Leo sudah menghampiri sahabatnya dari gudang penyimpanan yang ternyata memang lumayan dekat dari tempat tinggal Rama.
Ia juga sekalian mampir sebentar untuk mengunjungi keluarga pak Slamet, bertutur sapa dengan mereka.
Dan sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju Semarang, dimana nanti dirinya kemungkinan akan menginap sehari di villa milik sahabatnya itu.
"Bisa lo jelaskan kenapa gue musti nyamar?"
"Cailey ikut dengan neneknya di acara tetangganya, dan tempatnya dekat dengan area pasar." Bimo mangguk-mangguk paham.
"Kenapa dia bisa kabur, bukannya rumah lo itu penjagaannya sangat ketat."
Leo menghela nafas panjang, mana mungkin ia menceritakan hal yang membuat istrinya kabur.
"Oh iya, kebetulan lo di sini." Bimo menjentikan ibu jari dan telunjuknya, Leo menoleh sekejap dan kembali fokus di jalanan.
"Gue ada tugas buat lo." Bimo lantas menjelaskan semua keinginannya, agar sahabatnya itu mengambil alih hak kepemilikan sebuah yayasan yang membuat Leo tersenyum tipis.
"Lo yakin gadis yang lo incar itu mau sama lo?" ujar Leo datar sedikit mengejek.
"Antara yakin dan nggak yakin sih bro, tapi kan setidaknya usaha dulu." ujar Bimo ragu dan sedikit sewot.
"Jangan lo jadikan dia sebagai mainan." bukan Leo tak tau sepak terjang Bimo, tapi sahabatnya itu selama ini belum pernah merasa seserius ini terhadap lawan jenis.
"Nggak bro, gue sungguh-sungguh. Yang gue mau sekarang cuma dia satu-satunya buat gue." Bimo menghela nafas, pandangannya teralih ke jalanan luar jendela mobil.
"Tapi masalahnya, dia mau jadi tkw." mendengar kalimat itu Leo sontak memandangi raut wajah Bimo.
"Tkw?" Bimo mengangguk mengiyakan.
"Lalu sekarang apa rencana lo?" ujarnya setelah mobil yang di kendarai mereka berhenti sejenak di lampu merah.
"Gue nggak masalah dia mau ke negara asing manapun, tapi dia harus tetap menjadi milik gue seorang." Bimo begitu percaya diri mengungkapkan itu semua, Leo hanya setia mendengarkan sembari fokus di jalanan.
"Ini masih jauh?"
"Nggak juga, setelah masuk gapura besar. Sekitar sepuluh menit kita sampai di villa." Leo mengangguk paham, ia mengikuti semua arahan jalan yang di pandu oleh Bimo.
Sesampainya masuk di sebuah pekarangan luas nampak rumah megah dengan desain joglo khas Jawa Tengah, Bimo menoleh menatap Leo saat mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti.
"Kenapa mereka juga ada disini?" Leo hanya mengendikan kedua bahunya, dalam hati ia tertawa geli melihat Irfan sekarang menatap tajam dirinya.
"Lo berdua lama amat sih bro." seru Wiliam sambil mengambil alih koper kecil milik Bimo.
"Kenapa lo bisa disini Will?"
"Gue besok siang ada pembukaan rumah sakit cabang disini." ujarnya salah tingkah lantas melirik Irfan.
"Gue kan asisten lo bro." sahut Irfan meringis tanpa mau memandangi Leo yang berdiri di dekat Bimo.
"Kalian seperti anak gue yang baru dua minggu tak melihat gue, terus nyusulin." Bimo terkekeh lalu masuk ke dalam villa.
"Sebenarnya gue nyampe sini semalem bro." ujar Wiliam setelah mendaratkan tubuhnya di kursi bar ruang dapur.
"Terus kenapa jadi ke villa gue." Bimo menuang satu persatu minuman buat sahabatnya, dan mengulurkannya untuk Wiliam yang duduk dihadapannya.
"Thanks, gue pengen rehat aja di villa lo yang megah ini."
William mendeham lantas menatap Bimo "Sorry ,gue nggak ada bantu waktu perusahaan elo bermasalah. Gue lagi di sibukin proyek besar pembukaan rumah sakit di setiap kota kecil."
Leo hanya geleng-geleng kepala mendengar percakapan mereka, ia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak di sofa panjang sambil memejamkan mata. Setelah perjalanan jauh dengan kendaraan umum, dirinya juga yang harus menyetir sendiri mobil miliknya untuk sampai ke Semarang dengan Bimo dan itu lumayan melelahkan.
"Lanjutin cerita lo yang tadi bro." ujar Irfan yang terdengar jelas sangat penasaran, meskipun Leo tidak melihatnya.
Ah biarkan mereka melepas rindu setelah beberapa hari tak berkumpul karena kesibukan masing-masing, Leo tak peduli akan itu.
Yang dia butuhkan sekarang, bagaimana membawa pulang istri kecilnya nanti.
Memikirkan sosok itu, Leo yang tadinya lelah mendadak kembali bersemangat. Ia bangkit dari tidurnya dan beranjak dari sofa, sepertinya menikmati aroma tembakau di malam hari mampu memberi pencerahan di segala kegundahannya.
"Gue cariin dari tadi, nggak taunya di sini." gerutu Irfan yang sudah menyusulnya duduk di tepi kolam renang.
"Den, ini teh hangatnya." mendengar itu, Leo menoleh ke arah wanita itu lantas mengangguk. "Makasih bik." ujarnya ramah, ia beranjak dari tepi kolam lantas duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Hey..." Irfan melongo, merasa dirinya tak di anggap oleh sahabatnya itu.
"Lo nyebelin banget sih bro." ujarnya lantas duduk di kursi seberang meja kecil yang sudah tersajikan dua gelas teh panas yang masih mengepul.
"Mau ngomong apa?" ujar Leo datar, Irfan menelisik sorot mata Leo yang sedari tadi memandangi langit malam. Nampak jelas dirinya sedang memikirkan sesuatu, tapi sekarang bertanya tentang dirinya pun percuma, karena Leo bukan tipekal seseorang yang terbuka.
Irfan menghela nafas panjang, ia ikut menyandarkan punggung lebarnya di kursi rotan yang begitu nyaman.
"Jadi lo kemarin cuma nangkep keluarga angkat Sarah bro?"
"Iya." jawabnya singkat.
"Kenapa, bukannya lo bilang dia juga ikut terlibat?"
"Itu bukan pure keinginan dia." tampak tenang Leo menjawabnya, bahkan dengan enjoy ia sekarang menyeruput teh miliknya itu begitu nikmat.
"Tapi lo sampe abisin keluarga angkatnya, kenapa lo sisain dia doank?"
"Karena gue tak sekejam itu memisahkan bayi dengan ibunya."
"Maksud lo?" dahinya merengit, tapi tak lama matanya membulat, mulutnya melongo dan ditutup satu tangannya.
"Jangan bilang kalo Sarah dan bayi yang di tangani Wiliam-?" perkataannya menggantung, dan diangguki Leo.
"Kok bisa? Apa dia hamil dengan bule, kan dia baru pulang dari Kanada." Leo menyeringai tipis, sangat tipis. Dia tak menjawab dan hanya menghisap asap rokok sambil memandangi langit yang begitu cerah nampak kelap kelip bintang di sana.
"Besok ikut gue kan?" Irfan mengangguk.
"Iya, Bimo barusan kasih tau gue."
"Lho naik apa kesini Fan..?"
"Ah berengsekk lo, udah gue bilang kesini bareng malah ninggalin gue." gerutu sahabatnya itu yang membuat Leo terkekeh geli.
"Gue nggak mungkin ngajakin lo naik travel kan, jadi gue berangkat sendiri."
"Apa, lo tadi bilang apa? Travel? Lo naik travel?" mendengar rentetan pertanyaan itu Leo kembali terkekeh geli, sudahlah tak akan ada yang percaya dengan tingkah nekatnya.
"Iya."
"Serius?"
"Iya..."
"Woaaahhh, gila."
"Sudahlah, habisin teh lo dulu. Setelah itu pergi tidur." ujar Leo menyeruput cairan terakhir di cangkir tehnya lantas beranjak dari sana meninggalkan Irfan yang melongo terheran-heran dengan sikapnya.
"Huufftt... Lagi-lagi sendiri."gumam Irfan dengan segera meminum habis tehnya yang sudah mulai hampir dingin lantas menyusul sahabatnya untuk tidur di ruang yang sudah di sediakan khusus untuknya.
*****
"Nek, tadi itu siapa?"
"Suruhannya lek Yo..." ujarnya.
"Hah, apa? Tadi nenek bilang apa?" Cailey menghentikan kegiatannya mencuci piring, ia mendekati neneknya untuk memperjelas pendengarannya.
"Apanya?"
"Tadi suruhan siapa?"
"Lek Yo.... Tadi itu tukang yang di suruh lek Yo, katanya besok akan ada pembangunan di daerah ini." ujar sang nenek, ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Syukurlah, aku kira Leo." gumamnya sambil mengelus d**a lega.
"Buruan cuci semua piring kotornya, nenek mau tidur udah malem." nenek yang sedari tadi memandangi gelagat aneh dari cucunya, hanya bisa menghela nafas panjang.
"Siap bos..." Cailey berdiri tegap dengan posisi hormat ke neneknya, dengan semangat ia melanjutkan aktifitasnya yang tadi sempat tertunda.
"Vi... Vi.... Sampai kapan kamu akan menyimpan semua masalahmu sendiri, bahkan hal sebesar ini kamu nggak cerita sama nenek." dari balik kamar nenek mengintip cucunya yang nampak riang tanpa beban, ia hanya merasa iba dengan nasib cucunya selama ini.
Semoga saja apa yang di katakan orang tadi bukan omong kosong semata.
Nenek menghela nafas panjang ia menutup rapat pintunya dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Semoga mimpimu terwujud nduk, hidupmu di lindungi selalu. Hanya itu harapan nenek...." ujar nenek setengah terlelap hingga ia terbuai dalam tidurnya.