Fakta kunti kunto

1346 Words
Bibi Sri yang tadinya hendak menutup pintu utama mendadak berdiri kaku, telinganya menangkap suara seperti tangisan pilu di tengah malam ini. "Alah ini apa lagi ni, jangan nakut-nakutin saya donk mbak kunti." ujarnya bergetar, ia berjalan merambat bak maling jemuran karena dirinya baru kali ini mendengar sesuatu hal aneh seperti itu. "Mbaaahhh, anakmu ini anak baik-baik. Sri mohon pergilah ke negara asalmu mbah..." gumamnya sambil komat kamit, meskipun takut ia masih bekerja dengan baik. Menutup satu per satu pintu rumah Leo yang memiliki beberapa buah pintu. "Hiks, hiks, hiks..." Langkah bibi Sri kembali berhenti, saat dirinya melihat sosok wanita duduk meringkuk di tepi kolam menangis terisak-isak membuat kakinya bergetar sekujur tubuhnya mendadak lemas layaknya jelly. "To-to-tolong." ujarnya lirih, tapi dirinya masih setia berdiri di posisinya. "To-to-tolooong, a-a-ada kunti..." serunya setelah ia memiliki tenaga berteriak, sedangkan wanita yang menangis tersebut mendongak menoleh ke belakang menatap dirinya. "Bik Sri.... hiks, hiks..." wanita paruh baya itu yang tadinya sudah berancang-ancang untuk berlari kencang karena melihat wanita memakai baju putih dengan rambut terurai panjang menutupi wajahnya akhirnya urun setelah menyadari siapa suara yang memanggilnya. Matanya menyipit sambil menguceknya menajamkan penglihatannya meyakinkan bahwa wanita itu adalah istri dari majikannya. "Non Cailey?" "Bik Sri.... Ini saya bik, hiks..." tangannya merentang, ia kembali terisak setelah mengetahui wanita yang tadinya hendak lari meninggalkannya berjalan pelan ke arahnya. "Non ngapain di sini...?" ia sangat terkejut melihat wajah kacau Cailey. "Bibi.... Tolong saya bik..." "Ya ampun non, ayo berdiri non, bibi bantu." "Saya... Saya...." brukk.... "Non.... Non... TOLONG.... TOLONG...." Cailey pingsan setelah bibi Sri hendak membopongnya berdiri, yang membuat wanita paruh baya itu terkejut lagi adalah air kolam di depannya itu berubah menjadi merah. "Darah?" kedua matanya melotot setelah menyadari dari mana warna itu berasal. "Tolong..." serunya sekuat tenaga berharap ada yang mendengarnya, sampai salah satu satpam yang menjaga gerbang depan itu tergopoh-gopoh berlarian masuk menghampiri kedua wanita itu. "Ada apa mbok?" "Ini Ki tolong bantu simbok angkat non Cailey." Riski langsung menoleh menghadap ke pangkuan bik Sri nampak seseorang yang tercetak jelas lekuk tubuhnya. "Matamu jangan jelalatan lee, kalo nggak mau di tembak mas Leo." ujar bik Sri yang langsung meraup dengan tangan ke wajah Riski lalu segera menutupi tubuh Cailey dengan kain taplak meja yang kebetulan berada di dekat kolam renang. "Ma-maaf mbok." dengan ringannya satpam itu mengangkat tubuh Cailey, ia mengikuti arahan bibi Sri agar membawanya langsung masuk ke kamar Leo. "Makasih ya Ki." ujarnya lalu menutup kembali pintu kamar Leo, ia melangkah kembali mendekati istri Leo dan memeriksa darah yang sepertinya masih saja keluar dari organ intimnya. "Halo mas Leo?" Ya bik ada apa? "Tolong pulang sekarang, non Cailey pendarahan." Apa?! Makasih bik, sekarang saya pulang. "Iya mas." saat hendak menutup panggilannya Leo berseru dari seberang. Bik...? Bibi Sri? "Ya mas Leo?" Apa sudah menelepon dokter untuk memeriksanya? "Sudah mas, katanya beliau segera datang." Oke, saya sekarang pulang. Pastikan istri saya baik-baik saja bik. Bibi Sri mengangguk lalu meletakan ponselnya di saku jaketnya. "Non... Non... Kamu kenapa lagi sih non." gumamnya sendiri merasa iba, wanita paruh baya itu begitu telaten mengusap keringat Cailey yang sedari tadi berkucuran. Sedangkan Leo, yang tadinya hendak menghajar salah satu anak buahnya yang lalai dengan pekerjaan itu urun setelah mendapat kabar dari asisten rumah tangganya. "Biar saya antar bos." Leo mengangkat satu tangannya tanda tak setuju. "Saya pulang sendiri, kamu urus saja mereka." "Baik bos." Leo segera masuk ke dalam mobilnya, dengan segera melajukan mobil membelah jalanan kota. Ia seperti kesetanan, mobil yang di kendarainya melesat begitu kencang. Sampai-sampai banyak pengendara lain mengumpat memakinya karena cara menyetirnya yang sembarangan. Tin... tin... Ia segera keluar dari mobilnya setelah gerbang di buka oleh satpam penjaga rumahnya. "Tolong urus mobilnya pak." ujarnya pada satpam tersebut lantas Leo berlari kencang masuk ke dalam rumah. Brakk... "Mas Leo?" bibi Sri terkejut saat Leo membuka pintu kamarnya dengan kasar, wajahnya nampak sangat panik saat laki-laki itu merengkuh bahunya. "Bik, apa yang terjadi dengannya bik?" "Mas Leo, lepasin bibi dulu." Leo tersadar dengan sikapnya yang terlampau berlebihan. "Maaf bik, apa saya menyakitimu?" ujarnya lirih yang tadinya begitu panik itu akhirnya bisa mengendalikan sikapnya, hal itu membuat bibi Sri terkekeh pelan. "Ah nggak papa kok mas, hanya nyeri di sini pas mas remet kayak gitu haha..." Leo nampak kikuk mendengar nada bicara bibi Sri yang terang-terangan menggodanya. "Mas Leo, apa boleh bibi bicara sesuatu?" lelaki itu mengerutkan alis lantas mengangguk ragu saat ia menangkap wajah tegang juga serius dari wanita paruh baya di hadapannya itu. "Mas yakin, non Cailey adalah gadis yang selama ini mas cari?" "Iya bi, dia gadis kecil yang dulu hampir Leo tabrak di kota itu?" ia semakin heran melihat bibi Sri menatapnya penuh sendu. "Memangnya kenapa bik?" "Kenapa bisa kebetulan mas?" "Saya tidak tau bik, tapi yang membuat saya mengenalnya adalah mata hidung serta bibirnya saat menyebutkan namanya sendiri kepada saya." Leo menghela nafas berat, sejenak ia menoleh pada istrinya yang terbaring lemah di ranjang. "Gadis itu yang membuat saya gila bik, entah apa itu, tapi yang jelas di sini akan berdetak kencang saat melihat matanya mencuri-curi pandang terhadap saya." "Tapi waktu itu non Cailey masih anak-anak mas Leo." lelaki itu terkekeh pelan mendengar jawaban asisten rumah tangganya. "Setelah kejadian dimana saya dua kali bertemu dengannya di kota itu, saya meminta seseorang untuk mengawasinya selama empat tahun bik." Leo tersenyum melihat wanita paruh baya itu melongo karena terkejut mendengar itu. "Sampai seseorang menculiknya dan ternyata dia di bawa oleh ayah biologisnya ke luar negeri, hal itu membuat saya geram mengetahui fakta lain dari ayah Cailey adalah salah satu penjahat yang saya incar." "Maksud mas Leo?" "Ayahnya adalah salah satu tersangka penculikan anak-anak di panti bik, yang menjual organ mereka secara ilegal." "Astaga....!?" bibi Sri terkejut bukan main, ia menutup mulutnya yang menganga karena tak mampu mengucapkan satu kalimat yang pantas untuk para penjahat itu. "Terus kenapa mas Leo malah menikahinya secara kontrak?" Leo terkekeh pelan meskipun ia sedikit terkejut mendengar asisten rumah tangganya juga mengetahui hubungan sebenarnya dengan sang istri. "Duh maaf mas Leo, memang mulut bibi minta di jahit." ujarnya menyesal sambil menepuk berkali-kali bibirnya sendiri. "Sudahlah itu tak begitu penting." "Apa mas Leo berniat menghamilinya?" wajah lelaki itu langsung memerah mendengar ucapan wanita paruh baya itu yang selalu asal ceplos. "Eh maksudnya anu... Duh... Mulut edan ini mulut edan." gerutunya saat menyadari ucapannya lagi-lagi lancang di hadapan majikan mudanya. "Jadi apa yang Nuri katakan?" Leo mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia sendiri merasa malu dengan pembahasan topik ini. "Dokter Nuri bilang kalo non Cailey tidak boleh di setubuhi terus menerus mas." ujarnya enteng dan lagi- lagi membuat Leo salah tingkah. Leo pun mendeham sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal, "Lalu apalagi yang dikatakan oleh Nuri?" "Dokter Nuri bilang, mas Leo harus menahan diri sampe rahim non Cailey siap menerima serangan mas Leo." Leo menelan ludah kasar mendengar kalimat frontal keluar dari mulut wanita paruh baya di hadapannya. "Dan dokter Nuri bilang, mas Leo lain kali jangan membuat gambar tak jelas di selakangannya non Cai-" "Stop bik stop, bibi boleh keluar." ujar Leo yang segera menghentikan perkataan bibi Sri, sebelum wanita itu menyadari bahwa dirinya malu setengah mati. "Eh tapi bibi belum selesai menyampaikan semua pesan dokter Nuri lho mas." "Ekhm...." ia mendeham karena hampir saja suaranya hilang karena gugup. "Biar saya menelepon Nuri sendiri, dan bibi tidurlah ini sudah malam." "Oke mas Leo." Bibi Sri langsung melesat keluar dari kamar Leo, karena sebenarnya dirinya sendiri menyadari dengan mulutnya yang selalu los dol tak memiliki rem asal ceplas ceplos seperti tadi. "Owalah, pancen cangkem iki rusak... Bisa-bisanya bicara seperti itu pada mas Leo, kan jadi malu orangnya." gerutunya sambil menepuk nepuk bibirnya lagi, tapi tak lama kemudian ia tergelak mengingat tingkah Leo yang tak nyaman mendengar informasi yang ia sampaikan. "Akhirnya mas Leo melepas keperjakaannya hahaha..." bibi Sri senang bukan main mengetahui fakta itu, pasalnya dia lah yang selama ini mengasuh Leo dari lelaki itu berumur enam tahun sampai sekarang. Setelah masuk ke dalam kamarnya, ia segera merebahkan diri di ranjang empuk kesayangannya setelah mematikan lampu kamarnya. "Dan akhirnya aku bisa tidur nyenyak tanpa mengkhawatirkan nasibnya non kunti dan mas kunto." ujarnya setengah sadar tak lama kemudian ia terlelap dalam tidurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD