[4] Pegawai Restaurant

1606 Words
Inggit terbangun di pagi hari saat merasa sinar matahari mulai menyeruak masuk ke celah jendela kamarnya. Tubuhnya menggeliat saat merasa suhu yang semakin panas karena mentari semakin menunjukan jati dirinya. Dengan malas, Inggit bangkit dari tidurnya dan mengusap matanya. Matanya melihat ke arah jam dinding yang tepat berada di seberang pandangannya. "Sudah jam 7," gumamnya lalu menggeser tubuhnya dan turun dari tempat tidurnya. Kakinya langsung melangkah menuju kamar mandi dan mengambil sebuah sikat gigi kemudian mengoleskan pasta gigi ke atasnya. Sembari menggosok gigi, Inggit menatap pantulan dirinya dari cermin yang ada di hadapannya. Pikirannya kembali teringat pada kejadian 2 bulan. Hingga saat ini, wanita itu masih bertanya kemana perginya Bisma dan mengapa pria itu menghilang tanpa kabar? Tanpa ia sadar, tangannya bergerak menuju ke perutnya yang mulai membuncit. Usia kandungannya telah menginjak usia 3 bulan. Berulang kali dirinya menguatkan diri bahwa semuanya akan baik - baik saja meski hanya ada dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya. "Kau tidak boleh bersedih. Ingat semua akan berlalu. Ayo kita bekerja setelah itu melanjutkan kuliah lagi dan menjadi seorang single mommy yang kuat untuk anakmu sendiri," gumam Inggit lalu memuntahkan busa pasta gigi dari mulutnya dan membersihkannya dengan berkumur. Setelah menggosok gigi, wanita itu lantas melanjutkan kegiatannya dengan membersihkan dirinya dan melanjutkan aktifitasnya yang lain. Sejak ia hamil, Inggit berhenti dari kuliahnya, dan otomatis beasiswa yang selama ini menanggung kehidupannya ikut terhenti. Sebetulnya itu memang direncanakan saat masih bersama Bisma, tapi karena Bisma pergi tanpa kabar, Inggit terpaksa menanggung beban sendirian. Selain bekerja di bar pada malam hari sebagai seorang bartender minum alkohol, Inggit mengambil pekerjaan lain sebagai seorang cleaning service dan juga seorang pelayan di salah satu restaurant yang ada di Kota Jakarta. Wanita itu melakukan pekerjaan ganda untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mengumpulkan uang untuk keperluan bersalinnya nanti. Setelah selesai membersihkan diri, Inggit langsung mengambil seragam kerjanya seperti biasa dan menatap pantulan dirinya pada cermin yang kini berada tepat di hadapannya. "Sepertinya sudah cukup," gumam Inggit saat melihat dirinya yang kini telah siap dengan seragam kerjanya. Berulang kali Inggit memperhatikan ke arah perutnya yang kian menyembul karena usia kandungannya yang sebentar lagi akan menginjak usia trimester ke 2. Inggit mengambil tas selempang miliknya dan akhirnya keluar dari kontrakan kecil yang ia tempati, untuk selanjutnya pergi ke Jakarta dan bekerja seperti biasa. Setidaknya untuk saat ini Inggit beruntung karena ia memiliki tempat tinggal berupa kost kecil yang ada di sekitar area kampusnya. Dan untungnya Inggit telah membayar tempat itu sampai 2 tahun ke depan. Jadi untuk sementara ia tak perlu memikirkan biaya tempat tinggalnya. Baru saja beberapa langkah keluar dari kost nya, tiba - tiba hujan mengguyur Kota Depok. Inggit yang baru saja keluar dari tempat kost terpaksa harus berlari menuju halte bus terdekat untuk berteduh. "Padahal tadi langitnya tampak cerah, kenapa sekarang jadi hujan?" ujar Inggit sembari melihat ke arah langit yang kini kian menggelap. Sebuah bus berwarna biru pun melintas di hadapannya dan langsung berhenti. Inggit buru - buru langsung masuk ke dalam bus yang akan mengantarkannya menuju ke Jakarta, tempat ia bekerja. Selama perjalanan, Inggit hanya menatap ke arah luar jendela sembari mengamati hujan yang semula turun dengan deras dan kini kian mereda. Tanpa Inggit sadari, tempat pemberhentian busnya sudah berada di depan mata. Inggit buru - buru berdiri dari duduknya dan memberitahu akan turun di halte depan. "Halte depan ya, Pak," ujar Inggit. Sang supir pun menganggukan kepalanya sebagai tanda ia mengerti dan mendengar dengan ucapan Inggit barusan. Benar saja, sang supir langsung memberhentikan bus nya tepat di depan halte yang bersebrangan dengan restaurant tempat Inggit bekerja. Ada sebuah keuntungan bagi Inggit karena bekerja di tempat yang lokasinya bersebrangan dengan halte bus. Setidaknya ia tak perlu berjalan jauh lagi. Hujan telah berhenti turun, tapi jalanan masih basah akibat air hujan dan kini tinggal meninggalkan bau asa. Inggit menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang. Dan ketika jalanan sepi, wanita itu langsung menyebrang dan masuk ke dalam restaurant tempat ia bekerja. Seoranng pelayan pria lain tersenyum mendapati Inggit yang baru saja masuk ke dalam area restaurant. "Selamat pagi Inggit. Wah kau kehujanan?" tanya pelayan pria itu saat melihat Inggit yang baru saja memasuki restaurant. Inggit tak menjawab, ia hanya berjalan masuk ke area belakang yang dikhususkan untuk karyawan lalu menggunakan apron yang biasa ia gunakan dan menatap pria yang rupanya tadi bertanya dan kini mengikuti dirinya untuk bersiap. "Depok hujan. Padahal tadi langitnya cerah," ujar Inggit. Setelah selesai mempersiapkan dirinya di belakang, Inggit pun langsung melewati pria yang tadi menghalangi jalannya dan langsung pergi menuju ke tempat peralatan. Lagi - lagi pria tadi mengikutinya dan menatapnya. "Bukankah kau seharusnya bekerja, Pirez?" tanya Inggit sembari mempersiapkan pembersih meja yang akan ia gunakan untuk membersihkan meja sisa makan pelanggan tanpa melihat ke arah Pirez. "Aku hanya sebagai kasir hari ini. Oh ya, kau berarti shift siang kan? Nanti malam mau makan denganku? Biar aku yang akan mengantarmu ke Depok," ujar Pirez. Sebenarnya semenjak hari pertama Inggit bekerja sebulan yang lalu, Pirez memang sudah berusaha mendekati Inggit. Namun pria itu tidak tahu menahu apapun tentang kehamilan Inggit. Yang Pirez tahu, pria itu hanya ingin mendekati Inggit saja. "Tidak bisa. Aku akan langsung pergi bekerja nanti malam," jawab Inggit kemudian langsung pergi dari sana dan pergi menuju meja bekas pelanggan yang tampak kotor dan berminyak. "Selamat datang," ujar Inggit saat membersihkan mejanya dan melihat seorang pelanggan masuk. Inggit terbiasa menyapa orang - orang yang hendak masuk ke sana. Sang pelanggan yang baru saja masuk hanya tersenyum menatap Inggit lalu berjalan melewatinya adn langsung menuju ke kasir untuk memesan makanan. Baru saja ia selesai membereskan meja yang kotor, Inggit langsung berbalik dan hendak membersihkan meja yang lain namun tiba - tiba . . . "Oh iya sebentar, setelah makan saya akan --" Bruk ! Inggit menabrak seseorang yang berada tepat di belakangnya. Lebih parahnya lagi, kini semua makanan beserta minuman yang ia bawa jatuh ke lantai. "Astaga!" pekik Inggit saat melihat barang - barang yang berjatuhan di hadapannya. Inggit langsung membantu orang itu membereskan makanannya, sedangkan Pirez juga sama terkejutnya dengan Inggit dan berlari ke arah Inggit kemudian membantu wanita itu. "Apa yang kau lakukan?! Kau tidak lihat aku membawa makanan?! Sekarang kau malah menumpahkan semuanya!" pekik pria yang kini naik pitam karena makanannya jatuh akibat ditabrak oleh Inggit. Pria itu langsung mematikan sambungan telepon. "Sudah dulu, ada yang harus aku urus," ujar pria itu lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Maafkan saya! Saya akan bereskan. Nanti akan saya gantikan dengan yang baru," ujar Inggit tanpa menatap pria yang ia tabrak dan tetap membereskan makanan yang berserakan di lantai. Pelanggan lain mulai menatap ke arah Inggit dan Pirez yang sibuk membereskan sisa makanan di lantai, terlebih pelanggan itu bahkan berteriak dan menyebabkan kegaduhan di restaurant. Inggit terus membereskan lantai yang kotor sampai tiba - tiba ia merasa kerah bajunya ditarik oleh orang itu hingga berdiri dan menatapnya. "Ma - maafkan saya. Saya akan menggantinya dengan yang baru," ujar Inggit. Melihat Inggit yang dicengkram kerahnya oleh si pelanggan pria, Pirez pun langsung berdiri dan melepaskan kaitan tangan pria itu pada kerah baju Inggit. "Apakah anda tidak dengar, Pak? Kami akan menggantinya dengan yang baru. Bapak boleh duduk dan menunggu makanannya, nanti akan kami gantikan," ujar Pirez yang mempersilakan pria itu untuk duduk. "Kau tidak lihat pakaianku juga kotor karena terkena tumpahan saus?" ujar sang pelanggan pria itu lalu memperlihatkan celana hitamnya yang terlihat kotor akibat terkena saus yang tumpah dari nampan yang ia bawa. Inggit melihat ke arah dirinya sendiri yang bahkan lebih kotor dari pria itu. Karena minuman lemon tea yang dibawa oleh pria di hadapannya justru jatuh ke arahnya hingga bajunya kini basah kuyup. Inggit langsung mengambil tissue bersih dan hendak membersihkan saus yang ada di celana pria itu, namun pria itu menolak dan bahkan menangkis tangan Inggit. Plak ! "Jangan coba - coba menyentuh saya dengan tangan kotor anda ya! Pakaian mahal saya sudah kotor dan jangan berbuat kotor lagi!" pekik sang pria itu lalu dengan kasar mengambil tissue dari tangan Inggit dan membersihkan dirinya sendiri. "Maafkan saya!" ujar Inggit lalu menundukan kepalanya. Pirez yang telah selesai membereskan kotoran di lantai langsung berdiri dan menatap ke arah pria itu. "Bukankah anda yang seharusnya minta maaf kepada wanita ini karena membawa makanan sembari menerima telepon dan anda - lah yang menabrak wanita ini? Saya bisa melihatnya sendiri dari sana walau saya masih melayani pelanggan lain," ujar Pirez sembari menunjuk tempatnya semula berdiri. Pria itu yang semula sibuk membersihkan dirinya dari tumpahan saus, langsung menatap ke arah Pirez. Dan mencengkram kerah baju Pirez. "Apa kau bilang? Kau menyalahkanku? Jelas - jelas wanita ini yang langsung bangkit padahal aku sedang berjalan di belakangnya. Tapi dia langsung mundur dan menabrakku!" ujar pria itu. Pirez melepas cengkraman pria itu pada kerahnya. Kini semua orang menatap ke arah mereka. "Ada ribut - ribut apa ini?" ujar salah seorang wanita yang tiba - tiba saja keluar dari area dalam restaurant dan langsung menatap ke arah Inggit, Pirez serta pelanggan pria yang kini menatap tajam ke arah Pirez. Wanita yang baru saja keluar itu langsung berjalan mendekati Inggit dan Pirez. "Saya manager restaurant ini. Ada ribut apa?" tanya Hanna, selaku sang manager di restaurant tempat Inggit bekerja. Pria itu langsung merubah tatapannya ke arah Hanna dan menunjuk wajah Inggit. "Wanita ini menabrakku padahal aku sedang membawa makanan. Makanannya tumpah dan pakaianku kotor terkena saus!" pekik pria itu. Hanna menatap pakaian pria itu dari atas ke bawah kemudian menatap Inggit dari atas ke bawah. Pakaiannya bahkan tak sekotor Inggit. "Kami mohon maaf atas pekerjaan para karyawan kami yang lalai. Kami akan memberikan ganti rugi dan bonus atas makanan anda," ujar Hanna. "Mana bisa begitu!" balas sang pelanggan pria yang masih tak mau mengalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD