Prolog

1144 Words
Braaakkk.... Pintu kayu rumah mewah itu di dobrak paksa oleh salah satu gerombolan lelaki yang masuk dengan tatapan sangat sulit di artikan. "Kalian siapa?" seru wanita yang berada dalam rumah tersebut. "Masuk ke rumah orang tanpa permisi, saya akan melaporkan kalian ke polisi." sentak wanita paru baya itu berkata angkuh, tangannya meraih gagang telepon dan doorr... Mulutnya muntah darah, matanya melotot menatap lelaki yang telah menembaknya. Tubuhnya meluruh kejang-kejang tak lama kemudian nafasnya terhenti. "What going on?" suami wanita tadi turun dari lantai dua nampak terkejut melihat istrinya sudah tergeletak tak bernyawa karena sebuah peluru menembus lehernya. "Apa yang kalian inginkan?" ia marah berteriak di hadapan lelaki yang sudah berdiri berbaris di depannya. "Well... Well... Akhirnya kita bertemu kembali tuan." tubuh lelaki paruh baya itu langsung berdiri kaku mendengar lelaki yang berjalan santai mendekatinya. "Tu-tuan." "Apa kabar tuan?" ujar Leo menyeringai. "Sa-sa-saya baik tuan." menelan ludahnya kasar saat melihat sorot mata itu menggelap menatapnya. "Anda pasti tau, apa yang membuat saya kemari tuan." "Maafkan saya tuan..." ujarnya dengan tubuh gemetar, kedua telapak tangannya menyatu memohon ampun kepada lelaki yang sudah menodongkan pistol di pelipisnya kanannya. "Sa-saya tidak akan mengulanginya lagi." airmatanya bercucuran berharap lelaki di hadapannya mengurunkan niatnya yang ingin melenyapkan nyawanya. "Siapa saja yang bekerja dengan anda tuan?" "Semua yang tadi saya sebutkan saat di sidang tuan, tanpa terkecuali tuan." Ia mengisap asap rokok nya dengan santai lalu menghembusnya di wajah lelaki bajingaan yang selama ini menjadi incaran Leo. "Kau tau?" Leo melangkahkan kaki kembali duduk di sofa tunggal yang ada di ruangan itu. "Salah satu di antara korban yang kau ambil organnya secara paksa adalah anak-anak yang tinggal di panti asuhan di bawah naungan saya tuan." Lelaki itu terkejut, ia sontak berjalan merangkak memeluk kedua kaki Leo. "Maafkan saya tuan, saya benar-benar mengaku salah." Leo tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat pengakuan lelaki sampah yang sudah menangis bersujud di kakinya. "Saat kau mengambil organ mereka dan menjualnya di pasar gelap apa kau tak mengingat jelas raut wajah mereka?" "Ma-maafkan sa-..." Doorr... Tubuh lelaki yang di depannya langsung rubuh, dengan darah yang keluar dari pelipisnya mengalir bercucuran di lantai. "Bawa semua mayat itu ke kandang Mia." menyerahkan senjatanya ke anak buahnya. "Bos...." Leo menoleh ke arah pandangan salah satu anak buahnya. Gadis kecil yang berdiri di bibir pintu yang terbuka sedikit, nampak wajahnya yang sangat shock melihat sesuatu yang terjadi di hadapannya. Kakinya mendadak melemas berjalan mundur, kedua tangannya mencari-cari sebuah pegangan untuk menumpu berat badannya. "Biar saya urus." tangan Leo terangkat menghentikan langkah anak buahnya. "Kalian urus mayat-mayat itu." Kaki jenjangnya melangkah lebar mencoba mengejar gadis kecil yang melihatnya mengeksekusi seluruh anggota keluarga sebab ikut terlibat dalam pasar gelap jual-beli organ manusia. Ia sengaja melepas jas serta dasi yang tadi melekat pada tubuhnya, mencoba mengelabuhi sosok gadis yang nampaknya sembunyi di antara kumpulan manusia di keramaian pasar sekitar rumah tempat Leo menghabisi para b******n tadi. Mau sembunyi kemana kau gadis kecil.... batin Leo menyeringai, kakinya melangkah perlahan sambil menyalakan puntung rokoknya dan mengisap asap rokok tersebut. Mata elangnya menyapu setiap sudut penjuru, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna meregangkan ototnya ia kembali melangkah merambat sangat pelan karena nampaknya gadis itu benar-benar tak menyadari keberadaannya di belakangnya sekarang. "Pa-paman... To-tolonglah saya, thats guy kill my dad and mom..." suaranya gemetar bicara dengan seseorang yang berada dalam telepon. Gadis kurus itu berupaya meminta bantuan dari kerabatnya dengan menggunakan telepon umum, entah kenapa dari dalam hati Leo merasa simpatik dengannya. "Sa-saya mohon... hiks hiks... Please, please... Help me... Paman..? Paman...? Halo? Halo...? Arrrggghhhh...." sepertinya teleponnya telah diputus secara sepihak, karena ia menutup kembali gagang telepon tersebut hingga tak lama kemudian tubuhnya meluruh ke lantai meringkuk memeluk kakinya sendiri. Suara tangisnya benar-benar menyedihkan, tetapi lelaki yang berdiri di balik kotak telepon umum masih saja memasang wajah datar. Tangan kanannya yang merogoh saku celana hendak mengeluarkan pisau lipat telah ia urunkan, mata gelapnya masih terpaku memandang gadis kecil yang menangis terisak-isak di dalam sana. "Terima kasih siapapun kau yang telah membunuh mereka, tapi karena kekejaman kalian sekarang aku sendirian di dunia ini." gumamnya sendiri yang masih tergugu membuat Leo mengerutkan kedua alisnya saat mendengar kalimat gadis itu. "Ibuku sudah meninggalkanku sejak melahirkanku dan sekarang kau membunuh satu-satunya keluarga yang aku miliki." punggungnya bergetar tapi masih saja meringkuk tak bergerak dari tempatnya. "Bos." Leo menoleh ke samping matanya melirik ke arah anak buahnya. "What?" ujarnya tenang. "Clear...." "Kalian pergilah." lelaki berpakaian serba hitam itu mengangguk paham, pamit meninggalkan Leo yang masih betah memandangi gadis kecil yang malang itu. Leo melangkah masuk ke dalam kotak merah telepon umum, ia berjalan pelan mendekati gadis yang masih saja meringkuk. "Hey...." suara serak basah yang terdengar seksi membuat gadis itu mendongak ke arah seseorang yang berdiri di depannya, matanya melotot sontak tubuhnya tersentak kebelakang. "Ka-kau... Ma-mau apa kau?" sekujur tubuhnya gemetaran memandang wajah lelaki yang membunuh seluruh anggota keluarganya. Entah dapat kekuatan dari mana, gadis kecil itu berdiri tangannya menarik kerah baju Leo, nafas memburu sambil mendesis. "Kau harus bertanggung jawab, kau membuat hidupku semakin hancur... Dasar laki-laki bajingan....!" serunya sambil memukul d**a Leo menggunakan kepalan tangan kecilnya. "Kau, kau membuat hidupku yang hancur semakin hancur...! Hancur...!! Hancur...!!! Hancur sudah, hiks hiks hiks..." tubuhnya meluruh di depan kaki Leo. "Kenapa kau hanya membunuh mereka....?" ujarnya lirih. "Kenapa...?" suaranya tercekat, tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Jemari lentiknya menggenggam tangan Leo, membuat lelaki itu tersentak karena merasakan hantaran panas yang aneh, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sekujur tubuh Leo membeku, melihat mata sebam sang gadis karena menangis terlalu lama. Tatapan mata sayu penuh memohon yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak tak karuan. Tangan kirinya meraba dadanya, otaknya terus memaksanya berfikir. Perasaan apa ini? "Tuan, tuan... Bunuhlah saya, bunuhlah saya." gadis itu menggoyangkan tangan Leo memohon agar lelaki itu segera mengambil nyawanya, membuat kesadaran Leo kembali saat pikirannya memikirkan hantaran aneh menusuk jantung yang entah apa itu namanya. "Saya lebih baik mati dari pada sendiri di dunia ini tuan... Saya mohon." ia kembali terisak mengingat nasib yang terjadi padanya. "Siapa namamu?" Leo bicara lirih tapi tetap saja terasa dingin. "Saya Cailey tuan, Cailey Silvia." "Ikutlah denganku." "Tidak!" gadis itu menggeleng cepat lalu kembali meraih Leo untuk memohon. "Bunuhlah saya tuan, bunuhlah saya." "Saya tidak akan membunuhmu." gadis itu menatap Leo tak mengerti dengan perkataan yang dia dengar baru saja. "Why...?" "Karena kamu akan menjadi pengantin saya." "APA?" Leo langsung membekapnya dengan kain kecil yang sudah dilumuri obat bius, hingga si gadis kecil itu pingsan tak sadarkan diri. Begitu ringan ia membopong tubuh kurus itu ke arah mobil yang sudah di siapkan anak buahnya. "Mau di bawa kemana gadis itu bos?" tanya anak buahnya yang sudah melajukan mobilnya. Mata tajam Leo melirik ke jok belakang dari arah spion, memandangi gadis yang tergeletak masih pingsan seperti tidur begitu lelap. "Antarkan saya ke rumah." "Terus dia?" "Dia urusan saya." ujarnya tenang membuat lelaki yang sedang menyetir di sebelah Leo duduk hanya menganggukan kepala paham.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD