8

1953 Words
Meja ruang tamu begitu penuh dengan kertas-kertas hvs, ada Kayana yang tengah sibuk di depan layar laptop dan Riyu sahabatnya yang sedang dengan kertas beserta alat tempurnya. Riyu adalah seorang arsitek, salah satu sahabat Kayana yang begitu atusias waktu dimintai tolong untuk membuatkan desain bangunan calon toko bunganya. Di meja satunya ada dua gelas air minum dan beberapa toples makanan ringan yang sudah sempat dicicipi. “Pokoknya kamu tenang aja, toko bunga kamu bakalan jadi toko terkeren di Bandung, Kay” kepala Riyu mendongak, kemudian dia gelengkan sekali ke kanan dan ke kiri. Sepertinya kelamaan menunduk membuatnya sedikit pegal. Kertas bergambar desain bangunan itu ia angkat, dilihat dari sisi kanan dan kiri. Perfect! “Percaya, arsitek andalanku memang keren lah. Hasilnya juga pasti tidak mengecewakan,” Kayana berkaca-kaca, melihat hasil gambaran Riyu membuatnya begitu kegirangan. Ia mendekat dan memeluk sahabatnya itu dari belakang, “Thanks Ri, kamu banyak berjasa banget di hidupku. Aku bersyukur banget dikelilingi orang-orang baik” “Sama-sama Kay, apa yang sekiranya bisa aku bantu sebisanya aku ada buat kamu. Lihat kamu semangat lagi kaya gini tuh sudah bikin aku bahagia banget. Akhirnya kamu bisa ketawa, bangkit dan nggak mengurung diri lagi kayak sekarang ini, bikin aku benar-benar nemu cahaya baru dari diri kamu.” “Sama Ri, aku juga ngerasa kayak hidup lagi setelah semua harapan aku hilang. Semoga ini jadi awal yang baik ya buat Erland khususnya.” “Aamiin… aamiin yang banyak Kay. Tuhan pasti kasih kejutan dan hal yang indah setelah kesabaran yang kamu lakukan selama ini.” Drrttt….drrttt. Handphone Kayana bergetar. Mas Dion, seorang nama yang tertulis di layar sedang memanggil. “Eh, bentar Ri ada Mas Dion nelpon,” mengambil handphone yang tergeletak di sofa.  “iya Mas Dion, gimana?” “Kay… ini aku sudah di jalan dari RS mau kesitu, kamu masih sama Riyu?” “Iya masih, Mas.” “Oke, nggak ada acara keluar kan?” “Nggak kok, Mas. Kenapa?” “Nggak apa-apa, takutnya aku kesitu tapi kamunya malah mau pergi kan jadi nggak enak.” “Oh.. nggak kok Mas, masih ada beberapa yang belum beres juga. Ya udah hati-hati, Mas.” “Oke, Kay.” Tut.. tut..tut.. telepon terputus, Kayana kembali menaruh handphonenya di sofa. Meraih gelas berisi lemon tea dan meneguknya sebelum kembali lagi menatap layar laptop. “Dokter Dion baik banget ya, Kay,” Riyu menjawil pipi kiri Kayana, “dia kelihatan sayang banget sama Erland, juga perhatian ke kamu. Kayaknya dia suka deh sama kamu, Kay!” “Hush… apaan sih? Ya wajarlah dia sayang sama Erland, namanya juga sama keponakan.” “Ya… iya sih, tapi nggak semua om sebegitu sayangnya deh sama ponakannya. Apalagi Mas Dion itu kan Cuma sepupunya Julio.” “Ya bisa aja kan, Ri. Meskipun Cuma sepupu, tapi dari mereka kecil memang dekatnya sudah melebihi saudara kandung, ngerti nggak sih?” “Hm… kayaknya kamu deh, Kay yang nggak ngerti dan kurang peka,” kali ini Riyu fokus menatap Kayana yang masih belum berpaling dari layarnya, menopang telapak tangan pada dagunya, “Kay…” yang dipanggil hanya menjawab dengan satu kata, “Hem..” tanpa menoleh sedikit pun. Riyu yang gemas dengan respon datar Kayana membuatnya sedikit berteriak, “Kayana…!” “Hey… kenapa sih, Ri?” gegara teriakan Riyu, spontan Kayana menutup laptopnya, “Ini telinga juga masih dengar kok tanpa kamu teriak-teriak gitu.” “Lagian diajak ngobrol serius juga malah datar banget responnya. Emang ya, sekali-kali telinga kamu musti di terapi biar mulai peka.” “Memang yang benar responnya harus gimana?” “Ya… yang ekspresif kek, Kay… Mas Dion tuh suka sama kamu. Buka lebar-lebar dong Kay mata hati kamu! Jangan polos-polos deh jadi perempuan.” “Riyu… kamu tau kan, posisiku sekarang masih berkabung. Ini hati sama pikiranku semua masih tentang Mas Julio, mana ada terbesit memikirkan rasa-rasa itu dari orang lain. Apalagi Mas Dion sudah aku anggap kayak kakak sendiri. Kayaknya nggak mungkin lah, Ri.” “Kay… di jaman sekarang ini, istilah saudara jauh rasa kakak itu dah nggak berlaku. Oke… aku ngerti masa berkabungmu dan terasa sulit buat kamu membuka hati. Aku hafal banget kamu yang nggak gampang jatuh cinta dan susah move on. Tapi membaca isyarat cinta seseorang yang lagi care sama kita itu seharusnya nggak sulit. Apalagi banyak kan saudara dari Mas Julio, tapi Cuma Mas Dion yang bertahan di rasa pedulinya. Paham nggak?” “Aku nggak paham, Ri. Yang aku tahu Mas Dion selalu baik sama semua orang. Yang aku tahu dia peduli sama aku dan Erland sebatas adik dan ponakannya. Sejauh ini Mas Dion juga nggak pernah ngomong hal yang aneh sama aku, yang dia sampaikan juga wajar aja sih bagiku, Ri.” “Kay… Kay, nggak segampang itu juga bilang suka. Aku yakin dibalik rasa care dan perlakuan baiknya ke kalian ada rasa sayang yang besar yang Mas Dion punya. Cuma menurutku, dia juga menjaga perasaan kamu, apalagi semua orang yang kenal sama kamu pasti paham gimana cintanya kamu sama Julio. Jadi dia pasti mikir-mikir dulu kalau mau bilang perasaanya ke kamu.” “Ah… aku jadi ngerasa nggak enak jadinya, Ri. Apa aku menjauh aja ya dari Mas Dion?” “Ih… apaan sih malah jadi kayak gitu, kok jadi malah mau menjauh. Jangan jadi durhaka kamu, Kay… ha ha ha.” “Kok durhaka sih?” “Coba deh kamu pikir, siapa yang ada saat kamu butuh, waktu Erland sakit, kamu pingsan gegara sakit kepala, sampai yang punya ide florist ini siapa kalau bukan si dokter ganteng itu?” “Haduh… bener-bener, Ri. Sumpah parah banget Mas Dion baiknya sama aku. Nggak tahu lagi deh berapa banyak hal baik apa lagi yang dia lakuin ke aku. Aku banyak hutang budi sama dia, Ri.” “Kalau menurut aku sih, Mas Dion nggak mikir sampai kesitu juga kay. Cinta itu bukan tentang hutang budi kok, cinta yang tulus nggak mikir dibalas. Tapi kalau saran aku sih, balas lah Kay. Ha ha ha,” ada setumpuk doa yang di amin kan oleh Riyu, salah satunya yang ada di ucapan terakhirnya bahwa kelak Kayana bisa membalas perasaan Dion. “Ah kamu, Ri. Ngomongin hal ini jadi bikin lapar, bentar ya aku ke dapur dulu,” sepertinya jurus ini yang bisa Kayana lakukan untuk mengakhiri obrolan mereka tentang Dion. “Assalamualaikum,” suara lantang dari balik pintu begitu familiar, disusul bibi yang berlari kecil menuju pintu untuk membukanya. Dan benar saja, laki-laki berambut rapi dengan khas minyak rambutnya muncul dengan kedua tangan yang menenteng sesuatu. “Waalaikumsalam, “ “Wah… masih pada sibuk ya? Hai Riyu, apa kabar?” Dion menyerahkan satu box makanan ke bibi, dan yang satu masih dia bawa sendiri. Melangkah santai menghampiri dua perempuan yang tadi sempat sibuk membicarakannya. “Baik, Dok. Baik banget, seperti yang Dokter lihat,” Riyu tersenyum ikhlas membalas sapaan Dion basa-basi. “Panggil Dion aja lah Ri, kita lagi nggak di rumah sakit kan sekarang?” “He he he, baiklah Mas, Mas Dion apa kabar juga? Bagaimana, apa belum ada pasien cantik yang minta diobati gara-gara sakitnya jatuh cinta sama dokter ganteng ini nih?” Riyu memang selalu pintar dalam hal mencairkan suasana. “Kayaknya nggak ada deh dari pasienku yang mengeluh sama penyakit aneh kayak  gitu.” “Masa sih, Mas? Berarti habis ini aku wajib dateng ke rumah sakit buat periksa deh kayaknya. Ha ha ha, dan aku bisa jadi pasien pertama.” “Bisa aja sih, Ri. Gimana, suami sama anak kamu sehat?” “Luar biasa, Mas. Sehat alhamdulillah… ayo lah, Mas. Segera menyusul, dunia terlalu luas buat dihuni sendiri terlalu lama.” “Maunya sih gitu lah… tapi kayaknya jodoh aku masih di umpetin sama Tuhan.” Obrolan mulai kemana-kemana dan selalu berujung pada perihal jodoh. “Eh sebentar ya, aku tinggal ke dapur dulu.” Kayana yang tidak ingin ikut dalam obrolan santai itu memilih untuk ke dapur. Sekalian memberi tahu pada Erland kalau Dion datang. “Oke Kay, Erland mana? Ada sesuatu yang aku bawa buat dia,” Dion celingukan mencari ponakan kesayangannya. “Aku panggilin dulu ya, Mas. Tadi kayaknya lagi main sama mama.” *** “Erland mau main ke depan dulu ya, Om” anak laki-laki itu lalu turun dari pangkuan omnya setelah lumayan lama bercanda, memegang mainan baru yang dibawakan Dion tadi. “Oke deh, mainnya hati-hati ya.” Erland berlalu menuju halaman depan dengan pengasuhnya. Sedangkan Dion dan kedua perempuan itu masih disibukkan dengan konsep calon florist milik Kayana. Kayana yang sibuk berfikir mau diberi nama apa floristnya, Riyu dengan desain gambarnya dan Dion yang tengah mencari-cari referensi suplier bunga di internet. “Mas Dion, Riyu… aku ada dua nama nih buat tokoku, coba keren yang mana? Red Flo atau Violet Flo?” “Hm... Kayaknya Red Flo lebih keren deh, kalau kamu gimana, Ri?” “Red Flo… Violet Flo. Lebih ringan yang Red Flo deh kedengarannya. Violet Flo kayaknya kurang nge klik aja gitu.” “Oke.. deal Red Flo, ya! Kalau gitu nuansanya nanti warna maron semua, catnya, meja kasir dan sofa pojok juga harus maron.” “Pasti lah, pokoknya apa yang kamu mau semua ungkapin aja, Kay. Kita sih sebagai jadi asisten ngikut aja, iya nggak Mas Dion?” Riyu mengangkat kedua alisnya, memberi kode pada Dion agar mengiyakan. Dion mengangguk dengan mantapnya. “Thanks ya, Ri, Mas Dion. Nggak tahu lagi deh gimana aku balas semua kebaikan kalian.” “Aku sih gampang, Kay… buatin aja buket setiap hari buat aku nanti, kalau kamu Mas? Mau dibalas pakai apa? Pakai cinta, sayang atau apa?” Mereka berdua terbahak, sedangkan Kayana tampak tersipu. Tuhan begitu baik hati mengirimkan orang-orang yang peduli padanya. Yang menjadi penyemangat juga yang selalu menawarkan bantuan di masa-masa terpuruknya. Senyum Kayana terkembang melihat ketulusan mereka. Ada perasaan lega pada dirinya, membuatnya merasa berani berharap lagi. Berharap ada pelangi setelah hujan badai yang menerpanya. Mengingat-ingat, kapan terakhir kali Kayana tersenyum penuh harap seperti ini. Rasanya sudah amat lama. “Oh iya, Kay… aku ada beberapa referensi suplier bunga yang barusan aku browsing, alamat dan lokasi ada di link-link yang aku kirim ke no kamu ya! Nanti kamu lihat-lihat lagi mana yang sekiranya kamu cocok. Untuk survei tempatnya menurutku nggak usah kelamaan ditunda, lebih cepat lebih baik. Nanti aku nggak bisa selalu nemenin ya, tapi kalau waktunya ada bakalan aku antar.” “Nggak apa-apa, Mas. Gampang lah, nanti aku bisa jalan sendiri atau bisa juga sama mama.” “Eits… ada aku lho di sini. Tenang Kay, Mas... nanti aku temenin.” Bak pahlawan, Riyu menawarkan diri menjadi pengganti Dion yang siaga demi Kayana. “Nggak enak lah Ri, aku sudah banyak ngrepotin kamu. Lagian juga kamu banyak kerjaan kan, gimana proyek-proyek kamu, anak kamu, suami kamu juga. Sudah lah, aku nanti bisa kok jalan sendiri.” “Apa sih, kay? Bahasanya ngrepotin terus dari tadi. Santai aja lah, aku masih bisa atur waktu juga. Lagian kerjaan juga nggak tiap hari harus absen ke kantor, eh… jadi berlagak punya kantor aja! Udah deh, kamu tenang saja. Selama kita bisa, kita ada buat kamu.” “Nah, iya Kay, kamu nggak usah sungkan buat cari bantuan, sekiranya nggak bisa dipikir dan dilakukan sendiri kamu punya banyak orang-orang yang peduli. Jadi jangan ngerasa ngrepotin. Ketika kami sudah menawarkan bantuan itu berarti kata repot nggak ada di kamus kami.” Lagi-lagi Kayana menahan haru dengan perlakuan mereka. Benar saja, tidak ada alasan baginya untuk tidak bangkit jika dia sudah mendapatkan energi positif dari orang-orang dekatnya. Kayana menatap Riyu dan Dion bergantian, mengisyaratkan ucapan terima kasih yang tidak bisa ia sebutkan lagi. Menaruh harap dan rasa percaya kepada mereka. Matanya mulai berlinang, rasa syukur membuat Kayana sedikit mengesampingkan kepedihannya. Mengusir pikiran-pikiran dangkal yang akhir-akhir ini memenuhi otaknya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD