Kabur

1550 Words
Leo tak pulang ke rumah untuk menemani istrinya selama dua hari ini, karena tugas yang di berikan sahabatnya membuatnya harus fokus menyelidiki masalah. Karena kalau tidak segera di tangani, dampak yang terjadi nantinya kurang lebih mampu membuat perusahaan besar itu gulung tikar. "Bos, nona Cailey melarikan diri." Leo diam, matanya masih memaku pada sebuah video yang mencurigakan di laptop miliknya. "Bos?" "Saya mengerti, kamu boleh keluar." "Baik bos." Leo menghela nafas panjang, bisa-bisanya istrinya itu berkoar bahwa ia memperkosanya. Pusing memikirkan sikap istrinya yang masih labil itu, Leo bahkan membiarkan Cailey bebas sementara waktu. "Gimana bro?" Irfan masuk ke ruangan Leo, bersama setumpuk berkas di tangannya. "Apa lo juga melihat kejanggalan itu bro?" mereka berdua saat ini sedang mengorek kasus yang menimpa perusahaan sahabatnya itu, meskipun sang pemimpin perusahaan berada di sebuah pelosok desa. Tapi hal itu tak membebankan keduanya sama sekali, mengingat penjahat yang menjadi perusuh itu adalah keluarga angkat mantan kekasihnya. "Apa masalah ini perlu kita sampaikan ke Bimo bro?" "Iya." "Tapi kalo dia malah bikin ribet gimana?" "Apanya?" "Ya mereka kan dulu sepasang kekasih." "Hmmm?" Leo mengangkat kedua alis menatap Irfan, membuat sahabatnya itu mengerti bahwa itu akan baik-baik saja. "Duduk yang tegap, dan hentikan gerakan kaki lo itu." ujar Leo tanpa menoleh ke arah Irfan karena matanya kembali fokus pada video yang tadi sempat ia perhatikan. "Kenapa Bimo sulit di hubungi sih..." Irfan semakin gelisah, entah apa yang ada di pikirannya. "Get out...!" "What?" Irfan tak mengerti dengan perintah Leo yang sama sekali tak memandangnya sedari tadi. "Keluar dari ruangan gue!" "Lo ngomong sama gue bro?" Irfan yang duduk di kursi depan meja kerjanya menoleh ke kanan kiri lalu memutarkan badan nampak bingung, tapi saat kembali memandangi sahabatnya ia mengerutkan alis sebab terkadang butuh energi ekstra bila Leo sedang dalam mode limit ngoceh. "Ya..." "Tapi-" "Keluar sekarang atau-" Braakkk... Irfan yang lari terbirit-b***t saat melihat Leo hendak meraih sesuatu, ia pikir sahabatnya itu akan mengambil senjata apinya dan hal buruknya mungkin menembaknya. Tapi Irfan salah, karena Leo membuka laci untuk mengambil ponsel yang sedari tadi sengaja ia silent dan di simpan dalam lacinya. "Halo bik...?" Mas Leo, ya ampun mas... Akhirnya mas Leo telepon bibi.. Leo terkekeh mendengar nada khawatir keluar dari mulut wanita paruh baya itu. "Kenapa bik? Apa ada yang membuat bibi tak nyaman di rumah?" Bukan mas... Non Cailey dia kabur mas, nggak tau kenapa bibi hari ini ngantuk berat. Owalahhh piye mas. "Tarik nafas dulu bi, sekarang bibi ambil air minum dulu biar tenang ya. Oke?" Tapi istrinya mas Leo piye nasibe nanti? Leo terkekeh pelan, dalam hati ia merutuki sikap Cailey yang sudah membuat bibi Sri cemas seperti sekarang. "Saya sudah tau kok bik." Lho kok bisa? ujar wanita paruh baya itu heboh. "Leo pria cerdas bik, bukankah itu yang selalu bibi Sri katakan pada saya?" Setelah mengatakan itu, dapat terdengar jelas suara bibi Sri tersadar dan bernafas lega. Yowes kalo begitu, bibi mau bersih-bersih dulu mas.. Leo mengangguk dan memutuskan teleponnya secara sepihak. Rahang Leo mengeras, kedua jemari tangannya bertaut menyatu di atas meja. Mata tajamnya lurus menatap ke depan seolah sedang menembus sebuah bayangan tembok yang mampu menyampaikan segala macam hal kabar di luaran sana. "Larilah yang kencang kelinci kecilku, nikmati kesenanganmu di luar sana?" guman Leo sendiri dengan senyum menyeringai, ia lantas beranjak dari duduknya setelah mendapat telepon dari asistennya yang mengingatkannya bahwa ada jadwal sidang sore ini. Bagaimanapun juga ia tetap profesional menjalani pekerjaannya sebagai pengacara high class, karena itulah dia bisa menyembunyikan jati dirinya sebagai mafia yang tak jauh dari kata senjata musuh serta bunuh. "Dengan ini saya menyatakan bahwa saudari Intan Pratiwi sah bercerai dengan saudara Gilang Wilangga, sesuai kesepakatan bersama hak asuh jatuh kepada Intan Pratiwi selaku ibu kandung bayi di bawah umur delapan belas tahun." dok... dok... dok... "Hiks...hiks...hiks... Maafkan saya, maafkan saya." Intan menangis bersujud di kaki suaminya. "Sudahlah, ini demi kebaikan kita." Gilang menggigit bibir bawahnya dengan bercucuran air mata dirinya menatap Leo lantas mengangguk sebagai ungkapan terima kasih. "Anda selalu sukses menerima kasus tentang perceraian pak Leo." puji rekan kerjanya yang terdengar mencemooh, Leo hanya tersenyum tipis menanggapinya sesekali mengangguk apabila berpapasan dengan rekan lainnya. "Apa anda juga berniat menjadikan saya sebagai pengacara anda kelak?" "Maksudnya?" ujar lelaki yang sekarang berjalan mengiringi langkah Leo. "Siapa tahu anda hendak menceraikan seorang istri setia yang selalu menunggu anda di rumah tapi sayangnya suaminya itu sering beralasan lembur demi wanita malam yang beberapa malam telah menemani malam panasnya. Bukankah ceritanya seperti itu pak Dimas?" Leo menyeringai menikmati wajah terkejut sosok lelaki kurus pendek itu, tangannya merogoh saku celananya mengambil sebatang lintingan aroma tembakau lantas menyulut ujungnya. Dengan langkah santai dirinya meninggalkan gedung persidangan tersebut dan tentu saja meninggalkan lelaki yang masih berdiri terpaku memandanginya sampai jauh. "Sial, bagaimana bocah tengik itu bisa tau sih.. Aarrrggghhh." geramnya sambil melonggarkan dasinya dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Hal itu tak luput dari pandangan Leo yang baru saja duduk di kursi belakang mobilnya. "Jalan..." "Apa yang membuat anda terlihat semangat bos?" ujar asistennya yang duduk di depan di samping sopir, dirinya bisa melihat raut wajah sumringah bos mudanya dari arah spion depan. "Hanya masalah kecil dari manusia sampah." ujar Leo tanpa menolehnya, karena matanya fokus pada email yang baru saja masuk di kirim oleh Irfan. "Masalah kecil tapi bisa membuat anda tersenyum seperti tadi, wow luar biasa!" ujarnya takjub sambil tepuk tangan kecil. "Apa masalah kecil tadi dari pak Adam?" "Haha, ya." jawab Leo singkat. "Apa yang di lakukan oleh kurcaci itu bos?" "Sebuah lelucon tikus kecil yang berbalik pada dirinya sendiri." Leo tersenyum tipis lantas menutup laptop yang berada di pangkuannya lalu di letakan di sampingnya. "Apa ada kabar darinya?" "Ah iya, saya baru saja mendapat kabar dari anak buah anda." "Hmmm?" "Katanya istri anda sekarang berada di Semarang bos..." Leo mengangguk paham ia lantas menoleh ke arah luar jendela, bibirnya tersenyum tipis mengingat betapa nekatnya istri kecilnya itu. "Kosongkan jadwal saya minggu depan." "Baik bos." Sedangkan di tempat lain dan di waktu yang sama, nampak seorang wanita baru saja turun dari bis travel yang ia tumpangi. "Matur suwun nggih pak..." ujarnya sopan kepada sopir travel tersebut, dengan langkah cepat ia menghampiri pangkalan ojek pertigaan jalan arah ke kampung halaman rumah neneknya. "Bang, ke kampung Delima berapa?" "Seket ewu mbak." "Ck, ojo mentang-mentang wajahku kuto terus larang-larang bang." "Itu sudah umum mbakyu." "Selawe yo?" ujarnya tersenyum genit sambil menaik turunkan alisnya. "Ya sudah ayo." setelah sepakat dengan harga itu, Cailey tersenyum lebar dan semangat naik di belakang tukang ojek tersebut. "Mudik atau jenguk saudara mbak?" seru tukang ojek itu, yang masih fokus pada jalanan depan. "Mudik bang, kelamaan jadi babu di ibu kota jadi ya nggak keliatan kaya anak kampung?" kelakarnya yang langsung membuat tukang ojek itu tertawa terbahak bahak hingga tak terasa mereka sudah memasuki kampung yang Cailey tuju. "Lurus terus bang." lelaki bertubuh tambun itu mengangguk lantas menambah sedikit kecepatannya. "Nah di depan ada pertigaan belok kiri ya." seru Cailey. "Oke..." Dan sampailah ojek motor itu di sebuah halaman rumah kecil, sangat kecil tapi tertata rapi meskipun bangunannya terlihat kuno. "Makasih ya bang." ujar Cailey, lantas melangkah cepat sampai depan pintu kayu berukir tersebut. "Nek... Nenek...?" serunya sambil mengetok pintu. "Nek, Vivi pulang nek?" serunya lagi, tangannya yang hendak mengetuk lagi pun tergantung karena pintu tersebut terbuka dan nampak seorang wanita berambut putih yang sudah nampak berkaca-kaca melihat Cailey berdiri di hadapannya. "Gusti... ini bener kamu Vi?" nenek langsung merentangkan kedua tangannya dan Cailey masuk memeluk tubuh wanita renta itu. "Iya nek, ini Vivi..." ujarnya terisak saat dirinya bisa merasakan hangatnya memeluk wanita yang ia sayangi. "Vivi sangat rindu sama nenek..." "Owalah..." sang nenek sampai tak bisa berkata-kata, dirinya hanya mengusap punggung gadis yang sekarang sudah lebih tinggi dari yang ia lihat terakhir kalinya. "Kenapa kamu bisa pulang sendiri, mana bapakmu?" ujar nenek yang sudah mengurai pelukannya, ia menengok ke belakang punggung cucunya, memandangi teras yang nampak sepi tak terdapat satupun kendaraan yang terparkir. "Bapak sudah meninggal nek." ujarnya lirih sambil menunduk. "Innalilahi... Kapan itu nduk?" "Sudah sebulan lebih nek." "Kok kamu nggak ngabari nenek." "Maaf nek..." Cailey merasa menyesal karena dirinya baru saja menyadari bahwa ia sebenarnya tak sendiri karena masih memiliki wanita yang selama ini mengasuhnya sedari bayi. "Ya sudah nggak papa..." tangan keriput itu menarik pelan lengannya lantas menutup pintu rumahnya. "Masuk dulu ke kamar, taruh barang-barang kamu. Setelah itu kita masak, kamu pasti belum makan kan?" mendengar kata makan, membuat Cailey langsung bersemangat. Ia mengangguk dan tersenyum lebar, tangannya mengusap perutnya sendiri sambil menatap neneknya. "Memang cuma nenek yang paling mengerti Vivi." ujarnya lalu melesat masuk ke kamarnya sendiri, kamar yang sama sekali tak berubah tatanannya dari terakhir Cailey ingat. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan, ia melangkah pelan dan menyentuh satu persatu perabotan disana. Meletakan tas punggunya di atas kursi meja riasnya, lantas berjalan menghampiri jendela yang menatap ke arah barat. Tangannya membuka jendela itu, seketika cahaya masuk menerangi kamarnya. Matanya terpejam setelah menikmati pandangan di sana, ia menghela nafas panjang menghirup udara yang masuk ke dalam indra penciumannya. "Masih saja bau tahi ayam hahaha." ujarnya geli, karena di luar dari arah jendelanya terdapat kebun kecil dan juga beberapa kandang ayam yang merupakan peliharaan milik neneknya. "Huft, akhirnya lepas juga dari pria gila itu." gumamnya sembari mengganti baju yang tadi ia pakai dengan daster andalannya, lalu keluar membantu neneknya memasak makanan untuk nanti malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD