membuat Hawa menghafal semua tempat di sini. Woodbury Common tempat belanja yang dibuka sejak 1985 itu. Bukan terletak di jantung kota New York, melainkan di kawasan Central Valley. Lebih dari 200 butik brand ternama berada di sana. Woodbury Common salah satu Outlet terbesar di dunia karena begitu banyak dan beragamnya toko-toko. Style Hawa hari ini hanya mengenakan baju kemeja hitam dan celana Chino, di padu sepatu boot coklat. Menggulung rambut agar tampak santai, sesuai dengan style budaya di sini. Tak lama kemudian mereka sampai di Woodbury Common. Agar mudah menjelajah Woodbury Common, Hawa mengambil peta di area Market Hall agar tidak tersesat. Dari peta tersebut ia lihat, kawasan Woodbury Common dibagi menjadi lima bagian. Tiap-tiapnya memiliki warna berbeda, yaitu ungu, biru, merah, hijau, dan oranye. Area berwarna ungu, pecinta belanja bisa menemukan butik brand dan desainer high end seperti Tory Burch, Fendi, Oscar de la Renta, Balenciaga, Dolce & Gabbana, MaxMara, Celine dan lain-lain. Jika ingin mencari sepatu olahraga seperti Adidas, Nike dan lain-lain kita bisa ke area berwarna oranye. Harga-harga yang ditawarkan di Woodbury Common terbilang sangat murah. Karena mereka memberikan harga diskon 50% sampai 70%. Mata Hawa masih memilih tempat mana yang terlebih dahulu ingin di kunjungi. Lama berpikir dia teringat Bu Leni untuk menelponnya. Hawa merogoh saku celana menekan tombol ponsel untuk menghubunginya di Indonesia, Hawa sangat rindu dengannya. Beberapa hari di kota New York membuatnya rindu. "Halo, Ma." suara Hawa serak tampak senang. "Halo, Hawa. Kenapa baru menghubungi Mama? Kamu mau lihat Mama mati disini, pergi ke New York tidak pamit." Suara tangisannya terdengar jelas. Hawa tahu dia sangat cemas karena dia pergi begitu saja. "Maaf, Ma. Hawa mendadak pergi. Aku di sini baik-baik saja. Sebentar lagi aku akan pulang. Mama jangan khawatir, yah." Hawa berusaha menghibur Mamanya dengan mengatakan hal itu. "Kalau sampai kamu kenapa-kenapa Mama akan memarahi Adam." suaranya penuh peringatan. Aku tertawa, "Adam menjagaku dengan baik di sini, Ma. Aku sekarang berbelanja di toko branded terkenal dan akan membelikan Mama ole-ole." "Baiklah, Cepat pulang!? Mama sangat merindukanmu," kata Bu Leni pasrah. "Iya, Ma." Hawa menutup telfon dengan tersenyum. Menyimpan ponsel dan membaca peta itu lagi. Selesai membaca peta itu, akhirnya ia putuskan memasuki area berwarna ungu butik brand Tory Burch dan mencari tas di sana. Hampir saja air liur Hawa jatuh menatap tas mewah yang asli bukan KW dengan berbagai macam bentuk dan model yang elegan. Matanya berbinar melihat tas Tory Burch hitam Shoulder Bag bahannya terbuat dari Nilon dan harganya diskon. Tanpa pikir panjang Hawa membayarnya di kasir setelah menemukan model yang cocok. Ia berkeliling kesana kemari hingga satu jam untuk memilih tas, jam tangan, dan sepatu branded di beberapa outlet seperti Gucci, Charles & Keith, dan Alexandre christie. Berkeliling benar-benar membuatnya lelah, kantong belanjaan Hawa sangat banyak memenuhi tangan Pak Krish yang setia membawanya. Menghabiskan uang di kartu kredit milik Adam takkan membuatnya miskin, ia bisa saja membeli lebih banyak lagi tapi Hawa benar-benar kelelahan. Dua membeli semua ini untuk Bu Leni dan karyawan di toko, semoga saja Adam tidak marah. "Kita ke Times Square, yah. Pak," perintahnya pada lelaki tua itu. "Baik, Nona." Hawa berpose cantik mengembil foto di area itu untuk kenangan di masa depan sebelum meninggalkan Woodbury Common. Perjalanan selanjutnya di Times Square, Hawa mendesah panjang di dalam mobil meregangkan otot-otot kaki yang kelelahan. Ia menengok jam yang menunjukkan pukul 5 pm. Hawa akan pulang setelah jam 7 pm sebelum Kaisar sampai di rumah. Setelah sampai Hawa turun dari mobil, Pak Krish hanya menunggu di mobil atas perintahnya. Times Square ini menjadi kawasan wisata perbelanjaan yang menjadi incaran para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Persis di tengah Times Square terdapat Gedung One Times Square yang dinding luarnya dipasangi papan iklan dan televisi berlayar lebar menjadikan Times Square lebih indah. Di kawasan wisata ini, Hawa bisa mengunjungi Broadway untuk menyaksikan aneka pertunjukkan teater yang mengagumkan. Inilah alasannya datang ke tempat ini. Begitu banyak orang berjalan kaki menikmati keindahan Times Square. Broadway berada di persimpangan antara jalan Broadway dan Seventh Avenue yang membentang dari West 42nd hingga West 47th. Times Square menjadi salah satu persimpangan jalan yang cukup sibuk selain di daerah Shibuya di Jepang. Bahkan Times Square mendapatkan julukan The Crossroads of The World. Hawa tahu semua tentang kota ini, hanya saja ia baru datang menyksikan keindahannya. Hawa benar-benar bersyukur bisa datang ke sini apalagi tanpa Adam yang suka memerintah. Hawa menuju ke kawasan wisata yang cukup ramai, menggunakan kereta bawah tanah menuju ke Station Co, 1180 Avenue of the Americas yang dilanjutkan berjalan kaki ke West 47 yang akan memakan waktu sekitar 7 menit. Mungkinkah ia benar-benar jahat meninggalkan Pak Krish, tapi Hawa tidak peduli, Adam tidak mungkin tahu dia tidak bersama lelaki itu. Sesampainya di kawasan wisata, terdapat area plaza yang dilengkapi dengan tempat duduk dan meja di sepanjang plaza tersebut. Hawa bisa menggunakan fasilitas ini sembari menikmati aneka makanan dan minuman yang bisa aku beli di sekitar restoran di sepanjang area plaza. Sembari menikmati makanan, ia melihat pemandangan lalu lalang para pengunjung Times Square. Di kawasan wisata ini Hawa juga mengunjungi beberapa obyek wisata. Mulai dari Studio ABC, Ripley’s Believe It or Not Museum hingga Madame Tussauds. Setiap kawasan wisata Hawa hanya menikmati setengah jam saja. Ia takut berlama-lama dan waktunya akan habis hanya di kawasan ini. Hawa juga melihat banyak terdapat bioskop dan restoran yang siap menampilkan aneka pertunjukkan film. Selain itu terdapat teater yang setiap hari siap memanjakan para wisatawan dengan aneka pertunjukkan teater yang sangat menarik. Dia melihat jam sudah pukul 7 Hawa segera pulang dan menghampiri Pak Krish yang berdiri tegak di samping mobil seolah menunggu. Mata Hawa terbelalak membuka pintu mobil melihat Adam duduk manis di dalam sana. Demi Tuhan, apa ia sedang bermimpi? Tentu saja tidak, lelaki itu memang teman kecilnya. Hawa cengengesan menggaruk tengkuk yang tidak gatal, entah apa yang harus dia katakan pada Adam apalagi Hawa pergi sendiri tanpa pengawasan sedikitpun. Selamatkan aku Tuhan! "Apa kau sudah puas berbelanja dan keliling kota?" tanya Adam melipat tangannya ke dadaa menunggu jawaban Hawa. "Aku benar-benar puas hari ini," jawabnya menampakkan senyum terbaik. Tak ingin menampakkan kecemasan. "Hari ini kau membuat kesalahan dengan pergi sendirian berkeliling ke Times Square tanpa pengawasan Pak Krish. Kota ini tidak cukup baik untukmu, bisa saja orang jahat membunuhmu. Dan untuk kesalahan itu kau akan di hukum," jelasnya panjang lebar menatapnya yang sudah gemetar ketakutan. "Tapi, aku--" Hawa ingin membela diri tapi lelaki itu menarik tangannya hingga ia terhuyung ke dalam mobil langsung memeluknya. "Kesalahan kedua karena mencari alasan untuk membantahku, aku akan menambah hukumanmu." Adam berbisik di telinganya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Hawa. Kakinya sudah gemetar, tangan berkeringat dingin melihat Adam yang berwajah datar. Hawa ingin bicara tapi di potong olehnya. "Mau menambah kesalahan lagi?" tanyanya. Hawa menggeleng tidak akan berbicara lagi. "Aku lupa, kau punya kesalahan lagi karena membuatku menunggu. Jadi, tunggu saja hukumanmu setelah tiba di rumah." Ia tersenyum kecut melihat Hawa yang merasa frustasi mendengar hal itu. Seandainya saja ia punya pisau Hawa akan bunuh diri sekarang juga. Dia memundurkan kepala menjauh dari Adam lalu menarik gagang pintu mobil untuk menutupnya. Mata Hawa melirik Adam yang tersenyum melihat tingkah yang polos. "Jalan, Pak!" perintah Hawa pada Pak Krish. "Kau yang membayar gajinya atau aku? Kenapa harus menuruti perintahmu." Tegas Adam menoleh ke arahnya "Baiklah, Tuan Adam silahkan perintahkan supirmu agar segera mengemudi," sindirku padanya dan membuat Adam terkekeh melihat ekspresinya yang tampak kesal. Adam menjadi mimpi burukku hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD