Anna sengaja mencari tahu siapa wanita yang mereka temui malam itu di sebuah. Sayangnya, apa yang dilakukan sia-sia. Dia tidak menemukan bukti apapun di sini, karena setiap orang yang ditanya yang di rumah ini tidak ada satupun yang mengetahuinya.
Lebih tepatnya mereka tidak ingin membuka mulut, karena mereka masih menyayangi nyawa mereka sendiri. Bukan mereka tidak mengetahui apa yang ditanyakan Anna saat ini. Hanya saja mereka tidak ingin nyawa mereka terancam, jadi lebih baik mereka menutup mulut mereka rapat-rapat.
Sedangkan Anna, Dia sangat yakin bahwa mereka mengetahui sesuatu. Hanya saja mereka tidak ingin memberitahukan hal itu pada dirinya.
Di saat dia sedang memikirkan semua itu, tiba-tiba saya ada seseorang yang datang menghampirinya. Dia adalah Giselle. Pelayan yang Maxim tugaskan untuk selalu bersamanya dan membantu setiap kegiatannya.
"Nona," panggil Giselle saat dia duduk bersama dengan wanita itu.
Anna sendiri tidak menggapainya. Dia masih bergelut dengan pikirannya sendiri saat ini.
"Maaf, Nona. Bukan saya ingin ikut campur. Hanya saja jangan terlalu memanjakan diri anda untuk mengetahui apa yang tidak seharusnya, Anda ketahui." jelas Giselle yang berusaha membuat Anna mengerti dengan semua ini.
"Maksudnya?" tanya Anna tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Giselle padanya.
"Apapun yang Anda ingin lakukan, saya harap Anda tidak melakukannya lagi. Terutama mencari tau tentang, Tuan Maxim. Saya yakin, jika saat inipun dia mengetahui apa yang sedang juta bicarakan. Jadi saya harap, Anda bisa berpikir bijak untuk menyikapi semua ini." jelas Giselle.
Dia hanya ingin memberi pengertian pada Anna untuk tidak mencari tau apapun yang terjadi di rumah ini. Terutama tentang Maxim.
Benar saja apa yang Giselle katakan, jika saat ini Maxim mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"Ponsel, Anda Nona," ucap Giselle yang memberitahu pada Anna bahwa ponselnya berdering.
"Tuan Maxim, Nona." jelas Giselle yang membuat Anna menjawab panggilan telpon dari laki-laki itu.
"Halo, Tuan."
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Maxim, walau sebenarnya dia tau apa yang Anna lakukan saat ini.
"Saya sedang mencari tau tentang diri, Anda. Tapi tidak ada satupun orang disini yang memberi tahu saja siapa anda yang sebenarnya!" sahut Anna tanpa rasa takut sedikitpun.
Dia sama sekali tidak takut dengan Maxim, karena dia ingin hidupnya kembali lagi. Bukan hidup di dalam hunian mewah ini dan di kurung seperti seekor burung peliharaan.
"Oh, ya? hebat sekali kau berani menjawab ku seperti itu. Ingat Anna, seberapa pun kau berusaha, kau tidak akan menemukan bukti apapun tentang diriku. Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak mencari tau apapun tentang diriku? lalu bagaimana bisa kamu melupakannya?" tanya Maxim pada Anna.
Dia pernah mengatakan pada bicara pada Anna untuk tidak mencoba mencari tau tentang dirinya. Lalu bagaimana bisa dia masih berusaha mencari tahunya?
Bukannya menjawab apa yang Maxim katakan, Anna malah memutuskan sambungan telepon mereka begitu saja. Karena menurutnya itu memang tidak penting sama sekali.
"Kau salah orang, Anna. Kau sudah berada di dalam hidupku, jadi aku tidak akan membiarkan mu mencari tau apapun tentang diriku. Termasuk tentang keluargamu!" gumam Maxim.
Dia terus memikirkan Anna, sampai dimana ada seseorang yang memaksa untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Nyonya Clarista! saya sudah bilang, bahwa Tuan Maxim tidak boleh di ganggu!" ucap Julio saat dia tidak bisa menghentikan mantan istri Bosnya.
"Tinggalkan kami!" tidak Maxim pada Julio yang membuat pria itu langsung meninggalkan mereka berdua di dalam sana.
Maxim terlihat sangat tidak bersahabat saat melihat siapa yang datang. Kedua tangannya dia letakan di atas perut hingga membuat wajahnya terlihat begitu angkuh.
"Max, aku-"
"Sstt ... Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun darimu. Aku baru saja ingin memberikan sesuatu untukmu, tapi kau sudah datang. Jadi silahkan baca dan tandatangani berkas itu!" titahnya pada Clarista hingga membuat wanita itu terkejut dengan perkataan suaminya.
Ya, suami. Hingga saat ini Clarista masih menganggap Maxim sebagai suaminya. Jadi tidak heran jika reaksi Clarista masih berharap jika Maxim akan kembali lagi padanya.
Sayangnya semua itu hanya angan saja, sampai dia membaca surat tersebut hingga membuat tubuhnya menegang kaku di tempatnya Dia seperti tertanam setelah membaca isi dari amplop coklat tersebut.
Dia tambah lagi dengan Maxim yang melemparkan selembar kertas cek di wanita itu hingga mengenai wajahnya. Sakit hati memang, hanya saja dia tidak tau harus mengatakan apalagi saat ini.
"Surat apa ini, Max?" tanya Clarista setelah membaca surat tersebut.
"Aku rasa kau tau itu! jadi cepat tandatangani dan pergi dari sini secepatnya!" usirnya pada Clarista yang membuat wanita itu benar-benar merasa sakit hati karenaya.
Bersambung....