09 | Rencana Eve

1534 Words
Jam dua siang ia tersenyum. "Mereka bertiga kelihatannya baik," gumamnya, setelah jam kuliah selesai. Anna juga mengingatnya tadi, saat teman barunya yang terdiri dari Eve, Clara dan July menemuinya lagi dan memastikan ia ikut pesta di malam Minggu nanti. Dia kemudian melangkah menuju parkiran. Namun, sesaat ia terhenti. Hati dan pikirannya mengingat Uncle Rei. Lantas ia menekan angka satu dengan lama. Namun, setelah terdengar Uncle Rei menyapa, mulut Anna terkatup rapat. Dia membeku dan ia tidak berani mengucapkan satu patah kata pun! Anna menepuk dahinya geram. "Hallo." Suara dalam dan berat milik Uncle Rei mengalun tenang. Anna kontan menahan napas, secepata ia mematikan sambungan telepon itu, sambil memejam dan meringis. Kissmark itu benarkah perbuatan Uncle Rei? "Dammit, bodohnya aku! Kenapa jantungku berdegup keras seperti ini?" ia menepuk dahinya dengan kesal. Memandangi ponselnya lagi, lalu menghubungi lelaki itu untuk kali kedua. Semoga saja sekarang ia bisa bernapas dengan normal! "Kenapa tadi kau mematikan teleponmu?" Mendengar suara itu, Anna menghembuskan napasnya dalam-dalam, karena gugup setengah mati. "Hallo, Uncle. Benarkah kau memberi kissmark di leherku? Kenapa saat tidur, aku tidak merasakannya sama sekali?" Gumamnya dalam hati. Iya, ia hanya berani mengatakan dalam hatinya. Ugh! Situasi ini, benar-benar membuat Anna kesal pada dirinya sendiri yang salah tingkah, jika berhadapan dengan Uncle Rei. Bahkan hanya dengan mendengar suara Uncle Rei saja, sanggup sampai membuat pikirannya membayangkan hal yang iya-iya! "H-Hy Uncle. K-kau sedang apa?" tanyanya terbata. Lagi-lagi Anna menepuk dahinya. Bodoh, saja dia sedang bekerja! Anna lalu mengumpat kesal. Bisa-bisanya ia segugup ini saat mendengar suara berat itu! Dia lantas mengusap tengkuknya dan melangkah menuju kendaraan beroda empat miliknya yang terparkir beberapa meter di depannya. "Aku sedang bekerja. Ada apa, Anna?" tanya Andrei dengan singkat, padat, jelas dan seperti tidak ingin diganggu oleh Anna. "Itu. Anu hmm...tidak jadi. Bye Uncle!" Anna kembali menutupnya terlebih dahulu. Dia lantas berteriak tanpa suara sambil meloncat-loncat tidak jelas! "Bodoh, bodoh!" rutuknya, seraya menghadapkan benda persegi itu tepat ke depan wajahnya dan memaki ponsel yang tak bersalah itu. "Apa aku pergi ke jewelry showroom miliknya saja?" gumamnya, sambil mengetukkan ujung poselnya ke dagu berkali-kali pertanda ia tengah berpikir. Lantas, sedetik kemudian ia menggeleng kencang. "Ah, tidak-tidak! Jangan kesana. Nanti yang ada, aku tiba-tiba gugup dan berakhir terlihat seperti gadis t***l!" Lagian Uncle Rei sepertinya sedang sibuk. Iya, sibuk saja terus sampai tua. "Bodoh. Kau bodoh Ann! Rasanya aku ingin berteriak!" Dia menggeram kesal pada dirinya sendiri, dengan permukaan rona merah merambati wajah cerahnya seperti tomat. Dia menundukkan kepala, lesu. Menendang angin dipenuhi kekesalan dan berulang kali membuang napasnya kasar. Namun, tiba-tiba tubuhnya agak terhuyung mundur, bersamaan dengan sensasi dingin yang membasahi pakaian bagian depan. Anna membuka mulutnya, setengah menganga. Dammit! Siapa yang telah melakukan hal ini? Sungguh menyebalkan! "Apa kau buta? Basah semua pakaianku!" rutuk sebuah suara tipis itu dengan intonasi yang keras, tepat di depan Anna. Anna kontan tambah menganga. Apa Anna tidak salah dengar, huh? Siapa yang sudah menabrak duluan dan siapa yang sedang menyalahkan orang lain sekarang? Anna mengatupkan bibirnya menipis geram menahan amarah. Oh, manusia satu ini telah salah menganggu seseorang yang memang sedang dipenuhi rasa kesal. Anna mengangkat dagunya dan meluruskan tatapannya ke arah seorang gadis berambut ikal dan berkulit putih,sambil melirik malas ke arah satu cup juice yang sudah tergeletak di jalanan. Anna sengaja mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, lalu mengulas senyuman yang ramah. "Kau yang salah. Pakaianku juga jadi basah," ia berujar dengan intonasi dingin, seraya menyeka pakaiannya yang bernoda basah. "Kau yang menabrakku duluan. Sudah salah, tidak mau mengaku!" Gadis didepan Anna, sai pelaku biadab ini, malah melipat kedua tangannya didepan tubuh, sembari menyipitkan mata tajam dan menelisik Anna meremehkan, dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. "Ayo cepat, minta maaf! Apa kau tuli?!" Gadis itu mendecih kesal, sembari mendorong bahu Anna sampai Anna terhuyung mundur. "Tidak mau," Anna menyahut datar. Dia melangkah pergi, hendak menghindari keributan. Namun kemudian, langkahnya di hadang oleh kaki gadis itu. Tahan, Ann. Tahan. Sabar, okay? Dia hanya sengaja mencari gara-gara, hiburnya dalam hati. Napasnya mulai menderu menahan amarah, sampai kedua tangannya mengepal kuat dengan mata terpejam rapat. Berusaha untuk lebih sabar lagi. Walau pun saat ini Anna sangat ingin sekali merenggut rambut ikal itu! "Kurang ajar!" Merasa di acuhkan oleh Anna, gadis itu sontak menampar pipi Anna dengan sangat keras, sampai-sampai kepala Anna nyaris terpelanting ke arah samping dan tercipta jejak-jejak panas dari tamparan ini. Anna mengusap pipinya perlahan. Panas berdenyut itu masih lekat terasa. Anna membuka kedua kelopak matanya, menghujamkan tatapannya yang tajam kepada gadis asing menyebalkan itu. Cukup sudah! Anna tidak sanggup lagi menahan dirinya agar tidak melawan! "Ayo, tampar lagi. Ayo cepat, atau kau cuman mengegrtak saja dan tidak berani, heh?" ujar Anna yang sengaja memancing kemarahan sambil tersenyum mania dan menabrak berulang kali, tubuh bagian depan gadis itu. "Kau—" sentak gadis asing itu dengan wajah yang sudah memerah dikuasi amarah juga bercampur malu. Dia mendekatkan wajahnya ke Anna, sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi hendak melayangkan tamparan kedua. Namun dengan gerakan cepat, Anna menahan tamparannya dengan cara mencengkeram pergelangan gadis asing itu. "Jangan pernah ingin berurusan denganku," Anna mendesis. Dia lantas menarik tangan itu ke arahnya dengan tersenyum renyah dan tak merasa takut oleh intimidasi gadis asing yang ditujukan padanya. "Dengar. Aku takkan sekalipun meminta maaf untuk kesalahan yang tak pernah aku lakukan," ungkap Anna dengan ringan, tetapi penuh penekan dan gadis yang berada didepannya seketika wajahnya berubah sepucat kapas. "Katanya Anna gadis lemah. Sekarang buktinya bisa melawan intimidasi dariku. Awas saja kau Eve karena telah menipuku!" gadis itu dipenuhi amarah. Jika tahu akan seperti ini, ia 'kan lebih baik mengajak beberapa orang temannya yang lain sekaligus. Anna mendorong tangan itu seiring cengkeramannya yang terlepas, lalu membalas tamparan tadi sebanyak dua kali, tepat di kedua sisi wajah itu. Sampai jejak merah tercipta disana. Sama dengan dirinya tadi. Bahkan tamparannya berkali-kali lebih keras dan kuat. "Sekarang kita impas." Anna menyeringai senang. Di sisi lain, gadis asing itu menangkup wajahnya ketakutan, gemetar sekaligus menganga, semuanya berbaur bercampur menjadi satu. Dia melangkah mundur  dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca, kabur menjauhi Anna secepatnya. Melihat itu, Anna mengerucutkan bibirnya sambil meraba pipi bekas tamparan tadi yang masih terasa berdenyut-denyut, lalu masuk kedalam Ferrari berwarna merah muda miliknya. Dia mendekatkan wajahnya ke kaca spion tengah dan mengamati sisi wajahnya. "Jadi berbekas 'kan! Uncle pasti akan mengintrogasiku. Aduh!" rutuknya kesal saat bekas memar itu, masih terlihat jelas. Dia menghempaskan punggungnya bersandar. "Siapa gadis tadi? Aneh sekali. Seenaknya saja menyalahkan orang lain dan menamparku," hardiknya sambil mendengkus jengah. Dia lantas tersenyum senang ketika mengingat saat ia masih tinggal di Russia. "Beruntunglah aku, Grandpa Ivan dulu selalu memerintahkan pengawal pribadinya untuk mengajariku bela diri. Setidaknya aku bisa melawan jika dibully," gumamnya dalam hati. Dia kemudian menimbang-nimbang ponselnya yang juga berwarna merah muda. "Aku jadi merindukannya. Grandpa sedang apa ya sekarang? Sebaiknya aku menghubunginya saja. Jika video call, bisa-bisa Grandpa menginterogasiku dan menyelidiki sampai ke akarnya. Kasihan juga gadis yang tadi." "Ah, tidak. Aku meneleponmya kalau sudah sampai di mansion." Anna mengurungkan keinginannya itu. Dia meraih kacamata hitam di atas dashboard dan mulai melajukan kendaraannya keluar dari area parkiran. Sementara itu, ketiga gadis yang berdiri di balik pilar gedung melebarkan matanya sampai menganga, ketika melihat kemarahan Anna yang diluar perkiraan mereka bertiga. "Sial! Aku gagal!" sentak Eve, sambil menghantam dinding pilar itu. Hatinya bergemuruh sakit dan kesal bukan main bercampur rasa muak terhadap tuan Princess manja bernama Anatasia Verishkova. Namun, jika sebuah tamparan tidak berpengaruh sama sekali, ia sudah merencanakan hal lainnya. "Ternyata ia tak selemah dugaanmu Eve. Buktinya dia menghajar orang suruhanmu begitu saja," cetus Clara, sigadis berambut merah sambil mengunyah permen dan kemudian terkikik geli. "Benar. Sepertinya dia bukan lawan sembarangan," July menimpali dan menganggukkan kepalanya perlahan. Membenarkan apa yang telah diucapkan oleh Clara. Sontak, Eve yang masih mengamati kepergian Anna, memutar tubuhnya sambil menyibakkan rambut panjangnya dengan sedikit lebih keras, sampai menampar wajah Clara. "Diam kalian semua, diam! Bukannya membantuku, malah memuji Anna!" cetus Eve yang terlihat marah. Jika ia iblis, maka dapat dipastikan kedua tanduknya sudah mencuat keluar dengan hidung yang menghembuskan napas panas. Ugh! July yang melihat reaksi Eve hanya mampu menahan tawanya yang sebentar lagi meledak. "Jika kekerasan tidak berpengaruh, aku bisa menggunakan cara lain yang lebih lembut. Namun, mematikan." Eve menyeringai tipis sambil melipat tangannya didepan tubuh. "Saat pesta sedang berlangsung, sibukkan dia terlebih dahulu." Eve mengangkat sebelah alisnya yang melengkung rapi tinggi-tinggi. Perencanaan yang mantang sudah memenuhi benaknya. Tinggal eksekusinya yang harus mulus, bersih dan tepat. "Aku akan menghubungi Jonathan, Jody dan Mark. Semoga saja setelah aku memperlihatkan foto Anna, mereka menjadi bersemangat," ujarnya senang, sembari tertawa pelan dan di ikuti oleh tawa kedua sahabatnya. "Lebih baik kau lupakan mantan Sugar Daddy-mu itu. Kau hanya membuang-buang waktumu saja. Kau bisa mendapatkan yang lainnya dengan mudah," cetus Clara. Dia memutarkan kedua matanya jengah dan hal ini lagi-lagi membuat Clara semakin muak kepada Eve yang menurutnya, Ribet. "Enak saja aku melupakannya. Dia telah menghinaku habis-habisan! Bayangkan saja jika kalian berada di posisiku saat itu—Arrghhh! Aku kesal setengah mati bila mengingatnya!" Eve menggerutu, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menyembunyikan rona memalukan itu. "Aku akan pergi ke apartemen Jonathan sekarang. Pasti kedua temannya itu berada di sana juga. Bye ladies…," pamit Eve kepada Clara dan July sambil melambaikan tangannya dan melayangkan berulang kali kecupan jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD