Maxim pulang karena dia mengkhawatirkan keadaan Anna. Dia tidak memperdulikan lagi bagaimana acara pertemuan mereka. Yang terpenting sata ini Anna.
Saat sampai dirumahnya, Maxim langsung membuka pintu kamar Anna dengan paksa. Melihat Maxim yanga datang ke dalam kamarnya membuat Anna langsung memalingkan wajahnya.
Tidak perlu banyak bicara, ketika dia masuk, pelayan yang bersama Anna langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Karena dia sudah tahu, bahwa kedua pasangan tidak ingin diganggu lebih tepatnya maxim.
Maxim hendak melihat pipi Anna, tapi tangannya langsung ditepis begitu saja, saat dia ingin menyentuh pipi wanita itu.
"Apa-apaan ini?" tanya Maxim dengan kesal saat tangannya di tepis oleh Anna.
Untuk pertama kalinya dalam hidup dia mendapatkan penolakan dari seorang wanita, dan itu dari Anna.
"Seharusnya aku yang bertanya pada, Anda apa maksud dari semua ini. Siapa wanita itu dan kenapa tiba-tiba saja dia menampar wajahku?" tanya Anna sambil menatap tajam ke arah Maxim.
Dari tatapannya saja, dia meminta penjelasan dari laki-laki itu sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa dia mendapatkan sebuah tamparan dari seorang wanita yang tidak dia kenali sama sekali.
Bukannya menjawab, Maxim malah mengambil alat kompres tadi untuk mengompres wajah Anna. Sayangnya, lagi Dan lagi tangannya di tepis oleh Anna hingga membuat alat tersebut jatuh ke lantai dan berserakan.
Apa yang Anna lakukan sudah membuat Maxim merasa kesal dengannya. Dia langsung mencengkram rahang Anna karena telah berani melakukan hal itu padanya.
"Kau, salah jika berpikir bahwa aku bisa memaafkan perbuatan mu ini, Anna. Aku memang menyukaimu, tapi bukan berarti kau bisa melakukan sesuatu yang tidak ku sukai. Seharusnya kau tau, jika aku membenci wanita yang pembangkang dan banyak bicara seperti dirimu ini!" kedua rahangnya mengeras saat mengatakan hal itu.
Dia paling membenci wanita yang terlalu banyak bicara seperti, Anna ini. Bukankah dia sudah pernah mengatakannya, jika dia tidak menyukai wanita yang terlalu banyak bicara dan ingin tau. Lalu kenapa Anna melakukannya?
"Aku tidak peduli! aku hanya ingin keluar dari rumah ini! aku bukan tawanan dan aku ingin pulang!" teriaknya tepat di depan wajah Maxim.
Anna sama sekali tidak merasa takut dengan apa yang dia lakukan. Dia ingin memperjuangkan segalanya. Anna ini segera pergi dari tempat itu baru kembali pada hidupnya yang sebelumnya.
"Mimpi saja kau! Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan mu pergi dari sini, karena kau akan tetap di sini selamanya!"
"Untuk apa? untuk apa aku disini? aku tidak ingin menjadi tawanan anda! aku tidak ingin tinggal disini lagi!" teriak Anna lagi yang membuat Maxim kembali menghampirinya lalu menekan bahu mungilnya, hingga membuat Anna merasa kesakitan.
"Kau harus ingat satu hal, Anna. Kau sudah menjadi milikku, dan apapun yang sudah menjadi milikku tidak akan pernah bisa dimiliki orang lain. Hanya aku saja boleh memiliki barang itu termasuk dirimu. Kau tau, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan, Anna. Termasuk membuatmu bertahan di sini. Aku pastikan bahwa kau tidak akan pernah bisa keluar dari rumahku, ingat itu Anna!" ucap Maxim dengan penuh penekanan.
Dia tidak terima dengan apa yang Maxim katakan. Sumpah demi apapun dia harus segera keluar dari tempat ini. Lagi pula kemana Liana? kenapa dia belum juga membuat laporan atas dirinya? kemana wanita itu?
"Dasar Monster! orang jahat! pria tidak punya hati!!!" umpat Anna dan Maxim berlalu begitu saja dari kamarnya Anna.
Dari pada dia terus disana dan tidak bisa mengontrol hingga menyakiti wanita itu, maka lebih baik dia pergi saja.
Monster, Orang jahat. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya hingga membuat Maxim merasa pusing. Dia seperti pernah mendengar kata-kata itu. Tapi dimana? kenapa dia merasa tidak asing dengan kata-kata itu.
"Pergi ke Nightmare Club!" titah Maxim pada supirnya.
Dia memilih pergi untuk menenangkan dirinya dari pada harus berada di rumah dan bertengkar dengan Anna. Lebih baik dia pergi saja.
"Baik, Tuan." jawab anak buahnya.
Mereka pergi ke Nightmare club milik salah satu teman b******n-nya. Maxim di sambut dengan begitu heboh saat dia sampai disana.
"Holla Mr. Orlando? how are you dude?" tanya Mark, salah satu teman gilanya dulu, bahkan hingga sekarang.
"Diam dan jangan banyak bicara Mark. Saat ini Raja kegelapan sedang tidak baik-baik saja. Jadi dari pada nyawamu terancam, lebih baik kau diam saja!" timpal Jack Hartley.
Mereka tersenyum setelah berhasil menggoda Maxim.
"Aku dengar Clarista sudah kembali lagi. Lalu bagaimana?" tanya Mark yang penasaran dengan samua ini.
Maxim tidak menjawabnya, karena menurut dia itu tidak penting sama sekali. Jadi dia lebih baik diam saja. Batinnya.
Bersambung ...