Dewa penolong

1630 Words
Leo benar-benar menikmati perjalanannya malam ini, ia bahkan rela melakukan sesuatu yang sudah menjadi hal umum bagi masyarakat awan, yaitu duduk berjam-jam menggunakan travel bus yang katanya bisa mengantarkan mereka, para pemudik ke kampung halaman masing-masing. Ternyata seperti ini rasanya melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan umum, ia sekarang mengerti kenapa istri kecilnya itu lebih memilih fasilitas ini. Cukup nyaman..... "Mas... Mas ee..." seseorang yang duduk di sebelahnya menggoyangkan lengan Leo hingga lelaki itu menoleh ke arahnya. "Mas boleh nggak saya duduk di situ?" ujarnya sedikit memohon sambil mengendikan dagu ke arah bangkunya. "Saya pengen ambil gambar jalanan mas e, nanti mau tak kasih lihat ke adek-adek saya." ujarnya merenges dengan logat jawa medoknya yang langsung membuat Leo tersenyum tipis dan menggangguk. Keduanya sudah berpindah posisi, dalam semalaman Leo tak pernah tidur sama sekali. Matanya sibuk memandangi para penumpang travel, nampak sebagian besar dari mereka sudah terlelap. Ada juga yang masih sibuk memandangi ponsel mereka. Terkadang telinganya menangkap suara dengkuran orang tidur, suara anak kecil menangis, suara beberapa orang berbincang, dan yang pasti suara jalanan di luar seperti klakson serta para pedagang kaki lima yang menghampiri dan menawarkan dagangan mereka. "Mas...!" Leo menoleh menatap pemuda tadi, wajahnya begitu datar saat pemuda itu menelisik raut wajahnya. "Mudik atau mengunjungi kerabat mas?" Leo mengerutkan alis mendengar kalimat itu, selama ini dalam semasa hidupnya ia tak pernah melakukan hal itu. "Mengunjungi kerabat." jawabnya sekenanya, membuat pemuda itu mengangguk lantas memperbaiki duduknya menatap ke jendela. "Di lihat dari penampilan mas e.... Sepertinya anda dari kalangan wong sugih." mata pemuda itu bergerak melirik ke atas seolah memikirkan sesuatu. "Tujuan ke mana mas?" "Belum tau." "Loh, emang sampeyane numpak travel iki nggak nanya dulu ya?" "Tanya?" ujar Leo mendadak menjadi orang lugu karena ini memang pengalaman pertama baginya. "Coba kalo saya boleh tau, mas e tadinya mau kemana?" "Semarang." jawabnya lirih sedikit ragu. "Heh, anda salah naik travel mas." Leo sontak menoleh menatap wajah pemuda itu, dan membuat dirinya terlihat konyol. "Memang kemana tujuan anda?" "Wonogiri mas, dan sekarang kita sudah masuk area Gunung Kidul." ujarnya antusias, kepalanya melongo ke dekat jendela kaca menatapi langit yang mulai menerbitkan sang surya. "Wuaaahhh, akhirnya balik kampung cuaaaahhh..." ujarnya penuh riang membuat Leo ikut menatap jalanan luar melalui jendela kaca samping pemuda itu. "Oh iyo. Apa mas e butuh seseorang untuk di antar ke Semarang?" Leo tersenyum tipis dan menggeleng, ia merogoh saku jaketnya mengambil ponsel miliknya. "Bener pancen wong sugih, hapene wae apel kerowak." ujarnya lirih begitu takjub memandangi gadget yang di pegang Leo. "Baiklah, kalian temui saya di Semarang besok hari. Karena hari ini saya akan menemui Bimo di gudang perusahan miliknya terlebih dahulu." Leo menutup teleponnya sepihak setelah menyampaikan pesannya ke anak buahnya. Drtt... Leo segera memeriksa pesan email yang baru saja masuk, matanya sedikit melirik ke arah pemuda itu yang sedari tadi fokus memperhatikannya. "Apa ada yang ingin anda bicarakan?" "Aahhh, tidak-tidak..." pemuda itu meringis salah tingkah, tangannya mengibas ke atas sambil menggelengkan kepala. "Hanya saja mas e ganteng, kaya artis." ia tertawa keras merasa dirinya ketangkap basah oleh Leo. "Anda sedang mencari pekerjaan?" ujar Leo yang tadi tak sengaja melihat kertas map di dalam tas ransel milik pemuda itu. "Iya mas, tapi susah." "Punya pengalaman kerja?" "Belum pernah kerja sama orang lain mas, soalnya di rumah bapak punya bengkel sendiri." Leo mengangguk-ngangguk mengerti ia tersenyum tipis memandang pemuda yang jauh lebih muda darinya. "Boleh saya lihat?" Leo melirik kertas map tersebut, membuat pemuda itu paham dengan segera mengambil dari dalam tas ranselnya dan menyerahkannya untuk Leo. "Kenapa tak mengasah kemampuan anda dengan kursus terlebih dahulu?" "Sejujurnya sih pengen, tapi bapak tak punya uang lebih." ujarnya sambil tertawa pelan. "SMK jurusan mesin!?" gumam Leo lirih, ia lantas menyodorkan kembali dokumen milik pemuda itu. Mendadak suasana dalam bus travel tersebut terasa sunyi, hinggal Leo sendiri pun terlelap karena bisa merasakan udara sejuk kota Wonogiri. "Mas, mas e...!?" pemuda yang duduk di sebelah Leo menggoyang pelan lengannya. "Bangun mas, kita sudah sampai." ujarnya antusias membuat Leo mengedip-ngedipkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatannya. "Terima kasih." ia lantas beranjak dari duduknya, mengecek tas bawa'annya dan ikut turun menyusul penumpang lainnya. "Woaaahhh sejuknya...." ujar pemuda itu merentangkan kedua tangannya menghirup udara pagi kota Wonogiri. "Mas Rama....!" seru seseorang gadis kecil dari kejauhan, ia berlari menghampiri pemuda tadi yang sudah berjongkok sambil merentangkan tangan. "Pelan-pelan." ia terkekeh saat sudah menangkap tubuh mungil itu kedalam dekapannya. "Mak..." lantas memeluk seorang wanita yang sepertinya adalah ibunya. "Kerjo kok mung sediluk lee, opo wes oleh duit?" "Iyo mas, jare koncoku kerjo ning jakarta biasane setaun pisan baline. Kok mas Rama durung ono rong wulan wes bali maneh." ujar salah satu bocah kecil yang sepertinya keduanya adalah adik Rama. Mendengar rentetan pertanyaan itu, Rama meringis sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. "Ekhm, itu..." ia mencoba berfikir sesuatu untuk bisa beralasan yang tepat di depan keluarganya, hingga tak sengaja matanya bersibobrok dengan Leo yang ternyata sedari tadi memperhatikannya. "Sebenarnya Rama-" kalimatnya terpotong saat ia melihat Leo sudah mengulurkan tangan di hadapan ibunya. "Perkenalkan saya Leo bu, saya yang meminta putra anda untuk mengantarkan saya ke Wonogiri." "Anda....?" ibu dari Rama memandangi Leo serta Rama bergantian. "Saya berencana membuka cabang bengkel mobil di daerah sini, sekalian mampir karena kebetulan teman saya sedang meninjau gudang perusahaannya di daerah Wonogiri." "Lalu bagaimana anda bisa mengenal putra saya pak?" "Dia yang akan bekerja dengan saya, dan nantinya akan menjadi orang kepercayaan saya di bengkel kota ini." ujarnya tenang membuat Rama melongo mendengar. "Walaaaahhhh.... Anda bos'nya Rama, kenalin saya Lilis pak bos. Dan ini kedua anak saya, mereka adik-adik Rama." ujarnya sambil mendorong-dorong pelan punggung kedua anaknya. Keduanya nampak malu-malu dengan santun meraih punggung tangannya dan menciumnya, Leo tersenyum tipis serta mengusap kedua puncak kepala mereka. "Apa bapak akan mampir di tempat kami?" ujar ibu Lilis yang sedari tersenyum lebar bahagia mengingat anaknya benar-benar memiliki pekerjaan di kota. Leo mengangguk lantas mengikuti langkah ibu serta adik-adik dari Rama. Dan Rama, karena sedari tadi dia hanya berdiri tak bergerak dengan mulut menganga. Wajahnya nampak konyol merasa sedang bermimpi, tapi mengaduh setelah dirinya menampar pipinya sendiri. "Baaaayyoooohhh, larane cah." ujarnya sambil mengusap-usap pipi bekas tangannya. "Berarti aku nggak mimpi nih, tapi kenapa ya dengan orang kota itu?" ia gegas menyusul naik angkutan umum. "Jadi di sini hanya sehari ya pak bos?" "Panggil Leo saja bu." "Ah ya nggak boleh begitu, anda kan bosnya Rama." ujar bu Lilis terkekeh geli. "Suwemen to lee, ngopo wae awakmu." Rama yang baru saja duduk di kursi penumpang dekatnya hanya mampu meringis. "Pak bos mu mau ke gudang milik simbah Prasodjo, nanti kamu antarkan saja kesana." "Sebenarnya nanti akan ada yang menjemput saya bu, jadi nggak perlu repot mengantarkan saya." "Loh, punya kenalan juga di sini?" Leo hanya tersenyum tipis menanggapinya, dia nampak tenang memandangi ponsel miliknya. "Ini gubug kami pak bos..." ujar bu Lilis setelah sampai, ia langsung lari ke dalam rumah. "Mas e..." Rama berdiri menghadap Leo, wajahnya nampak ragu untuk menanyakan seribu hal kepadanya. "Kenapa mas e bicara begitu pada orang tua saya?" "Saya memang sedang berencana untuk membuka cabang bengkel mobil di setiap kota-kota kecil seperti Wonogiri." ujar Leo yang menoleh ke belakang setelah melihat beberapa anak buahnya sudah sampai berdiri berjajar di dekat mobil. "Me-mereka siapa mas eeehh?" entah kenapa melihat lebih dari lima orang bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam membuat Rama gugup. "Orang saya." ujar Leo tenang. "Bos..." salah satu dari mereka berdiri mendekat di kiri Leo. "Sebentar." ujarnya kemudian merangkul pundak Rama untuk masuk ke dalam rumah. "Ma-mas bukan mafia kan?" Rama bergidik ngeri membayangkan lelaki yang sekarang malah tertawa pelan menanggapinya. "Ayo masuk, biarkan saya berpamitan dengan orang tua kamu." pemuda itu mengangguk, tangannya bertautan terlihat jelas begitu gugup membuat ayahnya yang tadi hendak keluar bersama istrinya pun heran. "Pak Leo ya?" ujar bapak, Leo mengangguk lantas menyambut jabatan tangannya. "Benar pak...." "Silakan masuk pak." "Jadi benar anda bos dari Rama?" Leo tersenyum tipis dan mengangguk lagi. "Ini kartu nama saya." ujarnya menyodorkan kartu kecil persegi empat itu. "Leonard Del Wingston." gumam bapak sambil memandangi kartu pemberian Leo. "Jadi apa benar kata istri saya anda akan membuka bengkel di Wonogiri." "Benar pak...." "Kenapa anda menolongnya?" bukan bapak tak tahu kalau putranya tak memiliki perkerjaan di kota, tapi melihat Leo yang begitu dingin dan nampak tegas merubuhkan rasa ragu yang tadi menyelimuti. "Dia yang menolong saya pak." "Apa Rama melakukan hal buruk kepada anda?" "Tidak, dia pemuda yang baik." Leo tersenyum tipis ia bahkan tak merasa terintimidasi dengan sikap lelaki paruh baya di hadapannya. "Sebenarnya saya hanya ingin pamit pada bapak dan ibu." "Looohhh kenapa buru-buru pak bos." ujar bu Lilis sambil menyajikan teh hangat serta camilan. "Karena saya harus menjemput teman saya bu, dan nanti kita akan bertolak ke Semarang." ujar Leo ramah, bu Lilis nampak sedikit kecewa dengan itu. Tapi dia tak berani menahan lama-lama bos dari anaknya tersebut. "Di minum dulu, nggak baik membiarkan perut kosong di pagi hari." ujar bapak yang langsung di angguki Leo. Rama yang hanya menyaksikan interaksi orang tua serta orang asing tersebut benar-benar membuatnya bingung. "Mmm... Kenapa anda...." Leo menatap datar pemuda yang nampak gugup kepadanya. "Saya memang ingin membuka cabang di sini, jadi kamu boleh bekerja dengan saya bila menginginkannya." Rama memaku tatapan tajam itu, dia bahkan tak menemukan keraguan sama sekali. "Terima kasih bos." Rama langsung meraih jemari Leo, ia menjabatnya dengan penuh semangat serta mata berkaca-kaca. "Anda benar-benar dewa penolong saya." Leo terkekeh mendengar itu, ia pun mengatakan pada Rama serta keluarganya bahwa dirinya harus segera pergi menemui sahabatnya sekarang. Karena tujuan utamanya adalah ke Semarang untuk menjemput istri kecilnya yang nakal dan berani minggat saat Leo sibuk dengan pekerjaannya. "Sekarang yang katanya seorang dewa penolong ini, akan membawamu pulang kelinci kecilku." ujar Leo menyeringai lantas melaju dengan cepat menuju gudang, dimana Bimo pasti sedang meninjau semua kegiatan para buruh tani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD