Apa Ternoda?

1012 Words
Pagi itu cuaca cerah tidak menampakkan tanda akan turun hujan. Semalaman hujan turun sangat deras tidak membangunkan dua insan yang tertidur dalam satu ranjang. Hawa membuka matanya perlahan dan merasa perutnya di himpit sesuatu yang menurutnya cukup berat. Selimut yang menutupinya, ia buka perlahan ingin melihat benda itu. Hawa terkejut setengah mati melihat tangan yang memeluknya. Aaaahhhh! Hawa berteriak kencang melihat Adam di sampingnya. Adam terkejut mendengar suara itu, seluruh saraf di tubuhnya menegang, gendang telinganya terasa ingin pecah. "Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau dikamarku?" Hawa menggeser tubuhnya menjauh dari Adam memutar memori terakhir ingatannya yang tertidur di mobil. "Aku akan menjawab pertanyaanmu yang pertama, aku tidak melakukan apapun padamu semalam aku hanya tidur di sampingmu. Pertanyaan kedua, ini mansionku, ini kamarku aku berhak tidur dimana saja. So, jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku." Adam berbicara serius melihat mata Hawa yang tampak ketakutan. "Kau pasti bohong! Kau meniduriku semalam, Kan? Kau harus tanggung jawab, hikss ..., hikss .... " Hawa menangis sambil menunduk merasa ternodai. "Demi Tuhan! aku tidak melakukan apapun padamu jadi berhentilah menangis. Coba periksa apa yang di bawah terasa perih?" Tanya Adam menunjuk bagian bawah sensitif Hawa. Gadis itu menggeleng, "dasar bodoh! Itu tandanya aku tidak menidurimu. Kau benar-benar gadis yang polos dan merepotkan." hampir saja Adam dibuat pusing oleh gadis di depannya ini. "Apa perlu aku menunjukkan CCTV kamarku agar kau percaya?" tanya Adam sekali lagi melihat mimik muka gadis itu masih tidak percaya. "Tidak perlu," jawab Hawa malas memaksakan dirinya bangkit dari ranjang untuk berendam di bathtub membuang pikiran kotornya terhadap Adam yang merasa tidak adil dengan tuduhan gadis itu. Hawa merasa memang bodoh jika berpikiran terlalu jauh, Adam dan dirinya jauh dari level selera lelaki itu. Cantik hanya pas-pas-an, pintar hanya di bawah rata-rata, apalagi kaya, itu terlampau jauh. Seharusnya Hawa sadar mereka beda kasta dan selera. Adam merasa frustasi menghentakkan kakinya kelantai harus berpikir keras di pagi hari padahal dia ingin sekali istirahat penuh hari ini, masalah yang di alami datang silih berganti serta Hawa sangat merepotkan untuknya. Mungkin Adam butuh obat penenang menghilangkan pening di kepalanya sejak tadi mendengar celoteh gadis itu. Lima belas menit berendam di kamar mandi, Hawa keluar bernyanyi riang gembira masuk mengembil pakaian di walk in closet. Ia merias wajahnya di cermin dan mendengar ketukan pintu. "Masuklah!" teriak Hawa menghentikan aktivitasnya melihat Maid itu masuk lalu membungkukkan badannya. "Nyonya, Tuan muda memerintahkan anda untuk sarapan dengannya di meja makan." "Baiklah, aku akan turun." Hawa tersenyum menatap kepergian Maid itu. Ia sudah rapi perlahan menutup pintu dan berjalan ke bawah, Hawa mempercepat langkahnya, ia tahu Adam tidak suka menunggu. Sudah cukup pertengkarannya pagi ini. "Lain kali jangan membuatku menunggu. Aku tidak suka gadis yang tidak tepat waktu." sorot mata Adam penuh tanda tanya. Ia memasukkan Desert terakhir ke dalam mulutnya. "Maaf! Aku tak akan mengulanginya lagi," jawab Hawa pasrah meraih Waffle yang di atasnya di tuang madu dan buah cherry sebagai hiasan. Terlihat menggiurkan menggugah rasa lapar yang terasa mencekik di perutnya. Adam menyudahi sarapannya, berdiri dari meja makan. "Ini kartu kredit untukmu. Pakailah sesukamu, beli barang yang kau suka. Pak Krish siap mengantarmu berbelanja." Adam menyodorkan benda pipih persegi panjang, Hawa bungkam tak bisa mengungkapkan kata-kata. Bagaimana mungkin Kaisar menjadi sebaik ini. "Terima kasih." rasa bahagia mewakili hatinya hingga hanya kata itu yang terucap. "Aku akan terlambat pulang. Jadi kau bisa keluar kemana saja tapi kau harus ada di mansion sebelum aku pulang. Jika tidak, aku akan menghukummu." Adam mencoba memperingati gadis itu. Adam ingin sekali istirahat hari ini menunda semua pekerjaannya tapi pagi-pagi Hawa mengacaukan semuanya membuat lelaki itu malas tinggal di mansion. Waffle yang Hawa makan begitu enak sehingga mengangguk saja pada perintah Adam. Ia benar-benar menyebalkan. Segala keinginannya harus di turuti. Hawa menatap lelaki itu memakai jas dan sepatu di bantu oleh para pelayan. Ia menghampiriku, "kau jangan pernah membuatku marah atau kau tidak akan pernah kembali ke Indonesia." Adam mengacak rambutnya lalu berjalan keluar. "Awas saja! Jika kau tidak membawaku pulang, aku akan membunuhmu." Hawa berteriak menghentikan aktivitas makannya mengejar Adam yang bersiap masuk ke mobil. "Coba saja, kalau kau bisa." tertawa sinis menutup pintu mobilnya meninggalkan Hawa yang berceloteh asal mendengar penuturan Adam yang menyebalkan. "Kalian lihat, Kan Bos kalian yang sok berkuasa itu? Aku benar-benar kesal dengannya," kata Hawa berbicara pada dua pelayan di belakangnya. Para Maid itu hanya tersenyum tidak berani memberi komentar. Bukan hanya pekerjaannya yang hilang tapi nyawanya juga menjadi taruhan. Mereka tidak berani menatap tuannya apalagi melakukan kesalahan sedikitpun. Hawa pergi ke taman belakang di mansion, mengagumi bunga-bunga yang mekar. Ia tahu musim semi telah tiba di negara itu. Ia memetik salah satu mawar merah dan mencium wanginya yang semerbak. Sungguh Hawa merasa jadi paling beruntung menikmati semua yang Adam berikan selama di New York. Tukang kebun di mansion menghampiri gadis itu yang sibuk mengagumi bunga yang sudah lama di rawatnya. "Nyonya, masih banyak bunga lebih indah lagi di taman belakang. Jika Nyonya mau saya akan mengantar anda kesana." lelaki paruh baya itu tampak ramah memegangi gunting rumputnya. "Benarkah? Bawa aku kesana aku akan melihat bunga itu." ia sangat gembira mendengarnya. Hawa mengikuti tukang kebun yang berjalan terlebih dahulu dengan dua Maid menuju taman belakang. "Bunga ini sebenarnya milik Tuan Charles. Dia menanamnya sendiri karena istrinya sangat menyukai bunga. Setelah bunga bermekaran Tuan Charles akan memberikan kepada istrinya sebagai tanda cintanya." lelaki itu tersenyum seolah membayangkan kisah cinta mereka berdua. "Wah, aku jadi iri dengan kisah cinta mereka yang begitu romantis." "Tentu saja semua orang merasa iri dengan mereka setelah air mata kesedihan di masa lalu. Akhirnya, mereka bisa bahagia selamanya." Hawa mengerutkan kening tanda tidak mengerti dan tak ingin bertanya lebih jauh. "terimakasih telah mengajakku berkeliling. Aku akan kembali ke kamarku sekarang." pamitnya pada lelaki paruh baya itu yang mengangguk. "Selamat beristirahat, Nyonya. Saya harap anda tak akan menyakiti Tuan Adam. Jangan membuat dia kecewa karena saya merasa tuan Adam menaruh hati pada anda. Sekalipun dia bersikap dingin." mendengar hal itu Hawa bungkam, tubuhnya mendadak kaku. Kenapa semua orang di negara ini menganggap Hawa orang yang spesial. Gadis itu tidak mengerti apapun, ia hanya mengangguk berlari meninggalkan taman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD