Seperti yang sudah dijanjikan oleh Dion kemarin, pagi ini dia sudah bersiap untuk menjemput Kayana dan Erland. Ini adalah hari terakhir Dion cuti dan ingin sekali ia manfaatkan untuk menghabiskan waktunya dengan mereka. Taman bunga cihideung menjadi tujuannya hari ini.
Dion sudah begitu tampak santai namun rapi dengan kaos berwarna putih lengan pendek dan celana jeans panjang. Ia tengah duduk di sofa ruang tamu rumah Kayana sambil menyeruput teh hangat buatan bibi.
Beberapa detik berlalu, seorang anak laki-laki kecil berjalan memegang mobil mainan barunya dari arah kamar. Tanpa disengaja Kaos yang dikenakan Erland juga berwarna putih bergambar kereta dibagian d**a. Senada. Kemudian disusul Kayana di belakangnya, ia nampak anggun dengan dress warna nude lengan pendek dan sepatu flat warna cream.
“Om Dion!” teriak Erland mengisi keheningan, ia berjalan kegirangan menghampiri om kesayangannya.
“Hai anak ganteng, udah siap?” Dion tersenyum lebar mellihat Erland begitu antusias. Bahagianya bisa melihat ibu dan anak ini wajahnya bersinar-sinar.
“Udah dong, Om,” ucapnya bangga sambil duduk di samping Dion. Ia terlihat tidak sabar ingin segera berangkat.
“Kalau gitu kita berangkat, yuk!” ajaknya sambil berdiri menoleh kanan kiri mencari sesuatu, “Oma mana? Pamit dulu.”
“Omaa……” Erland pun berteriak lagi. Ada sahutan disana dan benar, Anandita datang dari dapur dengan masih membawa tisu bekas mengelap tangannya.
“Iya sayang, udah mau berangkat ya?”
“Iya, Tante kita pamit dulu. Mungkin nanti rada malaman ya, Tan.” Dion mengulurkan tangan untuk bersalaman dan di sambut hangat oleh wanita setengah baya itu.
“Baik, hati-hati ya, Di. Tante titip anak dan cucu Tante, tolong dijagain. Erland ingat pesan Oma ya, harus nurut…”
“Nurut Mama dan Papa, eh dan Om Dion,” Erland terlihat sengaja menggoda Kayana dan Dion, terlihat setelah salah ucap mulutnya ia tutup dengan telapak tangan dan tertawa di baliknya.
Kayana tersenyum, selangkah kemudian ia mencium tangan mamanya dan menggandeng tangan Erland. Dion menyusul dari belakang, berjalan keluar ke arah mobilnya. Di depan sudah ada pengasuh Erland yang siap dengan keperluan anak laki-laki itu.
Dion membukakan pintu samping kemudi untuk Kayana. Ada perasaan berdesir di hatinya dapat duduk sejajar dengan perempuan istimewa ini.
Sepanjang jalan Erland tampak begitu enjoy bercerita dengan pengasuhnya juga bercanda dengan mama dan omnya. Membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai di tempat yang dituju.
“Mas Dion kok bisa tahu aku suka banget sama bunga?” Kayana tidak sabar ingin cepat-cepat keluar dari mobil. Matanya sudah sangat segar melihat hamparan berbagai macam bunga di depannya.
“Suka?” Dion tersenyum melihat Kayana yang tampak begitu kagum, seraya melepas seatbeltnya dan mematikan mesin mobil, “Tiap hari kamu ngurusin bunga terus kan, Kay? Pasti bisa ditebak juga.”
“Iya juga, sih Mas. Lihat tanaman rapi, indah dan subur bikin mata jadi seger aja gitu.”
Kayana sudah turun dari mobil lebih dulu, disusul Erland dan pengasuhnya. Berbagai macam bunga dan tanaman hias disana mampu menghipnotis Kayana, perasaannya begitu bahagai saat itu. Matanya berbinar-binar, menikmati tiap-tiap warna dan bentuk keindahan bunga disana. Erland juga tampak begitu antusias berlarian begitu keluar dari dalam mobil. Dengan cekatan pengasuhnya lalu mengejar dan nememani Erland.
“Kay apa sih yang bikin kamu suka sama alam?”
“Hm… alam itu jujur, Mas. Dari alam aku belajar arti sebuah kesadaran atas diriku sendiri. Bagaimana aku bisa hidup, melangkah dan bertahan dengan caraku. Semua itu tidak luput dari kekuasaan Tuhan kan, Mas? Seperti alam yang dari sebutir tanah hingga komponen-komponen yang bergabung disana, mereka memiliki cara untuk bertahan dan memegang kendali atas dirinya sendiri. Dari ini aku sadar mas, Tuhan sudah begitu apik menyusun detail demi detail kehidupanku. Meskipun sulit melewati semua ujian, tetapi aku sadar banget akan hal ini kok, Mas.”
“Bagus, Kay. Itu berarti dengan menikmati alam bisa membuat kita semakin sadar akan kehadiran Tuhan atas penyusun segala takdir hidup. Takdirku, takdirmu sudah Tuhan gariskan. Yang sudah berlalu jadikan kenangan dan pelajaran hidup, Kay. Dan tugas kita sekarang melakukan yang terbaik untuk masa depan. Begitu kan?”
“Yah… tepatnya seperti itu. Ternyata mengikat hati dan pikiran yang hanya terfokus pada satu masalah hanya akan membuat keadaan semakin memburuk ya, Mas? Rasa kehilangan yang tidak ikhlas membuat penyakit yang sulit sembuh.”
“Syukurlah kalau kamu mengerti, Kay. Aku seneng lihat kamu mulai mau berdamai dengan diri sendiri. Setidaknya kamu sanggup mengontrol emosi, sakitmu saat ini hanya kamu sendiri yang mampu mengobatinya.”
“Iya, Mas. Ingatkan aku kalau aku mulai nggak kontrol sama emosi ya!”
“Erland nanti yang bakalan jadi pegingatmu, Kay,” Dion tertawa kecil sambil menunjuk anak laki-laki yang sudah terlihat sedikit jauh berlari dari mereka berdua. Kayana pun tersenyum malu, “Kay, kenapa nggak kamu coba buka toko bunga aja?”
“Toko bunga, Mas?”
“Iya, kamu seneng bunga, kenapa nggak kamu manfaatin aja. Ya… siapa tahu dari hobi bisa jadi jalan rejeki kamu. Aku rasa berwirausaha lebih cocok buat kamu, Kay.”
“Ide bagus juga ya, Mas.”
“Nanti kita bisa cari referensi dari pengusaha-pengusaha florist di bandung. Atau mau coba budidaya tanaman hias juga bisa, Kay. Apa mau dua-duanya?”
“Iya iya… benar banget, Mas. Kok aku nggak ada kepikiran sebelumnya ya?”
“Nah iya, kan? Kira-kira kamu lebih cocok yang mana? Toko bunga atau budidayanya?”
“Kalau toko bunga otomatis harus punya keterampilan merangkainya kan, Mas?”
“Ya iya, Kay. Belajar cara merangkai kan bisa sambil jalan. Toh kalau budidaya tanaman hiasnya juga harus paham bagaimana caranya juga kan? Semuanya sama-sama harus punya keterampilan. Tinggal kamu cenderung mau yang mana?”
“Kayaknya coba di toko bunganya dulu aja deh, Mas. Nanti kalau sudah jalan kita bisa coba yang budidayanya.”
“Baik, aku sih dukung apa pun pilihan kamu, Kay. Yang penting kamu fokus dan happy dulu. Semua kalau di awali dari seneng pasti melakukan prosesnya juga ngalir tanpa beban. Coba nanti kita browsing di internet, misal cari suplier bunga yang lebih murah, lihat tutorial-tutorial cara merangkai bunga untuk momemt-moment penting. Gimana, kira-kira sudah ada gambaran?”
“Hm… iya bener banget, Mas. Jadi luas sih potensinya ya? Terus menurut Mas, kita cari tempat yang strategisnya di mana?”
“Depan rumah kamu juga udah bisa, udah ramai juga kan? Kamu tinggal bikin tempatnya tanpa harus sewa.”
“Iya juga ya, Mas? Tanaman hias di rumah juga lumayan banyak, bisa buat menarik kostumer. Oke-oke, aku jadi semangat banget nih, Mas.”
“Gitu dong, nanti juga bisa tuh bikin paket ekonomis semisal buat acara-acara sederhana gitu. Buat pelajar atau mahasiswa yang pengen kasih buket pas wisuda atau apalah gitu. Jadi yang pengen order sama kamu juga nggak terlalu mikir di harga, tetap ada bermacam-macam harga dari yang terjangkau sampai yang mewah.”
“Wah… bener banget, Mas. Nanti aku mulai bikin konsepnya deh. Aduh… udah menari-nari di kepala jadinya. Mas Dion emang super banget deh bikin ide.”
“Kebetulan aja, Kay. Ini ide muncul pas disini juga, kamu kayak orang jatuh cinta lihat bunga-bunga begini. Jadi ikut semangat lihat kamu seneng begini.”
“Kelihatan banget ya aku kegirangannya? Jadi malu aku, Mas!”
“Hahaha… aku malah bersyukur tahu, Kay. Bisa lihat kamu semangat kaya gini.”
Langkah Kayana sesekali berhenti, mengamati bunga satu ke bunga yang lain, memegang dan sesekali menghirup baunya. Benar saja, sesuatu yang membuat kita senang akan mempengaruhi pola pikir. Dalam rasa sedih yang mendominasi pikirannya, ternyata masih ada sisa harapan untuk bisa bangkit.
“Mas, benar apa yang Mas Dion katakan kemarin. Yang paling pertama bisa menyembuhkan luka adalah diri sendiri ya,” Kayana tengah sibuk mengabadikan moment hari ini dengan gawainya, mengambil foto dari setiap sisi.
Dion mengangguk dan tersenyum, menikmati keindahan alam di depannya yang bertambah lengkap dengan rona bahagia Kayana. “Pertama semangat dulu, Kay. Awal dari semua penyakit adalah dari pikiran dan hati. Mungkin saat ini kamu tengah bersusah payah melewasi masa-masa terburuk dalam hidupmu, mulai dari menolak keadaan, merasa tidak percaya dengan yang telah terjadi bahkan kamu mulai marah dan benar-benar tidak bisa dihindarkan. Itu manusiawi kok dan nyaris semua orang pasti akan merasakan hal yang sama. Dan seiringnya waktu yang berjalan masa-masa itu pasti bakalan terganti. Percayalah, Kay.”
“Iya, Mas. Aku nikmati setiap proses dan perjalanan hidupku. Mulai saat ini aku harus bisa berdamai dengan hatiku sendiri.”
“Semangat ya, aku senang dengarnya. Pelan-pelan aja, Kay… Tuhan punya rencana yang indah di balik setiap ujian hidupmu.”
“Semoga saja ya, Mas. Makasih lho, aku merasa beruntung banyak yang kasih suport dan doa untuk kebaikanku dan Erland.”
“Sama-sama, Kay.”
Senyum Dion begitu ikhlas dan mampu membuat Kayana membalas senyum. Senyum yang Dion harap dapat ia miliki, senyum yang menenangkan. Namun sepertinya Kayana begitu polos mengartikan setiap sikap manis dan perhatian Dion. Ia masih begitu sibuk dengan hatinya sendiri, mengelola emosi dari riuhnya perasaan. Sehingga ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan rasa tertarik apalagi membangun sebuah cinta yang baru.
Dion bukanlah lelaki yang menaruh rasa pamrih yang lebih selain ingin membuat keadaan Kayana membaik. Untuk saat ini itulah yang menjadi tujuan utamanya. Biarlah rasa cinta dan kagumnya ia simpan dulu sampai nanti pada waktu yang tepat. Cinta yang awalnya hanyalah sebuah rasa empati dan simpati.
“Mas, kita samperin Erland yuk!” Kayana menunjuk ke arah Erland dan pengasuhnya yang tengah duduk di sebuah ayunan yang sering digunakan untuk spot foto. Erland yang saat itu sedang disuapi makanan terlihat tidak tertarik sedikit pun, namun bibi tetap mencoba untuk merayunya.
“Wah, anak ganteng lagi makan?” sapa Dion sambil berjongkok mendekati Erland.
“Tapi kok masih utuh aja makanannya? Apa mau mama yang suapin?” kali ini Kayana melihat ada sesuatu yang beda dari tingkah laku anak laki-lakinya itu, “Erland kenapa sih, Bi?” ia lalu menoleh ke arah pengasuhnya itu namun pengasuhnya hanya menghela napas dan memasang raut wajah yang sedikit bingung, seperti mengisyaratkan jawaban, “entahlah”. Erland masih terdiam, mukanya terlihat sedih dengan bibir yang melengkung ke bawah.
“Eh, di sebelah sana tadi Om lihat ada air mancur lho, Er. Kesana yuk sama Om!”
Erland menggeleng, sama sekali tidak tertarik dengan tawaran omnya.
“Erland sayang, Mama jadi sedih kalau Erland diem aja. Om Dion ngajak kesini kan biar Erland jadi seneng bisa jalan-jalan. Kok malah sedih, kenapa sih? Cerita sini sama Mama!”
“Mama...” panggilnya dengan mata yang memerah menahan tetesan air mata, Kayana lalu mendekat dan menggendongnya, mengusap punggungnya tanpa berkata apapun, ia bermaksud untuk memberikan kesempatan pada Erland untuk mengungkapkan perasaannya., “Tadi Erland lihat ada anak yang lari-larian sama papanya, digendong sambil lari dan dipeluk-peluk. Mereka senang banget, Ma. Ketawa-ketawa bertiga. Erland kangen papa. Kenapa Erland nggak bisa seperti anak itu, Ma?”
Tangisnya pecah, dekapan Kayana makin erat. Tanpa basa-basi air mata Kayana juga keluar lebih deras. Ia masih menyusun jawaban untuk putranya, menata emosi dan berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tangisnya dulu.
“Sayang, coba lihat Mama!” gendongannya ia turunkan, kemudian memposisikan tubuhnya untuk bisa sejajar dengan Erland, “Erland anak baik, siapa bilang Erland nggak bisa seperti anak itu? Dulu Erland sama papa juga begitu kan?”
“Bukan dulu, Ma. Tapi sekarang, Erland mau papa, Ma.”
Kayana menggigit bibir bawahnya, merasakan getir yang Erland rasakan. Sebab saat ini Kayana juga merasakan apa yang putranya rasakan. Jika boleh meminta satu hal pada Tuhan, ia hanya ingin Julio kembali.
“Erland…” Dion mencoba untuk membantu Kayana memberikan pengertian, “bukan cuma Erland kok yang mau papa, semua mau papa, semua juga kangen sama papa. Tapi kan kata Erland, papa sudah bobok? Kasihan kalau papanya lagi istirahat disuruh datang kan? Anak baik, anak kuat… Erland punya mama yang hebat disini, punya oma, punya bibi dan ada Om Dion juga kan? Kalau Erland mau main-main, digendong atau lari-larian Erland bisa ajak mama atau yang lain. Nggak harus sama papa kan?”
Erland mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah. “Papa Julio lihat kok dari atas sana, lihat Erland main-main tapi papa sudah nggak bisa sama-sama Erland disini. Erland tahu nggak, di luar sana banyak lho anak-anak yang nggak punya papa atau mama, yang hidupnya cuma sendiri nggak punya siapa-siapa. Tapi mereka bisa main-main dan bercanda sama teman-temannya. Kalau Erland kan masih punya banyak orang-orang yang bisa diajak bermain, itu berarti banyak yang lebih susah hidupnya daripada Erland.”
“Iya, Om.”
“Nah… jadi kalau Erland mau apapun, Erland bilang sama mama atau bibi. Kalau Erland kangen papa, Erland lihat ke atas sambil berdoa. Papa ada di sini lho, Nak,” tangan Dion ia letakkan di d**a Erland, menunjukkan pada Erland, “selamanya papa di hati Erland.”
“Om mau main-main sama Erland?”
“Pasti dong, sekarang juga om mau, kok”
***