Adalah wanita yang sering kali ia tiduri saat dulu, dibawah kontrak yang telah disepakati bersama.
Ingat, ya. Sebuah kontrak! Jadi Andrei tak bersalah. Suruh siapa si wanita rubah ini malah menyetujuinya dan dengan lancangnya menyatakan perasaannya pada Andrei. Jelas saja, Andrei menolaknya langsung!
Disana, Andrei menyipit ke arah si rubah betina dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Dia tahu seperti apa si rubah betina ini yang sangat keras kepala dan pendendam.
Apakah Andrei akan membiarkannya begitu saja, jika pada akhirnya Eve mulai mendekati Anna. Karena demi apa pun, Andrei tak akan pernah membiarkan hal ini terjadi dan jangan sampai Anna mengetahui kelakuannya di masa silam.
"Ann aku sudah menghubungi Dokter. Kau tunggu didepan." Setengah tersenyum, Andrei meminta Ann melakukannya yang di angguki oleh Anna dan langsung melangkah keluar.
Sekarang yang ada hanyalah Andrei dan Evelyn.
Sekarang Eve beradu pandang dengan mata Andrei yang menyala penuh amarah, hingga urat-urat lehernya menegang dan kedua tengannya terkepal kuat. Namun, Eve menyeringai senang dengan sorot mata menggoda. Lalu dengan gerakan s*****l, ia membasahi bibirnya dengan lidah dan berkedip.
Namun, Andrei tidak tergoda.
Lelaki ini, kontan mencengkeram leher Eve dengan sangat kuat, sampai-sampai Eve kesulitan bernapas. Dia mendekatkan wajahnya kepada wajah Eve dengan merah padam dipenuhi amarah yang menggelegak.
"What are you doing? Jauhi Anna, kalau tidak aku akan membunuhmu. Mengerti?" Andrei menggeram kesal dan bertambah mengencangkan cengkeramnya pada leher itu.
Sesak, sial.
Eve berusaha bernapas.
Tangan Eve terjulur dan meraba lengan Andrei yang otot-ototnya menegang. "O-Ouch, Daddy. Ini sangat menyakitkan. Lepaskan, atau Anna tercintamu akan melihat betapa kejamnya kau menyingkirkan seorang wanita muda menderita sepertiku!" Eve mengancamnya.
Brengsek.
Eve benar-benar sedang mengancam Andrei?
Kemudian terdengar suara yang Andrei kenalin. "Uncle sedang apa?" Anna bertanya dengan intonasi meragukan. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka berdua?
"Aku hanya memeriksa lukanya." Andrei menjauhkan tubuhnya dari Eve, ibu jarinya terpaksa meraba luka sialan itu yang membuat Eve malah mengulum senyuman menyebalkan.
Andrei berdiri dan merogoh sesuatu dari dalam dompetnya. "Ini uang untukmu, jika sudah selesai, kau boleh pergi di antar sopirku." Dia melemparkan lembaran uang dan mendarat tepat dihadapan Eve yang mengepalkan tangannya, geram. Namun, berbanding terbalik dengan keadaan hatinya, Eve saat ini tersenyum simpul.
Anna yang melihat Uncle Andrei begitu, langsung melontarkan protes. "Uncle jangan kasar seperti itu! Ini salahku. Jangan memperlakukannya seperti dia ini wanita bayaran!" Anna memekik kesal.
"Tidak apa-apa Ann. Orang asing sepertiku sudah beraninya menganggu kalian berdua. Maafkan aku Ann." Eve terisak-isak, sesekali ia tersenyum pada Anna dan menyeka air matanya dengan punggung tangan. Sementara Andrei yang melihat kelakuan Eve hanya sanggup membuang napasnya kasar. Arrrghh sialan. Sialan. Sialan!
"Dokter cepat periksa temanku. Sekarang juga," ujar Anna.
Dokter keluarga pun melakukan yang seharusnya ia lakukan; memeriksa dengan teliti luka-luka itu.
"Lukanya tak membutuhkan jahitan. Tapi dibersihkan saja dan di kompres. Nanti aku beri beberapa resep obat." Sang Dokter pun undur diri setelah memberikan secarik resep pada Anna. Sementara Andrei masaih saja memalingkan wajahnya. Terlalu muak menghadapi Eve iblis ini.
Kedua gadis itu lantas berpamitan pada Andrei yang malah Andrei acuhkan. Terlebih Eve si wanita penuh rencana busuk. Rasanya Andrei ingin melenyapkan Eve, supaya tak mengganggu Anna dan dirinya. Lantas Andrei memantau Anna juga Eve dari balik gorden transparan putih itu.
Anna terlihat memegang ponsel dan mengetikkan sesuatu disana yang entah apa.
Oh, rupanya Eve meminta Ann memasukan nomor ponselnya. "Anna terimakasih untuk semuanya. Beberapa hari lagi, aku pergi ke birthday party sahabatku. Aku ingin kau ikut." Eve tersenyum ceria, hingga memperlihatkannya deretan giginya yang putih bersih. Di mata Anna, sepertinya Eve orang yang tulus. Sehingga Anna pun balas debgan senyuman yang tak kalah lebarnya.
"Kau benar-benar ingin mengajakku?" Anna bertanya dengan raut wajah yang penasaran.
"Tentu saja aku akan mengajakmu atau kau ingin terjebak di mansion sebesar lapangan bola ini seorang diri? Kau perlu hiburan 'kan, setelah berada di Los Angeles." Rayu Eve tanpa henti.
***
Beberapa hari kemudian.
Kemarin sore, Anna sangat kesal terhadap Andrei yang mengkhawatirkannya berlebihan. Dia bukanlah gadis kecil lagi yang bisa lelaki itu atur seenaknya. Apalagi, Uncle Rei sudah bersikap kasar pada Eve yang merupakan teman pertamanya!
Anna menghela napas panjang.
Dia berdiri didepan cermin kamar mandi, setelah membalut tubuhnya dengan bathdrobe. Alisnya mengernyit dalam, dengan setengah menganga ia mendekatkan wajahnya sampai nyaris saja menempel dengan permukaan cermin yang mengembun dari uap air hangat.
Dia menyapukan telapak tangannya ke permukaan cermin ini berulang kali. Dia mengangkat dagunya, sembari mendekatkan lehernya untuk mengamati bercak-bercak kemerahan yang baru, kemudian merabanya perlahan.
Anna mengerucutkan bibirnya kesal, sambil memasuki walking closet dan memilih pakaian berleher tinggi.
"Sial. Aku lupa semalam meminta Lorens menyemprotkan pembasmi serangga di kamarku. Kurang ajar memang, serangganya susah mati!" rutuknya, sembari mendecakkan lidah, tidak habis pikir di tempat semewah ini masih saja muncul makhluk menjijikkan itu!
"Jika seperti ini terus, teman-teman baruku akan menertawaiku. Menjelang musim panas mengenakan turtleneck sampai menutupi leher? Yang benar saja!" Dia kehabisan akal dan memutar kedua bola matanya.
"Ah..., aku tahu alasan yang tepat, aku terserang demam." Dia tersenyum ceria, seraya mengenakan pakaiannya, lalu membubuhkan makeup setipis mungkin.
Tetapi kalau dipikir-pikir, itu merupakan ...
"Alasan bodoh," gumamnya merutuki diri sendiri. Dia melangkah keluar kamar dan menelusuri koridor lantai dua. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti tepat didepan sebuah kamar.
Dia lantas menempelkan telinga ke permukaan pintu itu kemudian memutar handle sembari menghela napas dalam-dalam.
"Sebenarnya ini kamar milik siapa? Selalu saja dikunci. 'Kan jadinya penasaran," gumamnya, sambil berusaha mendorong pintu tersebut dengan bahunya sekuat tenaga. Namun percuma dan pada akhirnya ia menyerah.
Anna memejamkan matanya sembari menghirup aroma yang menguar dari celah bawah pintu dengan dalam-dalam dan panjang.
Aroma ini tetap sama, walau pun sedikit memudar.
Aroma vanilla bercampur dengan aroma segar yang lainnya.
Dia menghela napas.
Lebih baik aku tanyakan pada Lorens. Jika dia tidak mau memberitahuku, aku akan menerornya setiap hari, gumamnya dalam hati sembari meneruskan langkahnya sampai ia tiba di tangga laknat yang tak memiliki sisi untuk berpegangan. Sudah cukup satu kali saja ia terpeleset dan mendarat di lantai dengan sangat memalukan!
Anna menuruni undakan tangga itu perlahan-lahan. Bahkan hampir seperti mengendap-endap, sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru mansion megah itu.
Di arah sebelah kanan teletak area ruang utama yang terpisahkan dinding dan sebelah kiri adalah ruangan makan, lalu selurus dirinya dan paling ujung ialah pintu untuk pergi ke area kolam renang.
"Uncle kemana ya?"
Anna sudah sampai di lantai satu dengan mengerutkan dahinya keheranan. Masion sebesar ini terlihat sepi. Bahkan jika ia berteriak, maka suaranya akan cepat menyebar dan menggema.
"Mungkin semalaman ia tidak pulang. Enak sekali, tidak ada yang melarangnya," gumamnya sambil mendecih dan terus melangkah, sembari merogoh kunci mobil dalam tas selempang miliknya.
"Anna."
Suara berat nan dalam itu, sontak membuat Anna terlonjak mundur dan memejamkan mata. Dia menutup mata untuk meredakan degup jantung yang berdebar kuat.
"Astaga!" sentaknya sembari menghela napas lega, setelah menoleh ke arah suara itu.
Rupanya Uncle Rei sedang berada di area ruang makan. Duduk bersandar dan menopang kakinya ke atas tungkai sambil melipat lengannya di depan badan.
Uncle Rei mengangkat tinggi-tinggi sebelah alisnya yang tebal itu. Bibirnya samar terangkat membentuk seringaian tipis.
"Apakah kau sakit?" tanyanya ringan, sembari menelisik penampilan Anna dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terlebih mengamati leher Anna yang sengaja tertutupi turtleneck.
"Aku diserang serangga biadab tidak tahu diri itu empat malam berturut-turut. Coba Uncle bayangkan, itu 'kan sangat menyebalkan! Jadi terpaksa aku salah kostum seperti ini. Aku ingin pindah ke kamar yang selalu dikunci saja!" sahut Anna setelah menelan salivanya gugup seraya mengamati pakaian formal yang membalut tubuh lelaki itu.
Kontan terpasang senyum di wajah Andrei yang tampan bak pahatan patung dewa Yunani, membuat Anna ikut tersenyum samar.
Anna hanya merasa heran, mengapa Uncle Andrei tak pernah terlihat jelek meskipun cemberut, marah, apalagi tertawa seperti ini. Uncle Andrei semakin jutaan kali lipat lebih tampan.
Anna lantas memilih duduk di samping lelaki ini.
"Kau ingin menempati kamar berpintu merah muda. Tidak, Ann. Tetapi kau dipersilahkan memilih kamar lain." Suara itu berubah dingin dan menyentak hati Anna detik itu juga. Membuat gadis ini menjadi jauh lebih penasaran dari sebelumnya.
Bahkan sepertinya Uncle Andei tidak ingin membahas mengenai kamar itu. Sampai-sampai Anna hendak bertanya lagi, tetapi Uncle Rei mengalihkan pembicaraan.
Sebenarnya ada apa dengan kamar itu dan mengapaa terlihat penting?
Ah, atau jangan-jangan didalamnya ada seorang wanita simpanan? Atau mungkinkah Uncle berubah menjadi psikopat yang membunuh korbannya dan menyimpan jemarinya sebagai kenang-kenangan?
Namun, Uncle tak akan mungkin melakukannya, tetapi kalau Uncle Elias yang melakukannya, barulah sangat bisa dimengerti.
"Sarapan dulu sebelum pergi kuliah." Andrei memecah keheningan, setelah mengamati Anna yang malah tengah asik melamun.
"Tidak biasanya kau mengajakku sarapan. Atau jangan-jangan Uncle merasa bersalah karena sudah membentakku kemarin sampai aku menangis?" Anna menyipit dan mengamati semua perubahan ekspresi lelaki ini yang terlihat kurang nyaman.
Anna memberengut kesal.
Uncle tak mau mengakui, atau merasa gengsi? Tanyanya dalam hati, karena ia tidak berani mengucapkannya langsung. Nanti Uncle bisa-bisa mendadak berubah menjadi singa pemarah seperti semalam. 'Kan menakutkan.
"Mulai hari ini dan seterusnya, kita biasakan sarapan bersama." Andrei kemudian mengetukkan jemarinya di atas meja, tanpa memutuskan tatapannya yang tajam, tetapi terselip bara gairah terhadap Anna.
"Memangnya aku setuju?" Anna bertanya meragukan, seraya mengangkat dagunya menantang ke arah Andrei, yang sekarang melangkah menghampirinya.
Seringaian tipis tersungging tajam di sudut bibir Andrei. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping itu, mendekatkan bibir maskulinnya ke telinga Anna.
"Aku tidak suka dibantah. Peraturanku tetap harus kau patuhi," bisiknya serak Sampai-sampai hembusan napas hangatnya menerpa sisi leher Anna. Hingga ia melangkah mundur, sambil menahan napas sesaat bersama debar jantung yang bertalu kencang.
Sementara itu dihadapannya Anna, Andrei tidak sekalipun melepas tatapannya dari Anna dan situasi ini benar-benar membuat Anna sesak napas karena jauh dalam hatinya, lelaki yang tak berhenti menatapnya saat ini, seolah memiliki daya tarik yang sangat sulit di abaikan begitu saja!