9

1777 Words
Taman kecil di area dekat rumah sering menjadi tempat favorit bagi Kayana. Di salah satu sisi pinggir taman, ada beberapa stand pedagang kaki lima yang setia menjajakan dagangannya. Alih-alih jalan sore menikmati waktunya bersama Erland, Kayana menjadi merasa terhibur dengan keluar rumah. Meskipun hanya sebatas jalan kaki santai dan berhenti pada taman itu namun terasa lebih baik untuk kondisi psikisnya. Dengan tidak berdiam diri saja di rumah, Kayana akan lebih sibuk memikirkan hal-hal positif. Tidak hanya meratapi perjalanan hidupnya, namun menjadi lebih berani menatap masa depan. Taman terlihat lebih ramai dari sore sore biasanya. Tampak beberapa orang sudah antre di depan gerobak-gerobak makanan milik para pedangang. Ada juga yang tengah duduk duduk lesehan dengan menggelar tikar bersama teman-temannya, beberapa bangku panjang juga sudah penuh digunakan untuk duduk. Sedangkan Kayana memilih membelikan air mineral untuk Erland ketika anak laki lakinya kehausan tadi yang sebelumnya sudah menitipkan Erland pada Ana, pengasuh Erland untuk menjaganya. Dari kejauhan, Kayana memandang anak laki lakinya yang suka sekali berlari-lari tengah berjongkok sambil memainkan mobilan barunya. Di samping Erland ada pengasuhnya yang siap siaga. Dengan berjalan santai, menenteng sebuah botol air mineral pesanan Erland tadi Kayana melewati beberapa orang disana. Dengan tidak sengaja, ia mendengar ada orang yang sedang mengobrol dengan menyebut-nyebut namanya. Ia memasang telinganya baik-baik, mencari sumber suara itu. Ada dua orang ibu yang sedang duduk di bangku bawah pohon, usianya sekitar 40 an tahun. “Iya, mana anaknya masih kecil banget. Berat lah pastinya jadi Kayana,” ucap perempuan berbaju hijau mint melanjutkan obrolannya. Kayana sengaja berhenti, berdiri mematung di samping pohon yang tidak jauh dari bangku yang diduduki dua perempuan tadi. Penasaran dengan topik yang sedang mereka bicarakan, yaitu tentang dia sendiri. “Pasti lah, Jeng… apalagi Kayana itu kan kelihatan manja sama mendiang suaminya, apa-apa tinggal disuguhi tanpa tahu jerih payah suami. Mana ngerti dia bagaimana rasanya kerja keras, nah sekarang dia musti apa-apa mikir sendiri. Ya otomatis kaget dan sulit,” tambah ibu yang satunya lagi. Sepertinya semakin seru saja obrolan mereka. Pandangan mereka masih tertuju pada Erland yang tengah asyik bermain di depan sana. “Ya namanya juga suami sayang istri, wajar sih Jeng. Apalagi usia pernikahan juga belum ada sepuluh tahun, dulu kita juga begitu pas masih pada masa sayang-sayangnya. Jadi ya masih di eman-eman, di manja-manja. Nanti gantian sudah lewat usia pernikahan segitu tahun juga kayak kita ini. Apa-apa masa bodoh, sudah mulai berkurang yang begituannya. ” “Ah benar juga sih, Jeng. Sekarang kita mah mau manja-manja sudah inget umur, malu sama anak yang sudah pada gede. Kasihan juga ya Kayana.” “Eh jeng, tapi tahu nggak sekarang Kayana sudah dekat sama laki-laki lain lho.” “Haaa… masa sih, Jeng? Ya nggak mungkin lah, masa ya secepat itu. Kayana kan kelihatan sayang banget sama suaminya, waktu pemakaman kemarin juga dia kelihatan terpukul. Inget kan, dia berkali-kali pingsan waktu itu.” “Ya, tapi kenyataannya begitu Jeng. Itu lho, dokter ganteng sepupu mendiang. Hampir setiap hari lho dia datang ke rumah Kayana. Mereka juga kelihatan sering jalan bareng.” “Oalah yang itu ya? Nggak nyangka ya Jeng bisa secepat itu.” “Iya Jeng, saya juga nggak nyangka. Tapi wajar sih, dokternya itu ganteng pisan. Perempuan mana yang nggak terpesona sama dia, sudah ganteng, masih perjaka, kaya, dokter pula. Ya sebelas dua belas lah sama mendiang suaminya. Kalau kita yang ada di posisi dia bisa juga begitu, Jeng. Di saat-saat terpuruk begitu, pasti ada saat kita butuh sandaran. Nggak mudah lho jeng.” “Iya sih, tapi apa ya nggak terlalu cepat, kesannya kok jadi gampang banget berpaling. Paling nggak ya tunggu setahun dua tahun dulu lah, tanah kuburannya juga masih merah jeng. Apa ya nggak kebayang-bayang terus sama suaminya waktu dia jalan sama laki-laki lain?” “Nggak masalah tahu Jeng, mungkin juga mereka sudah banyak pertimbangan. Salah satunya buat kebaikan Erland, dia kan juga butuh sosok ayah pengganti. Bisa juga biar ada yang bertanggung jawab buat mereka. Masa depan dia juga masih panjang, umurnya juga masih muda banget. Jadi wajar kalau sudah mau menikah lagi.” “Iya juga sih Jeng, apalagi di jaman sekarang ini yang serba susah, serba mahal jadi ya setidaknya ada yang nanggung. Ya, kesempatan nggak datang berkali-kali juga kan? Mumpung sudah ada yang suka dan berbaik hati mau nanggung kenapa harus kelamaan, mau tunggu apa lagi? Kasihan ya Jeng.” Telinga Kayana terasa panas, dadanya sesak dan kepalanya tetiba sakit lagi hampir sama ketika waktu itu berhasil membuatnya pingsan. Ia berniat untuk tidak lagi melanjutkan aksi mengupingnya. Dengan perasaan yang tidak karuan dan tangisnya yang hampir pecah, ia beranjak dari balik pohon itu. Berjalan sesantai mungkin melewati mereka yang sukses membuat hati Kayana sakit. “Ehemm… permisi!” ucap Kayana ketika tepat melewati samping mereka, berharap mereka sadar akan keberadaannya dari tadi. Yang dilewati tampak gelagapan, spontan mereka langsung diam seketika dan terlihat sangat malu juga merasa bersalah. Tidak ada usaha apa pun dari mereka walau hanya sekedar meminta maaf. Lagipula bagi Kayana permintaan maaf atau penjelasan dari mereka terasa tidak penting. Namun sungguh itu membuat hati Kayana menjadi semakin keruh saja. Langkahnya dipercepat agar segera sampai di tempat dimana Erland dan Ana berada. Tanpa berkata banyak, ia meraih Erland dan menggendongnya pergi. Ana yang heran akan sikap Kayana pun sejurus menyusulnya berjalan dengan tergesa. Tentu saja dengan rasa penasarannya yang tinggi, juga perasaan tidak enak takut telah terjadi apa-apa dengan majikannya itu. “Bu Kay ada apa? Biar Erland saya yang gendong, Bu!” mereka masih berjalan, Ana menatap Kayana yang banjir akan air mata, belum bicara apa-apa. Tangannya terlihat begitu sangat erat memeluk anak laki-lakinya itu. Ana semakin khawatir dengan keadaan Kayana, takut terulang seperti kemarin. Padahal melihat Kayana sudah mulai bangkit adalah hal yang sangat membahagiakan. Baru beberapa puluh meter berjalan, Kayana berhenti. Dadanya yang sesak membuatnya terpaksa harus menurunkan Erland. Kemudian duduk lesehan di bahu jalan. Terisak. Ana tidak bisa melihat wajahnya yang menunduk, namun ia tahu persis bahwa isak tangisnya sudah pasti karena hatinya terluka. “Bu, perlu saya telepon oma?” tanya Ana amat hati-hati, tangannya memegang pundak Kayana. Namun baru dijawab dengan gelengan kepala. Erland pun ikut duduk bersila tepat di samping mamanya. Memasang wajah bingung tanpa dosa. Ada kekhawatiran yang sama seperti kemarin-kemarin melihat mamanya seperti ini. “Sebentar ya, Bi. Biar saya tenang dulu baru kita mulai jalan lagi. d**a saya sesak lagi,” ia berusaha menguatkan hati, mengelus d**a dan meminum air mineral yang dia beli tadi. Air yang awalnya dia beli untuk Erland. “Saya khawatir bu, atau saya carikan tukang ojek saja ya!” “Nggak usah, Bi. Saya masih kuat jalan sampai rumah, saya Cuma butuh istirahat sebentar kok.” Ana menurut saja, berharap tidak terjadi apa-apa dengan majikannya. *** “Kay nggak kuat, Ma!” Tangisnya pecah dalam pelukan Anandita, mamanya. “Kay tenang dulu ya, ngomong sama Mama, kamu kenapa?” “Orang-orang di luar sana sibuk membicarakan Kay. Mereka anggap Kay mudah berpaling, Kay terlalu cepat ingin menggantikan posisi Mas Julio…” Kayana menceritakan sedetail mungkin apa yang dia dengar tadi di taman, dengan tangis yang masih terisak. Anandita paham apa yang Kayana rasakan, tetapi tidak benar-benar bisa merasakan carut marutnya hati putri sematang wayangnya itu. Apa yang tengah Kayana rasakan hanya dia sendiri yang mengerti, namun sebagai orang tua pasti ikut merasakan pedih atas ujian yang sedang Kayana hadapi. “Kay, mama ngerti betapa berat ujian kamu. Baru saja kamu mulai bangkit, mulai bisa berdamai dengan hatimu sendiri. Mama percaya ini sulit, Kay. Tapi coba kamu lihat perngorbananmu selama ini sayang, untuk bisa berdiri tegar saat ini tidak mudah kan? Tapi kamu hebat, kamu bisa. Seharusnya ini nggak akan bisa bikin kamu hancur hanya gara-gara celotehan orang yang nggak penting. Orang-orang di luar sana nggak paham apa yang sebenarnya tengah terjadi, mereka Cuma bisa melihat dan komentar sesuka hati menurut sudut padang mereka sendiri. Tanpa tahu apa yang sudah kamu lewati selama ini.” “Iya, ma. Tapi ini rasanya nggak sopan banget kan? Membicarakan kehidupan orang lain.” “Benar sayang, mereka memang nggak sopan tapi apa kita bisa melarang jutaan orang untuk tidak membicarakan kita? Kita juga nggak bisa meminta mereka menyukai kita atau menyuruh mereka berhenti menilai hidup kita. Nggak ada yang bisa sayang dan itu nggak akan mempengaruhi hidup kita. Karena kenyataannya apa yang mereka bilang sama sekali salah kan dengan kenyataan yang kamu hadapi saat ini?” Kayana hanya mengangguk memandang mamanya yang begitu menenangkan. “Anak mama kuat, mama yakin hal kecil kayak gini nggak akan bikin kamu jatuh. Biarkan saja mereka mau bicara apa tentang kita, asal nggak usah di ladenin.” “Ma, apa salah yang Kay lakukan selama ini? Apa mulai sekarang Kay larang Mas Dion main kesini?” “Apa masalahnya? Agar orang-orang berhenti membicarakan kamu?” lagi-lagi Kayana mengangguk, “kamu sekarang mau menjauh dari Dion dengan harapan mereka akan berhenti membicarakanmu. Tapi nanti mereka pasti akan membicarakan tentangmu dengan sisi yang lain. Jadi semua nggak akan mempengaruhi hidupmu. Capek kay kalau kamu menuruti suara sumbang di luar sana. Kamu mau baik, mau kurang baik di depan mereka bakalan jadi buah bibir kalau mereka mau. Mereka siapa sih, Kay? Cuma penonton aja, mereka bukan orang-orang yang berperan dalam hidup kamu. Jadi nggak ada untung dan ruginya meladeni mereka. Yang ada Cuma bikin sakit kepala lagi kan?” “Tapi mereka kalau dibiarin aja bakalan makin menjadi, Ma!” “Iya, terus kamu mau apa? Jangan buang-buang waktu buat memikirkan hal ini Kay. Tugas kamu masih banyak, mending sekarang fokus sama florist kamu. Biar bisa cepat jalan, kamu juga pasti bakalan lebih banyak aktifitas. Jadi nggak akan punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang bikin kamu sedih atau pun sakit.” “Lalu bagaimana dengan Mas Dion ma?” “Dion orang baik, Kay. Dia nggak ada masalahnya sama kamu, dia sudah banyak ada buat kita. Cuma karena anggapan orang kamu malah mau melarang dia main kesini? Kamu nggak mau melihat Erland sedih kan? Cuma Dion yang bisa bikin Erland terobati setiap kali rindu papanya.” “Tapi Kay takut dianggap memanfaatkan Mas Dion, ma.” “Cuma mereka yang punya beranggapan seperti itu, bukan semua orang. Mama yakin anak mama juga nggak punya sifat seperti itu. Biar semua mengalir Kay, bagaimana tangan Tuhan menguatkan kita untuk sampai pada rencana-rencana besar-Nya. Bersyukur lah karena masih banyak orang yang sayang dan peduli dengan kamu, dijaga dan jangan kamu sia-siakan. Sebaliknya jadikan motovasi diri untuk bisa lebih baik dari sekarang kalau kamu dapat perlakuan tidak baik dari orang lain. Biar mereka tahu kamu bukan orang yang pernah mereka pandang sebelah mata. Buktikan bahwa kamu mampu bangkit setelah mereka berhasil membuatmu tersandung. Tentunya dengan kaki yang lebih kuat dari sebelumnya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD