Cailey kenyang bukan main, ia mengusap perutnya yang sedikit membuncit karena puas memakan semua makanan yang bibi Sri hidangkan tadi.
"Ck, ck, ck... Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan..." gumamnya sendiri sambil tersenyum puas memandangi piring-piring kosong di hadapannya.
"Bibi mau kemana?" melihat wajah bi Sri sedikit panik dengan membawa sesuatu mampu menarik atensinya.
"Oh ini non... Bibi hampir saja lupa ngantar teh hangat buat mas Leo." ujarnya sambil mengangkat sedikit cangkir yang berisikan teh ke arah Cailey.
"Biar saya aja bi, sekalian ada yang mau saya bicarakan dengan tuan Leo." dengan segera mengambil alih cangkir teh itu lalu melesat ke arah ruang kerja Leo.
Pastikan kalian menangkap mereka, hidup atau mati.
Cailey urun mengetuk pintu karena Leo nampaknya sedang berbicara serius dengan seseorang, yang sepertinya ia sedang berbincang lewat telepon.
Good, manusia biadaab seperti mereka memang pantas pergi ke neraka.
Masih setia menguping. Cailey mendengkus tak suka dengan perkataan Leo itu, memangnya dia pikir dirinya itu bukan penjahat?
Baiklah saya tunggu kabar baik dari kalian.
Sepertinya Leo sudah mengakhiri panggilan teleponnya, dengan sigap ia segera mengetuk pintu dan ia masuk setelah mendapat sahutan dari orang yang berada di dalam.
"O... mmm... Anu, sa-saya bawakan teh hangat untuk anda tuan." heran deh, sebenarnya apa yang salah dengan suaranya. Setiap kali berhadapan dengan lelaki dewasa di depannya itu, lidahnya mendadak kelu seolah terbelit dan bicara gagap.
Ck, seperti manusia bodoh saja.
"Taruh saja di meja, kamu boleh keluar." ujar Leo tanpa menolehnya karena lelaki itu fokus pada berkas-berkas yang sedang ia pelajari.
Cailey mengangguk lalu meletakkan teh itu di meja kerja Leo, tangannya gemetar saat matanya tak sengaja memandangi lengan kekar berotot itu sontak mengingatkannya pada kejadian di kamar mandi tadi.
Sial...
Separuh dari isi cangkir itu tumpah di meja bahkan membasahi berkas-berkas penting milik Leo, yang membuat Cailey semakin ketakutan adalah lelaki itu tak menunjukan reaksi apapun kepadanya. Karena Leo malah bersandar kedua tangan bertautan, kaki menyilang serta alis terangkat satu menatapnya dengan wajah datar.
"Tu-tuan..." cicitnya.
"Maafkan saya." saking takutnya suaranya seperti tercekik dan tenggelam, tawa Leo hampir pecah tapi ia tahan dengan menggigit bibir bawahnya saat memandangi Cailey begitu gugup menyadari keteledorannya sendiri.
"Apa menunduk dan memandangi jarimu sendiri seperti itu adalah menjadi kebiasaanmu...?"
"Ya?" ia mendongak sejenak sebab tak paham, tapi lagi-lagi menunduk nyalinya menciut bila melihat lelaki dewasa itu duduk begitu elegan dengan wajah datarnya. Percayalah, laki-laki itu begitu seksi dan menggairahkan.
"Cailey...?!"
"Saya tuan."
"Lihat saya."
"Maaf tuan, maafkan saya. Karena saya telah mengacaukan pekerjaan anda, maafkan saat tuan." suaranya gemetar, entah kenapa bayangan akan dibunuh oleh lelaki di hadapannya itu membuatnya ingin gila.
"Cailey..." suara berat, serak basah yang seksi dengan nada rendah itu membuat seluruh tubuhnya merinding setiap kali dia mendengar namanya keluar dari mulut lelaki itu.
"Kemarilah, saya tidak akan menyakitimu."
"Ma-maaf tuan."
"Kemarilah ma baby girl...."
Blushhh... wajahnya bak tomat busuk yang merah padam karena panggilan favorit lelaki itu kepadanya.
"Sa-saya eh-" saking tak sabarnya Leo dengan sikap Cailey, ia akhirnya menariknya lengannya paksa untuk duduk di pangkuannya.
"Tu-tuan.."
"Tolong jangan seperti ini tuan." ujarnya bergetar semakin menunduk, ia bergerak tak nyaman di pangkuan Leo.
"Lihat saya Cailey...!" gadis itu mendongak sekejap lalu menunduk lagi seperti hal nya tadi, tubuhnya bergerak tak nyaman dan semakin gelisah karena ada sesuatu yang mengganjal di antara kedua bongkahan pantatnya.
"Biarkan saya turun tuan."
"Berhentilah bergerak seperti itu baby girl..." ujar Leo suaranya memberat semakin tersiksa karena istri kecilnya itu entah tuli atau tak mau mendengarkannya, dia bahkan semakin aktif bergerak seolah sengaja menggesekan tubuhnya di miliknya.
"Saya bilang berhentilah bergerak seperti itu, ah fuck...!"
Leo menjambak rambut istrinya agar mendongak, menarik kepalanya lalu menyambar bibir mungil itu dengan kasar, dirinya sudah tak sabar lagi melihat istrinya yang begitu menggoda.
Dengan rakus ia mengulum bibir itu sampai akhirnya ia menggigit bibir bawah Cailey yang langsung memekik dan membuka, memberi kesempatan lidahnya masuk mengeksplor deretan gigi serta membelit lidah gadis yang ada dalam pangkuanya.
Cailey mendadak menjadi patung, tubuhnya kaku tak bergerak sama sekali tak mengerti dengan keadaan sekarang sampai akhirnya Leo melepas ciumannya itu. Matanya berkedip-kedip memandangi mata Leo yang menggelap penuh birahii, hingga lagi-lagi ia terkejut setelah bibir penuh seksi itu mengecupnya mencumbunya turun hingga leher jenjangnya.
Bahkan tangan lelaki itu semakin berani menyusup masuk ke dalam kaosnya, meremas-remas dari luar bra membuat Cailey mendongak ikut menikmati permainan Leo.
Entah kapan Leo membebaskan pakaian serta bra miliknya, karena lelaki itu bergerak bebas meremas serta menyusu layaknya bayi menghantarkan aliran listrik di seluruh sarafnya membuat Cailey seolah sulit bernafas tapi malah mendesah layaknya seorang jalangg.
Kakinya lemas, tubuhnya lemas, tapi miliknya begitu basah meski otaknya menolak, tapi tubuhnya sangat menginginkan sentuhan lebih dari lelaki yang merajai tubuhnya itu.
"Tuaannn..." desahnya, tubuhnya gelinjangan dan mengerang saat Leo memasukan jemarinya menyusup di belahan intim miliknya mengusap bijinya memutar menggodanya penuh hasrat.
Braaakkk.... Leo menggendong istrinya layaknya koala lalu menyingkirkan semua barang di meja yang menghalangi kegiatannya, dengan pelan merebahkan tubuh Cailey lalu mengangkat kedua pahanya dan membiarkan kaki mulus itu menggantung dipundaknya.
"Aaahhhpaah yang anda lakukan." Leo menjilati bagian intimnya dari luar kain segitiga itu, lalu menariknya kesamping menampilkan bibir tebal merekah basah dan basah.
"Tuan..." dengan ibu jari, Leo membukanya lalu menjilati dinding licin itu begitu nikmat dan rakus.
"Aahh... oh may..."Cailey di buat gila dengan permainan lincah lidah Leo di liang liat surgawi miliknya. Kakinya semakin melemas saat Leo menyedot kencang miliknya semakin menggodanya hingga tubuhnya tersentak-sentak merasakan sesuatu keluar dari organ intimnya. Nafasnya terengah-engah setelah mendapatkan pelepasannya, tapi tak lama kemudian ia memekik kaget lalu memejamkan matanya saat Leo melepaskan benda pusakanya yang sudah berdiri tegak dan kokoh.
"Tenanglah, sakitnya hanya sebentar." dengan bodohnya Cailey mengangguk meskipun tubuhnya bergetar merasakan miliknya sakit luar biasa bak di belah saat Leo sedikit demi sedikit mendorong paksa pusakanya masuk ke lubang liat itu.
"Sakiiit..." ia memejamkan erat mata sambil mengerutkan alisnya menahan rasa sakit, hingga Leo mengecup seluruh wajahnya menyalurkan rasa tenang dan mampu membuat pikirannya sedikit melupakan rasa nyeri diantara selangkangannya.
"Tahan sebentar, milikmu sudah menelannya habis." lagi-lagi ia mengangguk pasrah meski masih menahan sakit.
Pinggul Leo mulai bergerak pelan, ia mengerang sebab miliknya di jepit sangat kuat. Tapi gerakannya lama kelamaan di percepat hingga Cailey mendesah penuh birahii karena semakin lama rasa sakit yang ia rasakan berubah menjadi nikmat.
Ah...ah...ah...
Berkali-kali Cailey mendapatkan pelepasannya, tapi Leo masih saja betah dengan aksi tumbuk menumbuknya.
Sampai akhirnya gerakannya semakin cepat, menumbuk semakin dalam mencengkram pinggul istrinya yang sudah posisi menungging, bergerak maju mundur terus menerus dan... Caileeeyyyyhhh....hah...hah...hah...
Nafas Leo terengah engah setelah ia mendapatkan pelepasannya, begitu deras miliknya menyembur membasahi rahim istri kecilnya itu.
"I love you..." bisiknya lalu menjilati telinga istrinya, dan ia menggerakan pinggulnya lagi karena pusakanya kembali turn on saat memandangi miliknya masih dijepit oleh istrinya.
Leo melakukan itu berkali-kali sampai istrinya itu pingsan dan ia membopongnya sendiri kembali ke kamar mereka.
Setelah membersihkan diri ia ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Cailey, memandangi wajah istri kecilnya itu dengan tatapan dingin yang sulit di artikan.
Drrttt...
"Ya..."
Sudah ada perkembangan?
"Anak buah gue udah menghabisi keluarga Atmaja."
Apa harus dengan membunuh mereka, bro?
"Salah satunya kabur, tapi akan gue pastikan mereka menangkapnya lagi."
Apa hal ini kita kasih tau ke dia?
"Up to you." Leo menutup panggilannya lalu meletakan kembali ponselnya di atas nakas.
Cailey mengerang, matanya perlahan membuka dan hal pertama yang di lihatnya adalah seorang pria dewasa bertelanjang d**a dengan senyum tipisnya yang langsung membuatnya salah tingkah karena dirinya begitu pasrah tubuhnya di gagahi oleh suami yang berstatus kontrak itu.
"Tuan..." panggilnya serak.
"Hmmm?" Leo hanya menggumam jarinya merapikan anak rambut Cailey.
"Perlu sesuatu?" Cailey menggeleng pelan, mencoba bangkit dari tidurnya ia meringis merasakan nyeri di bagian intimnya.
"Apa masih sakit sayang?" tubuhnya membeku mendengar nada khawatir dari suaminya itu, ia mendeham mencoba menetralkan rasa gugupnya.
"Mmmm, tuan." ujarnya lirih, matanya melirik-lirik takut Leo yang sudah memandangnya penuh intens.
"Apa setelah ini kontrak kita berakhir?" Leo mengerutkan alis mencoba memahami perkataan Cailey.
"Apa setelah ini tuan akan membebaskan saya?" ia mencoba memberanikan diri mengutarakan semua yang selama ini ia pendam.
"Biarkan saya menjalani hidup saya secara normal tuan, anggap saja kejadian tadi adalah kesepakatan anda mengakhiri perjanjian kontrak yang dulu anda buat."
"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan." ujar Leo begitu dingin membuat nyali Cailey semakin menciut, tapi ia tetap memberanikan diri untuk menyampaikan semua yang ada dalam hatinya.
"Bisakan anda melepaskan saya?"
Wajah Leo semakin kaku, nafasnya memburu mendengar ucapan istri kecilnya itu.
"Asal kamu tau, kontrak itu hanyalah sebuah kertas yang tak ada artinya sama sekali bagi saya." Leo beranjak dari ranjang ia melangkah keluar sebelum emosinya meledak mendengar semua omong kosong yang keluar dari mulut istri kecilnya.
"Shit...." umpatnya setelah ia duduk di atas sofa, punggungnya bersandar mencoba menetralkan emosi dalam dirinya di ruang kerjanya.
"Bos...?!" Leo membuka kedua matanya.
"Kita sudah menangkap Bani Prasodjo, apa yang akan anda lakukan." Leo menyeringai mendengar laporan anak buahnya.
"Antar saya ke sana." Leo beranjak dari duduknya, ia mengikuti langkah anak buahnya menuju tempat dimana para manusia sampah itu di tangkap.
Saatnya bermain-main... gumam Leo dalam hati menyeringai berjalan begitu elegan sambil menghisap asap rokoknya.