Leo memandangi berkas-berkas yang akan di jadikan bahan pada persidangan nanti, tubuhnya menyandar di kursi putar sambil memejamkan mata.
Pikirannya kembali berputar pada kasus anak-anak yang menjadi korban penculikan, di ambil organ mereka secara tak manusiawi dan dijual di pasar gelap.
"Bos." matanya membuka saat salah satu anak buahnya masuk ke dalam ruangannya menghadapnya.
"Dokumen yang anda minta sudah siap." Leo mengangguk lantas beranjak dari kursi putarnya melangkah keluar di susul asistennya yang membuntuti dari belakang.
"Apa dia masih mengurung diri di dalam kamarnya?"
"Iya bos." Leo hanya menghela nafas panjang mendengar jawaban asistennya.
"Jam berapa persidangan dimulai?"
Lelaki yang mengiringi langkah Leo memandangi jam tangannya. "Kita akan menangani kasus perceraian dari klien kemarin lusa pada pukul dua siang, setelah itu ada sidang susulan yang melakukan pengajuan banding oleh terdakwa kasus suap."
"Baiklah."
Dalam kasus manapun yang Leo tangani, semua akan berhasil dan memuaskan. Hanya saja kejadian tiga bulan yang lalu membuat mood dalam dirinya berantakan.
Anak-anak yang berada di panti asuhan dalam naungannya banyak yang menghilang, semua jejak begitu rapi seolah membuktikan mereka yang keluar dari gerbang tanpa paksaan pihak manapun.
Tentu saja itu membuat geram hatinya, apalagi salah ada satu anak yang sudah terselamatkan harus kehilangan satu ginjalnya. Semua pertanyaan tak bisa di jawab olehnya karena bocah itu bisu dan matanya sedikit rabun.
Sialan, semua itu benar- benar skenario dari para penjahat yang sudah tertata rapi. Sampai Leo terpaksa mengerahkan klan darinya untuk membantai satu-per satu dari mereka yang terlibat dalam hal ini.
Karena mayat-mayat mereka tak di temukan oleh pihak kepolisian membuat Leo harus kalah dalam sidang para kelompok penjahat keji yang bekerja sama di balik dunia pasar gelap, salah satunya menjual organ dalam manusia.
Tapi tak apa bila hukum tak mampu membuatnya jera, maka mautlah yang akan menjemput mereka melalui satu perintah Leo.
"Silakan masuk bos." asisten Leo membuka pintu penghubung menuju ruang meja hijau.
"Thanks..."
Tak butuh lama untuk menyelesaikan kasus kelas teri seperti ini, apalagi hanya perceraian dari para kaum menengah kebawah seperti kasus yang ditangani Leo saat ini.
"Dengan ini saya memutuskan saudara Dwi Wiratno resmi bercerai dengan saudari Eva Susanti. Untuk hal pembagian harta gono gini kedua belah pihak semua sepakat menyelesaikannya dengan bermusyawarah." Dok...dok..dok...
"Terima kasih pak Leo." ujar sesorang yang berdiri disampingnya, yaitu penggugat dari pihak wanita.
"Sama-sama bu Eva, mari." Leo segera meninggalkan ruang tersebut untuk mempersiapkan sidang kedua dari kasus lain yang menjadikannya sebagai jaksa pengacara negara.
Seperti inilah keseharian Leo yang bagi orang awam lain lihat, seorang pengacara handal yang tidak menerima setiap bayaran untuk mereka yang tak mampu membayar mahal padanya.
"Tuan William juga ikut menghadiri sidang yang anda tangani bos." mereka berdua sudah kembali ke perjalanan menuju kantor Leo.
"Biarkan saja."
Drrtt...
"Hallo..."
Dimana lo?
"On may way go to office, why?"
Oke, gue kesana sekarang... tut,tut,tut...
Leo mengangkat satu alis, matanya hanya memandangi layar ponselnya yang diputus sepihak dari seberang.
"Kita langsung ke kantor sekarang."
"Baik bos."
Leo memencet angka dalam ponsel untuk menelepon seseorang.
"Halo."
Iya pak Leo, ada yang bisa saya bantu?
"Sebentar lagi teman saya datang, namanya Bimo langsung saja bawa dia ke ruangan saya."
Baik pak.
Leo menyimpan lagi ponselnya ke dalam saku jas nya, dalam perjalanan menuju kembali ke kantor ia masih sempat mempelajari berkas-berkas yang akan di jadikan bahan dalam sidangnya besok.
"Bos." sapa asistennya membuka pintu mobil untuknya.
"Terima kasih."
Leo melangkah masuk ke dalam perusahaan hukum miliknya.
"Pak Leo, teman anda sudah sampai." sapa seorang wanita yang baru saja mengantarkan Bimo masuk ke dalam ruangannya.
"Terima kasih."
Ia kembali melangkah berlalu masuk dalam lift menuju ruang miliknya.
Saat pintu ruangannya terbuka, matanya menangkap wajah keruh sahabatnya yang nampak sibuk memandang layar ponselnya.
"Baru datang?" Bimo mengangguk, ia nampak menyimpan kembali ponsel ke dalam saku jas nya, pandangan Bimo menyapu benda-benda yang berada di seisi ruangan miliknya.
"Ngeri gue liat ruangan lo." ujar nya sambil bergidik.
Mendengar ucapan sahabatnya membuat Leo hanya tersenyum tipis karena hal itu sudah biasa.
Ia berjalan menuju bar kecil miliknya lantas menuangkan minuman dan di sodorkan untuk Bimo.
"Thanks." sahabatnya itu menggoyang-goyangkan pelan gelas kristal ditangannya lantas mengesap cairan tersebut, matanya memejam nampak menikmati minuman yang di berikan olehnya.
"The Dalmore 62."
"Wow. Good!" puji Bimo jujur, Leo hanya mengangguk membenarkan ucapan Bimo.
"Tumben lo kesini Bim?" seseorang yang baru masuk ke dalam ruangannya, langsung duduk di atas sofa panjang di sebelah Bimo.
"Wooaaahh Leo, gilak... tampilan lo tuh nggak pernah ngecewain, keren banget. Gue sampe pengen gampar jaksa penuntut tadi. " ujar Wiliam menilai aksinya di persidangan tadi.
Ia hanya berlalu dan menuangkan lagi satu gelas minuman untuk sahabatnya yang baru datang.
"Thanks bro." tambah Wiliam saat menerima gelas kristal yang disodorkan olehnya.
"Jadi, apa yang perlu lo omongin?" mendengar pertanyaannya membuat Bimo mencondongkan tubuh ke arahnya.
"Gue pengen lo selidiki kasus yang menimpa perusahaan gue. Kemarin-kemarin gue masih bisa mentoleransi mereka, tapi kalo kedepannya, nyawa mereka ada yang musti lo abisin itu terserah lo." terlihat jelas wajahnya yang frustasi.
"Gue akan urus gudang di Wonogiri sesuai saran lo waktu itu. Untuk hal yang-" perkataannya terputus karena ponsel Bimo berbunyi.
"Sebentar." tangan Leo terangkat untuk mempersilakan.
"Assalamuailaikum ma." entah kenapa mendengar suara sahabatnya menerima telepon dari mamanya itu sangat berbeda dengan nada bicara saat serius lima detik yang lalu.
(.....)
"Bimo mengerti."
(.....)
"Baiklah."
(.....)
"Walaikumsalam."
"Aaaarrrrggghhhh, sialll."
"Lo kenapa lo?" Wiliam yang memang selalu tidak sabaran, segera menanyakan keadaan Bimo.
"Nyokap gue, ngingetin gue pulang cepet."
"Laah, terus apa masalahnya?" Wiliam pun memperbaiki duduknya semakin menghadap Bimo.
"Gue tadi lupa kalo ada janji ma dia."
"Janji kapan sih kok sampe lupa?" Wiliam sampe keheranan, membuat Leo hanya sebagai penonton setia mendengar keduanya bicara.
"Tadi pagi pas gue sarapan di rumah orangtua gue." terang Bimo.
"Bentar deh bro, gue makin nggak ngerti. Bukannya semalem lo bawa cewek balik dari club Venus ya?"
"Um." Bimo mengangguk.
"Kok bisa sarapan di rumah orangtua lo? Apa jangan-jangan lo bawa tuh cewek ke rumah orang tua lo? Wooahh.. Gilak ni bocah." Bimo mendelik melihat reaksi berlebihan dari Wiliam.
"Jangan ngaco deh. Bokap gue tadi pagi telepon, nyuruh gue pulang. Katanya nyokap ngambek." jelas Bimo.
"Tante Mira ngambek, kok lo yang disuruh pulang. Lo sekarang jadi 'anak mami' bro? Ppfffttt..." Lagi-lagi Wiliam dengan pikirannya yang suka menebak-nebak.
"Ck, percuma ngomong sama lo." Bimo pun beranjak.
"Eh mau kemana? Emang urusan lo sama Leo udah kelar?" tanya Wiliam yang masih saja tidak mengerti.
"Gue obrolin lewat telepon aja, ada lo di sini. Males." ujarnya meninggalkan ruangannya.
"Kenapa dia?" tanya Wiliam, Leo hanya mengendikan kedua bahu.
"Ada urusan apa lo kemari?"
"Ini obat yang lo minta kemarin." William mengambil sebotol obat dari dalam saku jasnya.
Leo memandangi obat tersebut dengan tatapan penuh arti, matanya beralih ke wajah sahabatnya.
"What?"
"Jangan terlalu banyak dosisnya." Leo mengangguk paham, tapi matanya masih menatap heran ke William karena sahabatnya itu memandanginya dari kaki sampai kepala.
"What?"
"Lo yakin pakai obat itu bro?" Leo diam hanya mengangkat satu alis menatapnya.
"Semoga itu untuk lawan jenis sih." ujar William sambil mendeham, karena Leo menatapnya malas lantas mengangkat tangannya ke arah pintu.
"Get out..."
"Hey, hey, gue cuma bercanda bro."
Leo beranjak dari duduknya berjalan menuju meja kerjanya.
"Bro gue serius, jangan main-main karena obat itu efek sampingnya tinggi."
"Keluar sekarang, sebelum gue ledakan kepala lo." ujarnya sambil membuka lacinya tangannya mencari-cari sesuatu.
"Bro..."
"Out....!" William langsung lari terbirit-b***t mendengar teriakannya, membuat Leo geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
Tangannya kembali merogoh saku jasnya, mengambil botol yang dipesan olehnya dari sahabatnya William.
"Lihatnya kau gadis kecil, ini baru permulaan." wajahnya menyeringai menyandarkan tubuhnya di kursi putar sambil membayangkan wajah gadis yang berada di rumahnya.