08 | Evelyn dan kecemburuannya

1303 Words
Anna sudah bersiap pergi ke Universitas, tempat ia berkuliah. "Aku pergi duluan, Uncle. Jangan menungguku pulang!" Anna berteriak, melajukan mobil berlogo kuda itu, sembari memakai kacamata hitam. Dengan secepatnya ia menyembunyikan rona merah yang menjalari wajah, dia sempat menoleh dan memandangi Uncle Andrei dari kaca spion samping, bibirnya berkedut menahan senyuman. Di Mansion megah itu, Andrei mengirim pesan singkat kepada Anna. "Batas terlambat pulang, jam sepuluh malam. Jika melanggar aturan, kau akan tidur semalaman di teras." Send to Baby Ann. Anna: Aku tak mau, diluar sangat dingin, Uncle jahat. Melihat balasan Anna, Andrei menahan tawa. Sejurus kemudian, ia mengepalkan tangannya dan benaknya berkelebat pada permintaan Anna. Kamar itu tidak diperuntukkan bagi siapapun. Akan tetap kosong, selama pemiliknya belum kembali. Andrei lantas masuk kedalam mobil hitam, lalu pergi menuju Downtown yang merupakan pusat bisnis di California dan membutuhkan dua puluh menit dalam perjalanan untuk tiba disana. Bisnisnya yang berkecimpung di dunia perhiasan, terutama berlian sungguh sangat menguntungkan. Keluarga besar pemilik pertambangan berlian terbesar di Russia ini, merupakan perusahaan multinasional bernama Romanov's Diamond, memiliki banyak cabang jewelry showroom di puluhan negara, menjadikan mereka termasuk dalam daftar salah satu dari keluarga terkaya di dunia menurut Forbes. ______________ Anna telah tiba di California University pada jam delapan pagi, kampus ini terletak di area bernama Pasadena. Anna memarkirkan mobilnya dengan mulus, lalu ia mencari fakultas hukum dan ia sekarang berdiri di koridor panjang itu. Oke, baiklah. Anna sedikti kebingungannya di lingkungan barunya ini. Wajar 'kan? Dan tiba-tiba jantungnya berdebar-debar, kedua tungkai kakinya gemetar, napasnya seolah berat. Inilah satu-satunya momen berharga yang tidak sabar ingin ia rasakan. Anna tersenyum riang. Ini adalah sensasi menggelenyar, saat melangkah menuju kampus barunya. Dia juga mengamati mahasiswa dan mahasiswi yang sedang sibuk bersama teman-teman mereka atau pun yang bersemangat masuk kedalam kelas. Anna mengulas senyuman, melihat kesibukan mereka. Dia tidak sabar bertemu dengan teman-teman barunya nanti, karena sejak dulu satu-satunya ia ketahui hanyalah home schooling yang menurutnya membosankan, meski itu bersama Kevan dan ketiga teman lainnya. Anna sudah berdiri dalam lift dan menekan angka tiga. Namun, tak lama kemudian, pintu lift yang hendak tertutupi kembali terbuka lebar, berbarengan dengan belasan orang yang berebutab masuk, sampai-sampai Anna terdorong paling belakang, hingga punggungnya menabrak dinding lift yang terasa dingin. Good! Pagi hari yang sangat mengesankan! Anna mencari kelasnya, sambil sesekali memandangi ke sekelilingnya..Seketika langkahnya terhenti, saat melihat seseorang yang familiar. Anna mengerutkan dahinya berpikir keras, seiring langkahnya yang sudah tiba di belakang sosok berpakaian warna hitam dan mengenakan high heels. Sosoknya terlihat anggun dengan rambut gelap yang tergerai bebas dan akan mudah menarik atensi lelaki mana pun, karena ia terlihat begitu cantik. Anna hendak menyapa, tetapi ia takut keliru. Namun, ia ingat saat melihat kalung blue saphire yang melingkari leher jenjang itu. "Eve—kau Evelyn?" Anna mengamati penampilan glamour Eve dari ujung kaki, sampai ke ujung kepala. Jika kemarin Eve hanya mengenakan sweater dan celana jeans biru pucat dan memakai sepatu yang terkesan sporty. Sangat berbeda dengan gadis yang berada didepannya kini. Mendengar suara familiar itu, kemudian Eve memutar tubuhnya. Dia membulatkan matanya terkejut. "K-Kau Anna? Sedang apa disini? Ini sebuah kejutan!" sahut Eve yang mengulas senyuman lebar, kemudian meraih Anna kedalam dekapannya. "Aku baru saja masuk ke Universitas ini. Kau?" sahut Anna dengan bersemangat dan senyuman tak pernah lenyap mengulas di bibirnya yang telah terpoles lipstik berwarna merah muda yang merupakan warna kesayangannya. "Aku pindahan dari Universitas di Chicago." Eve tersenyum tipis. "Sebuah kebetulan yang menyenangkan." Anna tersenyum lagi untuk ke sekian kalinya, sambil merapikan helaian rambutnya yang panjang. "Yep. Kau benar Ann. Sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan," Eve berujar pelan. Dia pun tersenyum senang. Tetapi tunggu! Tidak ada satu pun yang mengetahui bila kata hatinya saat ini berujar sinis. Tidak ada yang namanya kebetulan didunia ini, Anna. Aku sudah mengaturnya dengan baik, gumamnya dalam hati sambil menyibakkan rambutnya yang gelap itu ke balik bahu. "By the way, aku mengambil fakultas ekonomi. Tetapi aku berada di sini karena ingin menemui kedua temanku." Eve melirik ke arah Clara dan July seraya tersenyum manis dan mengangkat sebelah alisnya yang melengkung rapi. Mengindikasikan kedua temannya itu harus setuju dengan apa yang ia katakan. "Ya itu benar Ann." sahut Clara sekenanya. "Uh... kenapa di hari yang cerah ini kau mengenakan jaket hitam itu? Kau sakit?" Eve bertanya, sambil mengamati Anna lalu menahan tawanya yang hampir saja meledak. Eve menunjuk tepat kepada bagian leher Anna yang rapi tertutup turtleneck. "Uhmm. Leherku digigit serangga." Anna meringis, ketika ketiga gadis didepannya saat ini malah menertawakannya dan situasi ini terasa sangat menyebalkan. Semuanya gara-gara serangga kurang ajar! "Nope. Kau tetap terlihat memukau, Ann, coba aku lihat bekas gigitan serangganya." sahabat Eve menyela, sambil menyibakkan rambut Anna kesamping. "Oh my! Bekas serangga katamu? Itu kissmark!" Dia memekik kaget, kedua matanya membulat ke arah Eve yang berubah masam. Sial. "Kiss-kissmark?" Anna bertanya, menyentuh lehernya dengan tidak sanggup berkata-kata. Kedua mata Anna menyipit kesal. b******k, rasa-rasanya ia ingin segera menghantam bibir July sampai bengkak. Berani-beraninya menertawakannya seperti ini! Anna melirik ketus ke arah July yang langsung meringis. "Rasakan! Memangnya aku mudah dibully?!" Rutuk Anna dalam hati, tetapi senyuman manis tetap terukir di bibirnya. "Woah, dasar b***h, gadis nakal. Siapa lelaki itu? Pasti kekasihmu," goda Eve, mencairkan suasana yang sempat menegang. Kekasihku? Blush! Sontak wajah cerah Anna memerah sampai ke telinganya. Kekasih apanya? Sekarang ini ia hanya tinggal dengan Uncle Rei saja. Menyadari hal ini, Anna menepuk dahinya. Jangan-jangan. Jangan-jangan dia pelakunya?! "Aduh, aku malu. Tapi aku tetap harus bersikap biasa saja didepan mereka. Awas saja Uncle Rei, jadi selama ini kau diam-diam menyelinap kedalam kamarku? Ugh! Menyebalkaaaaan!" Anna merutuk dalam hati. "Bi-Biasalah. Kekasihku itu memang seperti serangga. Sukanya menyerangku. Lupakan tentang hal ini," ucapnya mengalihkan pembicaraan dan meringis sekilas, sembari merapikan turtleneck demi menutupi lehernya. "By the way, kami sedang membicarakan pesta ulang tahun salah satu teman kami yang di adakan di night club. Malam minggu ini," sela Eve, tersenyum kepada Anna penuh rencana manis yang sudah matang. "Pasti akan menjadi pesta yang keren. Kau harus datang. Kau pergi bersama kami saja." Clara menimpali sembari menyenggolkan bahunya ke Eve lalu terkikik geli. Tidak ada salahnya pergi bersama mereka. Anggap saja bersenang-senang. Daripada di mansion, uncle Rei selalu sibuk, gumamnya dalam hati sambil mengerutkan dahi tanda tengah berpikir. "Sepertinya aku akan bergabung bersama kalian, selama kalian tidak keberatan," Anna menjawab, dengan binar bahagia dalam sorot matanya. "Demi apa kau ikut? Aku sangat bahagia dan sama sekali tidak keberatan." Eve lantas memegang lengan Anna dan ia meloncat-loncat karena senang, bahwa rencananya akan berjalan sebegitu mudahnya! "Aku juga senang kau sudah mengajakku ke sana. Hari-hariku takkan membosankan lagi!" seru Anna yang memeluk bahu Eve. "Serahkan saja padaku." Eve lantas menepuk dadanya pelan. Dia menghujamkan tatapannya yang tajam kepada Anna yang tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Karena sebentar lagi aku punya kejutan untukmu, gumam Eve dalam hati dan ia sudah tidak sabar lagi untuk melakukan sesuatu hal manis saat pesta nanti. Akan ia pastikan, bila Anna akan bernasib buruk. Lebih buruk darinya saat di usir dengan kasar oleh Andrei dalam kamar hotel sialan itu. "Aku harus masuk dulu ke kelas. Sepertinya Dosen sudah datang," ujar Anna sembari melangkah pergi setelah berpamitan pada ketiga gadis cantik itu. "Okay honey, see you!" Eve terkekeh pelan dan menyibakkan lagi rambut panjang terurai itu ke balik bahunya, masih sambil menatap Anna tajam, sampai sosok Anna masuk kedalam kelas. "b***h, kau akan memberi pelajaran padanya?" sela Clara, si gadis berambut pendek itu berujar, seraya menampar rambut bagian belakang Eve. Eve memutar kedua matanya kesal. "Iya. Setidaknya seseorang akan murka nanti. Oh, aku tidak sabar, Anna sialan kesayangannya ternyata..." ia menyeringai tipis lalu berbisik tepat di depan wajah Clara dan July. "A Little Bitch." Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak. Eve lalu sengaja memasang muka sedihnya dan berujar penuh ejekan. "Anna oh Anna, sebentar lagi kau game over," dia mengentakkan kakinya kesal, sambil melenggang keluar gedung itu dan diikuti kedua temannya yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD