Jatuh hati?

1297 Words
Saking tak sabarnya akan bertemu kelinci kecilnya, Leo semalaman tak bisa tidur. Bahkan sekarang dia sudah berada di teras menikmati sejuknya embun pagi yang menyapanya. "Lo tu ya, masak oke, punya restoran bejibun, sampai go international, saham di kita-kita banyak. Dari perusahaan tambang Leo ada dua puluh sembilan persen pure punya lo, perusahaan rumah sakit gue tiga puluh tiga itu juga pure punya lo, dan yang terakhir bisnis hotel lo dengan Bimo itu lima puluh persen sendiri." Terdengar jelas ocehan William dari dalam rumah membuat Leo tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ia pun beranjak dari duduknya dan ikut bergabung dengan mereka di meja makan yang langsung menghirup aroma sedap masuk ke dalam indra penciumannya, yang lumayan membuat cacing-cacing di dalam perutnya berdansa ria. Leo melangkah mendekat menengok masakan apa yang akan Irfan hidangkan. "Makan lo, nggak usah ngoceh." nampak Irfan menyodorkan satu porsi nasi goreng, mata Leo hanya fokus mengamati interaksi keduanya yang begitu menggelikan. "Nah ini ni, yang bikin gue sebel ke elo, harusnya lo tu jadi Bos kita, secara kekayaan milik lo sendiri lebih gede ketimbang kita. Tapi lo masih aja jadi asisten Bimo." gerutu sahabatnya yang berprofesi dokter bedah itu membuat dirinya hanya mampu tersenyum tipis melihatnya, benar-benar cerewet pikirnya. "Cari apa bro?" Leo menoleh melihat Bimo yang baru saja bergabung dengan mereka. "Ada kopi?" "Ada, paling ujung kanan." ujarnya lantas ikut menyantap nasi goreng buatan Irfan. "Nggak makan dulu? Tuh udah gue bikinin toast." ujar Irfan dengan sigap mengambilkan toples kaca yang Bimo maksud dan menyodorkan ke Leo. "Makasih." Leo sengaja menyeduh empat gelas kopi hitam robusta khas daerah Semarang, dengan keahliannya yang dulu ingin memiliki cafe dan menjadi seorang barista handal ia menekuni hal itu selama menjadi seorang mahasiswa di Universitas Harvard. "Thanks." ujar mereka setelah selesai sarapan, dan langsung menikmati kopi panas buatan Leo. Sembari berbincang-bincang mengenai yayasan dan kasus yang menimpa mantan kekasih Bimo, hal itu sengaja Leo ungkapkan secara gamblang, bahwa apa yang ada di pikiran mereka tentang Sarah selama ini adalah salah. "Lo nggak papa kan bro?" ujar Irfan yang sudah duduk di balik kemudi dengan Leo di sebelahnya. Mereka baru saja menyelesaikan urusan yang di yayasan. "What?" ujar Leo memandang sejenak sahabatnya itu, tapi ia kembali fokus ke wanita yang sekarang sedang berbincang dengan seorang pemuda begitu bahagia. "Liatin dia 'hihi haha' sama tu bocah?" Irfan mendesis berfikir, tangannya menopang dagu sambil mengusap jenggotnya yang mulai tumbuh. "Sumpah, gue pikir cuma Bimo yang gila karena makhluk yang namanya wanita. Tapi lo?" kalimatnya terpotong saat Leo berbincang dengan anak buahnya dari jendela kaca yang sudah terbuka. "Baik bos." ujar lelaki berwajah mengerikan itu. "Gue kenapa?" tanya Leo yang bermaksud mendengar lanjutan kalimat Irfan. "Ya lo malah parah, nikahi bocah di bawah umur." "Dia sembilan belas tahun Fan." "Terus umur lo berapa?" "Tiga satu." Irfan hanya menjentikan ibu jari dengan telunjuk, ia menghela nafas sambil geleng-geleng. "Gue nikahi dia untuk melindungi dia dari musuh-musuh gue." "Ya apa musti lo nikahi, kan bisa lo jadiin adik lo?" Leo tak menjawab pertanyaan Irfan, dirinya turun dari dalam mobil setelah melihat anak buahnya berhasil menculik istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tapi saat ia sudah melangkah tak jauh dari mobil, dirinya berbalik arah kembali menghampiri Irfan. "Apa lagi?" ujar Irfan yang membuka jendela kaca mobilnya saat Leo berdiri di dekat mobil. "Lo juga harus lindungi dia?" ujarnya lantas kembali meninggalkan Irfan yang melongo tak mengerti, tapi ia yakin Leo memiliki alasan mengatakan itu. "Bro?!" serunya, Irfan turun dari mobil dan menghampirinya. "Maksud lo siapa?" "Sarah." "Tapi kenapa musti gue?" "Karena sikap pecundang lo yang membuat dia menderita seperti sekarang." Irfan terpaku mendengar perkataan Leo, tubuhnya mendadak kaku saat otaknya mulai mencerna maksud dari kalimat itu. "Sampaikan ke Bimo kalo gue langsung balik dan nggak mampir ke villa." ujar Leo sambil menepuk pundak sahabatnya itu, lantas masuk ke dalam mobil yang sudah di isi pekikan suara istrinya. "Lepasin saya berengseeekkk...." ujar Cailey tubuhnya memberontak karena kedua tangan serta kakinya sudah terikat. "Sudah mainnya, kita pulang." ujar Leo hangat sambil membelai puncak kepala istrinya begitu sayang, ia melepas ikatan pada istrinya yang malah mendorongnya kuat. "Apa maksud anda hah, rumah saya di sini." pekiknya, nafasnya memburu hingga dadanya naik turun tak terima dengan sikap Leo. "Jangan lupa kamu adalah seorang istri, dan sebagai istri yang baik, tidak akan pergi tanpa pamit ke suaminya." ujarnya dingin, Leo menatapnya datar karena sikap berlebihan Cailey. Lelaki itu marah, dia sangat marah saat melihat sorot tatap mata istri kecilnya begitu membencinya. Hal itu berbanding terbalik dimana tadi dia menyaksikan Cailey bercanda ria dengan seorang pemuda yang mungkin sekarang sedang bingung sudah tertidur di halaman rumahnya karena seseorang membuatnya pingsan. "Anda sendiri yang melanggar kontrak, dan itu artinya kita sudah bukan siapa-siapa lagi." geram Cailey, berkali-kali ia mengingat dirinya di gagahi oleh lelaki yang di nikahinya karena kesepakatan kontrak, membuat darahnya kembali mendidih. Selama ini ia menjaganya hanya untuk lelaki yang akan menjadi suaminya kelak, tapi dia...? Ah lupakan, karena mau bagaimana pun Leo tetap juga suaminya. Dan itu yang membuat Cailey merasa dirinya salah mengambil keputusan selama ini, memang orang gila bin berengsekk. Leo menyeringai mendengar itu, dengan kasar menjambak rambut istrinya dan mendesis tepat di telinganya. "Siapa kau beraninya memerintahku?" tubuh Cailey gemetar, keberanian yang tadi dia kumpulkan hilang sudah. "Tu-tuan...." ujarnya, air matanya sudah tak mampu di bendung lagi. "Sa-sakit tuan." Cailey memelas, otaknya langsung berputar mengingat kejadian dimana Leo membunuh ayah kandungnya. "Sakit?" ujar Leo remeh, Cailey langsung mengangguk mengiyakan. "Sa-sakit tuan." belum sempat ia bernafas, kepalanya sudah terbentur di kaca jendela mobil. "Aaahhh.... hiks.. hiks..." Leo keluar dari mobilnya, ia melangkah memutari belakang mobil lantas menggendong istrinya begitu ringan dan membawanya masuk ke dalam jet pribadi yang di sediakan untuknya. "Jangan memancing amarahku sayang, karena suamimu ini bisa saja bersikap kasar lebih dari tadi." ujar Leo lembut, ia mencoba menyentuh tubuh istrinya, ia terkejut melihat respon istrinya yang gemetar ketakutan melihatnya. "Maaf..." ujar Leo sangat menyesal karena lepas kendali terhadap istrinya sendiri, ujung matanya bahkan sedikit basah saat menyentuh luka lebam di pelipis istrinya karena benturan kasar akibat perbuatannya. "Ke-kenapa anda masih saja membawa saya." ujarnya yang masih terisak, "dalam kontrak perjanjian yang tuan setujui, sangat jelas bahwa tuan akan menunggu saya untuk mau di sentuh." Leo tercengang mendengar itu, ia bahkan sama sekali tak menganggap serius surat perjanjian itu. Ah... Sial... Leo bak kena boomerang sendiri, itu karena setan dalam dirinya selalu membisiki agar ia bisa segera mengesahkan hak kepemilikannya sesuai janjinya pada seseorang yang ia sayangi dulu. "Maaf..." ujarnya lirih penuh sesal. "Dan demi sumpah, saya tidak pernah menganggap surat itu adalah hal yang harus menjadikan kita sepasang suami istri Cailey." istrinya itu berhenti dari tangisnya. Matanya memandangi Leo yang sudah menunduk dengan isakan tangis kecil, pundaknya nampak bergetar membuat Cailey tak mengerti akan hal itu. "A-apa maksud anda?" "Karena saya menginginkan kamu lebih dari apapun?" mata sebam itu memandangi Leo tak paham, alisnya mengerut setelah merasa mengerti dengan arah jalan pikiran Leo. "Apa ini karena anda takut saya melaporkan anda ke polisi? Percayalah tuan, saya tidak akan melakukan itu. Saya bahkan bahagia melihat anda membunuh para bajingaan itu." ujarnya ragu, dan itu hanya ditanggapi kekehan pelan Leo. "Sudahlah lupakan." Leo memejamkan mata setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman di jet pribadi miliknya. Tapi Cailey, dia masih saja mengamati wajah lelaki yang menjadi suaminya itu. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Yang jelas saat melihat lelaki itu menangis, dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia merasakan sesuatu yang tidak ia mengerti, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tangannya menyentuh dadanya, meraba merasakan debaran tak biasa begitu aneh. "Apa ini?" gumamnya sendiri. "Tidak mungkin aku menaruh hati pada pria gila ini kan?" Kalimat yang keluar dari mulut istri kecilnya, masih terdengar jelas Leo. Ia tersenyum tipis sangat tipis hingga Cailey yang masih saja memandanginya tak menyadari hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD